Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Furious


__ADS_3

Kreshna menelpon Ratih. Tidak puas dengan hasil analisa Pras.


“Mengapa dia begitu gegabah dengan analisanya? Ada apa dengan dia?” Keluhnya pada Ratih di telepon.


“Tania tidak menanggapinya. Tidak membalas whatsappnya. Dia ingin bertemu Tania tetapi tidak bisa. Tania tidak memberikan alamatnya. Tidak mengijinkannya untuk bertemu dengannya.”


“Seharusnya kan dia professional. Memisahkan urusan pekerjaan dengan pribadi.”


“Sepertinya, dia benar-benar jatuh cinta pada Tania.”


“Itu karena dia penasaran melihat Tania menjauhinya. Seandainya, Tania menanggapinya seperti gadis-gadis lain. Maka akan sama saja.”


“ Ya mungkin saja begitu. Apa yang kau keluhkan?”


“Dia merekomendasikan orang-orang di hrd menjadi tenaga keuangan dan produksi. Latar belakang pekerjaan dan pendidikan mereka berbeda. Aku sudah mengatakan hrd akan kufokuskan   untuk pengembangan sdm perusahaan serta mengembangkan perusahaan itu sendiri.”


“Nanti kukatakan padanya.”


“Semenjak Tania meninggalkan perusahaan. Aku kurang puas dengan hasil pekerjaan Pras dan Diah. Aku bermaksud ke kantor cabang untuk menangani langsung semuanya.”


“Kau akan kembali ke sini?”


“Apa pilihanku? Meminta Tania ke sini dan berhenti kuliah serta pekerjaannya di sana?”


“Hmm, iya sih gak bisa gitu.”


“Makanya Aku berinisiatif kembali ke kantor cabang mengawasi serta menangani langsung. Aku akan membutuhkanmu sesampainya di sana. Kerja kerasku bisa sia-sia jika kubiarkan Pras mengacau.”


“Terserah padamu.”


“Laporan lambat diberikan dan hasilnya sangat tidak memuaskan!” Ujar Kreshna marah.


“Aku tahu kau marah tapi Pras sepertinya memang sedang terganggu konsentrasinya. Kau kan temannya.”


“Pekerjaan harus professional. Perusahaan akan dirugikan kalau dia seperti itu. Dia harus bisa memisahkan hubungan professional dan pribadi.”


“Dia berpikir dengan melakukan hal seperti itu akan menghemat budget perusahaan.”


“Aku membutuhkan Tania. Dia bekerja sangat efisien. Mungkin Pras tidak tahu dimana letak kesalahannya.”


“Memang Pras tahu beres saat Tania membantunya bekerja.”


“Ya, Tania sangat memahami masalah ini. Dia tidak hanya ahli dalam budgeting tapi juga mengatur preference. Kau tahu berapa kerugian perusahaan jika salah menempatkan orang dan perusahaan tidak berkembang seperti yang diharapkan. Perusahaan kita akan go international dan Pras mengacaukan segalanya.Hugh!”


“Sabar dan tenanglah.”


“Bagaimana aku mau sabar dan tenang? Kantor pusat juga sangat membutuhkan perhatianku. Perusahaan juga berencana mengembangkan kantor cabang lain  dengan divisi yang berbeda. Bayangkan aku mengurus dua kantor cabang dengan divisi yang berbeda dan kantor pusat? Aku membutuhkan Tania.”


“Kau sudah mengijinkannya untuk meneruskan studinya dan menetap di sana.”


“Aku bukan mengijinkannya tetapi dia memaksa dan tidak memberikanku pilihan.”


“Sudahlah. Kau jangan ungkit lagi Tania. Dia sudah disibukkan dengan urusannya.”


“Kita akan kehilangan sejumlah kontrak besar jika kita tidak bisa memenuhi kualifikasi yang diminta. Kau bisa bayangkan kerugian yang akan kita derita? Belum ditambah kehilangan kesempatan buat berkembang?”

__ADS_1


Ratih memilih mendengarkan curhatan Kreshna.


“Kau tahu perusahaan kita mulai  diperhitungkan.”


“Yeah.” Sahut Ratih sambil membaca dokumen yang akan menjadi bahan laporannya.


“Direktur Pemasaran meminta agar perusahaan bisa memenuhi kualifikasi yang diminta atau kita akan gagal mendapatkan kontrak-kontrak tersebut. Akan dialihkan pada kompetitor kita. Atau kita akan membayar sejumlah ganti rugi jika kita gagal memenuhi pemenuhan kontrak seperti yang diminta. Ditambah kita akan didiskualifikasi jika membuat kesalahan fatal. “


“Hmm, ya…” Ujar Ratih sambil melingkari salah copas karena terburu-buru mengerjakan.


“Direktur Personalia sendiri meminta agar Pras tidak melanggar batas otoritasnya. Dia hanya bertugas mengurusi produksi. Direktur Produksi tidak mengurusi perekrutan. Dan juga budgeting. Itu akan jadi kewenangan Direktur Keuangan. Tugasnya hanya menganalisa target produksi  yang diminta sesuai kontrak dan  man hours untuk pekerjaan tersebut serta kualifikasinya.”


“Baiklah akan kusampaikan padanya.”


“Tugasnya hanya memberikan kualifikasi dan rekomendasi sisanya tergantung personalia.”


“Baik akan kusampaikan.”


“Jangan merekomendasikan orang yang tidak sesuai kualifikasinya. Seperti staff hrd mau dipindahkan menjadi staff produksi dan keuangan. Aku dan Direktur Personalia menerima semua rekomendasi dia berkaitan dengan staff produksi tetapi selain itu? Aku minta dia jangan gegabah dan serahkan semua pada Direktur Personalia karena mereka yang lebih mengetahui kalau diluar bidang yang ditanganinya.  Aku juga minta  dia membaca analisa proyeksi perusahaan yang aku buat. Apa target dan tujuan yang aku buat untuk mencapainya. Dan terpenting bagaimana mencapainya. Selama ini Tania yang melakukan pekerjaannya. Apakah kau bisa menggantikannya?”


“Tentu saja tidak. Kualifikasiku bukan analisa keuangan serta pengembangan perusahaan.”


“Apakah Tania mau bekerja untuk perusahaan secara freelance jarak jauh dengan sistem online?”


“Mungkin kau bisa menanyakan langsung padanya.”


“Lebih baik kau saja yang menanyakannya. Kau kan lebih akrab dengannya. Tau bagaimana cara berbicara serta membujuknya.”


“Kalian berdua memanfaatkan kedekatanku dengan Tania.”


“Siapa maksudmu dengan kalian berdua?”


“Dia tidak berusaha menggoda atau memberikan jebakan batman padamu kan?”


“Dia sudah mengatakan padaku bahwa selera wanita dia berbeda denganmu. Dia tidak menyukai wanita dari kalangan biasa sepertiku. Dia menyukai wanita kalangan atas seperti  Tania dan Marsha.”


“Kau tetap saja harus berhati-hati.”


“Kau jangan terlalu berlebihan.”


“Aku tidak ingin kecolongan seperti Alicia.”


“Kau masih mengingatnya?”


“Tentu saja. Dia kan sudah seperti saudaraku. Aku mengingatnya tapi bukan seperti yang kau pikirkan.”


“Entahlah!”


“Mungkin semua terasa absurd bagimu. Kau tidak pernah mengalami apa yang aku alami.”


“Aku tidak ingin membicarakan ini.”


“Baiklah. Aku ingin kau berhati-hati pada Pras. Tidak ada kucing menolak ikan asin.”


“Pras bukan kucing. Aku juga bukan ikan asin.”

__ADS_1


“Hanya istilah.”


Ratih terdiam.


“Ada lagi yang ingin kau bicarakan? Aku bermaksud ingin melanjutkan pekerjaanku.” Ujar Ratih.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Sahut Kreshna.


"Jangan memikirkan Tania terus." Ujar Ratih.


“Kau bukan cemburu padaku kan?” Sahut Kreshna menggoda Ratih.


“Kau sendiri bilang hubungan pekerjaan dengan pribadi harus professional. Lihatlah tingkahmu!”


“Itu kan berlaku buat Pras bukan aku!” Sahut Kreshna tergelak.


“Standart ganda!”


“Berjanjilah padaku. Kau akan berhati-hati dengannya.”


“Maksudmu?”


“Dia bisa menyukai Marsha kemudian Tania. Belum record sepak terjangnya terhadap wanita. Bisa saja dia menikungmu dariku.”


“Aku tidak ingin meladenimu. Pikiran gilamu sungguh berlebihan.”


“Itu karena aku tidak ingin kehilanganmu.”


“Kau sudah selesai belum? Aku ingin melanjutkan pekerjaanku.”


“Baiklah. Jangan lupa kau sampaikan pada Pras semua yang sudah kuceritakan padamu.”


“Baik.”


“Baiklah. Selamat bekerja. Sampai bertemu lagi!”


Ratih Dan Kreshna menutup telepon mereka masing-masing.


Pras memasuki ruangan kerjanya. Dia baru saja makan siang di luar sambil menyamankan pikirannya yang kacau.Dia berusaha melupakan Tania dan mengalihkan perhatiannya ke pekerjaannya. Tapi nihil dan sia-sia.


“Kau kenapa lesu sekali?” Tanya Tania.


“Tidurku kurang nyenyak.”


“Jangan memikirkan Tania lagi. Hanya membuat konsentrasimu pecah.”


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2