Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Asisten Pras


__ADS_3

Sepeninggal Kreshna. Ratih diperbantukan untuk membantu Pras selain Tania.


"Kudengar pekerjaanmu bagus. Tidak ada salahnya kau membantuku dan Tania." Ujar Pras.


Ratih tidak hanya membantu Pras tetapi juga menjadi tempat curahan hati Pras berkaitan dengan sikap Tania yang dingin. Sangat membatasi diri hanya berhubungan dengan pekerjaan dan tidak selain itu.


Bekerja adalah healing. Hal itu tidak meleset. Kesibukan membuat Ratih melupakan Kreshna. Sesekali ingatannya melayang ke Kreshna saat dia sedang menghabiskan waktu seorang diri. Atau sesaat sebelum tidur.


Membantu Pras tidak semudah membantu Kreshna yang hanya fokus bekerja.


Tugas Ratih di luar pekerjaannya. Mulai memata-matai Tania. Termasuk mengatur agar Pras tidak memiliki masalah dengan pacarnya.


"Pak, bisakah saya kembali bekerja sebagai administrasi saja?"


"Aku membutuhkanmu. Diah tidak bisa dipercaya. Mulutnya ember. Dia juga sangat suka menguping pembicaraan."


"Tapi Diah sudah terbiasa bekerja membantu bapak. Sedangkan saya terbiasa bekerja sebagai administrasi."


"Kau mau membantu Kreshna sedangkan keberatan membantuku?"


Ratih tidak mengatakan bahwa dia merasa sangat tidak enak karena harus memata-matai Tania. Berbohong kepada pacarnya Pras. 


"Saya merasa nyaman dengan pekerjaan lama saya." Ujar Ratih berterus terang.


"Aku baru mengerti mengapa Kreshna memilihmu untuk membantunya. Karena kau bisa diandalkan."


"Tapi pak Kreshna profesional. Tidak melibatkan saya untuk urusan pribadinya."


"Aku merasa semua urusanku aman di tanganmu. Aku memerlukan bantuanmu untuk mengatasi masalah pribadiku."


"Maafkan saya. Gagal paham bapak sudah memiliki pacar tapi masih mengincar Tania?"


"Saya menginginkan yang terbaik untuk menjadi istri saya."


"Kalau bapak menjadi mereka berdua. Maukah diperlakukan seperti itu?"


"Jangan terlalu serius. Belum ada ikatan pernikahan. Masih bebas memilih."


"Jika betul bebas memilih. Mengapa bapak berbohong pada pacar bapak?"


"Aku hanya menjaga perasaannya. Tidak ingin membuat keributan dan kekacauan."


"Maaf kalau saya lancang. Apakah bapak mencintai pacar bapak?"


"Tentu saja! Buat apa saya memacarinya kalau tidak cinta?"


"Mengapa bapak masih menyukai Tania?"

__ADS_1


"Penasaran? Kau tidak lihat dia begitu acuh dan membuat siapa pun penasaran?"


"Turunkan ego bapak. Tidak ada orang yang sengaja bermaksud membuat penasaran orang lain. Bisa jadi memang pembawaannya seperti itu."


"Apa maksudmu?"


"Kalau bapak sudah punya pacar. Setia pada pacar bapak. Apalagi bapak juga memiliki alasan mengapa memacarinya. Abaikan Tania. Apalagi Tania juga tidak pernah bermaksud untuk memancing bapak mendekatinya."


"Maksudmu, kalau Tania memancingku. Tidak apa-apa aku mendekatinya?"


"Bukan seperti itu. Tetapkan pilihan bapak. Mungkin kalimat saya kurang tepat. Pacar bapak atau Tania. Jangan suka mempermainkan perasaan wanita."


"Memang Tania menyukaiku juga?"


"Mana saya tahu."


"Kalau aku memutuskan pacarku dan ternyata Tania tidak menyukaiku?"


"Maksud bapak, pacar bapak cadangan?"


"Bukan begitu."


"Menurutku sebaiknya pastikan hubungan bapak dengan Tania kalau memang bapak menyukainya. Kalau ternyata negatif. Bapak bisa memilih wanita lain termasuk pacar bapak. Dan berlaku setia dan tidak usah lagi melihat-lihat yang lain. Di atas langit ada langit. Tidak akan ada habisnya."


"Kau menceramahi bosmu?"


"Maaf pak. Saya tidak berani. Saya hanya memberikan pandangan sehingga bapak bisa lebih fokus pada pekerjaan dan hubungan cinta bapak. Karena sikap tidak profesional bapak akan menyebabkan penilaian terhadap bapak menjadi berkurang."


"Baik pak."


Tugas baru semenjak membantu Pras adalah meluangkan waktu makan siang dengan Tania. Bahkan dia juga diharuskan mengenal Tania di luar jam kerja.


Teman-temannya menganggapnya sombong dan menjauhi mereka.


"Kau sekarang sombong. Jarang makan siang bersama kami. Selalu bersama Tania. Mencari posisi di kantor?" Ujar Diah, "Semenjak Pras memintamu membantunya. Dia tidak pernah lagi memintaku membantunya. Kabar baiknya, aku tidak usah dipusingkan dengan segala keberatannya kalau minta cuti atau terlambat atau hal-hal semacam itu. Kabar buruknya, kupikir performance kerjaku berkurang. Kau sahabat baikku sendiri. Aku tidak ingin memiliki perasaan bahwa keberadaanmu mengintimidasiku."


"Aku tidak bermaksud mengintimidasimu. Aku sudah meminta agar kembali pada pekerjaan lamaku. Aku sendiri lebih menyukai pekerjaanku yang sebelumnya."


"Yeah! Pras itu sangat keras kepala. Aku mempercayaimu. Tapi mengapa kau sangat dekat dengan Tania? Jadi seperti kau mengamankan posisimu dengan mendekatinya."


Ratih menarik nafas panjang. Tidak etis menceritakan hal mendetail tentang bosnya terkait urusan pribadinya. 


"Sejujurnya untuk membantu pak Pras, aku membutuhkan bantuan Tania. Kalau kami tidak akrab hal itu akan terbawa pada hubungan pekerjaan kami." Ratih menjawa dengan diplomatis.


"Yeah! Kau benar. Senang mendengar penjelasanmu. Setidaknya kami tahu kau tidak menjauhi kami atau berusaha mengamankan posisimu. Kami mengenalmu, kau tidak pernah mengutamakan ambisimu. Tidak enak rasanya memiliki pikiran yang negatif tentangmu."


"Aku tidak keberatan. Apalagi memang semua terlihat seperti itu. Aku sudah mengenal kalian lama. Aku tahu kalian tidak bermaksud memiliki perasaan negatif dengan sengaja. Keadaannya memang rentan menimbulkan salah paham."

__ADS_1


Ratih sudah berada di rumah Tania tepat pukul tujuh. Mereka akan meluangkan waktu bersama. Pras ingin memastikan bahwa Tania tidak memiliki siapa pun.


"Kita mau kemana?" Tanya Ratih.


"Entahlah! Aku tidak ada ide. Kau mau kemana?"


"Aku tidak melihat Tintan." Ujar Ratih.


"Dia bersama teman-temannya."


"Oh. Kau ingin kemana?"


"Bagaimana kalau melihat pameran buku? Aku ingin mencari buku yang mungkin bisa aku butuhkan untuk pekerjaanku."


"Baiklah."


Mereka pergi ke pameran buku menggunakan grab. Sesampainya di pameran buku. Mereka berkeliling melihat-lihat buku.


Aneka macam buku. Pikiran Ratih terbayang pada teman-temannya. Keseruan mereka menghabiskan malam minggu bersama.


"Kau melamun!" Tukas Tania.


Ratih menyunggingkan senyumnya, "Kau mau cari buku apa?"


Pras sangat curang. Dia sendiri mendua tetapi Tania maupun pacarnya tidak boleh mendua.


Menjawab santai,"Aku kan lelaki paling apes poligami kalau gak bisa milih. Sedangkan perempuan kan gak boleh poliandri!"


Bah! Jawaban macam apa itu? Rutuk Ratih di dalam hati mendengar keegosian Pras.


"Kau sudah punya pacar?" Tanya Ratih ketika mereka sedang berada di salah satu tenda makanan. Beristirahat sehabis melihat-lihat tumpukan buku di sana sini.


"Mengapa kau ingin tahu kehidupan pribadiku?" Tanya Tania.


Ratih menjadi tidak enak hati mendengar jawaban Tania. 


"Kau tidak harus menjawabnya." Ujar Ratih.


"Kita baru kenal dan akrab. Agak aneh menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi. Terus terang, karena pertanyaanmu barusan. Kupikir kau lesbian?"


Ratih tersedak saat meminum vanilla latte yang dipesannya. 


Mereka memilih coffee shop untuk beristirahat dan mengobrol.


"Salah ya aku? Kalau kau jadi aku bagaimana? Atau aku terlalu overthingking?"


"Aku tidak tahu. Aku tidak berpikir apapun. Spontan saja!" Ujar Ratih. Dalam hatinya merutuki Pras. 

__ADS_1


Tania menggigit sandwich smoked beefnya. Cappucinonya sendiri masih utuh belum tersentuh.


Ratih meraih coklat lavanya. Memakannya perlahan sambil memikirkan ulang perkataan Tania. Sialan Pras!


__ADS_2