
Selesai jogging dan sarapan pagi mereka kembali ke penginapan. Mandi.
Pintu kamar Ratih diketuk. Kreshna.
"Ada apa?"
"Gak apa-apa. Pengen ngobrol aja sambil nunggu Titan selesai mandi."
Mereka duduk di teras. Ada dua buah kursi yang dipisahkan sebuah meja.
"Kita mau kemana?"
"Aku akan mengajakmu dan Tintan ke tempat hiburan. Ada rumah hantu, rumah kaca, rumah miring, bianglala, komedi putar dan permainan-permainan lainnya."
"Hmm, ok!"
"Kamu kok sering melamun sih?"
"Masak sih?"
"Mungkin kau dan Tintan sedang mengobrol dan pikiranku juga jadi melayang kemana-mana."
"Aku senang hubungan kita jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku merasa lebih dekat kepadamu daripada sebelumnya."
Alicia sekarang yang berada di posisinya.
"Yeah, aku juga merasa begitu. Aku lebih bisa memahamimu dan sebaliknya."
"Dulu aku sering merasa takut salah bicara. Merespon. Tidak bisa bebas mengeluarkan pendapatku. Takut kau marah. Hubungan kita menjadi jelek dan memburuk. Itu lah mengapa aku selalu menghindarimu."
"Kau merasa lebih bebas dan nyaman bersama Alicia terutama ketika kau ingin mengekspresikan dirimu sendiri?"
Ratih menarik nafas panjang. Hubungan mereka sangat menyedihkan. Saat ini, setelah semuanya berlalu. Ratih sering berpikir untuk apa mereka menjalin hubungan saat itu?
Kalau hanya karena saling suka. Cinta tidak selalu memiliki. Apalagi jika hal itu membawa dampak negatif dan merusak.
Obat cinta adalah menikah tetapi cinta yang seperti apa dulu? Kalau yang dipancarkan negative vibes dan tidak berhasil memancarkan positive vibes, hubungan yang sehat.
Untuk apa dipaksakan?
Dia sendiri juga merasa lebih nyaman dan bahagia seperti saat ini. Mereka bisa berkomunikasi, berhubungan dan berinteraksi dengan lebih baik.
Hubungan mereka menjadi sangat positive dan sehat. Bisa menempatkan semua pada tempatnya dan gak saling tresspassing apalagi intervensi.
Sudah karakter Kreshna sepertinya mendua. Kalau jadi kekasihnya, aku bisa gila tapi kalau jadi temannya, kuterima hal itu sebagai bagian dari karakternya secara objektif.
Memang yang cocok Alicia yang bisa membebaskan karakter Kreshna seperti apa adanya.
Bagi Kreshna, fungsi pasangan dengan selingkuhan berbeda. Pasangan mungkin sebagai simbol. Pride. Gengsi. Seseorang untuk dipuja dan dimanjakan. Platonik love.
Sedangkan selingkuhan adalah kebutuhan emosi dan perasaannya.
Kalau dulu dia disandingkan dengan Alicia. Sekarang Alicia dan kakaknya Tintan.
"Menurutmu bagaimana mengenai rencana pengembangan yang kubuat untuk kantor cabang kita?"
"Menurutku sudah tepat. Marketing mendukung. Kebutuhan pasarnya ada. Kita juga lebih unggul dari kompetitor kita. Budget juga ada."
"Pras sempat meragukan. Tapi aku merasa semua memang sudah memenuhi faktor-faktor pendukungnya. Aku juga memperbaiki beberapa hal yang menurutku bisa memperlambat."
"Mungkin kau juga harus merekrut tambahan orang kalau rencanamu berjalan lancar."
__ADS_1
"Iya itu nanti kalau semua berjalan sesuai rencana."
"Jangan ngomongin kerjaan melulu ah!"
"Oh iya! Sori!" Kreshna tertawa, "Abis kamu kayak gugel sih!"
"Kamu kayak robo cop."
"Ganteng dong?"
"Iya ganteng."
Hidung Kreshna kembang kempis.
"Kayak kabel sama panel listrik." Sambung Ratih tertawa geli.
"Asem! Awas ya!"
"Berhentilah menuntut ilmu. Karena ilmu tidak bersalah!" Ratih menyambung banyolannya.
Kreshna tergelak.
"Waktu itu bukan oreo ya? Dijilat aja gak bisa apalagi dicelupin." Ratih kembali menimpali.
Kreshna kembali tertawa. Matanya berbinar menggoda Ratih. Tiba-tiba ide jahilnya muncul, "Kalau kamu oreo bukan? Soalnya kamu manis sih! Bisa gak dijilat apalagi dicelupin?"
"Hush! Emangnya aku permen dan teh sariwangi?"
Pecah tawa keduanya.
"Kapan kita mau jalan-jalan?" Suara Tintan menginterupsi mereka berdua. Tintan terlihat sangat segar. Dengan kaus putih dan celana kanvas broken whitenya. Terlihat casual, sportif dan cool.
"Kamu keliatan keren."
"Emang bener kan? Masak gitu aja aku gak boleh muji sih?" Sahut Ratih bete.
"Tintan masih abg. Kamu jadi kayak tante-tante muji-muji gak jelas kayak gitu."
"Masak aku maki-maki?"
"Ya gak juga! Diem aja udah. Ngapain sih ngomenin Tintan? Kurang kerjaan banget?" Sahut Kreshna jutek.
"Tan! Kamu jelek banget pake baju itu? Tapi gonjreng!" Pecah tawa Ratih.
"Gak lucu! Kayak cewek ganjen!"
"Biarin aja! Ya, Tan? Cowok godain aku dong!" Ratih semakin jahil.
"Ih! Gak banget deh!"
Ratih kembali tergelak.
"Kita jadi berangkat gak sih?" Tanya Tintan tak menanggapi candaan Ratih.
"Jadi dong! Yuk kita berangkat sekarang." Ajak Kreshna.
Kreshna memesan ojol menuju tempat hiburan yang dimaksud. Sesampai di tempat hiburan membeli tiket masuk dan memilih tiket terusan yang bisa digunakan untuk semua permainan yang ada.
Mereka menuju ke rumah hantu. Ruangan sangat dingin dan gelap. Suasana mencekam.
Di sana sini suasana kuburan. Ditambah suara-suara yang membuat suasana semakin merinding.
__ADS_1
Ketika mereka tengah berjalan. Tiba-tiba muncul di hadapan mereka wajah pucat seperti mayat.
"Aaagggghhhh!" Kontan Ratih berteriak. Refleks meraih Tintan yang berada di sebelah kirinya.
"Kok bukan aku sih?" Protes Kreshna.
"Apaan sih kamu?" Ratih langsung menjauhkan Tintan, mengucapkan permintaan maafnya. Dirinya menjadi sangat malu. Kemudian memukul Kreshna.
"Kenapa jadi aku yang dipukul?" Sahut Kreshna mengusap bahunya.
"Kamu ngapain tadi ngomong kayak gitu?"
Sebelum Ratih melanjutkan perkataannya. Melintas kuntilanak dilengkapi dengan tawanya yang khas.
"Aaaggghhhhh…"Ratih kembali berteriak kali ini meraih tas selempang Kreshna. Tanpa sengaja mencekik lehernya.
"Ggghhhh… Tasku jangan ditarik. Kau mau mengeksekusi aku atau bagaimana?" Ujar Kreshna suaranya berubah menjadi lebih rendah karena tercekik oleh tali tas selempangnya.
Kontan Ratih melepas tali tasnya. Kreshna terhuyung.
"Duh bener-bener deh! Giliran meluk, Tintan. Aku kebagian dikdrtnya. Itu namanya si Tintan yang makan nangkanya, aku kebagian getahnya." Keluh Kreshna.
"Apaan sih kamu? Itu kan refleks. Ini tempat nakutin banget. Kita keluar dari sini. Aku gak tahan lagi."
"Kita gak bisa balik. Harus selesaikan dulu semua kecuali keadaan darurat."
"Ini kan darurat. Aku ketakutan setengah mati. Tempat ini lebih nakutin daripada kuburan."
"Darurat itu kamu pingsan."
"Ya udah kita cepat selesaikan aja secepatnya. Supaya bisa keluar dari sini."
Mereka menyelesaikan rumah hantu secepat mungkin. Karena Ratih tidak tahan dengan suasananya yang menyeramkan dan mencekam. Ratih memegang kedua bahu Tintan dan menutup kedua matanya.
Tintan menuntunnya hingga keluar dari rumah hantu.
Protes Kreshna diabaikannya.
"Kamu pegangan bahuku aja."
"Ogah! Kamu jangan ngelaba dong!"
"Ngapain kamu nyusahin Tintan?"
"Aku gak nyusahin Tintan! Aku lebih percaya sama dia daripada kamu. Gak usah modus deh!"
Kreshna tergelak.
Keluar dari rumah hantu mereka menuju rumah kaca. Dibandingkan dengan rumah hantu. Ratih lebih bisa menikmati permainannya.
"Di rumah hantu. Aku merasa sangat tegang. Gak ada unsur hiburannya sama sekali. Aku berasa diteror dan intimidasi."
"Itu kan karena kamu penakut aja. Seru ya Tan?"
Tintan menganggukkan kepalanya sambil tertawa.
Mereka memasuki rumah kaca. Misinya mencari jalan keluar. Sesekali mereka terkecoh dan terpaksa trial and error untuk menemukan jalan keluar.
Tawa dan jeritan Ratih dan Tintan mewarnai permainan tersebut.
"Dasar perempuan dan abg!" Seru Kreshna tertawa. Melihat antusiasme Ratih dan Tintan membuatnya ikut bersemangat.
__ADS_1
Mereka tertawa ketika terkecoh. Dan heboh mencari dan menemukan jalan keluarnya.