Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Fall In


__ADS_3

Boneka Teddy Bear, buket bunga  serta hadiah tas yang dibawanya untuk Ratih menggantung di udara.


Dia tidak jadi menyerahkan pada Ratih yang sedang  tertidur sangat nyenyak.


Dengkur halus menghiasi tidurnya. Wajahnya menyiratkan kelelahan  yang sangat.


Kreshna meminta pelayan membawakan barang-barangnya. Sementara dia menggendong Ratih menuju lift membawanya menuju kamarnya.


“Makanan yang saya pesan di restaurant bisa dibawa ke kamar tidak?”


Pelayan membantu Kreshna membuka pintu kamar. Kreshna membaringkan Ratih di tempat tidurnya berukuran King Size.


“Taruh disana saja pak, semua barang-barangnya.” Ujar Kreshna menyerahkan uang tips kepada pelayan.


Kreshna menyelimuti Ratih yang sedang tertidur nyenyak. Wajahnya damai seperti bayi. Membelai rambut Ratih kemudian mencium pucuk kepala Ratih.


Bel kamarnya berbunyi. Pelayan mengantar makanan yang sudah dipesannya di restaurant.


Perutnya sudah bermain orkestra. Keinginannya untuk makan malam bersama Ratih kandas. Gadis itu tertidur nyenyak seperti tidak sadarkan diri.


Kreshna membuka tutup makanan yang dipesannya. Ratih tidak menyukai foie grass.


Dirinya tertawa geli saat memesan foie grass untuk mereka berdua.


“Apa ini?” Tanya Ratih saat itu.


“Foie grass?”


“Apa itu? Ini tidak terlihat seperti rumput.”


Pecah tawa Kreshna.


“Memang bukan rumput.”


“Grass?”


“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu. Tapi itu hati angsa bukan rumput.”


“Aku tidak suka hati angsa. Amis. Lebih baik kau pesan hati ayam atau sapi.”


“Baiklah apa yang kau inginkan selain ati ayam atau sapi?”


“Ati-ati…” Ujar Ratih konyol.


Kreshna kembali tergelak, “ati-ati di jalan.”


“Titi dj dong…” Sambung Ratih.


“Ya sudah kau makan ati saja kalau begitu… Atau angin doang tinggal pilih.”


“Kalau aku pilih yang terakhir. Aku khawatir kau akan pingsan.”


“Makan bukan buang…” Sahut Kreshna konyol.


“Iya makan angin, kembung. Dan mau gak mau kan dibuang…”


Kreshna kembali tergelak.


“Polusi udara. Baiklah kau puasa saja kalau begitu…”


Ratih manyun.


“Aku hanya bercanda. Kupesankan steak atau lobster gimana?”

__ADS_1


“Aku ingin makan nasi.”


“Baiklah, sop buntut dan bebek cabai hijau?”


Ratih menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyumnya.


Kemarin malam, untuk fine dining mereka. Dia memesan  dua bebek lado mudo. Sop buntut. Dua nasi putih.  Menambahkan udang pedas gurih. Main course.


Prawn cocktail sebagai starter. Key lime pie mouse, untuk dessertnya. Orange juice.


Kreshna mengisi piringnya yang berisi nasi putih miliknya dengan bebek dan udang yang dipesannya. Menuang kuah sop serta memindahkan buntut yang ada di dalam mangkuk ke piring makannya.


Mungkin salahku juga memaksanya untuk makan malam denganku. Padahal dia kelelahan bekerja. Apalagi sudah seminggu dia seperti ini. Mungkin hari ini sudah dibatasi ambang lelahnya…


Kreshna menikmati makan malamnya seorang diri sesekali melayangkan pandangannya pada Ratih yang sedang tertidur pulas.


Selesai menghabiskan makanannya. Kreshna meneruskan pekerjaannya. Sampai matanya terasa mengayun. Merebahkan dirinya di sisi tempat tidur satunya lagi.


Di dalam tidurnya. Dia bermimpi memasuki sebuah hutan. Dia merasa dirinya seperti Peter Pan. Apakah memang dirinya seperti kue bantat yang tidak bisa berkembang?


Trauma pernikahan kedua orang tuanya. Membelenggu dirinya. Seperti merantainya. Kedua kaki dan tangannya terbelenggu sehingga semua seperti terasa membebani. Sulit untuk berjalan atau melangkah.


Ratih berada di sebelahnya. Duduk bersamanya di sebuah dahan yang sangat kokoh juga kuat serta besar. Menasehati  atau menceramahinya?


“Kau tahu ada sesuatu di dalam dirimu yang tidak akan bisa tumbuh dewasa.”


“Apa maksudmu?”


“Kau menghindari komitmen.”


“Kau tidak tahu bagaimana rasanya terasing di dalam keluargamu sendiri. Aku manusia bukan kesalahan yang bisa dihapus begitu saja. Seperti tulisan yang ditip-ex.”


“Kau selalu mengatakan hal yang sama. Tapi kita tidak bisa kemana-mana karenanya. Kau kan bisa belajar dari trauma kedua orang tuamu. Bukannya selalu merasa tersakiti atau menghindari sesuatu yang memang harus kau lalui.”


“Yeah, kau benar. Aku memang tidak mengalami apa yang kau alami. Tapi berikanlah batas waktu. Apakah kita mau selamanya seperti ini?”


Kreshna mengambil akar rumput yang terasa kokoh mengayun. Membawa  tubuhnya melompat ke sana kemari. Sampai akhirnya dia menubruk sebatang pohon yang  sangat besar dan…


“Kreshna! Apa yang kau lakukan?”


Sebuah dorongan di tubuhnya membangunkannya. Sesosok air muka  penuh kemarahan di depan wajahnya yang masih tampak merah karena kantuk yang menguasainya.


“Kau bicara apa?” Sahut Kreshna berusaha mengumpulkan nyawanya yang berpencar serta berserakan.


“Mengapa aku ada di kamarmu? Apa yang kau lakukan?!”


Wajah Ratih tampak emosi serta merah padam menahan amarahnya.


“Beri waktu aku sebentar untuk mengumpulkan nyawaku. Ini jam berapa?” Sahut Kreshna beranjak bangun. Berjalan menuju toilet kamarnya. Mencuci wajahnya. Membuatnya terasa lebih segar serta memaksa nyawanya yang berserakan berkumpul kembali dalam tubuhnya.


“Buat apa  kau bertanya jam?” Ujar Ratih sewot.


“Supaya aku tahu yang bicara makhluk halus atau kasar.” Ujarnya tertawa geli.


“Gak lucu! Jelaskan apa maksudmu?”


“Jelas aja gak lucu kau sedang emosi begitu. Ada apa sih? Bangun marah-marah?”


“Mengapa aku ada di tempat tidurmu? Apa yang kau lakukan?”


“Apa maksudmu, apa yang kulakukan?”


“Kau memiliki rencana apa?”

__ADS_1


“Aku tidak memiliki rencana apa pun. Jika maksud pikiranmu sangat jelek padaku. Kau ketiduran. Aku tidak tega membangunkanmu atau membiarkanmu tertidur di meja makan.” Ujar Kreshna.


Ratih terdiam.


“Kau tidak lapar? Aku tidak bisa menunggumu bangun. Jadi aku makan duluan. Sendirian.” Sambung Kreshna.


“Lapar sih. Cuma aku kesal melihatmu ada di sebelahku.”


“Ini kamarku. Kau mau aku bagaimana?”


“Yeah, aku tahu ini kamarmu. Tapi mengapa kita bisa sekamar? Aku dalam keadaan tidak sadar.”


“Kau terlalu lelah. Tidak ada yang membius atau meringkusmu.” Ujar Kreshna kembali tertawa. Wajah Ratih kembali manyun.


“Seharusnya kau membangunkanmu. Bukannya memindahkanku ke kamarmu.”


“Kau pingsan bukan tidur. Bagaimana aku bisa membangunkanmu?” Sahut Kreshna tergelak.


“Kau tidak mencari alasan kan?”


“Buat apa aku mencari alasan?”


“Aku kan sudah bilang aku sangat lelah.”


“Yeah, maafkan aku. Sudahlah, sebaiknya kau makan dulu. Apa ingin kupesan yang baru?”


“Tidak usah.”


“Aku akan memanaskan sopmu menggunakan heater. Bagaimana?”


Ratih meganggukkan kepalanya.


“Terima kasih.”


Ratih harus mengakui memang perutnya sangat lapar. Tubuhnya terasa lebih segar setelah terbangun tidurnya.


“Maafkan aku tertidur. Aku sangat lelah.”


“Yeah, aku tahu. Kau sudah bilang kalau kau bekerja lembur seminggu ini tetapi aku memaksamu untuk makan malam bersamaku.”


“Yeah.” Ujar Ratih menyuap nasi dengan udang yang terasa pedas juga gurih.


Kreshna menuangkan sop Ratih yang sudah dipanaskan ke mangkuknya kembali.


“Sopnya keliatan lezat.” Ujar Ratih.


“Sangat cocok dimakan dengan nasi dan bebek. Cobalah…” Sahut Kreshna.


Ratih menganggukkan kepalanya. Menuangkan kuah juga potongan buntut yang terasa kenyal dan empuk. Kuahnya terasa gurih.


Kreshna menunggu Ratih menyelesaikan makannya. Ikut menemani Ratih makan dengan menghabiskan apatizer serta dessertnya yang belum dimakannya.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2