
Setelah mereka berpisah di bandara. Kreshna kembali ke kehidupannya sendiri.
Rasa sepi dan hampa menderanya. Tetapi dia mau bilang apa. Semua karena dirinya sendiri yang selalu ragu memutuskan untuk memberikan kepastian pada hubungannya dan Ratih.
Perceraian orang tuanya. Membayangi dirinya. Dia tidak ingin anak-anaknya mengalami apa yang dia alami.
Dia tidak pernah mengatakan alasan keraguannya. Tidak yakin juga Ratih mau mengerti. Kemungkinan dia akan dianggap mengada-ada.
Hari itu adalah hari kelabu. Saat ayahnya berpamitan pada dirinya. Pertengkaran yang mewarnai rumahnya memang berakhir tetapi kesunyian melanda dan mendera.
Ibunya tenggelam pada kesibukannya sendiri. Memiliki seorang lelaki yang sepertinya akan menggantikan kedudukan ayahnya.
Ayahnya sendiri menikah lagi dengan seorang wanita. Yang namanya kerap didengarnya dari pertengkaran kedua orang tuanya.
Dirinya terasing. Apalagi setelah ibunya menikah. Semakin sibuk dengan usahanya, suami barunya dan adik sambungnya. Dia semakin terasing di keluarganya sendiri.
Dia merasa bahwa dia adalah duri dalam tenggorokan bagi keluarganya sendiri.
Hari yang sangat menyedihkan saat dia pulang sekolah. Mendengar percakapan tidak sengaja kedua orang tuanya di rumah.
"Aku tidak bisa membawanya. Istriku tidak mau menerimanya. Dia tidak ingin menjadi ibu tiri dan menyandang streotype sebagai ibu tiri."
"Kau menikahi wanita yang sangat kejam. Itu kan anakmu sendiri? Aku bukan tidak mau mengurusnya. Kesibukanku dan sekarang kami punya bayi. Aku tidak ingin Kreshna merasa terasing."
"Kau ibunya. Kau lebih kejam tidak mau mengurus anakmu sendiri. Kau sendiri menikahi suami macam apa? Tidak bisa memberikan perhatian pada anak sambungnya?"
"Memang kau bisa? Kau sendiri? Kerjamu hanya selingkuh dan sibuk dengan dirimu sendiri. Seandainya kau memperhatikanku dan Kreshna serta bersikap setia. Tidak mungkin kita bercerai."
"Aku selingkuh karena mencari kenyamanan. Kau hanya sibuk dengan dirimu sendiri. Memangnya kau memperhatikanku dan Kreshna."
"Sudahlah! Pernikahan kita sudah seperti lingkaran setan. Aku ingin menitipkan Kreshna padamu. Aku kerepotan membagi perhatianku."
"Aku sudah bilang tidak bisa. Istriku tidak ingin nanti rumah tangga yang kami bangun hancur berantakan hanya karena masalah ini."
"Masalah ini apa?" Suara ibunya mulai meradang dan naik.
"Sudahlah! Aku harus pergi. Aku tidak ingin mengulangi kegagalan rumah tangga kita. Aku tidak ingin kehilangan istriku."
__ADS_1
"Kau tidak ingin kehilangan istrimu tapi kau tidak peduli anakmu sama sekali."
"Apa yang terjadi pada kita. Merupakan pil pahit dalam hidupku. Aku tidak akan mengulangi lagi. Aku berjanji pada diriku sendiri. Maafkan aku! Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Kau sendiri yang menginginkan hak asuh itu. Sekarang kau ingin mengalihkan padaku sedangkan istriku tidak pernah menginginkan hak asuh tersebut."
Ayahnya pergi meninggalkan ibunya sekali lagi. Dan dia tidak pernah lagi bertemu dengan ayahnya sejak itu.
Mendengar penolakan ayah dan ibu sambungnya. Membuat hatinya terluka dan tidak berkeinginan apalagi mencari ayahnya.
Ayahnya juga tidak pernah berusaha mencari atau menghubungi dirinya. Sebagai anak lelaki. Pantang baginya menangisi keadaannya.
Dia terbiasa mandiri dan sendiri. Bertekad akan membuat dirinya menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan dan diandalkan.
Kehadirannya di tengah keluarga ibu dengan suami juga adik sambungnya. Seperti yang dikatakannya seperti duri di dalam tenggorokan.
Dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya keluar negeri. Melarikan diri dari semua hal yang menimpa dirinya tanpa bisa dia hindari.
Ayahnya walaupun tidak pernah mencarinya. Tetapi menitipkan sejumlah uang untuk pendidikannya. Masa depannya.
Sedangkan ibunya sendiri dan juga ayah sambungnya sangat mendukung keputusannya. Melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Biaya pendidikan dan hidup didapatkannya dari ayah, ibu dan ayah sambungnya. Sampai dia bisa membiayai semuanya sendiri dan tidak membutuhkan mereka lagi.
Pulang kembali ke Indonesia untuk bekerja. Memutuskan tinggal sendiri. Membuat hubungannya dengan ibu dan keluarga barunya bisa terjalin dengan baik. Setidaknya dia sudah tidak merasa seperti duri dalam tenggorokan.
Karirnya melesat. Tidak sulit baginya berkonsentrasi pada pendidikan dan pekerjaan.
Alicia adalah kekasih sekaligus sahabat pertamanya. Dirinya memupuk harapan yang begitu tinggi terhadapnya.
Trauma yang menimpa dirinya membuatnya tidak mudah mendekati apalagi mempercayai wanita.
Apalagi dia menemukan hampir semua wanita sama. Tidak ada yang memenuhi apalagi mendekati ekspektasi dirinya kecuali Alicia yang tampak berbeda.
Dirinya dilanda cinta. Untuk pertama kalinya dia mempercayakan hati dan hidupnya pada seorang wanita.
Kehancuran kembali melanda dirinya ketika menemukan Alicia berselingkuh.
"Kau terlalu acuh dan dingin!" Cetus Alicia.
__ADS_1
"Apa maksudmu aku terlalu acuh dan dingin?" Mata Kreshna menatap mata Alicia seolah menembus manik matanya.
"Kau hanya sibuk dengan pekerjaanmu.Mengacuhkanku."
"Aku mengacuhkanmu?"
"Kau seakan membangun tembok yang tidak bisa kutembus."
"Tidak usah mencari alasan. Kita putus dan aku tidak ingin lagi membahas yang sudah terjadi di antara kita."
Hubungan Alicia sendiri dengan pacar barunya tidak berhasil. Perhatian yang Alicia maksud. Memang dia dapatkan tetapi lelaki tersebut tidak bisa dipercaya dan mudah jatuh cinta.
Dia tidak bisa menerima Alicia kembali walaupun Alicia menyesal dan meminta maaf.
"Aku memaafkanmu tetapi aku tidak ingin memberikanmu kesempatan lagi." Tukas Kreshna.
Mereka tetap bersahabat. Bagaimana pun Alicia sudah seperti keluarganya sendiri. Keluarga yang tidak pernah benar-benar dia miliki. Mereka hanya memberikan materi. Tidak bisa memberikan kehangatan sebuah keluarga apalagi cinta.
Ayahnya mengundangnya makan malam begitu mendengar kesuksesannya menjabat di posisi puncak perusahaan yang saat ini dipimpinnya.
Pertama dan terakhir kali dia bertemu dengan ayah dan keluarganya setelah bercerai dengan ibunya.
Mereka tampak sangat berbeda dengan keluarga yang dulu pernah mereka bangun.
Ibu sambungnya tampak sangat memperhatikan ayah dan adik-adik sambungnya. Ayahnya juga tampak sangat mencintai istri dan anak-anaknya.
Memeluknya erat sebelum mereka berpisah, "Ayah bangga padamu. Bertahun lamanya, ayah khawatir perceraian aku dan ibumu berdampak padamu. Tetapi sepertinya ketakutanku tidak beralasan!"
Di tengah kesibukannya. Sesekali dia mengunjungi keluarga ibunya. Sebagai bentuk rasa hormat. Bukan karena merasa bagian dari keluarga mereka.
Terutama saat ibunya mengundangkan untuk merayakan hari raya bersama. Saat berkumpul dengan seluruh keluarga.
Dia tidak tahu mana yang lebih baik. Tidak pernah berjumpa seperti dengan keluarga ayahnya sehingga tidak perlu menyaksikan sesuatu yang tidak pernah dimilikinya.
Atau sesekali bertemu.Seperti dirinya dengan keluarga ibunya. Menelan iri melihat keutuhan serta keharmonisan keluarga baru ibunya, ayah dan adik-adik sambungnya.
Setiap kali menghadiri acara keluarga di keluarga ibunya. Dia selalu merasa seperti kesalahan bagi ibunya. Tidak seharusnya dia ada. Menjadi basa basi di dalam keluarga. Dia merupakan nada yang berbeda atau fals di dalam keluarga ibunya.
__ADS_1
Percakapan yang canggung dan basa basi. Sikap kikuk dan tidak dapat menyatu dengan keluarga baru ibunya termasuk ibunya sendiri. Mewarnai family gathering mereka.
Dia seperti typex dalam kehidupan kedua orang tuanya. Tertulis di dalam kalimat dengan bentuk yang berbeda….