Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Sepi sendiri


__ADS_3

Ratih menggantungkan lampion yang diberikan Kreshna terakhir mereka bertemu dan berpisah.


Tercenung menatap lampion kertas di hadapannya.


Akan kuberikan pada siapa?


Bisiknya dalam hati.


Seseorang yang pastinya akan sama sekali berbeda dengan Kreshna.


Ratih juga menghindari pergaulan. Menepis ajakan berkumpul dari teman-teman kerjanya.


"Ayolah! Ikut bersama kami! Kau juga baru bekerja disini dan sekalian memperkenalkan dirimu."


"Aku benar-benar tidak bisa. Aku ikut urunannya aja ya?"


Beberapa merasa terganggu dengan sikap Ratih yang menarik diri.


"Sombong!"


"Huss! Kau kenapa sih?"


"Anak baru tapi sombong sekali!"


"Sudahlah! Yang penting dia ikut urunan. Dia juga tidak pernah membuat masalah disini."


"Kau membelanya, naksir ya?"


"Meladenimu gak akan ada habisnya!"


Jam menunjukkan pukul dua belas kurang sedikit. Ratih menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin dan bergegas menuju kontrakannya.

__ADS_1


Dia menggunakan jam makan siangnya untuk bersantai di kediamannya.


Kalau sedang malas masak dia membeli makanan yang ada di sekitarnya atau memesan lewat go food.


Dia membuka kulkas. Bermaksud menggoreng ayam dan tempe ungkep serta membuat sayur bayam.


Membersihkan rumahnya jika tidak sempat dilakukan pagi hari karena terlambat bangun.


Sendiri membuatnya bisa lebih berkonsentrasi dengan apa yang dikerjakannya.


Selesai makan. Dia mengiris kue yang dibelinya kemaren sehabis pulang bekerja.


Home sweet home. Rumah kontrakannya tidak sekedar rumah tetapi sekaligus rumah bagi jiwanya.


Dia membuka-buka youtube. Memiliki hobi baru melihat-lihat resep masakan dan mencobanya sesekali.


Memasak juga merupakan healing. Jika setiap kali patah hati dia menemukan kemampuan terpendam lain dalam dirinya, sebenarnya patah hati bukan sesuatu yang jelek juga bahkan di tangan orang yang tepat, patah hati bisa menjadikan seseorang menjadi sesuatu yang luar biasa.


Kupikir, patah hati juga bisa membuatmu tidak waras.


Ratih cepat-cepat menepis pikirannya yang sudah mulai ngawur.


Mengingat patah hati tidak selalu berimbas baik pada setiap orang. Ada yang bunuh diri atau melakukan perbuatan yang buruk. Bagaimana pun, tidak peduli seberapa baiknya dampak yang dirasakan seseorang melalui hal tersebut, tidak ada satu pun yang berharap mereka merasakan patah hati.Patah hati bukan elegi melainkan tragedi.


Bel rumahnya berbunyi. Dia tidak pernah menerima siapapun bertamu di rumahnya semenjak kepindahannya.


Ratih membuka pintu rumahnya. Empat rekan kerjanya berada di depan pintu rumahnya.


"Numpang makan, boleh?"


Ratih menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Silahkan masuk!"


Mereka masuk ke dalam rumahnya. Duduk di sofa ruang tamu merangkap ruang keluarga.


"Makan di meja makan saja."


"Tidak usah. Enakan di sini."


Ratih mengambilkan empat buah gelas dan seteko air putih.


Membuka kulkas mengeluarkan kue bolu coklat chips yang dibelinya kemarin. Mengirisnya dan menaruhnya di piring.


"Tidak usah repot-repot! Kami hanya menumpang makan. Dio bilang, rumahmu dekat kantor dan ternyata benar."


"Tidak repot. Kemarin aku beli ketika pulang ke rumah sambil berjalan kaki karena aku tidak lembur kemarin. Ingin cepat pulang dan bersantai di rumah."


"Kau sungguh beruntung memiliki tempat tinggal dekat kantor. Aku harus menempuh perjalanan setidaknya sejam untuk sampai di rumah."


"Aku memang sengaja mencari rumah dekat dengan tempat kerja agar waktuku efisien dan tidak membuang banyak waktu di jalan lebih baik kugunakan untuk beristirahat atau merapikan rumah kalau aku tidak sempat karena berangkat pagi."


"Pindah bukan sesuatu yang mudah dan aku pikir lebih baik nikmati saja yang ada."


"Apalagi kalau kau sudah berkeluarga. Banyak pertimbangan dalam memilih sesuatu."


Mereka makan sambil mengobrol sesekali mereka bercanda dan Ratih hanya mendengarkan serta sesekali tertawa.


"Bagaimana kalau malam minggu besok kita jalan bersama?"


"Bolehkah, kami menginap di rumahmu? Kita semua perempuan dan tentu tidak ada masalah menginap asal kau mengijinkan."


"Tentu, aku tidak keberatan!"

__ADS_1


"Bagus!"


__ADS_2