Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Going Abroad


__ADS_3

Tania berjalan mendekati Pras. Mengangsurkan surat pengunduran dirinya.


“Apa ini?” Tanya Pras sembari membuka amplop di hadapannya. Mengerutkan dahinya, “Apa maksudmu? Bisa kau jelaskan?”


“Aku ingin melanjutkan pendidikanku. Sudah lama aku merencanakannya. Aku diterima di salah satu universitas yang sudah aku coba apply beberapa tahun terakhir. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut.”


“Kau sudah berbicara dengan Kreshna?”


“Sudah. Awalnya dia tidak menyetujui.”


“Lalu?”


“Aku bersikeras ingin melanjutkan pendidikanku. Akhirnya, dia menyetujui. Ratih akan menggantikan tugasku. Kau akan dibantu Diah kembali. Itu keputusan Kreshna. Agar kau tetap bisa mengendalikan dan menjalankan semuanya dengan baik.”


“Semua serba mendadak.” Ujar Pras.


“Tidak mendadak. Aku hanya tidak memberitahukan rencanaku pada siapa pun.”


“Tapi, mengapa?”


“Setiap orang memiliki obsesi dan keinginan mereka masing-masing. Bisa terwujud dan tidak. Kalau tidak terwujud dan sudah dibicarakan kemana-mana. Tentu akan membuat malu atau menjadi tekanan jika tidak tercapai.”


“Kemana-mana bagaimana maksudmu? Kemungkinan kau hanya membagikan pada orang-orang yang kau kenal dengan dekat kan?”


“Yeah. Seperti keluarga.”


“Apakah Marsha mengetahui hal ini?”


“Kami sudah lama berpisah dan baru saja bertemu kembali.”


“Dia belum tahu apa pun mengenai rencanamu?”


Tania menggelengkan kepalanya, “Aku belum sempat memberitahukannya. Aku masih sibuk mengurusi persiapanku.”


“Aku akan mengatakan padanya. Kau akan mengabari kami semua kan?”


“Aku pasti memberitahukan jika aku akan berangkat. Tidak usah khawatir. Aku akan membereskan semuanya.”


“Yeah.” Pras menganggukkan kepalanya. Memandang ke arah Tania.


“Ratih dan Diah akan membantumu. Mereka akan bekerja dengan sangat baik.  Aku akan membantu mereka dari jauh. Jika mereka membutuhkan bantuanku.”


“Benarkah?”


“Yeah, kami bisa tetap berhubungan lewat email kan? Kau tidak usah khawatir. Ok?”


“Baiklah. Kantor pasti lebih sepi tanpamu.”


“Itu karena kau suka menggangguku.” Tania tertawa kecil.


Pras ikut tertawa, “Aku tidak bermaksud mengganggumu. Tetapi memang merupakan hiburan bagiku mengusilimu.”


Mereka berdua tertawa.


“Yeah. Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti.”


“I wish you luck!” Ujar Pras.


“Thanks.”


“Kau akan mengadakan farewell kan?”


“Yeah. Tentu saja.”


Tania memfokuskan diri mempersiapkan keberangkatannya. Mempersiapkan Ratih dan juga Diah untuk menggantikan tugasnya.


“Tan! Terima kasih, kau mau memilihku untuk membantu Ratih mendampingi Pras.”


“Kalian berdua kandidat terbaik. Pras sudah terbiasa denganmu. Kau juga sudah mengetahui A sampai Znya Pras.”


Sorot kebencian hilang dari mata Diah, “Aku akan kehilanganmu. Begitu juga teman-teman yang lain.”


Tania memeluk Diah, “Jangan membesarkan sesuatu. Kita masih bisa berkomunikasi lewat email. Sesekali liburan bersama. Who knows kan?”


“Benarkah?”


Tania menganggukkan kepalanya.


“Liburan ke luar negeri mahal.”


“Kita bisa bertemu pada saat aku ke Indonesia bagaimana?”


“Tapi mungkin bila kita menabung. Bisa saja kan?”


“Yeah, tentu!” Keduanya tertawa.


***


Marsha mengajak Tania bertemu. Mereka berbelanja dan makan siang bersama. Menghabiskan weekend bersama.


“Pras bilang kau ingin keluar negeri?” Tanya Marsha menyesap es kopi vanila cincau pesanannya.

__ADS_1


Tania menganggukkan kepalanya. Menyendok nasi dengan potongan daging sapi lada hitam pesanannya.


“Kok mendadak?”


“Gak mendadak. Udah lama. Cuma baru dapatnya sekarang.”


“Masak sih?” Tanya Marsha dengan wajah menyelidik. Membuat Tania tidak dapat menahan tawanya.


“Biasa aja keleus, Ca!”


“Mengapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?”


“Untuk apa? Nambah beban aja!”


“Kok beban?”


“Iyalah beban. Kan belum pasti. Jadi kayak orang mengkhayal kan?”


Marsha menyuap nasi dengan potongan sosis.


“Aku tidak bisa bertemu kau lagi dong? Padahal kita baru aja bertemu.”


“Bisalah! Tenang aja!”


“Mengapa gak sekolah di sini aja?”


“Entahlah! Mungkin aku ingin suasana baru. Tantangan lain?”


“Aku merasa ini ada hubungannya dengan aku dan Pras. Ya kan?”


“Jangan ge er bisa gak? Aku memang sudah lama ingin keluar negeri. Memangnya kenapa kau dan Pras?”


“Tidak tahu. Aku pikir ada hubungannya dengan aku dan Pras. Apa kau tersinggung waktu di villa kemarin?”


“Gaklah! Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku merasa kalau disini. Aku tidak bisa menjajal kemampuanku. Kemungkinan nama besar keluargaku berperan. Tapi kalau di luar negeri. Memang benar-benar kemampuanku sendiri.”


“Pekerjaanmu bagus. Kau masih tidak yakin?”


“Siapa yang bisa yakin kalau berada di bawah bayang-bayang nama besar keluarga?”


“Jadi benar tidak ada hubungannya dengan aku dan Pras.”


Tania menganggukkan kepalanya.


“I will gonna miss you, Tan....”


“Me, too....”


“Tan, to be honest, I didn’t want something cross between our friendship.”


“A hard of true friendship is find it. The hardest is maintain it.”


“Yeah. Right.”


Menjelang keberangkatan Tania semua berjalan dengan manis. Mereka semua termasuk Marshanda menghabiskan waktu di kontrakan Ratih.


Sangat menikmati kebersamaan mereka. Marsha dan Tania belajar memasak dari teman-teman mereka yang lain.


Hasilnya telur ceplok dan dadar keasinan. Nasi goreng yang rasanya nano-nano. Mie goreng yang rasanya mess up. Karena bumbunya saling menabrak.


Tetapi mereka tetap menikmatinya sambil memberi komen dan semangat.


“There always the first time for everything.” Sahut Mirna menyemangati.


“Yeah. Jujurly, mie gorengnya kok kayak jamu ya?” Sahut Diah.


“Disini Ratih menulis bumbu lengkap. Aku membuat bumbu dari jahe, kunyit, kencur, kemiri, lengkuas, ketumbar,lada, bawang putih dan merah.”


Kontan semua tergelak kecuali Marsha dan Tania.


“Bumbu lengkap maksudnya bawang merah, putih, lada dan kemiri sedikit.” Ujar Amanda.


“Ok, kita coba nasi goreng buatan Marsha.” Ujar Dira.


“Jujurly, ini nasi,  gila beneran. Rasanya kok kayak gak waras gitu!”


Meledak tawa mereka mendengar komentar Dira.


“Nasi goreng gila itu pedes.” Sahut Ratih.


“Iya, itu kalau yang gilanya normal. Coba aja yang gila beneran.”


Pecah tawa semuanya.


“Asem, manis, asin, pedes dan apa ini? Pait?”


“Gosong apa gimana?”


“Ini apa aja sih bumbunya?”


“Bawang putih, bawang merah, cabe...”

__ADS_1


“Iya bener. Jangan halu dong Dir!” seru Diah.


“Jangan iri.” Seru Amanda.


“Kalian coba aja sendiri deh.”


Mereka mencoba satu-satu.


“Gue rasa bukan gila.” Ujar Mirna.


“Yeah, sinting!”


“Sakit jiwa!”


“Skizofrenia.”


“Wait! Kalau Cuma bawang merah, putih dan cabe masak rasanya gokil kayak gini sih?”


“Aku kan belum selesai.” Ujar Marsha.


“Oh belum selesai, silahkan lanjutkan.”


“Jahe.”


“Nasi goreng pake jahe?”


“Mulai gila ya?” Meledak tawa mereka semua.


“Itu deh kayaknya bikin pahit.”


“Gula merah, asem jawa....”


“Cukup! Anda dinyatakan gila!”


Tawa mereka kembali pecah.


“Batal kita kayaknya makan. Ide siapa nyuruh mereka berdua memasak?”


Bel pintu rumah Ratih berbunyi. Ratih membuka pintu dan Pras tersenyum lebar.


“Kau mau apa ke sini?” Tanya Ratih.


“Aku mau jadi Jaka Tarub dong.”


Ratih tertawa geli.


“Aku bawa makanan. Kalian menyuruh Marsha memasak. Kalian tidak tahu apa yang kalian inginkan.”


Kontan pecah tawa Ratih.


“Masuklah!”


Pras membawa kotak makanan yang disusun di plastik.


“Kalian pasti lapar kan?” Seru Pras.


“Yeah! Kau bisa tahu?”


“Kalian mencari penyakit. Orang gak bisa masak disuruh masak.”


Kontan mereka tertawa. Membagikan kotak makanan untuk mereka semua.


“Bagaimana rasanya?”


“Masakan surga!”


Pecah tawa mereka semua.


“Separah itu?” Tanya Pras.


“Kau coba aja sendiri.”


Pras mencoba kedua makanan tersebut.


“Makanannya fresh tapi gak layak makan.”


Pecah tawa mereka semua.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


... ...


__ADS_2