
Rutinitas yang sangat membosankan. Tapi tidak ada yang dapat dilakukan selain berusaha menikmati sehingga menjadi terbiasa.
Kreshna sendiri berusaha untuk tidak terlalu memikirkan hubungannya dengan Ratih yang sepertinya stuck. Tidak bisa maju tetapi juga tidak bisa mundur.
Trauma buat sebagian orang hanyalah sebuah kata. Permainan kata. Tetapi baginya adalah sangat nyata.
Apalagi jika melihat pernikahan kedua orang tuanya. Pernikahan pertama seperti uji coba. Tolak ukur keberhasilan pernikahan selanjutnya.
Apa seharusnya dia menikahi Alicia. Gagal. Baru menikahi Ratih untuk kebahagiaan yang lebih hakiki?
Jadi konyol kan? Seandainya tolak ukur kebahagiaan memiliki pola. Tentu dengan mudahnya dia akan melakukan seperti pola.
Sayangnya tidak ada jaminan sama sekali. Trauma yang membayangi. Seakan menjadi penahan baginya. Agar tidak gegabah memutuskan menikah dan membangun keluarga.
Trauma tersebut seperti rem tangan di saat mobil sedang macet di jalan menanjak.
Kreshna memandangi foto-foto yang diambilnya. Saat menghabiskan waktu terakhir kali dengan Ratih.
Dia sangat menyukai ekspresi wajah Ratih. Semuanya. Tapi itu tidak cukup menyakinkannya kalau hubungan mereka akan baik-baik saja. Selamanya.
Pernikahan kedua orang tuanya. Pengkhianatan Alicia. Seperti garam dan perasan jeruk nipis pada luka yang terbuka.
Dia memutuskan membuat album foto. Memilih salah satu foto untuk diperbesar dan dipajang di kamar tidurnya. Mungkin satu lagi di kamar kerjanya.
Handphonenya berbunyi. Alicia.
"Ada apa Al?"
"Aku ingin kau menemani Dean."
"Aku sedang malas keluar."
"Please! Semenjak kembali. Kau seperti tidak bersemangat. Tolong bantu aku!"
"Bantu apa sih?"
"Awasi Dean. Apakah dia setia padaku atau tidak."
"Kau takut dia seperti mantanmu?"
"Begitu lah."
"Kalau kau mencurigainya. Mengapa mau bertunangan dengannya."
"Aku bukan mencurigainya. Aku trauma. Tidak ingin gegabah dan tidak memastikan semuanya. Apalagi kami ingin menikah."
"Menikah itu butuh kepercayaan. Untuk apa kau menikahi orang yang tidak kau percaya. Menyiksa!"
"Memang kau mau memaafkanku?"
"Semua sudah berlalu. Jawabanku sudah pasti tidak. Perasaanku padamu sudah berakhir. Kau tahu aku mencintai Ratih."
"Aku tidak punya harapan lagi kan? Aku sangat menyesal sudah mengkhianatimu. Tapi aku bisa apa? Aku juga ingin bahagia."
"Kau bisa memilih seseorang yang bisa kau percaya."
"Aku menyukainya. Aku harus memastikannya. Tidak ada jalan lain. Please!"
"Baiklah!"
Kreshna menghabiskan waktu seharian dengan Dean. Sebagai teman. Dean merupakan sosok yang baik dan menyenangkan. Tidak heran jika Alicia sangat menyukainya.
Ide yang awalnya terdengar buruk berubah menjadi sangat menyenangkan.
__ADS_1
Mereka memiliki hobi yang sama. Membuat mereka mudah dekat dan akrab satu sama lain.
Bermain game, basket, sepak bola dan jalan. Dean juga sosok yang sangat jahil.
"Mau makan gratis gak?" Sahut Dean jahil.
"Kau tidak punya uang? Kutraktir."
"Kau tidak pernah menikmati hidup ya?"
"Apa maksudmu?"
"Lihat aku." Mereka berjalan ke arah seorang gadis yang sedang memesan makanan sendirian.
"Cindy?"
"Anda siapa?"
"Benar ya Cindy?"
"Maaf bukan. Saya tidak mengenal anda."
"Maafkan saya! Anda sangat mirip dengan Cindy."
"Saya tidak kenal Cindy."
"Mungkin dia sudah meninggal. Sepertinya operasinya gagal. Jangan-jangan menitis ke tubuh anda. Karena anda sangat mirip sekali dengannya."
"Anda jangan ngawur!"
"Cindy gadis buta. Menderita penyakit yang membuat kedua matanya buta. Dokter juga sudah memvonis usianya tidak lama."
"Aku tidak mengenal Cindy."
Dean mengarang cerita. Membuat gadis tersebut tertarik mendengar ceritanya. Mulai mengajukan pertanyaan. Tau-tau mereka bertiga sudah mengobrol dan makan bersama.
"Maaf, aku harus pergi sekarang." Dean melihat jam tangannya.
"Baiklah. Kuharap kau segera menemukan temanmu."
"Yeah! Terima kasih."
Mereka berpamitan. Dean dan Kreshna tidak dapat menahan tawanya.
"Gimana rasanya makan gratis?"Tanya Dean.
"Lebih enak daripada bayar sendiri." Pecah tawa keduanya.
"Iya kan?"
"Kau jahil sekali!"
"Tidak setiap saat. Kalau sedang ingin cari hiburan saja. Kalau terlalu sering. Nanti jadi buron."
Mereka kembali tergelak.
"Begitukah caramu berkenalan dengan Alicia?"
"Tentu tidak. Aku memang jatuh cinta padanya. Bukan bermaksud jahil apalagi mengisenginya."
"Syukurlah!" Ujar Kreshna tersenyum lebar.
"Alicia tidak tahu sifat jahilku. Aku tidak mengatakannya. Takut dia cemburu dan mengganggapku suka mempermainkan wanita. Aku tidak ada maksud apa pun selain iseng."
__ADS_1
"Kau belum pernah mengatakannya padanya? Dia akan salah paham kalau melihatmu seperti itu."
"Aku kan tidak menggoda atau mengejar. Hanya sekedar mengisengi saja. Kau lihat sendiri. Tidak ada apa-apa."
"Yeah aku tahu. Tapi kalau aku tidak tahu. Aku bisa salah paham."
"Aku juga sudah jarang melakukannya. Berniat berhenti melakukannya. Aku tidak ingin Alicia salah paham. Apalagi dia sudah dikhianati mantannya. Biasanya akan menjadi sangat sensitif dan parno. Kalau dia malah salah sangka. Bagaimana?"
"Ya sudah. Terserah kau. Yang lebih tahu kan kau."
Mereka meluangkan waktu saat weekend. Ketika Dean dan Alicia tidak sedang menghabiskan waktu bersama.
"Thanks. Kau sudah mau menemani Dean menghabiskan waktu akhir pekannya. Lebih baik dia bersamamu. Aku menjadi lebih tenang."
"Rileks. Jangan terlalu dibayangi masa lalu. Apalagi kalau tidak ada alasannya."
"Kau seperti sangat menikmati waktu bersamanya."
"Tunanganmu. Teman yang sangat menyenangkan."
"Syukurlah, kalau kalian berdua cocok satu sama lain."
"Kapan kalian menikah?"
"Secepatnya. Kupikir aku sudah menemukan jodohku."
"Yeah! Sepertinya begitu. Aku turut berbahagia untukmu."
"Bagaimana kau dan Ratih?"
"Memang kenapa aku dan Ratih?"
"Kapan kalian menikah?"
"Menikah apa? Kami putus."
"Kalian putus? Sejak kapan?"
"Aku tidak bisa memberikan kepastian padanya."
"Kau masih trauma dengan pernikahan orang tuamu? Pengkhianatanku padamu? Maafkan aku."
"Pernikahan bukan sesuatu gambaran yang membahagiakan di benakku. Aku tidak ingin mengalami apa yang dialami kedua orang tuaku. Tidak ingin anakku mengalami apa yang aku alami."
"Jangan seperti itu. Jangan menutup pintu kebahagiaanmu sendiri. Kau kan bisa menunda memiliki momongan. Jika ingin memastikan semuanya."
"Aku tidak bisa memutuskan dalam keadaan ragu dan takut. Kau tidak tahu bagaimana rasanya terasing di dalam keluargamu sendiri."
"Kau tidak pernah kekurangan materi. Kau juga sukses. Apalagi?"
"Kau sendiri tidak bisa berbahagia bersamaku."
"Kau begitu dingin dan acuh. Kau memang sangat setia. Tapi hal itu tidak cukup. Tetapi aku belajar untuk menerima orang apa adanya. Tidak menuntut sesuatu yang di luar jangkauan. Setiap orang memiliki sisi baik dan buruk. Aku sudah mendapatkan pelajaranku."
"Yeah! Pengalaman adalah guru yang terbaik."
"Kuharap kau dan Ratih bisa mengatasi masalah kalian berdua."
"Jodoh itu sudah ada yang mengaturnya. Kita tidak bisa memaksakannya. Aku tidak ingin memikirkan masalah cinta. Apalagi dengan dibayangi rasa trauma. Seperti orang sakit maag atau gerd melihat aneka makanan lezat."
"Lakukan apa yang bisa membuatmu bahagia. Masalah jodoh memang tidak bisa dipaksakan. Semua sudah ada waktu dan takdirnya."
"Yeah!"
__ADS_1