
Hari yang dinantikan mereka sebagai momen perpisahan untuk selamanya.
"Aku tidak ingin ada yang merusak perpisahan yang sudah kita rencanakan." Ujar Kreshna.
"Ok!"
"Ini benar-benar terakhir kalinya kita bertemu dan berbicara."
"Sure!"
"Tidak akan saling mencampuri hidup masing-masing."
"Absolutly!"
"Tidak akan saling mencari."
"Itu yang paling penting."
"Tapi bukan berarti kalau tidak sengaja bertemu saling melengos atau menuduh yang tidak-tidak."
"Aku minta maaf kalau sempat berburuk sangka padamu. Kau tahu kan, rasanya aneh tiba-tiba saja bertemu dan bekerja sama."
"Aku juga minta maaf karena aku sempat mengira kau sengaja bekerja di anak perusahaan yang kupimpin."
"Sama-sama minta maaf karena takdir yang tidak sengaja menggores kita bertemu lagi."
"Kurasa kita belum siap untuk benar-benar berpisah."
"Alam bawah sadar mungkin. Karena sebenarnya, kalau cuma buat berteman aja sih, kamu okay."
"Kamu juga kl mau jadi pacar juga okay."
"Gini! Motif kita berdua udah gak nyambung dalam menjalin hubungan. Gak satu pun dari kita menginginkan saling terjebak satu sama lain. Apalagi seumur hidup."
"Aku gak bisa terima sifat cemburumu. Kau juga terlalu mengekang."
"Aku tidak suka dengan sifatmu yang suka menggantungkan orang lain untuk kepentinganmu sendiri. Ogah rugi!"
"Kupikir kita masing-masing tahu kenapa kita tidak bisa dan mungkin bersama."
"Yeah!"
"So, for the last meeting. Please, don't ruin. So, at least ada momen-momen yang bisa dikenang dengan baik."
"Stop!"
"I beg your pardon?"
"Saat kau melamarku. Itu saat-saat yang indah. Tidak ada yang salah dan semua sempurna."
"Yeah! Sunsetnya benar-benar mendukung. Suasananya memang sangat menyentuh ya?"
"Bukan lamarannya yang salah. Momen kebersamaannya selalu berkesan tapi saat memutuskan harus serius itu. Kau menghilang and the nightmare is begin."
Kreshna menepok jidatnya,"Yeah!"
__ADS_1
"Aku sebenernya sudah tau kalau sebatas berteman aja, gak ada masalah tapi kalau lebih dari itu. Kita mengundang musibah dan mahabahaya." Ujar Ratih.
Meledak tawa Kreshna.
"Apa yang lucu?"
"Kau! Seolah-olah kita melakukan perusakan lingkungan dan bertanggung jawab atas climate exchange."
"Sort of!"
"Make it simple! Kita cuma perlu menjalani hidup kita masing-masing. Tidak usah berpikir di luar kapasitas kita berdua."
"Aku setuju!"
"Ya udah, fokus aja sama perpisahan kita yang terakhir kalinya karena aku tidak mau nanti meninggalkan kenangan yang mengganggu ingatan."
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Nanti kita terlambat mengejar pesawat."
"Yeah."
***
Sesampainya di tempat yang mereka tuju. Menuju kamar masing-masing menaruh koper mereka. Beristirahat sejenak. Ratih menyalakan televisi ketika pintu kamarnya diketuk.
Dia berjalan keluar kamar dan menutup pintunya duduk di depan teras. Bersebrangan dengan Kreshan yang duduk di kursi satu lagi.
Setiap kamar memiliki teras sendiri-sendiri.
"Kita baru sampai. Kau mau jalan-jalan?"
"Boleh. Kupikir kau mengetuk kamarku mau ngajak jalan-jalan."
"Istirahat dulu."
"Yeah. Ada apa?"
"Aku ingin kau tahu. Aku bukan tidak serius denganmu."
"Iya, aku tahu. Tapi kau juga harus mempertimbangkan perasaanku."
"Yeah. Sepulang dari sini. Aku langsung pulang dan tidak kembali lagi ke kantor cabang."
"Yeah. Aku tahu. Kita tidak akan bertemu lagi."
"Kecuali takdir mempertemukan."
"Yeah. Kecuali takdir mempertemukan."
"Aku ingin minta maaf jika aku kerap membuatmu merasa resah dan terganggu."
"Aku tahu kau tidak bermaksud begitu. Kau hanya ingin memastikan. Itu bukan sesuatu yang salah. Semua orang tidak ingin salah pilih. Apalagi cinta sejati dalam hidup mereka."
"Aku senang kau bisa memahaminya dengan baik."
"Jika kau sangat menyukai sesuatu maka lepaskanlah. Jika dia kembali maka sejak pertama kali memang ditakdirkan untukmu. Jika dia tidak pernah kembali maka sejak pertama memang tidak pernah ditakdirkan untukmu."
__ADS_1
"Prolog film indecent proposal. Kutipan dari Khalil Gibran." Sahut Kreshna.
"Yeah."
"Kau masih mengingatnya dengan baik."
"Film itu sangat berkesan bukan?" Sahut Ratih.
"Yeah! Kita membicarakannya sepanjang hari."
"Aku juga pernah membaca sebuah kisah. Tentang arti cinta bagi seorang pria."
"Apa itu?"
"Al kisah seorang pria sangat jatuh cinta pada seorang wanita yang dipujanya dengan segenap jiwa dan raganya. Agar bisa bersama dengan wanita tersebut. Dia rela meninggalkan segalanya. Tinggal bersama wanita itu di dalam hutan dan berada di puncak gunung."
"Lalu?"
"Hari-harinya dipenuhi kebahagiaan karena akhirnya berhasil hidup dengan wanita impiannya tapi sayangnya hal itu hanya berlangsung tiga hari. Seminggu kemudian dia mulai merasa bosan dan sebulan kemudian dia memilih meninggalkan wanita tersebut. Kehilangan hidupnya dan menginginkan kehidupannya kembali seperti sebelumnya."
"Kupikir kau sudah memahami dan menyelami pikiranku dengan sangat baik."
"Ketika aku membaca cerita itu aku teringat kau dan memahami semuanya. Aku tidak marah lagi padamu. Aku menghargai keputusan dan sikapmu. Tapi aku juga tidak ingin hidup dalam ketidakpastian. Aku yakin setiap orang memiliki jodohnya. Kau tahu kan film Si Tiaw Hap Lu. Bagaimana Bibi Liong dan Yoko akhirnya memutuskan untuk hidup di kuburan mayat hidup setelah mereka menjalani liku kehidupan mereka di luar kuburan mayat hidup."
"Yoko sangat berambisi dan penasaran dengan dunia persilatan sedangkan Bibi Liong sangat menyukai kehidupan yang tenang di dalam kuburan mayat hidup. Yoko merasa bosan dengan kehidupan di kuburan mayat hidup yang monoton. Akhirnya berkelana dan berjanji akan kembali. Bibi Liong yang tinggal sendiri akhirnya menyusul dan banyak hal yang terjadi pada mereka berdua. Akhirnya mereka kembali ke kuburan mayat hidup karena ingin tenang dari segala intrik dan hiruk pikuk dunia persilatan."
"Yeah. Kita harus menjalani hidup kita masing-masing terlebih dahulu. Jika kita berjodoh pasti takdir akan mempertemukan tapi jika kita tidak berjodoh, semesta akan memisahkan kita. Seperti halnya, kutub utara dan selatan." Sahut Ratih, "Jika kita bertemu dan masing-masing sudah menikah. Apa yang akan terjadi?"
"Berselingkuh!" Sahut Kreshna konyol,"Ketika kutub selatan dan utara bertemu. Mereka akan saling tolak menolak atau tarik menarik?"
"Analisa yang sangat bagus tapi kupikir mengapa magnet harus dihalangi dengan kayu atau media yang bisa membuat tarik menarik tidak terjadi."
"Kau terlalu serius. Santai saja. Selama kita menghormati batasan logis maka semua akan baik-baik saja."
"Kehidupan pernikahan yang mulai bosan diwarnai perselingkuhan sama saja seperti menyirami tanaman yang kering."
"Jadi kau setuju?"
"Setuju apa? Kau jangan gila!"
Kreshna tergelak, "Kupikir kau setuju."
"Kalau tidak takut dosa. Setuju aja. Memang kau tidak percaya neraka?"
"Kupikir yang ditakuti setiap orang ketika memilih adalah tidak bisa konsisten dalam menjalani konsekuensi pilihannya."
"Mengapa kita tidak berteman saja?"
"Karena…."
"Apa?"
"Aku tidak mau menjadi temanmu. Sama saja seperti kau tidak mau jadi pacarku."
"So…."
__ADS_1
"See u when I see u…."