
Pras merasa kikuk begitu mengetahui bahwa Tania adalah sohib lama Marsha.
Tania sendiri merasa lega. Karena sikap Pras berubah seratus delapan puluh derajat. Hubungan pertemananannya dengan Marsha juga berjalan lebih baik dari sebelumnya.
“Tidak seharusnya aku mencurigai apalagi mencemburuimu. Aku sudah lama mengenalmu. Walaupun kita sudah lama tidak bertemu. Tapi aku pernah mengenal karaktermu dengan baik sebelumnya. “ Marsha menyampaikan permintaan maaf dan penyesalannya, “Pras memang sering bergonta ganti pasangan. Seharusnya, aku lebih mencurigainya daripadamu. Thanks, kau tidak pernah meladeni gangguan dan godaannya.”
“Mengapa kau mau menjalin hubungan dengannya. Jika kau sudah tau kebiasaan buruknya?” Tanya Tania. Mereka kembali bertemu di tempat yang mereka sepakati berdua.
“Tidak ada orang yang sempurna. Pada akhirnya, jodoh sudah ada yang menetapkan. Kita hanya menjalani saja. Aku sudah mengatakan padanya. Jika dia tidak bisa menjaga kepercayaanku. Lebih baik tidak usah dilanjutkan lagi.”
***
Tania merasa lebih leluasa bekerja setelah Pras mengetahui hubungan persahabatannya dengan Marsha.
Tidak perlu menghindarinya lagi. Karena sekarang Pras sudah sangat berbeda dalam berinteraksi dengannya. Tidak seperti sebelumnya.
Seringkali Pras tampak canggung dan malu. Lebih berhati-hati dalam berkomunikasi dengan Tania.
Pada akhirnya dia memang harus menghentikan petualangannya. Harus mengakui mungkin memang Marsha yang paling sesuai untuknya. Bisa mengerti dan bersikap bijaksana terhadap sifatnya yang menyebabkan dia harus memutuskan hubungannya dengan mantan-mantan kekasihnya terdahulu.
Pras juga merasa lebih nyaman dengan kepercayaan dan ruang yang diberikan Marsha untuknya.
“Tania. Aku minta maaf kalau sudah membuatmu merasa tidak nyaman.” Ujar Pras.
“Tidak apa-apa. Yang penting kau sudah berubah.”
“Yeah. Aku merasa malu dan konyol.”
“Sudahlah! Yang penting kau sudah merubah sikapmu.”
“Marsha mau menerima kekuranganku. Dia sangat sabar padaku. Pengertian.”
“Yeah. Marsha memang sangat baik. Kuharap kau tidak mengecewakan kepercayaan yang dia berikan padamu.”
“Merubah sifat sangat sulit.” Pras memasang wajah yang sangat serius.
“Apa maksudmu?” Tania menatap wajahnya dengan tatapan sangsi.
Kontan Pras tergelak, “Kupikir, kalau sekedar menakutimu tidak apa-apa kan?”
Tania memukul bahu Pras, “Tidak lucu!”
“Sebenarnya, tidak ada kewajiban lelaki untuk memilih.”
“Apa maksudmu?”
“Lelaki boleh berpoligami.”
“Jangan gila bisa gak!”
Pras kembali tergelak, “Sejak awal, aku kan memang sangat suka menggodamu. Kau saja yang tidak bisa santai.”
“Kalau kau tetap menyebalkan. Aku akan melaporkan kelakuanmu pada Aca!”
“Sebenarnya, Marsha tidak pernah cemburu kalau aku hanya sekedar menggodamu. Tapi kalau aku sampai memacarimu. Mungkin baru jadi masalah.”
Wajah Tania merah padam, “Aku tidak perlu meladeni orang sinting sepertimu!”
“Memang. Santai saja....”
Tania menutup kedua telinganya dengan tangannya.
Pras masih berusaha berbicara dengan menggerak-gerakkan mulutnya. Tania menutup matanya, berjalan dan tersandung.
__ADS_1
Kontan Pras tergelak. Tania mengusap lututnya.
“Makanya kalau jalan jangan pake mata kaki.” Ledek Pras.
Tania menulikan telinganya. Memilih tidak menanggapi dan berlalu.
***
Pertemuannya kembali dengan Marsha membuat Tania bisa bergabung bersama teman-teman kantornya.
Sesekali mereka berkumpul di villa keluarga Masha dan Pras ikut bergabung bersama mereka semua.
“Biasanya kau malas kalau diajak bergabung.” Sahut Marsha.
“Aku kan tidak tahu kalau teman-temanmu ternyata anak buahku di kantor.”
“Mana aku tahu mereka anak buahmu.”
“Kalau aku tidak mengenal mereka semua. Malas lah aku bergabung.”
“Kau tidak mau tahu keseharian dan teman-temanku.”
“Dunia kita berbeda. Kau harus memahami itu. Aku tidak familiar dengan kegiatan yang kau lakukan. Aku berusaha mengerti. Kupikir itu sudah bentuk kompromi. Membebaskanmu agar merasa nyaman dengan aktifitasmu yang membuatmu bersemangat tetapi tidak membuatku merasakan hal yang sama.”
“Apa yang ingin kau katakan? Kita akan sangat sulit untuk saling beradaptasi?”
“Entahlah! Mengenai teman-temanmu. Kupikir mereka yang satu aktifitas denganmu. Terus terang aku tidak bisa nyambung. Tapi kalau mereka teman-teman kantorku juga. Tentu hal itu berbeda kan?”
“Kau dan Tania. Satu circle dan dunia kalian sama.”
“Mengapa kau jadi membahas aku dan Tania? Do you play or get jelaous?”
“Entahlah! Aku merasa aku duri dalam daging. Seandainya, kau bukan kekasihku. Apakah ada kesempatan untuk kalian berdua?”
“Mengapa kau memilihku?”
“Karena kau baik, sabar dan pengertian. Aku merasa nyaman denganmu. Kau tidak mudah curiga. Bisa diajak berkomunikasi.”
“Tapi kita seperti alien satu sama lain. Dunia kita berbeda. Kita tidak selalu bisa bersama?”
“Apa yang ingin kau katakan?”
“Aku meragukan resonansi di antara kita.”
***
Marsha memilih sekamar dengan Ratih. Dira sekamar dengan Mirna. Sedangkan Diah sekamar dengan Amanda.
Di lantai satu ada dua kamar. Di lantai dua ada tiga kamar. Tania dan Pras masing-masing menempati kamar sendiri.
Marsha sengaja memilih sekamar dengan Ratih. Dia ingin mengorek keterangan mengenai Pras dan Tania di kantor.
“Bagaimana polah keduanya di kantor?” Tanya Marsha ketika mereka akan beranjak tidur.
“Sama saja seperti di sini.”
Hari ini, Pras mengisengi Tania. Mengatakan bahwa kalau semua sudah memiliki kamar mereka masing-masing.
“Kau memberikan konfirmasinya belakangan. Jadi Marsha dan Ratih memutuskan sekamar. Diah dengan Amanda. Dira dengan Mirna. Kau denganku.” Ujar Pras santai.
“Apa?” Wajah Tania merah menahan amarah, “Jangan kurang ajar! Kau tidur di luar. Aku di kamar.”
“Tidak bisa. Aku alergi dingin.” Pras berusaha menahan tawanya. Mengambil tas Tania, menaiki tangga menuju kamarnya dan meletakkannya di dalam kamar yang sama dengannya.
__ADS_1
“Gak usah takut dan jangan ge er! Aku tidak akan berbuat hal-hal yang kau inginkan!”
Kontan mereka tertawa. Melihat kepanikan Tania dan banyolan Pras.
Tania mengejar Pras. Berusaha mengambil tasnya. Tangannya ditepis Pras.
“Di kamar ada tempat tidur sorong. Kau mau di atas atau di bawah?”
Tania memukul bahu Pras,”Tidak lucu!”
“Memang yang melucu siapa? Kau sudah kuanggap adik sendiri. Tenanglah!”
Mereka saling berebutan kamar dan mengusir satu sama lain.
“Aku sudah berbaik hati mau berbagi kamar denganmu. Tapi karena dikasih ati minta jantung. Kau saja yang di luar.” Ujar Pras.
“Aku wanita. Masak di luar. Kau dong yang seharusnya di luar?”
“Aku alergi dingin. Aku juga sudah berbaik hati berbagi kamar tapi kau?"
“Mengapa kau dan Marsha tidak sekamar saja? Aku dan Ratih saja yang sekamar.”
“Kalau terjadi hal-hal yang diinginkan gimana? Kalau kau kan sudah kuanggap adik sendiri. Jadi seperti inces.”
Di tengah kepanikan Tania. Akhirnya mereka memberitahukan bahwa ada dua kamar kosong. Masing-masing untuk Tania dan Pras.
“Kalian jahat sekali!” Seru Tania.
“Cuma bercanda!”
“Well! Gak lucu!”
__ADS_1
... ...