Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Cuti


__ADS_3

Mereka sepakat menggunakan cuti mereka selama tiga hari untuk berlibur bersama.


"Jangan lebih dari tiga hari karena aku bisa dicerai suamiku kalau tidak menyisakan satu hari cuti buat dia dan anakku."


"Bukannya kalau kau berantem selalu minta cerai? Lari ke kontarakannya Ratih?" Amanda meledek Dira.


""Semua isteri kalau menikah mereka akan minta cerai ketika ribut dengan suaminya. Kalau mereka memiliki pacar maka mereka juga rajin minta putus. Tapi bukan berarti mereka mau putus atau bercerai bukan?"


"Ya sudah, meladenimu tidak akan ada habisnya. Lebih baik kita bicarakan kita akan berlibur kemana?"


"Bali!"


"Lombok!"


"Medan!"


"Belitung!"


"Bintan!"


"Tidak ada yang sama?"


"Bagaimana kalau kita memilih secara bertahap? Bali atau Lombok?"


Lombok dipilih oleh tiga orang di antara mereka dibandingkan Bali.


"Lombok atau Medan?"


Hanya satu orang yang memilih Medan dan kembali Lombok menjadi pilihan mereka semua.


"Lombok atau Belitung?"


Hanya dua orang yang memilih Belitung sehingga kembali mereka memilih Lombok.


"Lombok atau Bintan?"

__ADS_1


Lombok kembali dipilih oleh dua orang diantara mereka.


"Baiklah kita akan ke Lombok!"


Mereka sepakat untuk ikut Paket Tour Lombok empat hari, Rp. 1.199.000.


Liburan bersama mereka hampir gagal karena Pras menolak permohanan cuti Diah.


Tak ayal Diah memberikan perlawanan.


"Maaf pak, cuti adalah hak saya."


"Saya paham tapi saya minta jangan pada tanggal-tanggal yang kamu ajukan."


"Maaf pak, saya mau berlibur bersama teman-teman saya."


"Saya tidak larang! Kamu mau liburan sama siapa aja, saya tidak ikut campur tapi tanggal yang kamu ajukan, saya keberatan!"


"Maaf pak! Saya tidak bisa mengubah tanggalnya."


"Tidak bisa mengganti harinya dengan hari lain."


"Saya mengerti itu. Maksud saya kenapa kamu tidak bisa mengganti tanggalnya?"


"Karena kami sudah ikut tour dan travel.Begitulah!"


"Seharusnya kamu kan memastikan tanggal cuti kamu dulu baru mempersiapkan cutimu."


"Cuti hak saya. Tidak seharusnya saya dipersulit untuk sesuatu yang saya butuhkan dan menjadi hak saya. Dua belas hari dalam setahun dan saya tidak bisa menggunakannya sesuai dengan kebutuhan saya?" Wajah Diah merah padam.


"Kau marah padaku?"


"Saya tidak berani marah pada bapak. Bapak kan atasan saya. Tapi coba gunakan perasaan dan hati bapak untuk hal-hal yang membutuhkan empati."


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Setiap saya meminta ijin pada bapak, pasti bapak langsung menolaknya. Tidak menanyakan alasannya atau menimbang apakah saya memerlukannya atau tidak."


"Aku bukan dinas sosial atau memiliki kewajiban mengerti keadaan semua pegawaiku. Tugasku memastikan semua pekerjaan berjalan lancar."


"Tapi saya bukan robot, pak!"


"Siapa yang bilang kamu robot? Kalau kamu robot, saya gak akan repot. Kamu gak mungkin minta cuti atau minta ijin untuk semua urusanmu."


Tangis Diah meledak.


"Aduh! Kamu jangan nangis dong! Nanti dikira orang kamu diapa-apain."


"Bapak keterlaluan!" Diah menangis sesegukan.


"Badan kamu juga subur begitu. Kalau ada yang ngira aku menghamilimu bagaimana? Dipikir kamu minta pertanggungjawabanku?"


"Pak!!!"


"Aku tidak tuli! Jangan teriak begitu. Nanti dipikir kita ada apa-apa."


"Memang ada apa-apa!"


"Apa? Kau jangan memfitnah, aku tidak pernah menyentuhmu atau berbuat macam-macam padamu."


Diah menangis sesegukan tanpa bisa ditahan.


"Sudahlah, kau boleh cuti tapi aku minta handphone diaktifkan dan bawa lap top. Siapa tau aku memerlukan bantuanmu."


Tangis Diah semakin kencang.


"Kau mau atau tidak? Sebelum aku berubah pikiran dan menghanguskan semua cutimu?"


"Baiklah!"


"Sudah sana keluar! Kau membuatku pusing!"

__ADS_1


"Terima kasih, pak!" Diah menyedot ingusnya menggunakan tissue yang ada di ruangan atasannya.


__ADS_2