
Semenjak putusnya hubungan mereka. Tidak pernah lagi mereka saling bertemu.
Seakan bumi dan langit ikut memisahkan mereka berdua.
Ratih semakin fokus dengan apa yang dikerjakannya. Dia memilih tidak memikirkan percintaan sama sekali.
Dia juga tidak berusaha mencari kabar tentang Kreshna atau hal-hal yang bisa mengganggu pikiran dan konsentrasinya.
Menolak pernyataan cinta Bima dan tetap memilih sendiri.
"Maafkan aku! Aku tidak bisa menerimanya."
"Aku bisa menunggu!"
"Tidak usah menunggu.Semua akan sia-sia."
"Mengapa kau menyiksa dirimu sendiri?"
"Aku tidak ingin terluka lagi. Harap kau mengerti."
"Aku tidak pernah melukaimu. Aku justru ingin menyembuhkan luka hatimu."
"Kumohon, hargai keinginanku. Kita berteman dan bersahabat saja. Itu yang terbaik."
"Kalau kau berubah pikiran. Beritahu aku."
"Aku tidak akan berubah pikiran."
"Seandainya....Apapun bisa terjadi."
"Akan kuberi tahu kalau aku berubah pikiran. Bagaimana?"
"Baiklah."
Patah hati tidak selalu bisa disembuhkan dan menyembuhkan.
Pelarian bukan menjadi pilihannya sama sekali.
Di tengah kebingungan, kesedihan juga kekecewaan. Ratih memilih untuk menikmati dan menyesapinya seperti para penikmat kopi menikmati kopi mereka.
__ADS_1
Rasa pahit tidak selalu mengajarkan kepahitan tetapi juga kedewasaan.
Dia juga berniat mengembalikan cincin Kreshna tanpa harus bertemu dengannya dan dia belum menemukan caranya.
Hari berlalu sangat lambat. Banyak yang bilang patah hati membuat dunia menjadi berhenti.
Mungkin bukan dunia berhenti berputar tetapi kau sendiri yang berhenti menikmati bagaimana dunia dan hidup berjalan mengitarimu.
Kau berhenti memperhatikan bagaimana bunga silih berganti berbunga dan berlomba menunjukkan keindahan warna dan rupa mereka.
Kau berhenti melihat betapa indah langit ketika senja menggurat matahari yang akan tenggelam dan ditelan kegelapan malam.
Kau berhenti mendengarkan kicauan suara merdu burung silih berganti memamerkan keindahan nada yang mereka hasilkan.
Kau berhenti melihat pelangi yang semakin indah menghiasi langit setelah hujan.
Kau berhenti melihat berbagai keindahan alam yang semakin indah dari hari ke hari, bulan ke bulan. Tahun ke tahun.
Setiap detiknya selalu ada hal indah terjadi bahkan embun menetes di tengah kesejukan pagi yang semakin cerah dan syahdu memecah pagi.
Kau juga berhenti mendengarkan melodi indah karena ibarat malam kau hanya melihat satu warna. Hitam.
Ratih memilih pindah dan memulai hidup barunya.
Dia juga berencana meminta tolong kepada jasa kurir terpercaya untuk mengantarkan cincin tersebut kepada Kreshna setelah keberangkatannya meninggalkan semuanya sebagai titik balik menjalani kehidupannya yang baru.
Mempersiapkan semua kepindahannya sendiri. Ingin melupakan semua kenangan pahit dan juga membuatnya sulit untuk berkonsentrasi pada kehidupannya yang sedang berlangsung saat ini.
Ratih mengundang Bima makan di sebuah rumah makan untuk mengucapkan selamat tinggal sekaligus menyiapkan hadiah perpisahan sebagai tanda terima kasihnya
"Kau benar-benar tidak ingin memberitahukanku pindah kemana?"
"Maafkan aku! Aku ingin memulai semuanya dari awal lagi."
"Baiklah! Jika itu maumu. Setidaknya, kupikir kau akan memberitahukan kemana kau pindah."
"Buat apa aku pindah kalau aku juga memberitahukan kemana aku pindah?"
Bima menggaruk kepalanya dan mereka menertawai hidup yang seakan membuat lelucon yang tidak lucu tetapi memaksa harus dinikmati dan dijalani.
__ADS_1
"Ini untukmu!" Ratih mengangsurkan hadiah yang sudah disiapkannya.
"Apa ini?"
"Rasa terima kasihku."
"Aku tidak membutuhkan ini sama sekali."
"Kau jangan mempersulit keadaan."
"Aku tidak bermaksud mempersulit. Apa yang bisa mengubah pikiranmu?"
"Tidak ada! Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan tenang. Tanpa gangguan."
"Kau menganggap aku mengganggumu?"
"Kau tahu aku tidak bermaksud mengatakan hal seperti itu."
Bima menatap mata Ratih yang terluka. Dia tidak tahu bagaimana mengobati atau membalut luka yang terbuka lebar dan mengucur begitu saja walaupun tidak ada air mata yang mengalir tetapi sorot mata dan wajahnya menggambarkan gadis di hadapannya tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku tidak tahu harus berkata apa."
"Jangan mengatakan apapun. Kumohon!"
"Baiklah!"
Mereka makan dalam diam. Tidak mengobrol, bercanda atau membahas apapun.
"Kau bahkan tidak membiarkanku mengantarmu."
"Aku tidak ingin terbebani oleh apapun. Aku ingin semua berjalan lebih mudah untukku. Kumohon mengertilah."
"Baiklah, jika itu maumu."
Pada saat hari keberangkatan Ratih. Setelah dia mempersiapkan semua kepindahannya dan tidak ada yang tertinggal kecuali cincin yang akan dia kembalikan begitu dia berangkat.
Menaiki pesawat membuatnya merasa bebannya semakin ringan separuh.
Dia belum sampai ke tempat tujuannya tetapi sudah merasa bahwa bebannya terangkat sebagian.
__ADS_1
Awan berarak seperti membentangkan harapan baru. Menjanjikan walaupun langit tidak selalu biru tetapi harapan baru selalu ada menunggu.