Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Chit Chat


__ADS_3

Kehidupan sosialnya di Selandia Baru memang berkembang pesat.


Kebiasaan berkumpul setiap pekan. Membuatnya memiliki banyak teman dalam waktu singkat. Baik satu fakultas atau kampus atau lingkungan rumah dan kantor.


Memiliki banyak circle membuat Tania juga lebih luwes dalam bergaul.


Saat social meeting di rumahnya, bertemu dengan Maryam dan Kamila yang kemudian menjadi teman serumahnya.


Memiliki teman serumah membuat pekerjaan rumah menjadi lebih ringan. Rumah juga tidak sepi. Mereka seperti layaknya saudara.


Tania merasa keputusannya untuk pindah ke Selandia Baru merupakan keputusan terbaik yang pernah dibuatnya selama hidupnya.


Tidak ada lagi embel-embel keluarga besarnya. Label anak manja dari keluarga kaya. Tercerabut begitu saja.


Dia juga tidak harus khawatir terlibat cinta segitiga dengan atasan dan sahabatnya.


Marsha memang sudah menikah. Memiliki keluarga. Tengah mengandung buah hatinya. Tapi tetap saja secara moral. Dia tidak ingin menyakiti hati sahabatnya. Apalagi fokusnya saat ini bukan menjalin hubungan percintaan.


Masa depannya yang menjadi prioritas utamanya. Ayahnya akan memberikan perusahaannya di sini kepadanya. Artinya dia harus bekerja dan belajar lebih keras.


Dia juga ingin memiliki calon suami yang lebih memenuhi ekspektasinya. Seperti orang yang putus asa rasanya berlari ke seseorang yang gemar bergonta ganti pasangan. Pembosan. Tidak memiliki pendirian.


Apakah masa depannya yang cerah harus dia serahkan dan percayakan pada orang yang untuk masalah perasaan dan hati kerap menjadi misteri?


Tania dengan sangat bersemangat mempersiapkan social meeting pertamanya di rumahnya.


Kemungkinan dia akan memesan makanan dan minuman dengan berlabel NZIDT. Menyertakan pemberitahuan tidak usah membawa makanan dan minuman pada undangan social meeting nya.


Tania mempraktekkan kursus memasaknya. Membuat bakso kuah sepanci besar. Disajikan dengan bihun, mie dan seledri.


Memesan pizza margherita, quattro stagioni, capricciosa dan sicilia. Pizza sangat praktis dan hampir semua orang menyukainya.


Minuman jus jeruk dan apel. Dua jenis jus yang juga banyak digemari. Soft drink, coca cola dan pepsi.


Memesan smash potatoes dengan fried chicken, swedish meatball, bola daging saus tomat ala Italia, sosis dan salad pada sebuah restaurant halal.


Makanan disajikan secara prasmanan dengan menggunakan piring, mangkuk dan gelas kertas.


Melengkapi hidangan utama, Talia juga memesan kue, snack, puding dan ice cream Sebagai dessert dan pencuci mulut.  Semua dipesannya dari toko makanan halal.


Talia menyiapkan beberapa tempat sampah besar yang dilapisi kantong plastik dengan menggunakan tutup. Dibuka dengan menginjakkan pedal yang terdapat di bawah tempat sampah.


Setelah semuanya siap. Talia bersiap membersihkan dirinya. Acara akan dimulai sehabis maghrib.


Tamu-tamu mulai berdatangan. Mereka saling bertegur sapa dan mengobrol. Membicarakan masalah perkuliahan. Literatur dan percakapan lain yang bersifat umum. Masyarakat Selandia Baru tidak menyukai percakapan yang sifatnya pribadi. Mereka sangat menjaga hubungan baik dan sosial di antara mereka.


Saling bertukar informasi mengenai fakultas masing-masing.


“Aku sedang mempersiapkan diri untuk berlatih menyuntik pada apel.” Ujar salah seorang mahasiswa kedokteran.


“Apel?”


“Yeah, kemungkinan memerlukan berpuluh atau mungkin beratus apel. Sampai bisa diterima kemampuan menyuntik yang dimaksud.”


“Setelah itu menyuntik manusia?”


“Jangan terlalu cepat dan terburu-buru. Dicoba ke binatang dulu. Seperti kelinci.”


“Oh, aku sangat menyukai kelinci. Tidak tega rasanya melihat mereka dijadikan kelinci percobaan.”


“Namanya saja sudah kelinci percobaan.” Kontan tawa mereka meledak.


“Aku tidak keberatan mengenai namanya. Tapi jangan sampai menyakiti mereka.”


“Well, aku belajar di sekolah kedokteran. Tidak mungkin aku mempedi, memeni, cure mereka. Menyisir bulu dan memotong kuku atau menggroming mereka?”


Tawa mereka kembali pecah.


“Maksudku jangan disuntik. Itu akan menyakiti mereka.”


“Well, memang harusnya mereka di massage tapi masalahnya memasukkan obat dengan cara memassage pada pasien merupakan hal yang mustahil.”


Kali ini mereka tertawa nyaris memegangi perut masing-masing.


“Bagaimana obat oles?”

__ADS_1


“Yeah, aku akan mengoperasi usus buntumu. Aku akan mengoleskan anestesinya di perutmu.”


Tawa mereka meledak. Nyaris mengeluarkan air mata.


“Bagaimana kalau operasi bypass jantung. Dengan tiga usapan?”


Tawa mereka kembali meledak.


“Sepertinya kita perlu merevisi undang-undang kesehatan tentang malpraktek.”


“Bagaimana kau merevisinya?”


“Selama semua dilakukan dengan prosedur yang diakui maka tidak dikatakan sebagai malpraktek.”


“Maksudmu usapan dan olesan tersebut?”


Salah seorang dari mereka sampai terpaksa menungging. Tak kuat menahan tawanya.


“Tapi kalau kau ingin efek yang memadai untuk anestesi tersebut. Jangan hanya dioles atau usap tapi kerok.”


“Maksudmu...seperti kerokan?”


“Jika efeknya sesuai petunjuk. Kurasa akan sama seperti anestesi total.”


Tawa mereka kembali pecah.


“Bahkan bisa berujung kematian....”


“Yeah, overdosis....”


Tawa mereka kembali meledak. Mengusap air mata yang meleleh dari kedua mata mereka. Ditambah perut yang nyaris kram.


Maryam dan Kamila tiba di rumah Tania. Mereka saling menyapa satu sama lain. Tania membawa keduanya berkeliling rumah. Menunjukkan semua ruangan di dalam rumah termasuk kamar tidur dan mandi.


“Aku sangat menyukai rumahmu.” Ujar Kamila disetujui Maryam.


“Aku senang kalian menyukainya.” Ujar Tania.


Mereka bertiga satu kampus tetapi berbeda fakultas. Kamila mengambil jurusan sastra sedangkan Maryam mengambil jurusan teknik.


“Secepatnya.” Mereka menjawab bersamaan.


“Aku akan pindah awal bulan.” Sahut Maryam.


“Aku mungkin akhir bulan karena sudah terlanjur membayar sewa kamar untuk bulan depan.”


“Baiklah.”


“Bagaimana sistem sewanya?  Mingguan, bulanan atau tahunan?”


“Terserah. Jika kalian membayar tahunan. Aku akan mendiskon harga sewa kamar satu bulan untuk kalian.”


“Baiklah.”


Mereka kembali membaur dengan teman-teman satu kampus mereka.


Tepat pukul tujuh malam mereka menikmati hidangan. Tania sengaja melarang para tamunya membawa makanan dan minuman. Karena dia tidak ingin ada makanan dan minuman haram yang dibawa tamunya yang non muslim.


Aturan tersebut jika diterapkan oleh salah seorang temannya yang non muslim. Terpaksa tidak bisa dilakukan. Karena sebagai muslim, dia tidak bisa mengkonsumsi makanan dan minuman haram. Sehingga terpaksa membawa sendiri. Minimal untuk dirinya sendiri.


Dan itu terjadi saat menghadiri social meeting di rumah Cyntia. Salah seorang teman kantornya yang mengundang circle kantor ke rumahnya. Dia tidak memperbolehkan tamu yang datang membawa makanan dan minuman.


Tania terpaksa mewhatsup menjelaskan bahwa dia tidak bisa mengkonsumsi babi dan alkohol. Harus memastikan kehalalan makanan dan minuman yang dikonsumsinya. Sehingga terpaksa membawa makanan dan minuman sendiri. Penjelasan mana akhirnya diterima oleh Cyntia yang awalnya salah paham. Mengira dia tidak menghargai niat tuan rumah untuk tidak membebani tamunya dengan membawa makanan dan minuman sendiri.


Walaupun tuan rumah sudah menentukan para tamu tidak membawa makanan dan minuman Kadang tetap ada yang membawa makanan, minuman atau bunga atau sesuatu. Walaupun sudah ada larangan untuk tidak membawa apa pun. Tetapi jika hal itu tidak sampai membuat salah paham yang tuan rumah. Tidak masalah dan dianggap sebagai salah satu bentuk sopan santun atau basa basi.


Bila ada yang membawa sebuket bunga, sebuah cake, sekotak coklat, sebotol minuman.


Sedangkan membawa makanan dan minuman untuk diri sendiri rentan menimbulkan salah paham. Seolah-olah ingin beda sendiri atau eksklusif. Tidak ingin berbagi karena hanya membawa untuk diri sendiri.


Tidak menyukai makanan atau minuman yang sudah dipersiapkan tuan rumah.


 Atau kesalahpahaman lain. Membuat Tania berinisiatif menjelaskan pada Cyntia.


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2