
Kreshna mengekori Ratih dari sejak mereka bertemu saat sarapan sehabis akad nikah.
Keduanya berada di sisi yang berbeda saat akad nikah. Ratih bersama teman-temannya. Kreshna di pojok samping sendiri.
Melihat Ratih terpisah dengan teman-temannya yang sedang mengambil sarapan mereka masing-masing. Kreshna mendatangi Ratih.
Teman-temannya yang melihat Ratih bersama Kreshna sungkan mendekat. Mereka memilih menjauh dan meninggalkan Ratih bersama Kreshna.
“Kau membuatku terpisah dengan teman-temanku.”
“Kalian selalu bersama di kantor. Kita kan jarang bertemu selain di tempat pernikahan.” Kreshna tertawa lebar.
“Aku kan datang bersama teman-temanku. Sekarang mereka menjauhiku karena sungkan padamu.”
“Tidak usah mempermasalahkan hal kecil kenapa sih? Terima saja nasibmu. Hari ini menghabiskan waktu denganku. Nanti ku antar pulang.”
“Tidak usah. Aku dengan teman-temanku saja.”
“Kita lihat saja nanti.”
“Mengapa kau suka memaksa?”
“Aku bukan memaksa. Hanya saja aku mulai berpikir.”
“Berpikir apa?”
“Semua orang bisa saja memiliki trauma. Bukan berarti mereka akan mengalaminya lagi.”
“Terulang kembali. Mungkin saja terjadi.”
“Bisa juga tidak.”
“Gak semua orang ingin berspekulasi dalam hidup mereka.”
“Apalagi urusan percintaan.”
“Itu kau tahu.”
“Entahlah. Biarlah waktu yang menjawab ragu.”
“Sagu aja mendingan bisa dibuat cireng, empek-empek, siomay.”
Kreshna tergelak.
“Bikin laper aja. Coba yuk siomay di sana. Kayaknya enak.”
Mereka berjalan menuju saung yang menyediakan siomay.
“Sagu ragu.”
“Aku tahunya sagu tani.”
Kreshna kembali tertawa, “Cuma berusaha melucu.”
“Oh...” Ratih menyadari ketelmiannya.
“Bagaimana pekerjaanmu?”
“Baik.”
“Kau membantu Pras sekarang bersama temanmu. Siapa namanya?”
“Diah.”
“Yeah. Diah.”
“Aku lebih suka Tania.”
“Kau tahu Tania sedang melanjutkan studi di luar negeri dan bekerja di sana.”
“Bekerja butuh profesional. Kalau tidak. Perusahaan dirugikan.”
“Maksudmu?”
“Aku mengomeli Pras. Karena tidak bisa menahan diri menganggu Tania. Sekarang dia kehilangan Marsha. Perusahaan kehilangan Tania.”
“Diah juga bagus kok.”
“Aku sudah cocok dengan cara Tania bekerja.”
“Diah akan melanjutkan studinya.”
“Yeah. Semoga dia bisa menyamai Tania.”
“Setiap orang memiliki kualifikasi sendiri.”
“Yeah. Hanya saja. Tania meringankan beban pekerjaanku. Sekarang aku merangkap mandor mengawasi pekerjaan kalian semua.”
Gantian Ratih yang tertawa.
“Mumpung aku di sini. Kita jalan-jalan, yuk.”
“Aku kan kerja.”
“Aku cuti.”
“Gak bisa menemanimu.”
“Bisa kalau kau juga mengambil cuti.”
“No, thanks.”
“Come on!”
“No!”
“Please?”
“Aku membutuhkan cutiku.”
“Kau perhitungan sekali.”
“Begitu lah.”
“Baiklah. Kau akan kuberikan pekerjaan dinas luar menemaniku jalan-jalan.”
“Pekerjaanku banyak.”
“Lihat saja besok.” Sahut Kreshna keras kepala.
Marsha dan Raka tampak serasi. Keduanya bersalaman sambil melempar senyum pada para tamu. Pras sudah tidak kelihatan batang hidungnya.
“Marsha terlihat bahagia dengan Raka. Sepertinya sudah move on dari Pras.” Ujar Kreshna.
“Marsha berusaha menerima hidupnya apa adanya.”
“Apa kau juga berusaha move on dariku?”
__ADS_1
“Sepertinya, iya.”
Kreshna memandang Ratih dengan wajah tercekat.
“Kau kenapa?” Tanya Ratih melihat perubahan wajah Kreshna.
“Kupikir kita memiliki sesuatu.”
“Memang tidak boleh seperti Marsha? Menemukan kebahagiaannya. Melepaskan ketidakpastian cinta yang ditawarkan padanya?”
Kreshna menggenggam tangan Ratih dengan kuat.
“Kau menyakitiku.” Bisiknya.
Kreshna melepaskan genggaman tangannya.
“Maaf.”
“Aku mau saja seperti Marsha. Semua wanita mau seperti itu. Tapi, dengan siapa?”
Kreshna memandang Ratih dengan raut kesal.
“Tidak lucu!”
“Masak sih?”
“Bisa saja kan kau dan Bima tiba-tiba menikah. Kalian kan sudah sangat akrab. Melebihi ku dan Alicia.”
“Boleh juga idenya.” Ujar Ratih.
“Kau masih kontak dengannya.”
“Tidak. Tapi, akan kupikirkan. Siapa tahu aku bisa seperti Marsha kan?”
Kreshna memelototinya. Ratih tergelak melihatnya.
Teman-temannya menghampiri Ratih.
“Tih, kita mau pulang. Mau bareng gak?”
Sebelum Ratih menjawab, Kreshna mendahului.
“Ratih pulang sama saya.”
“Baik, pak.” Sahut Mirna sungkan.
“Mir! Tunggu!” Panggil Ratih.
“Kamu pulang sama pak Kreshna saja. Kebetulan mobilku penuh. Ada yang mendadak ikut.”
“Mir!”
“Aku udah ditunggu yang lain. Sampe ketemu besok di kantor.” Mirna berjalan meninggalkan Kreshna dan Ratih.
“Benar-benar staff yang sangat pengertian. Siapa namanya? Biar kurekomendasikan pada Pras. Aku berhutang budi padanya.”
“Berlebihan!” Sahut Ratih manyun.
Kreshna melepaskan tawanya.
Keesokan harinya. Pras memintanya tugas luar menemani Kreshna.
“Hari ini kau tidak usah membantuku. Tugasmu menemani Kreshna.”
“Baiklah. Dimana dia?”
“Memangnya kau tidak membutuhkanku?”
“Butuh. Tapi dia memerlukan mu selama disini.”
Kreshna menjemput Ratih di ruangannya. Mereka pergi bersama.
“Aku pinjam Ratih dulu, ya....”
“Kembalikan utuh dan jangan lupa oleh-olehnya.”
Kreshna tertawa mendengarnya. Mereka berjalan keluar kantor.
Kreshna menyetir mobil Pras yang dipinjamnya.
“Kita mau ke mana?” Tanya Ratih.
“Aku akan membawamu ke suatu tempat. Kau akan menyukainya.”
“Benarkah?” Ujar Ratih sangsi.
Kreshna menyetir mobil dengan perlahan. Menyalahkan tape. Mengalun lagu Kiss The Rain.
Ratih menikmati lagu yang indah tersebut. Menyesapi lirik lagunya. Pikirannya mengembara.
Although your heart is mine. Its hollow inside.
I never had your love
And I never will
So why am I still here in the rain....
Lagu tersebut seperti sedang mengejeknya. Sebagai seorang wanita. Dia juga ingin seperti Marsha. Menemukan pangeran kuda putihnya. Menjalani kisah cinta fairy talenya.
Tapi dia belum bisa membuka hatinya untuk yang lain. Bagaimana pun pedihnya hubungannya dengan Kreshna yang penuh ketidakpastian dan keraguan.
Hatinya mencintai Kreshna tanpa ragu. Mungkin dia yang akan menghadiri pernikahan Kreshna dengan kaca mata hitam seperti Pras.
Melihat Kreshna bersanding dengan wanita pujaannya. Dia sudah merasakannya sebelumnya. Saat Alicia menikah. Tidak sanggup melangkahkan kakinya memasuki gedung resepsi.
“Kau kenapa? Kok diam saja?”
Ratih menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak apa-apa.”
“Aku tidak akan mengikatmu dalam ketidakpastian. Jika kau menemukan kebahagiaanmu. Aku akan berbahagia untukmu. Lupakan apa yang kukatakan kemarin.”
“Aku juga begitu.” Ujar Ratih, “Jika kau menemukan kebahagiaanmu. Aku akan berbahagia untukmu.”
“Walaupun itu artinya semaput.” Kontan Kreshna tergelak. Ratih ikut tertawa.
“Mungkin aku merasa dunia runtuh saat kau menemukan kebahagiaanmu. Jika bukan bersamaku. Tapi aku tahu. Semua akan baik-baik saja.”
“Kita mau kemana?”
“Surprise. Nanti kau lihat sendiri saja ya?”
Mereka sampai di sebuah bukit. Kreshna memarkir mobilnya.
“Tempatnya biasa banget.” Ujar Ratih. Melihat bukitnya juga agak tandus.
__ADS_1
“Tenang dulu!”
“Ok! Aku sudah bilang banyak pekerjaan.”
“Yeah, aku tahu. Cuma sebentar.”
“Lama juga gak apa-apa kalau emang penting.” Sahut Ratih jutek.
“Sabar kenapa sih?”
Kreshna mengajaknya turun. Mereka menaiki bukit.
“Tutup matamu.”
“Jatuh dong nanti aku ke jurang.”
“Gak apa-apa kan ada aku.” Pecah tawa Kreshna.
“Fungsimu apa?”
“Mendorongmu.”
Keduanya tertawa lepas.
“Mirip tukang parkir kalau mogok mobilnya.”
“Jangan cerewet dong! Tutup matamu.”
Ratih menuruti perkataan Kreshna.
“Kalau sampai aku jadi kornet. Jangan lupa sertifikat halalnya.”
Mereka kembali tergelak.
Kreshna membimbing tangan Ratih dengan perlahan.
“Jangan ngintip.”
“Iya.”
“Bintitan kalau sampai mengintip.”
“Yeah!”
Mereka berjalan setapak demi setapak.
“Sekarang kau bisa buka matamu.”
Ratih mengedarkan pandangannya.
“Apa yang istimewa?”
Bukit itu tidak seasri bukit lain.
“Ini.” Kreshna menunjuk sebuah batu besar di hadapan mereka.
“Apa ini?”
“Kita bisa menuliskan nama kita disini. Harapan kita di sini.”
“Apa maksudmu?”
“Coba kau lihat sendiri.”
Ratih meneliti batu tersebut. Terdapat beberapa tulisan. Kebanyakan nama-nama orang dan gambar hati.
“Tempat ini tidak terlalu banyak yang tahu. Jadi kita masih bisa menuliskan apa pun.”
Kreshna mengeluarkan spidol yang bisa digunakan untuk menulis di atas batu.
“Untuk apa?”
“Tuliskan nama dan harapan kita.”
“Kau dulu!”
“Baiklah!”
Kreshna membuka spidolnya.
Menuliskan namanya dan Ratih di atas batu. Harapannya mereka bisa bersama selamanya.
“Giliranmu.”
Ratih menulis empat kata. Idem.
“Kau menulis terlalu singkat.”
Ratih tertawa.
“Gak aci! Ulang. Dan gak boleh nyontek. Ini bukan ujian di kelas. Bebaskan pikiranmu.”
Ratih menulis kembali. Nama mereka berdua. Harapan diberi kemudahan dan kelapangan terhadap apa pun yang ditakdirkan bagi mereka berdua.
“Kau tidak menuliskan harapanmu dengan seharusnya. Apa yang kau inginkan?”
“Segala sesuatu terjadi dengan kehendak Tuhan.”
“Jika kita tidak ditakdirkan bersama bagaimana?”
“Kan aku sudah tulis semoga diberi kemudahan dan kelapangan terhadap apa pun yang sudah ditakdirkan.”
“Walaupun itu artinya semaput. Lompat dari air terjun.”
Ratih kembali tertawa.
“Aku tahu semua kehendak Tuhan. Tapi setidaknya tuliskan apa yang menjadi harapanmu. Jika tidak terkabul. Tetap menjalani apa yang sudah ditakdirkan. Bagaimana?”
Ratih terdiam beberapa saat.
“Baiklah.”
Semoga cinta yang kita rasakan menemukan jalannya.
__ADS_1