
Pras menatap wajah Ratih dengan setengah memohon.
"Kau harus menolongku!"
"Menolongmu dari apa? Angkara murka?"
Pras tertawa mendengar jawaban Ratih.
"Kau tahu persis apa yang kumaksud."
"Sejujurnya, aku ingin menjadi profesional. Tidak mengurusi urusan pribadi orang lain."
"Kau ansos!"
"Kau pansos." Ujar Ratih santai.
"Asbun!"
"Memangnya kau tidak? Masak aku anti sosial?"
"Ratih! Please, help me!"
"Aku sudah memata-matainya. Apalagi yang kau kehendaki?"
"Kau harus membantuku mengatasi pacarku sehingga aku bisa dengan leluasa mengejar Tania."
"What? How come? Aku menggantikanmu pacaran dengan pacarmu? Aku bukan lesbian."
"Bukan begitu. Aku ingin kau berteman dengan pacarku. Seperti kau berteman dengan Tania. Kalian menghabiskan waktu bersama. Aku leluasa mengejar Tania? Bagaimana?"
"Mengapa kau tidak memutuskan pacarmu saja sih?"
"Aku harus memastikan yang terbaik dari keduanya. Aku sangat menyukai keduanya. Membuatku bingung."
"Kalau kau bingung nikahi saja keduanya sekaligus." Ujar Ratih sambil tertawa.
"Memangnya mereka mau? Yang ada mereka akan merebusku hidup-hidup."
Pecah tawa Ratih mendengar jawaban Pras.
Ratih menjalankan misi berikutnya menjadi teman Marsha, kekasih Pras.
Paras Marsha sangat cantik dan ayu. Tak salah jika Pras merasa bimbang dengan keduanya.
Keduanya sama-sama cantik dan berasal dari keluarga berada. Kalau kesukaan Tania adalah shopping dan jalan-jalan ke mall sedangkan Marsha sangat suka ke salon dan membeli pakaian juga sepatu.
Ratih tidak pernah mengajak Marsha bermain ke kontrakannya. Karena tidak ingin terjadi insiden yang tidak diinginkan.
Bagaimana kalau mereka bertemu di kontrakannya? Karena pertimbangan tersebut, Ratih tidak pernah mengajak atau menawarkan Marsha main ke kontrakannya.
Pras sepertinya mengumpulkan wanita-wanita cantik dan kaya. Sepertinya Marsha dan Tania merupakan dua wanita yang membuat dirinya bingung untuk menjatuhkan pilihan.
Ratih memiliki kebiasaan baru ke salon dan membeli pakaian serta sepatu menemani Marsha. Tentu dia mendapatkan tambahan uang dari Pras untuk mendukung hobi barunya.
"Aku bukan orang kaya. Mana bisa aku menghabiskan uangku jalan-jalan ke mall atau berbelanja. Keluar masuk salon, toko pakaian dan sepatu." Protes Ratih sebelum memulai tugasnya.
"Kau tenang saja. Aku akan mereimburse pengeluaranmu selama hal tersebut berkaitan dengan misi yang kuberikan padamu."
__ADS_1
Kakinya nyaris patah menemani keduanya. Walaupun hobi dan kebiasaan keduanya berbeda. Tetapi mereka sama-sama tahan berjalan seharian.
Menemani Marsha membuatnya bisa berkumpul kembali dengan teman-temannya. Sementara Pras sibuk mengejar dan mendekati Tania.
Ratih mengajak Marsha bergabung dengan teman-temannya. Marsha sangat senang bergabung dengan mereka semua.
"Aku menyukai teman barumu. Walaupun kaya tapi tidak sombong seperti Tania."Tukas Diah.
"Dia bukannya sombong. Kau kan membencinya. Dia tidak ingin merusak suasana."
"Dia merebut pekerjaanku. Kau ingin aku beramah tamah padanya?"
"Kau memang harus mengakui bahwa temanmu itu sombong. Kita sekantor dan dia tidak pernah bergabung bersama kita." Sahut Mirna.
"Siapa yang mereka bicarakan?" Tanya Marsha.
"Teman sekantorku."
"Oh…."
"Aku lebih menyukai kau berteman dengan Marsha dibandingkan Tania. Walaupun kau sekarang terlihat snob. Pakaianmu juga sekarang berubah."
"Terlihat lebih elegant, modis dan chic."
"Aku yang memilihkannya pakaian. Bagus gak?" Sahut Marsha.
"Seleramu bagus. Tapi keliatannya pakaiannya tidak murah."
"Ada rupa, ada harga." Sahut Marsha enteng.
"Aku sedang malas di kontrakan, bosen." Sahut Ratih.
"Kalau kita ingin berkumpul gimana?"
"Bagaimana kalau di rumahku?" Tawar Marsha," Atau kita menyewa tempat untuk berkumpul bersama. Atau ke villa keluargaku?"
Diah menyikut Ratih, berbisik lirih," Temanmu benar-benar kaya? Villa keluarga?"
Pras sangat berterima kasih kepada Ratih. Karena bisa mengalihkan perhatian Marsha darinya. Dengan dalih sibuk bekerja. Mengejar target perusahaan. Membuat Marsha tidak menghubungi Pras. Memilih menghabiskan waktunya dengan Ratih teman barunya.
Bergabung dengan teman-teman Ratih membuatnya melupakan Pras.
Dirinya begitu larut dengan teman-teman barunya yang sangat seru.
Mereka menghabiskan waktu menginap di kediamannya. Juga villa keluarganya.
Walaupun Marsha tidak bisa memasak seperti teman-temannya. Tetapi dia sangat menikmati masakan dan juga kebersamaan mereka.
Memanggang daging di kebunnya yang luas. Sosis, roti dan jagung.
Marsha tidak mengetahui bahwa Ratih dan semua teman-temannya adalah anak buah Pras.
Dia dan Ratih bertemu tidak sengaja. Dengan cepat mereka menjadi teman. Ratih mengenalkannya dengan teman-teman kantornya.
Ratih sendiri merahasiakan kepada teman-temannya bahwa Marsha adalah pacar Pras. Tidak ingin berita menyebar dengan cepat. Pras tidak akan segan mengomeli dan memarahinya.
Mereka juga berenang di rumah dan villa keluarga Marsha.
__ADS_1
Pras sendiri rajin mengirim kabar mengenai kabar palsunya. Tentu saja hal itu membuat Marsha semakin tenang.
Kenyataannya. Pras tengah berjuang untuk menaklukkan Tania yang ogah-ogahan menerima kedatangannya.
Ratih mendadak sibuk dan tidak bisa dihubungi. Membuat Tania mau tidak mau menerima kehadiran Pras. Karena tidak memiliki alasan untuk menolaknya.
"Aku mau istirahat dulu."
"Silahkan."
Tania masuk ke dalam rumahnya dan membiarkan Pras seorang diri di teras rumahnya.
Berselang dua jam dia bangun. Membersihkan dirinya. Makan dan menonton televisi. Setelah tiga jam memutuskan mengunci pagar rumahnya.
Tintan akan pergi bersama teman-temannya.Menghabiskan malam minggu.
Dia sendiri setelah mengusir Pras secara halus. Memilih untuk menghabiskan waktunya seorang diri. Dia tidak bisa menghubungi Ratih. Hapenya tidak aktif. Apakah Ratih mengganti nomornya sementara waktu. Atau sudah mengganti nomornya?
Tania membuka pintu rumahnya dan bermaksud mengunci pintu pagar rumahnya.
"Kau sudah bangun?" Sahut sebuah suara yang sangat dikenalnya dengan baik.
"Kau masih di sini?" Ujarnya kaget.
"Aku haus." Ujar Pras berterus terang. Perutnya berbunyi.
"Astaga! Kau juga lapar." Sahut Tania dengan wajah menyesal. Dia tidak mengira sama sekali Pras masih berada di rumahnya.
"Masuklah. Kau makan saja dulu." Tawar Tania yang tidak disia-siakan oleh Pras.
Mereka berjalan ke dalam rumah menuju ruang makan.
Mereka duduk berhadapan. Tania menjaga jarak yang cukup jauh dengan Pras.
"Kau yang memasak?" Tanya Pras.
"Bukan. Aku tidak bisa memasak. Masakan Sumi, rasanya enak. Coba saja."
Pras membuka piring yang ditelungkupkan di depannya. Sebelumnya meneguk habis air putih yang dituang Tania ke dalam gelas yang berada di dekat piring makannya.
Pras mengambil sendok nasi dan menyendokkannya ke dalam piringnya. Mengambil tumis sayur baby corn, wortel, buncis dengan irisan bakso. Sepotong empal daging. Sepotong tempe dan bakwan sayur.
"Kau tidak makan?" Tanya Pras.
"Aku masih kenyang. Kau mau kue tidak?"
"Boleh."
Tania berjalan menuju kulkasnya. Mengeluarkan cheese cake Memotongnya dan meletakkannya ke dalam dua buah piring kue.
Memberikannya sepiring kepada Pras. Memakan cake yang ada di dalam piring kuenya sambil menemani Pras makan.
"Makanannya enak." Puji Pras.
"Benar kan enak?"
Pras menganggukkan kepalanya.
__ADS_1