
Satu kantor heboh dengan kehadiran anak baru di bagian finance. Tania.
Ratih tidak ambil pusing dengan kehebohan tersebut. Walaupun banyak desas desus beredar bahwa Tania selain menarik juga sangat menawan tingkah lakunya.
Apalagi Kreshna juga tidak berkomentar apa pun. Kemungkinan tidak ada yang perlu diperhatikan atau menjadi perhatian.
Hanya saja sepanjang makan siang teman-temannya sibuk membicarakan Tania.
"Kamu gak penasaran dengan yang namanya Tania?"
Ratih menggelengkan kepalanya.
"Kita tawarin bergabung ke dalam kelompok kita gimana?"
"Terserah." Sahut Ratih.
"Sayang, anaknya pendiam. Tidak banyak omong. Bisa resonate gak ya? Sama kelompok kita yang penuh kehebohan, drama juga gosip?"
Mereka tergelak.
"Wajahnya enak dilihat." Puji Diah.
"Bilang aja cakep. Pake malu-malu." Sahut Amanda.
"Malu gak tapi gengsi kalau dituduh penyuka sesama jenis." Ujar Dira.
Kontan tawa mereka meledak.
"Kau diam saja?" Tanya Mirna pada Ratih.
"Tidak ada yang harus dibicarakan."
"Kau belum pernah melihat Tania?"
Ratih menggelengkan kepalanya.
"Kurasa Pras menyukainya." Sahut Diah memulai gosipnya.
"Pras sudah punya pacar kan?"
"Memang itu bisa menghalanginya mendekati siapa pun yang dia suka? Sudah berapa kali dia memutuskan pacarnya karena jatuh cinta lagi."
"Apakah Tania membalasnya?"
"Nope!"
"What?" Tanya teman-temannya nyaris bersamaan.
"Dia tampak acuh dan sibuk dengan pekerjaannya."
"Darimana kau tahu kalau pak Pras mengincarnya?"
"Mencuri pandang ke arahnya. Selalu mencari moment agar bisa berdua dengan Tania." Sambung Diah, "Masak kau tidak pernah melihat Tania? Dia diperbantukan untuk membantu pak Kreshna." Menatap ke arah Ratih nyaris tidak percaya.
"Aku belum pernah bertemu dengannya. Tania juga tidak pernah berada di ruangan pak Kreshna."
"Pras yang menggantikan Kreshna berurusan dengan Tania." Ujar Diah.
"Kau tahu darimana?" Tanya Mirna.
__ADS_1
"Aku menguping."
Kontan tawa teman-temannya meledak.
"Mereka memfollow rencana pak Kreshna yang ingin mengembangkan kantor kita yang merupakan anak cabang perusahaan."
"Kupikir pak Pras bukan sengaja mencari kesempatan berdua tetapi memang mereka sedang bekerja."
"Entahlah! Pras itu tidak bisa dipercaya sama sekali kalau melihat gadis yang sangat menarik." Ujar Diah.
"Biar pak Pras punya banyak pacar tapi statusnya masih single." Sambung Mirna.
"Iya sih! Tapi kan gak etis juga memutuskan pacarnya karena jatuh cinta lagi." Sambung Diah.
"Daripada setelah menikah dia seperti itu?" Sahut Mirna.
"Mengapa kau diam saja?" Tanya Diah kepada Ratih.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang malas bicara."
"Kau baik-baik saja kan dengan pak Kreshna."
"Yeah!" Sejujurnya Ratih enggan membahas tentang Kreshna.
"Kau masih les?"
"Memang kenapa?"
"Kami kangen menghabiskan waktu bersama di rumah kontrakanmu. Memang kau tidak jenuh hanya bekerja dan belajar?"
"Baiklah, aku akan memindahkan jam lesku ke siang hari."
Selesai makan siang, mereka kembali ke ruangan dan atau kubikel masing-masing.
Ratih sedang membuat laporan ketika Kreshna meminta data finance kepada Tania.
"Tolong minta data finance dan follow up dari perencanaanku yang kutugaskan pada Pras pada Tania."
"Baik pak."
Ratih berjalan keluar ruangan Kreshna. Menuju ruangan Tania.
Wajahnya terkesima melihat paras Tania mengingatkannya pada seseorang.
"Kau kenapa?" Tanya Tania.
"Aku memiliki teman namanya Tintan. Kau sangat mirip dengannya."
"Dia adekku. Kau mengenal Tintan?"
"Kau kakaknya Tintan? Pantas kalian berdua begitu mirip."
"Yeah!"
"Oh iya, pak Kreshna meminta data finance dan juga laporan follow up tugas pak Pras dari pak Kreshna."
"Baiklah. Sedang kukerjakan. Kalau sudah selesai akan kuantar ke ruanganmu. Bagaimana?"
"Baiklah."
__ADS_1
Ratih keluar dari ruangan Tania. Kembali ke ruangannya.
Ah, ternyata Tania yang ditanya-tanya Kreshna lewat Tintan. Apakah mereka memiliki hubungan khusus?
Wajah Ratih mendadak memanas menahan malu, untuk apa aku kepo dengan kehidupan Kreshna. Aku tidak peduli apakah dia memiliki hubungan khusus dengan Tania atau Tintan adalah adek iparnya. I don't care!
Tapi teman-temanku benar. Tania gadis yang manis juga cantik. Hmm, selera Kreshna memang patut diacungi jempol. Alicia juga cantik dan Tania berbeda lagi daya tariknya.
"Kau melamun!" Tukas Kreshna.
"Tidak!" Sahut Ratih berbohong.
"Tolong kau ringkas laporan ini. Berikan opinimu." Sahut Kreshna mengangsurkan berkas pada Ratih.
"Tania itu kakaknya Tintan, ya?" Tanya Ratih memberanikan diri bertanya. Berusaha untuk tidak terlihat kepo.
"Kau sudah bertemu dengannya?"
"Ya. Sangat mirip dengan Tintan."
"Dia sangat kompeten di bidangnya. Aku menyukai pekerjaannya."
"Orangnya juga gak apa-apa." Tanpa sengaja Ratih keceplosan mengomentari. Kreshna tertawa.
"Apa yang lucu?" Tanya Ratih tidak mengerti.
"Kau!"
"Kau itu kurang hiburan. Begitu saja lucu!"
"Bagaimana kalau kau jadi wanita penghiburku?"
Wajah Ratih merah padam, "Kau jangan kurang ajar!"
"Aku cuma bercanda! Aku juga tahu bagaimana harus menjaga pergaulan. Aku paling sebal kalau kau sudah kumat parnonya. Memang kapan kita melanggar batas?"
"Entahlah! Aku tidak mempercayaimu dan memang seharusnya begitu. Daripada terjadi…."
"Hal-hal yang diinginkan?" Serta merta Kreshna tergelak dan wajah Ratih seperti kepiting rebus.
"Kau tidak usah kebanyakan gaya bisa gak? Kita batal menikah jadi tidak usah lagi berbicara hal-hal yang cuma membuat trauma."
"Santai bisa gak? Jodoh ditangan Tuhan. Tidak mungkin tertukar. Jalani saja apa yang bisa dijalani. Buat apa memikirkan hal yang di luar kendali kita."
"Aku akan mengerjakan ringkasan laporannya. Mengobrol denganmu tidak akan ada habisnya."
"Kau tahu. Semua ada waktunya. Tidak ada yang tahu mengenai masa depan. Apalagi jodoh. Tapi yang pasti, segala sesuatu ada waktunya. Semua sudah ada ketetapannya. Sehingga berhentilah memikirkan hal-hal yang hanya membebani pikiran."
"Aku tidak memikirkan hal itu." Sahut Ratih berbohong, " Aku tahu semua sudah ada ketetapan dan waktunya. Hanya saja, seandainya aku bisa memilih. Aku ingin kita menjalani hidup kita masing-masing. Menemukan orang baru. Jangan salah sangka! Aku tidak mencemburui Tania tapi kupikir dia gadis yang sangat baik juga cantik serta manis. Wajahnya enak dilihat dan tidak membosankan. Tintan juga anak yang baik. Memiliki adik ipar sepertinya. Kehidupan pernikahanmu akan semakin bahagia."
"Kau bicara apa?" Kreshna mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Aku hanya menyampaikan harapanku. Itu saja."
"Sejak gagal menikah denganmu. Aku belum memikirkan hubungan percintaan lagi. Bukan kau saja yang trauma. Aku memilih fokus pada pekerjaanku. Aku sendiri tidak menyangka bertemu lagi dan bekerja denganmu. Kau harus percaya takdir. Sebaiknya kita fokus dengan pekerjaan kita berdua. Begitu Pras dan Tania bisa menjalankan tugas mereka. Aku akan segera meninggalkan tempat ini. Kau tidak usah khawatir. Bagaimana?"
"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud mengungkit hal yang mungkin membuat kita berdua tidak nyaman. Kau benar takdir di tangan Tuhan. Anggap saja aku tidak pernah membahas hal ini."
"Ok!"
__ADS_1