
Semenjak pernikahan Marsha dan kepergian Tania. Pras merasa merana.
Bukan dalam artian dia mengalami hal yang membuatnya gila atau semacamnya.
Tapi baru menyadari bahwa memilih pasangan bukan hanya sekedar mengikuti rasa suka.
Perasaan suka tapi tidak disertai cinta atau rasa yang mungkin bisa merekatkan hubungan tersebut.
Mungkin seperti laron yang mengelilingi lampu dan berguguran satu per satu.
Mulai kehilangan minat mengejar para wanita yang menggoda perhatiannya. Pengalaman mengajarkan banyak hal dan dengan seketika dia bisa merasakan kemana rasa sukanya bermuara.
Terjebak dalam hubungan yang mulai kehilangan warnanya. Ibarat pakaian yang dicelup pewarna yang berwarna hingar-bingar. Begitu dicuci luntur semua.
Seperti itu kira-kira dia menggambarkan perasaan sukanya.
Saat bertemu dengan Marsha. Dia mulai merasa bahwa dia menemukan wanita yang bisa jadi merupakan wanita yang dia cari selama ini. Mungkin bisa disebut dengan wanita idaman.
Sifat dermawan Marsha. Kebaikannya. Kecantikannya. Kehalusan sikapnya. Membuatnya berpikir bahwa dia telah menemukan pelabuhan terakhirnya. Sebelum bertemu dengan Tania.
Tania seperti menyempurnakan semua hal yang terasa dan terlihat sempurna.
Jika Marsha ibarat makanan yang sangat sedap dipandang, segar dan menerbitkan selera. Tania ibarat msg dan garam. Menambahkan rasa pada kelezatan makanan. Rasa umami.
Selain dunianya berbeda dengan Marsha. Chemistry antara dia dan Marsha tidak sekuat dengan yang dia rasakan terhadap Tania.
Atau jika mereka ada di dunia yang sama apakah mungkin chemistry nya kepada Marsha lebih besar? Mungkin kah redupnya chemistry karena mereka tidak berada di dunia yang sama? Who knows?
Tidak ada gunanya membahas Marsha yang sudah berbahagia dengan suami dan janin yang tengah dikandungnya.
Hanya saja saat ini, kepergian Tania yang kerap mengganggu pikiran Pras. Tania belum mengatakan dimana dia berada, bekerja dan kuliah.
Apakah Tania menyukai pria lain? Siapa yang mengangkat teleponnya?
Konsentrasi Pras pecah. Ratih memberanikan diri untuk bertanya.
“Kau kenapa?”
“Aku ingin tahu mengapa Tania menghindari ku?”
“Kau ingin tahu jawabannya?”
“Kau tahu?”
“Aku sekadar berasumsi.”
“Katakan saja.”
“Banyak wanita merasa terintimidasi melihat lelaki playboy.”
“Yeah. Sudah kuduga. Tapi aku seperti itu karena belum menemukan wanita yang pas untukku.”
“Tetap saja. Hal itu mengintimidasi sebagian wanita.”
“Bukannya justru bangga bisa menaklukkan playboy?”
“Kebanyakan playboy akan mengulangi kebiasaan mereka apalagi jika merasa sangat jatuh cinta.”
Pras terdiam mendengar perkataan Ratih. Dia memang memiliki kelemahan dalam menepis pesona wanita.
Wanita adalah makhluk yang indah. Semua yang berasal dari wanita. Mulai ujung rambut ke ujung kaki adalah keindahan.
Playboy sangat sensitif dengan pesona wanita. Tetapi juga sekaligus mudah merasa bosan. Dilema.
“Dia tidak memberitahukan dimana dia kuliah, tinggal dan kerja.”
“Ayahnya ingin memberikan perusahaannya di sana. Dia tidak akan kembali ke Indonesia.”
“Benarkah?”
__ADS_1
Ratih menganggukkan kepalanya.
“Lebih baik kau cari gadis lain. Lupakan saja Tania. Dia belum memikirkan pernikahan.”
“Apa maksudmu lupakan saja dia?”
“Kau kan biasanya gemar gonta ganti pacar. Maksudku sudah jelas. Lanjutkan saja hidupmu seperti biasa. Mungkin ada baiknya kau tidak mendapatkan Marsha dan Tania. Mereka berdua bersahabat. Kau tahu maksudku.”
“Bicara bisa pake perasaan sedikit gak sih?”
“Memangnya kau punya perasaan?” Ratih tergelak.
Pras menatap tajam pada Ratih.
“Ku pacari tahu rasa!”
Ratih langsung terdiam. Memandang Pras dengan wajah was-was.
Giliran Pras yang tertawa.
“Aku sama Kreshna selalu sama dalam segala hal kecuali satu.”
“Apa itu?”
“Wanita.”
Ratih memandang wajah Pras dengan perasaan lega.
“Kau sudah seperti nenek kandungku sendiri.”
“Sialan!”
Pras kembali tergelak.
“Ibu kandung aja sudah gak mungkin apalagi nenek kan? Kau bayangkan saja sendiri.”
“Aku suka wanita yang berkelas.”
“Apa maksudmu wanita berkelas?” Nada Ratih berubah kesal.
“Tunggu dulu dong! Jangan jutek begitu!”
“Kau seperti kaum Borjuis kesiangan. Hari ini sudah gak ada perbedaan kelas. Semua sama di gerbong ekonomi!”
Giliran Pras tertawa.
“Maksudku, aku suka wanita dengan selera tinggi dan baik.”
Mata Ratih membulat. Menahan kesal.
“Cowok snob, borjuis dan playboy!”
“Terserahlah. Tapi middle low class woman is not my type.”
“Pertama, aku bukan kereta yang bisa kau kelas-kelas kan seenaknya. Perbedaan selera, status ekonomi dan sosial tidak menjadikan harimau putih belang hitam lebih bagus daripada harimau belang hitam orange kecoklatan. Dan sebaliknya.”
“Bukan masalah kelas saja. Aku juga gak suka wanita yang bawel.”
“Kebutuhan wanita mengeluarkan kata-kata, dua puluh ribu per hari.”
“It doesn’t make any difference to me. Classy woman not fuzzy.”
“What ever! Apa pentingnya selera wanitamu buatku?” Ratih baru menyadari kebodohannya.
“Mungkin kau merasa terhina karena gak masuk kriteriaku?” Pras kembali tergelak.
“Memang lelaki arogan sepertimu masuk kriteriaku?”
“Who care!” Ujar Pras,” Aku hanya minta kau melacak keberadaan Tania.”
__ADS_1
“Aku tidak bisa!”
“Kau harus bisa! Aku akan menaikkan gaji dan bonusmu.”
“Tetap saja tidak bisa.”
“Kau harus mencari cara.”
“Aku benar-benar tidak bisa.”
“Mungkin kesalahanku adalah. Aku mencoba mengatasinya sendiri tanpa bantuanmu.”
“Jangan libatkan aku dengan urusanmu dengan Tania.”
“Aku tidak melibatkan mu tetapi memerintahkan mu agar membantuku dan Tania.”
“Tania tidak pernah minta dibantu. Kau jangan mengatasnamakan nya.”
“Baiklah. Aku yang minta dibantu.”
“Aku benar-benar tidak bisa. Aku tidak tahu apa pun mengenai Tania selain dia ke Selandia Baru dan akan mewarisi perusahaan ayahnya di sana. Apa yang kau ketahui sama saja dengan apa yang ku ketahui. Tidak ada bedanya.”
“Bukannya kau ingin resign lebih cepat dan mendapatkan rekomendasi dari perusahaan, untukmu melamar di perusahaan yang kau incar.”
Ratih menatap wajah Pras bimbang.
“Kesempatan hanya sekali seumur hidup. Ambil atau tidak sama sekali.”
Ratih memandang wajah Pras dengan bimbang. Terdiam. Kemudian membuka mulutnya.
“Apa saja yang kudapatkan dari penawaran mu?”
“Gaji dan bonus lebih besar tanpa tambahan lembur.”
“How kind of you...” Ujar Ratih mencelos.
“Demi masa depan bahagia.” Ujar Pras tertawa.
“Hanya itu penawaran mu?”
“Resign sesuai keinginanmu. Rekomendasi ke perusahaan incaran mu.”
“Rekomendasi aja?”
“Ok. Akses pindah kerja ke perusahaan incaran mu.”
Ratih menatap Pras dengan bimbang.
“Kalau kau bertanya sekali lagi. Aku akan menawarkan mu jadi istri keduaku. Simpanan gelap.” Sahut Pras tergelak.
“Gak lucu!”
“Tawaranku sudah lebih dari cukup. Kalau kau mau lebih ya paling jadi simpananku karena tak mungkin aku melepaskan Tania.”
“Ok. Akan kupikirkan. Lupakan masalah simpanan gelap. Kalau kau ingin benar-benar ku bantu. Please, behave!"
“Kau harus menjawab sekarang. Ya atau tidak sama sekali.”
Ratih menarik nafasnya. Menghelanya kemudian berkata, “Baiklah.”
“Yeah, aku tahu, aku dapat mengandalkan mu. Apa rencanamu?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada? Aku tidak akan memenuhi semua permintaanmu jika aku tidak mendapatkan apa pun.”
“Memang tidak ada. Aku hanya perlu menunggu Tania mengundangku untuk berlibur bersamanya.”
“Damn!” Umpat Pras, "I just knew it!"
__ADS_1