
Pembayaran hutang terakhir Ratih kepada Kreshna sangat membebaninya. Tapi tidak ada yang dapat dilakukan karena Kreshna berkeras uang tersebut dikembalikan dengan cara membayar makan siang yang dipilihnya.
Amarah Ratih nyaris menembus ubun-ubun karena Kreshna ingin makan siang dengan ketan serundeng seharga lima ribu rupiah.
"Kapan lunasnya hutangku kalau seperti ini caramu meminta pelunasannya?" Omel Ratih.
"Kenapa sih kau tiba-tiba marah-marah?"
"Aku ingin melunasi hutang padamu secepatnya dan lihat yang kau lakukan padaku."
"Aku kan tidak memberikan tambahan bunga atau apa pun padamu. Kenapa kau jadi terbebani?"
"Baiklah, aku terima saja tawaran pembebasan hutangmu. Aku sudah tidak tahan lagi. Anggap saja pembayaran hutang terakhirmu lunas ya?"
"Maaf, aku berubah pikiran." Sahut Kreshna dengan mata berbinar jahil.
"Kau jangan keterlaluan!" Teriak Ratih yang mulai emosi, "Baik, ini sisa uangmu setelah dipotong makan siang yang jumlahnya belum mencapai seratus ribu rupiah. Kau bilang bisa kuletakkan dimana pun aku suka."
"Maaf, aku sedang sibuk ketika mengatakan hal tersebut. Apalagi kau mengatakannya saat aku sedang berkutat dengan pekerjaanku."
"Apa maksudmu?" Ratih meradang.
"Bayar saja pakai makan siang atau kutagih di akhirat nanti!"
"Kau?!" Ratih berbalik keluar ruangan Kreshna. Meninggalkannya begitu saja.
Ratih meninggalkan Kreshna. Menenangkan dirinya.
Utangnya kurang dari satu setengah juta rupiah lagi. Dia membayarnya belum sampai seratus ribu.
Ratih memesan semangkok bakso untuk makan siangnya. Memesan es teh manis. Membeli beberapa buah lontong isi oncom untuk dimakan bersama bakso yang dipesannya. Biasanya ampuh membantunya untuk meredam emosinya. Mengembalikan akal sehatnya.
Tenang…tenang…kendalikan emosimu! Tarik nafas dalam dan keluarkan….
Tiba-tiba Ratih memiliki ide yang sangat jitu. Tanpa sadar senyum tersungging dari bibirnya.
Setelah menyelesaikan makan siangnya. Ratih kembali ke ruangannya Kreshna.
"Apa kau masih mau mengajakku dan Tintan jalan?" Tanya Ratih.
"Memangnya kau ada waktu?" Tanya Kreshna balik.
"Kebetulan weekend ini kosong." Ujar Ratih.
"Ok."
"Tapi ada syaratnya." Sambung Ratih, "Buat pelunasan hutangku."
"Maksudmu?" Tanya Kreshna.
"Aku akan bayar tiket dan penginapannya sebagai pelunasan hutangku padamu. Bagaimana?"
"Boleh." Jawab Kreshna.
"Ok."
__ADS_1
Wajah Ratih berbinar. Akhirnya dia bisa melunasi hutangnya secepatnya.
"Kita jalan berdua aja ya?" Sahut Kreshna.
"Ajak Tintan aja. Pembayaran hutangku cuma cukup membayar tiket dan penginapanmu. Biar tiket Tintan aku yang bayar. Nanti kau sekamar dengan Tintan." Tukas Ratih.
"Baiklah. Terserah kau."
Ratih memutuskan akan menyelesaikan semua secepatnya.
Ratih melihat-lihat pilihan tempat wisata yang menarik untuk mereka kunjungi. Tentu sesuai budget uang yang dipinjamnya dari Kreshna.
Sepertinya permainan air menarik. Penginapan yang juga bernuansa alam. Berbahan kayu. Bersih sudah pasti dan nyaman.
Memilih penerbangan yang harganya lebih miring sehingga sesuai budget. Dia membeli satu tiket tambahan untuk Tintan karena enggan pergi berdua dengan Kreshna. Kalau nanti terjadi hal-hal yang diinginkan? Uppss!
Ratih tidak merasa nyaman jalan berdua dengan Kreshna terlebih ketika mereka gagal menikah dan tidak ingin membuka semua luka lama juga kecewa.
Dia berusaha menyembuhkan dirinya dan membuka hatinya untuk yang lain.
Lebih baik aku memulai kembali dengan orang yang benar-benar baru. Apa yang terjadi antara aku dan Kreshna akan menjadi pelajaran. Dan kalau sudah sama-sama cocok langsung saja menikah supaya tidak terlalu banyak drama.
Semoga, begitu aku sembuh dari semua trauma, Allah akan kirimkan seorang pria yang sangat setia, mencintaiku, belahan jiwa serta selalu bersama dalam suka dan duka. Cinta sejati. Abadi selamanya!
Setia, pengertian dan sabar….
Ratih sedang membaca majalah ketika bel berbunyi. Membuka pintunya dan Kreshna berdiri mengembangkan senyumnya.
"Ada perlu apa?" Tanya Ratih.
"Maaf, tapi ini sudah malam."
Jam menunjukkan pukul tujuh malam.
"Bisakah aku masuk?"
Ratih menganggukkan kepalanya, "Jangan lama-lama. Sudah malam, besok kita kan mesti kerja. Kau juga sendirian. Aku tidak ingin nanti tetangga kasak kusuk."
"Tenang saja." Kreshna masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
"Kau mau minum apa?"
"Terserah."
Ratih membuatkan segelas teh manis hangat. Menyuguhkan sepiring bakwan sayur yang dibuatnya sendiri.
"Kau sudah makan?"
"Belum." Sahut Kreshna sambil menyeringai.
"Mau makan sekarang? Aku masak sayur lodeh, perkedel dan udang balado."
"Kayaknya enak."
"Mau makan dulu?"
__ADS_1
"Nanti saja. Aku mau istirahat dulu. Menikmati teh manis hangat dan bakwan sayurmu. Sepertinya enak."
"Ada apa kau mencariku?"
Kreshna meminum teh manis hangatnya. Mencomot bakwan sayur dangan cabe rawit.
"Mengapa kau menghindariku?" Tanyanya sambil mengunyah bakwan dan mengigit cabe rawit.
"Aku bukan bermaksud menghindarimu tapi aku merasa hubungan pertemanan kita beracun."
"Kau senang membesar-besarkan masalah. Salah paham itu biasa aja. Tinggal dikomunikasikan secara terbuka."
"Komunikasikan secara terbuka, apa? Kau menyudutkanku."
"Kau gak perlu bersikap reaktif kalau aku sedang dikuasai emosi?"
"Apa maksudmu? Kau yang bersikap reaktif dan aku harus diam saja?"
"Kalau kita berdua reaktif. Kita akan seperti pop corn."
"Kita memang sudah seperti pop corn. Memang tidak seharusnya kita berada dalam satu wajan."
"Aku tidak ingin kau bersikap berlebihan. Kita berbaikan ya?"
"Aku malas dengan drama hubungan pertemanan kita."
"Kesalahpahaman itu pasti ada. Kita tidak bisa menghindari hal itu."
"Aku tahu tapi kalau berulang kali. Lama-lama sangat mengganggu. Seperti ketika aku mencemburuimu dengan Alicia. Aku tidak mau seperti itu lagi."
"Aku tidak keberatan kau mencemburui Alicia. Aku bisa mengerti hanya saja yang sulit kuterima mengapa kau tidak mempercayaiku? Buat apa aku mengejarmu jika yang kuinginkan Alicia?"
"Mana aku tahu? Kau sendiri mengapa mencemburui Bima dan tidak bisa percaya padaku?"
Kreshna terdiam, "Kupikir aku egois. Hanya bisa mengerti sesuatu dari perspektiveku sendiri bukan orang lain. Aku juga tidak bisa mempercayaimu dengan Bima. You got the point!"
"Kau sendiri sadar bahwa hubungan kita beracun."
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku ingin kita tetap berteman dan saling mengenal lebih baik satu sama lain."
"Akan kupikirkan. Jangan mendesakku. Aku sendiri juga ambigue dan confused."
"Take your time. Please, don't leave me and abondon us. Don't make any predijuce that make everything become worse. If we didn't meant each other. At least we can decide something that won't make us regret. But if we avoid, we think that we can make it when we are doing it right."
"I don't know. I am not sure."
"Please be with me, until we can decide what is the best for both of us."
Ratih memandang Kreshna dengan gamang. Hubungan mereka terasa sangat sulit untuk dijalani dan membuatnya nyaris putus asa. Tetapi perkataan Kreshna juga benar. Jika mereka tidak menjalaninya sampai titik darah penghabisan. Mereka akan menyesalinya dan berandai-andai. Berbeda jika mereka menjalaninya sampai akhir. Tidak ada rasa penasaran karena mereka sudah menjalaninya sampai final.
"Bagaimana kalau kita makan dulu?" Tanya Ratih, "Perutku lapar. Aku belum makan. Pulang kerja, aku santai-santai dulu. Mandi dan baca-baca."
"Ide yang bagus. Aku juga ingin mencicipi masakanmu."
Mereka makan sambil mengobrol dan sesekali tenggelam dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1