
Ratih sangat terkejut melihat Kreshna. Bibirnya mendadak kelu. Wajahnya memerah.
"Sedang apa kau disini?" Ulang Kreshna.
"Kau sedang apa?" Ratih balik bertanya.
"Aku ceo perusahaan ini. Kau sedang apa disini?"
"Aku…."
"Para hadirin berikan tepuk tangan yang meriah untuk Ceo kita, bapak Kreshna atas pidatonya yang sangat memukau."
Tepuk tangan bergemuruh membuat Ratih tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Mengangsurkan lampion yang dibawanya kepada Kreshna, menyalaminya dan berjalan ke tepi panggung dan turun.
Jantungnya berdebar sangat keras.
Dia ceo perusahaan ini? Kupikir aku harus mencari pekerjaan di tempat lain. Atau ini karena event perusahaan saja, dia ada di sini?
Sebaiknya kulihat saja nanti bagaimana sikonnya. Kalau aku merasa terganggu sebaiknya, aku pindah kerja.
Konsentrasi Kreshna terpecah. Melihat Ratih ada di depan hidungnya. Membuatnya terkejut. Tidak menyangka mereka akan bertemu di sini.
Sejak kapan Ratih bekerja di perusahaan yang dipimpinnya?
Pikirannya menjadi kacau. Mengapa aku harus bertemu dengannya lagi? Kupikir sebaiknya aku segera kembali dan tidak berlama-lama di sini.
Keinginannya untuk segera kembali ditolak mentah-mentah oleh Pras.
"Kau jarang mengontrol anak perusahaan. Kenapa selalu terburu-buru? Aku ingin kau ikut meeting dan membantuku menyelesaikan masalah perusahaan."
"Meetiing online saja."
"Tidak! Mumpung kau disini. Kita meeting langsung. Aku juga akan memperkenalkanmu pada karyawan-karyawan kita. Terutama mereka yang akan sering menghubungimu. Memberikan data dan segala hal yang dibutuhkan. Aku memerlukan bantuanmu."
Wajah Kreshna sangat bimbang.
Dia tidak ingin bertemu dengan Ratih. Hidupnya sudah tenang tanpa Ratih dan Alicia. No woman no cry….
Wajah Kreshna berubah jutek. Benar-benar tidak mengharapkan pertemuannya dengan Ratih.
Masih sangat marah dengan cincin yang dikembalikan kepadanya. Dan semua hal yang terjadi di dalam hubungan mereka.
Kecemburuan mereka satu sama lain. Keraguan dan beragam hal yang lebih mudah untuk dikesampingkan dibandingkan dipikirkan apalagi dijadikan beban.
"Pras, nanti biar Imas aja yang gantiin aku. Atau Satria."
Imas adalah sekretaris Kreshna sedangkan Satria adalah asistennya.
"Atau kalau kau kurang puas. Tio akan menggantikanku."
Tio adalah vice president perusahaan mereka.
"Aku ingin kau yang menanganinya. Tolong lah ini sangat penting. Jangan membuatku sampai harus mengemis padamu."
"Aku bukan tidak ingin membantu tapi tidak bisa. Kau bisa atasi masalah ini tanpa harus melibatkanku. Kirim saja laporannya ke aku. Kita akan mengadakan meeting online. Bagaimana? Aku harus segera kembali dan tidak bisa berlama-lama di sini."
"Kau tidak bisa melakukan itu padaku!" Seru Pras marah dan kesal.
__ADS_1
"Who is the boss?"
"I don't care. You have to fix the problem."
Kreshna tidak dapat menolak permintaan Pras. Semakin frustasi ketika mengetahui orang yang diminta Pras untuk membantu pekerjaannya.
"Aku ingin orang lain."
"Tidak ada orang lain. Dia yang terbaik."
"Aku bertaruh dia tidak akan mau bekerja sama denganku."
"Kau tahu darimana?"
Kreshna memandang Pras dengan sinis.
"Kau mengenalnya?"
"Lebih dari kenal. Aku dan dia adalah twin evil."
"Kalian seperti anak kecil. Aku tidak tahu ada masalah apa antara kalian berdua. Itu masalah pribadi kalian berdua dan jangan dicampuradukkan dengan pekerjaan. Aku akan melaporkanmu pada rapat komisaris kalau kau menolak menjalankan tugasmu. Aku juga sudah mengultimatumnya, tidak akan memberikan surat rekomendasi jika dia mengundurkan diri secara sepihak dari perusahaan dan aku jamin tidak akan ada perusahaan yang mau menerimanya karena sikap membangkangnya tersebut.
Kreshna tertawa membayangkan wajah Ratih yang sangat kesal mendapatkan ultimatum dari Pras.
"Mengapa kau tertawa?"
"Tidak ada. Aku tiba-tiba saja mengingat sesuatu yang sangat lucu."
"Kalian berdua harus bekerja sama memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Aku menolak surat pengunduran dirinya dan mengancamnya untuk melakukan ganti rugi kalau memutuskan kontrak secara sepihak."
"Berapa lama lagi kontrak kerjanya?"
Kreshna kembali tergelak dan kali ini sambil memegangi perutnya.
Seperti yang sudah ditebaknya. Wajah Ratih sangat jutek. Membawa setumpuk berkas dengan wajah tidak bersahabat.
"Semua ini tidak ada kaitannya denganku."
"Kau pikir aku percaya?" Sahut Ratih dengan mata melotot.
"Terserah! Kau tanyakan sendiri ke Pras kalau tidak percaya."
"Bagaimana kalau kalian bersekongkol?"
"Buat apa aku bersekongkol dengannya?"
"Mana aku tahu? Mungkin sama seperti kau dan Alicia!"
"Aku sedang tidak ingin bertengkar dengan siapa pun. Kau mau percaya atau tidak. Bukan urusanku. Tolong ringkas data-data yang kau berikan padaku. Tiga tahun terakhir." Kreshna menyodorkan selembar kertas berisi tulisan tangannya.
"Gak pake lama!"
Wajah Ratih merah padam.
"Kerjain aja sendiri!"
"Aku tidak punya waktu meladenimu. Jangan drama. Bisa kan?"
Ratih membalikkan tubuhnya dengan wajah marah. Emosinya mengalir ke ubun-ubun.
__ADS_1
Berharap pekerjaannya yang berhubungan dengan Kreshna bisa cepat selesai. Mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tidak semudah yang dibayangkannya. Ganti rugi seratus juta setahun. Lima tahun kontrak kerja senilai lima ratus juta. Darimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?"
Belajar kilat dari Imas, sekretaris Kreshna untuk meringkas laporan.
Telpon berdering dan Ratih mengangkat teleponnya.
"Sudah selesai?"
"Aku sedang belajar meringkas dari Imas. Kau cerewet sekali. Kerjakan saja sendiri."
"Aku kan sudah bilang gak pake lama."
"Kau ingin data tersebut diolah dan diringkas. Aku juga harus belajar meringkas dulu. Kau sebenarnya mau apa sih?"
"Aku mau ringkasan laporan data yang sudah kau olah tentu. Apalagi?"
"Bisa sabar gak?"
"Aku ingin semua cepat selesai dan segera pergi dari sini."
"Aku usahakan secepat yang aku bisa."
Ratih merasa lega melihat sikap Kreshna yang sama dengannya. Tidak seharusnya mereka sering bertemu atau berlama-lama berurusan.
"Ini data-data yang kau butuhkan." Ratih mengangsurkan pekerjaannya kepada Kreshna.
"Lampion pemberianku kau jadikan hadiah? Apa maksudnya? Kau benar-benar keterlaluan!"
"Sudah bagus tidak kubuang!"
Wajah Kreshna merah padam.
"Kau berani membuangnya?"
"Itu bukan benda keramat atau bertulah. Bukan benda berharga. Kupikir mengembalikan pada yang berhak terbaik."
"Itu tidak sengaja. Kalau bukan aku yang menerimanya mungkin sudah di tempat sampah sekarang. Itu hadiah ulang tahun yang memiliki makna tersendiri."
"Sebaiknya kita fokus pada pekerjaan. Jangan mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Bagaimana?"
"Aku hanya bertanya mengapa kau kembalikan cincin dan membuang lampion itu?"
"Anggap kita tidak pernah bertemu sehingga kau tidak perlu menanyakan alasannya."
"Aku hanya ingin tahu."
"Haruskah aku memberitahu?"
"Kalau kau memiliki perasaan?"
"Kalau aku tidak kembalikan cincin itu. Menjuanya membuaku mengambil keuntungan dari pemberianmu. Aku merasa seperti pencuri atau memanfaatkan kebaikanmu tidak pada tempatnya. Aku belum sempat membuang lampion itu. Perusahaan tertarik karena lampion itu bisa menjadi hal yang menarik untuk diberikan sebagai simbol."
Wajah Kreshna merah padam, "Kupikir tidak seharusnya, aku menanyakannya padamu. Kau memang tidak punya perasaan."
"Bisakah kita konsentrasi pada pekerjaan?"
"Keluar dari ruanganku. Aku bisa membaca sendiri laporan ini. Jangan masuk ke dalam ruanganku kecuali aku memanggilmu."
Wajah Ratih merah padam menahan amarah.
__ADS_1
"Baik!" Ratih membalik badannya dan bergegas pergi.