
Segala sesuatu sudah digariskan sehingga tidak perlu ada yang dikhawatirkan.
Ratih berusaha menenangkan dirinya yang was-was kebohongannya terbongkar.
Dirinya terpaksa berbohong karena mereka bertemu kembali tanpa sengaja. Dia ingin hubungan mereka berdua berakhir selamanya.
Mereka tidak ditakdirkan berjodoh sehingga sudah sepantasnya kalau mereka saling menjauhi satu sama lain.
Ide berteman dengan Kreshna tidak terlalu buruk, sejujurnya. Karena Kreshna teman yang menyenangkan.
Kesalahan mereka satu-satunya adalah memaksakan hubungan cinta di antara mereka terjalin.
Hubungan yang manis berubah menjadi posesif dan beracun.
Sebenernya memang lebih nyaman menjadi teman. Tidak ada beban sama sekali. Hubungan pertemanan lebih tulus. Mereka juga lebih bisa menghargai privasi masing-masing dan lebih terbuka satu sama lain.
Semua terasa sempurna. Hati Ratih berbunga akhirnya hidupnya cerah ceria.
Sangat mudah ternyata mengatasi sesuatu yang mungkin dianggap mendung. Seperti halnya awan menerima kumpulan awan hitam dan menjadikannya hujan yang bermanfaat. Setelahnya muncul pelangi.
Ngapain coba nangis-nangis gak jelas? Ratih menyesali kebodohannya. Jadi perempuan terlalu baper. Jadi begitu. Iyuh! Solusi itu selalu di depan mata kita sendiri tetapi kita baru menyadarinya setelah kita memikirkannya berulang kali dan menemukan sendiri kejituannya….
Hari yang sangat cerah. Hatinya dipenuhi rasa bahagia. Wajahnya ceria dan menyenandungkan aneka lagu yang dia sukai.
Tidak percaya bahwa cara mengatasi masalahnya sangat mudah. Melepaskan dengan ikhlas sesuatu yang memang harus dilepaskan serta mengambil hikmahnya.
Jika dulu dia kekasih Kreshna dan Alicia temannya. Sekarang posisinya terbalik. Semua terasa lebih ringan dan tanpa beban.
Jantungnya nyaris terloncat ketika sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya.
"Bahagia bener!" Tegur Kreshna tiba-tiba.
"Kamu bikin aku kaget!" Ratih mengusap jantungnya.
"Kamu bikin aku surprise! Apa gerangan yang membuatmu terlihat sangat bahagia?"
"Ada yang bisa kubantu?" Ratih mengalihkan pembicaraan.
"Sepertinya pacarmu seorang yang sangat ideal."
Wajah Ratih memerah dan jantungnya nyaris terlompat. Takut kebohongannya terbongkar.
"Buat apa kau membicarakan pacarku? Aku bahagia karena memang hari ini terasa membahagiakan saja. Tidak ada hubungan dengan pacarku." Ratih masih memegangi jantungnya yang berdebar sangat kencang.
"Fix! Aku mau kenal pacarmu."
Wajah Ratih gelagapan," Tapi buat apa? Kalian tidak saling mengenal. Kau masa laluku dan dia masa depanku. Sudah tidak ada hubungannya sama sekali. Seperti aku juga tidak mau mengenal semua wanita yang mengisi hari-harimu atau yang akan kau pilih untuk masa depanmu."
"Mengapa kau tidak mau tahu?"
"Karena semua sudah berlalu."
"Kalau sudah benar-benar berlalu. Kau pasti mau tahu."
"Justru kalau sudah benar-benar berlalu. Tidak mau tahu. Buat apa tahu? Semua sudah berlalu. Namanya juga masa lalu."
"Mungkin kita berbeda perspektive. Walaupun hubungan kita sudah berlalu. Aku mau tahu orang seperti apa pacarmu itu?"
"Dia tidak sehebat kau. Tidak perlu merasa terintimidasi apalagi insecure."
"Jangan menyimpulkan apa pun. Aku hanya ingin mengenalnya."
"Buat apa mengenalnya? Kalau nanti dia cemburu bagaimana?"
__ADS_1
"Jangan berlebihan. Masak kenalan aja bikin cemburu? Kalau kau tidak mau mengenalkan dia padaku. Kupotong uang lemburmu lima puluh persen."
"Kau tidak bisa melakukannya!"
"Aku akan menghitung setiap detik kau terlambat ke kantor. Bagaimana?" Wajah Kreshna menyeringai tajam.
"Kau?" Wajah Ratih merah padam menahan amarah.
"Kapan kau mau mengenalkan padaku. Tidak pake lama!" Sifat bossy Kreshna keluar.
"Aku takut dia minder padamu. Dia cuma staff biasa sedangkan kau bos besar." Elak Ratih.
"Memang kenapa? Buat apa minder? Walaupun dia staff tapi dia bisa membahagiakanmu. Memahamimu."
"Jangan kekanak-kanakkan. Kau sendiri yang bilang jodoh tidak bisa dipaksakan."
"Aku tidak memaksakan jodoh. Aku hanya ingin mengenalnya."
Tiba-tiba melintas sesuatu dalam pikirannya dengan sangat cepat, "Aku kan LDR, jadi aku tidak bisa mengenalkannya langsung padamu. Kita tidak bisa menemuinya."
"Kata siapa? Dia tidak punya waktu? Kita yang mendatanginya. Aku akan menanggung semua biaya. Kau jangan cari alasan atau kupotong uang lemburmu setengah."
"Setiap orang punya privasi. Kau harus hargai itu!"
"Aku bukan ingin merusak hubungan kalian berdua. Hanya ingin mengenalnya. Aku hanya ingin tahu, orang seperti apa yang kau pilih? Masak begitu saja tidak boleh?"
"Baiklah, nanti aku cari waktunya."
"Weekend ini. Itu waktunya!"
"Aku ingin lain waktu."
"Tidak bisa lain waktu. Aku tidak bisa menunggu lebih lama untuk mengenal pacarmu."
Ratih mulai merasa idenya mengaku memiliki pacar sebagai boomerang. Dia bermaksud menuntaskan semuanya. Kenapa Kreshna malah jadi penasaran dan ingin mengenal kekasih bualannya?
Ketika jam makan siang tiba. Ratih mendatangi Dio teman kerjanya, "Kau harus menolongku!"
"Kau ada masalah apa sih? Tenang."
"Kau harus berjanji untuk menyimpan rahasiaku."
Dio membulatkan mulutnya," Astaga! Kau hamil di luar nikah?"
Kontan Ratih menoyor kepala temannya. Dio mengusap kepalanya, "Sakit!"
"Memang aku tidak sakit hati. Kau tuduh hamil di luar nikah?"
"Lalu apa masalahmu? Dipecat si boss?"
"Seandainya aku dipecat. Sudah kurayakan hari kebebasanku."
"Lalu apa? Punya affair? Punya hutang? Punya…."
"Bisa diam gak sih? Stop!"
"Baiklah! Cepat katakan padaku. Ada apa?"
"Kau harus berjanji menyimpan rahasia ini rapat-rapat dan tidak membocorkannya sama sekali."
"Baiklah!"
"Aku membual pada pak Kreshna kalau aku sudah punya pacar, LDR dan dia ingin mengenalnya."
__ADS_1
"Kau kan tinggal mengenalkannya. Kukira ada apa?"
"Kau tidak menyimak perkataanku ya?"
"Pacarmu LDR."
"Aku membual punya pacar LDR."
"Astaga! Kau berbohong padanya?"
Ratih menganggukkan kepalanya.
"Dia ingin mengenal pacar bualanmu?"
Ratih kembali menganggukkan kepalanya.
"Kau ingin aku mengaku sebagai pacarmu? Kenapa tidak sekalian saja, kau kupacari beneran?"
Mata Ratih melotot,"Jangan kurang ajar! Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!"
Kontan Dio tertawa memegangi perutnya.
"Lalu kau mau minta tolong aku apa?"
"Apa kau punya teman atau saudara yang berbeda kota dan minta tolong mereka mengaku jadi pacar LDRku bagaimana?"
"Kenapa gak beneran aja sih?"
"Dio! Gak lucu!"
"Kamu memang harusnya punya pacar atau suami. Jadi kan gak usah ngaku-ngaku halu begitu!" Lanjut Dio menuntaskan tawanya sambil memegangi perutnya.
"Udah ketawanya?"
"Bee…lumm…"Tawa Dio semakin meledak.
Akhirnya Dio menyelesaikan tawanya,"Baiklah, aku akan menolongmu. Tapi pikirkan juga masalah pacar atau suami tadi. Jadi kau kan gak seperti ini dan ada yang menjagamu."
"Gak usah cerewet bisa gak? Aku bisa jaga diriku sendiri."
"Sekarang kau masih muda dan mandiri. Kalau sudah tua dan sakit-sakitan. Tidak bisa lagi cari uang sendiri. Siapa yang akan menjagamu? Apalagi kau mudah dipermainkan orang. Jangan marah! Ini cuma saran."
"Terserah lah! Yang penting, aku perlu calon pacar LDR haluku secepatnya. Pak Kreshna mau kenal sabtu ini. Kalau sampai bocor atau ada yang tahu mengenai ini. Tunggu aja tanggal mainnya!"
"Tenang! Rahasiamu aman."
Dio menghubunginya lewat wa. Mengirimkan profil calon pacar LDR halunya.
[Bagaimana?]
[Ok, gak apa-apa. Fotonya fine. Profilenya?]
[Tama, staff, umurnya sebaya kita. Beda kota.]
[Perfect! Sifat, hobi, karakter?]
[Baik, introvert, membaca dan menyendiri.]
[Perfect! Thanks!]
Mata Ratih kembali berbinar. Dia menemukan jalan keluar.
Bingo!
__ADS_1