Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Rapuh


__ADS_3

Hubungan mereka seperti lampion kertas yang bisa terbakar kapanpun kalau mereka tidak sangat hati-hati menjaganya.


"Aku kerap merasa kelelahan menjaga agar hubungan kita tetap bisa berlangsung dengan baik." Kreshna memberanikan diri berterus terang, "Kau tidak marah kan?"


Ratih menggelengkan kepalanya.


"Aku kerap merasa seperti menegakkan benang basah." timpal Ratih.


Kreshna mengangguk menyetujui.


"Mungkin kita harus memikirkan kembali semuanya?" saran Ratih.


"Aku pikir tidak usah membahas sesuatu yang mungkin akan kita sesali." timpal Kreshna.


"Hmm, kupikir kau benar. Setidaknya untuk saat ini."


"Kita mungkin bukan penghias makanan di dalam piring masing-masing tetapi ibarat garam, seindah atau semenarik apapun tampilan makanan tidak akan mengundang selera kalau tidak ada garam."


"Tapi buat mereka yang berdiet hal itu tidak berlaku dan hidup mereka justru lebih sehat tanpa garam."


Kreshna meraih tangan Ratih dan menciumnya lembut dengan segenap perasaannya, "Aku belum siap kehilanganmu atau tidak akan pernah siap, aku tidak tahu tapi untuk saat ini, aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu."


Mata Ratih memanas. Satu-satunya persamaan mereka adalah merasakan kepedihan akan ketidakmungkinan mereka bersatu.


"Kalau kita berpisah, mungkin hal itu akan membuat hati kita menjadi patah tetapi juga merupakan pintu kebebasan bagi kita masing-masing menjadi diri sendiri tanpa harus merasa terbebani."


Kreshna meletakkan jari tangannya di bibir Ratih.


"Jangan bicara lagi! Tidak semua orang mendambakan kebebasan bahkan penjara bisa menjadi surga bagi mereka yang enggan kembali melakukan kejahatan setelah mereka dibebaskan."

__ADS_1


"Aku penjara bagimu?" kedua bola mata Ratin nyaris mencuat keluar dan Kreshna tertawa hingga perutnya nyaris kram.


"Maaf, aku bukan pujangga cinta...."


"Memang bukan, kau durjana, rahwana cinta...." Kreshna kembali tergelak.


"Kau menertawakan ironi hubungan kita."


"Seharusnya elegi cinta tapi kita tragedi cinta...."


"Penderita hipertensi tidak selalu bisa menghindari garam. Penderita diabetes memilih menyuntikkan insulin daripada meninggalkan gula."


"Kau enggan menggunakan logikamu!"


"Logika tidak bisa membuatku merasakan sesuatu yang hanya mampu ditangkap oleh rasa dan itu bukan logika!"


"Mengapa kau sungguh keras kepala?"


"Aku tidak ingin mencari masalah."


"Kau juga keras kepala!"


"Kok bisa?"


"Berkeras ingin menyerah. Apa bukan keras kepala juga namanya?"


"Aku cemburu pada Alicia. Dia mampu menjadi awan bagimu."


"Kau pikir aku tidak cemburu melihat Bima yang bisa menemani rembulan dengan bintang-bintang?"

__ADS_1


"Ada apa dengan kita?"


"Memaksakan kehendak Ilahi? Berusaha mendahului takdir? Tidak bisa menerima kenyataan bahwa air dan minyak tak mungkin bersatu?"


"Kau selalu berbicara tentang perpisahan?"


"Kau selalu berbicara tentang penyatuan yang tidak mungkin."


"Buatku perpisahan sama tidak mungkinnya dengan penyatuan sehingga buat apa kita bicarakan? Nikmati saja apa yang kita rasakan tanpa harus membicarakan perpisahan atau penyatuan?"


"Ide yang bagus!"


"Air seringkali ingin menjadi minyak karena melihat kilaunya sedangkan minyak ingin menjadi seperti air karena kesegarannya tapi apapun itu seperti yang kau katakan mereka tidak mungkin berubah apalagi bersatu!"


Malam itu mereka menghabiskan waktu dalam diam. Memandang bulan dan bintang-bintang di langit seakan menemani dan mengerti keresahan keduanya.


"Aku tak ingin seperti pungguk merindukan bulan!" Kreshna menatap bulan purnama yang bersinar penuh dengan nada pilu.


"Aku tak ingin habis manis sepah dibuang!"


"Mengapa kau tidak pernah mempercayai kata-kataku dan memberikanku kesempatan untuk membuktikannya?"


"Karena ucapan dan perbuatanmu berbeda."


"Berbeda?"


"Kau selalu berlari ke Alicia dan menjauhiku. Apa namanya?"


"Kau sudah tau alasannya."

__ADS_1


"Kau juga sudah tau mengapa aku tidak bisa percaya padamu apalagi memberikanmu kesempatan untuk mematahkan hatiku?"


"Kau sangat keras kepala!"


__ADS_2