
Ratih dan Kreshna saling bertahan untuk tidak saling menghubungi. Kemarahan, kebencian, kecewa dan kesedihan memenuhi keduanya.
Keputusasaan bahwa hubungan mereka akan membaik apalagi berujung pernikahan tampak semakin jauh.
"Mana mungkin menikah dalam keadaan seperti ini? Pernikahan macam apa yang akan dijalani tanpa kepercayaan, cemburu dan kemarahan?" keluh Kreshna kepada Alicia.
"No comment!" Alicia menyahut acuh.
"Aku jatuh cinta pertama kali melihatnya. Terobsesi menjadikannya kekasihku dan setelah tercapai justru yang terjadi di luar harapan. Semua semakin sulit dan berat."
"Tidak semua cinta bisa bersatu apalagi kalau sudah tidak ada kepercayaan di dalamnya." Alica membuka suaranya. Hatinya tidak tega melihat keadaan Kreshna. Raut wajah bingung, resah, gelisah dan marah yang tergambar di wajah Kreshna jadi satu.
"Seringkali cinta yang terlalu besar seperti api. Membakar habis. Bukan sebagai teman melainkan lawan. Cintamu memaksamu mengenggamnya erat-erat tapi hatimu tak kuat menghadapi beban yang ada. Dan dia juga begitu. Sama."
Semua pasti ada batasnya. Semua ada takdirnya. Pada akhirnya semua tunduk pada kehendak yang kuasa.
Manusia bisa berencana, berdoa dan berusaha tetapi pada akhirnya Tuhan yang menentukan.
Semua yang tidak pernah ditakdirkan untukmu akan terlepas sedangkan semua yang memang ditakdirkan untukmu akan tergenggam.
Ratih sendiri semakin lengket dengan Bima. Mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama.
Tidak hanya saling menelpon tetapi juga kerap menghabiskan waktu bersama.
Menonton, menghabiskan waktu di toko buku, menghadiri serangkaian acara karena hobi dan minat mereka yang sama. Memasak bersama.
Bahkan mereka berencana membuat usaha bersama.
"Daripada kau terpuruk seperti itu terus. Lebih baik rintis usaha. Bagaimana?"
"Caranya?"
"Kau lihat saja nanti. Learning by doing."
"Baiklah!"
Ratih menikmati kehidupan barunya dan semakin jarang dia mengeluhkan keadaannya.
__ADS_1
Topik obrolan mereka mulai beralih ke hal-hal yang mereka sukai dan juga rencana mereka merintis usaha.
"Tidak mudah juga persiapan usaha!" Ratih terlihat kebingungan.
"Tapi bukan tidak mungkin juga."
"Iya sih...."
"Yang penting kau bisa mengalihkan perhatianmu. Menikmati apa yang kau jalani.'
"Kau benar!"
Sudah hampir sebulan mereka tidak saling bertukar kabar. Kreshna tergerak untuk melihat keadaan Ratih.
Dia bermaksud untuk memberi surprise. Membeli seikat bunga mawar putih. Dia juga mampir membeli sekotak kue kesukaan Ratih. Portuguese Egg Tart, pie buah, lemper ayam, serabi, risoles, soes buah dan pastel isi ayam telur.
Langkahnya terhenti. Melihat gadis yang dirindukannya sedang bercanda dengan orang yang sangat dibencinya.
Wajahnya semakin merah padam melihat lelaki yang sangat dibencinya mengusap lembut rambut Ratih.
Dia berbalik menuju mobil ya dan membuang semua yang dibawanya ke dalam tempat sampah.
Kreshna bertekad memperpanjang perang dingin mereka tanpa batas waktu. Hatinya dongkol melihat apa yang barusan dilihatnya.
Tangannya mengepal dan memukulkan kepalan tangannya pada setir mobilnya.
Dia menekan pedal gasnya dan melajukan mobilnya pada kecepatan tinggi.
Sementara itu Ratih dan Bima asyik mengobrol. Mereka membahas rencana mereka merintis usaha bareng sembari bercanda juga mengobrol.
"Kau tidak kangen pada Kreshna?"
"Kangen dong! Tapi males aku hubungin dia duluan!"
Bima tertawa melihatnya.
"Gengsi-gengsi, rugi sendiri!"
__ADS_1
"Harga diri!"
"Susah ya cinta! Simpel dibuat ribet!"
"Aku merasa gak salah! Dia tidak boleh seenaknya padaku!"
"Pasti dia juga merasa sama!"
"Dia hanya mau dituruti. Gak mau kompromi. Mau seenaknya sendiri!"
Bima membelai rambut Ratih dengan perasaan sayang.
"Udah! Jangan marah-marah terus? Nanti cepet tua kan rugi sendiri!"
"Seandainya, dia sepertimu mungkin kami sudah menikah."
"Tapi kan Kreshna bukan aku. Kenapa kau tidak mau menikah denganku?"
"Aku kan cintanya sama Kreshna bukan kamu!"
Bima tertawa mendengar jawaban polos dan lugu Ratih.
"Aku juga maunya cinta sama kamu tapi nyatanya cintaku buat dia!"
"Aku akan sabar menunggu, bagaimana?"
"Aku tidak bisa memberikan kepastian apapun."
"Aku tidak akan mendesak apalagi memaksamu. Kalau nanti kau tetap menikahinya dan kalian berjodoh. Doa dan bahagiaku tetap untukmu. Bagaimana?"
Airmata Ratih mengalir di kedua belah pipinya.
"Seandainya cintaku untukmu...."
"Kau jangan nangis ya? Semua udah ada waktu dan takdirnya. Kalau kau memang jodohku pasti Tuhan kasih jalannya tapi kalau bukan, insya Allah, aku juga gak akan sakit hati apalagi dendam karena semua udah ada ketentuannya."
Ratih kembali menangis dan Bima menghapus air mata Ratih dengan lembut dan sangat hati-hati.
__ADS_1