
Wajah Kreshna kerap mendung mengingat hubungannya dengan Ratih yang berubah drastis.
Dia kerap mencurahkan segenap perasaan dan kesedihannya kepada Alicia.
"Gue kawinin juga lo!" ceplos Alicia kontak Kreshna tergelak.
"Ogah! Lo perempuan jadi-jadian begitu! Illfeel gue!"
"Yang penting kasih sayang!" Mereka berdua tergelak.
"Gue sendiri sama lo berasa incest!" sambung Alicia.
"Kapan mak babe gue kawin sama mak babe lo?"
"Gue berasa sodara sepersusuan sama lo. Kalau hubungan sepersusuan bisa incest toh?"
"Cuma karena merek susu formula kita sama waktu kecil, langsung incest gitu?" Mereka kembali tergelak.
"Kenapa ya Ratih berubah?"
"Dia bukan berubah. Sifat kalian berdua memang banyak beda."
"Maksudmu, aku dan dia seperti ada di dua dunia?"
"Ya begitu deh kira-kira...."
"Tapi aku bener-bener cinta sama dia."
"Dia juga sama."
"Tapi kenapa gak pernah bisa ketemu ya?"
"Ya itu sifat dan karakter yang sangat berbeda."
"Tapi gue gak mau yang lain."
"Dia juga begitu...."
"Kenapa sih lo dari tadi copy cat terus?"
"Trus gue mesti ngomong sebaliknya gitu?"
Kreshna tertawa pilu.
Alicia menatap sahabatnya dengan iba.
"Lo tau kan gimana perjuangan gue dapetin dia?"
"Iya gue tau...."
"Mungkin dia belum dewasa?"
"Bisa jadi!"
"Trus gue mesti gimana?"
"Gimana kalau kita kasih ayam betina minta tolong diperem sampe netas?" Kontan Kreshna kembali tergelak.
"Kenapa ya gue gak jatuh cinta sama lo aja?"
"Because I am to good and seksi for you?" Kreshna kembali tergelak.
"Ampun pedenya!"
__ADS_1
"Daripada minus mending lebih dong!"
"Maksud gue, seandainya gue jatuh cinta sama lo, 'kan selesai masalah gue?"
"Percuma lo jatuh cinta sama gue."
"Kenapa gitu?"
"Gue gak jatuh cinta sama lo. Yang ada lo bertepuk sebelah tangan. Takutnya nanti lo bunuh diri lagi di pohon toge!"
Kreshna kembali tergelak.
Telponnya berbunyi. Tertulis My love itu panggilannya untuk Ratih.
"Kenapa sayang? Kangen ya?" sahut Kreshna membanyol.
"Ge er aja!"
"Serius amat sih jawabnya? Aku kan cuma becanda!" sahut Kreshna jutek.
"Kamu dimana?"
"Di planet bumi."
"Iya, tau tapi lagi dimana?"
"Kamu tuh kenapa sih kalau nelpon bukan nanya kabar atau ngomong yang enak? Selalu kayak petugas sensus. Nanya-nanya melulu, aku dimana."
"Kamu sama siapa?"
"Klise banget. Bosen ah!"
"Kamu sama siapa sih?"
Suara telpon ditutup oleh Ratih.
"Kenapa sih lo jutek?"
"Gimana gak jutek? Gue pacaran sama petugas sensus apa bagaimana sih? Nanya melulu gue dimana dan sama siapa?"
"Sangking cintanya bisa posesif begitu atau mungkin dia gak ada bahan obrolan sama lo?"
"Dia itu pacar gue tapi gak punya bahan obrolan sama gue. Nah lo siapa gue dong?"
"Temen rasa selingkuhan." Kontan mereka kembali tergelak.
"Tau ah!" sahut Kreshna cuek, "Egp!"
Sabtu sore yang indah. Kreshna bermaksud membawakan Ratih bakso kesukaannya.
Dia sudah bertekad akan memperbaiki hubungan mereka yang memburuk justru setelah mereka jadian.
Sesampainya di rumah Ratih, wajahnya tertegun melihat Ratih sedang mengobrol seru dengan teman lelakinya. Kenapa mereka tidak pernah bisa seperti itu?
Dia berusaha menepis rasa cemburu yang muncul begitu saja.
"Ehm! Assalammualaikum!" sapanya.
"Wa'alaikum salam!" sahut Ratih dan temen lelakinya nyaris berbarengan.
"Kok bisa kompakan ya?" sahut mereka berdua nyaris bersamaan sambil tertawa bersama.
Wajahnya jutek.
__ADS_1
"Twin evil kali!" cetusnya ketus.
"Bukan kamu aja ya yang suka bilang kita tuh suka gak sengaja kompakan!" sahut Ratih ceria, "Kamu bawa bakso?"
"Iya, tapi cuma dua. Aku kan gak tau kamu kedatangan temenmu."
"Ya udah gak apa-apa. Kita makan satu berdua aja ya? Yang satu buat temenku."
"Aku bawain buat kamu bukan temenmu! Beli aja di sana, Mas, gak jauh kok, aku kasih alamatnya ya?"
"Kreshna!"
"Apa sih?"
"Kamu kok kasar gitu sama temenku?"
"Loh emang salah aku nyaranin beli sendiri? Aku kan bawa buat kamu!"
"Duh! Kamu tuh nyebelin banget. Kalau Alicia, aku suruh beli sendiri gimana?"
"Ya gak apa-apa! Dia bakal fine aja. Kamu kenapa sih?"
Wajah Ratih merah padam menahan kesal.
"Aku pamit dulu ya?" temen Ratih merasa gak enak hati.
"Kenapa pamit? Kenalin, ini pacarku, Kreshna."
"Aku, Bima."
Kreshna tidak menggubris keinginan Bima untuk bersalaman.
"Aku pamit dulu ya, nanti aja kita sambung lagi lain kali." Bima bergegas bangkit dari duduknya.
"Ok deh! Terima kasih ya buat buku-bukunya?"
"Sama-sama. Aku juga terima kasih dipinjemin buku-buku yang bagus."
"Tukeran tanda mata ceritanya?" Kreshna menyeplos sebal.
"Bukan, mas. Cuma tukeran buku aja. Apa mas mau aku pinjemin kapan-kapan?"
"Gak usah! Aku gak suka baca!"
"Oh baik mas! Aku pamit dulu ya?"
Kreshna melengos cuek.
"Siapa sih?"
"Temen."
"Mesra amat!"
"Duh! Gak usah cari gara-gara! Kamu sama Alicia gimana?"
"Gajah di depan mata gak keliatan tapi kuman di seberang lautan keliatan."
"Maksud kamu apa sih? Ke sini cuma buat ribut aja?" sahut Ratih jutek.
"Ambilin dong mangkok buat bakso sekalian minumnya!" Kreshna mengalihkan pembicaraan.
Ratih masuk ke rumah mengambil dua buah mangkok dan sendok. Dua buah gelas dan sebotol air.
__ADS_1
"Gitu dong!"