Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Apes


__ADS_3

Keisengan Dira nyaris menjadi boomerang ketika tanpa sengaja mereka berlima bertemu dengan lelaki yang ditodong Dira mentraktir mereka semua.


"Hai kamu!"


Mereka semua saling berpandangan sebelum sadar bahwa itu adalah salah satu korban keisengan Dira.


"Kamu kasih alamat palsu ya?"


Dira cepat tanggap dan mengenali korbannya.


"Pura-pura gak kenal gue. Lo semua menjauh!" Serunya lirih.


Teman-temannya menjauh.


Dengan lantang dia bernyanyi


Ya, ya-ya-ya-ya


Ya-ya-ya-ya


Ya-ya-ya-ya


Ke mana, ke mana, ke mana?


Ku harus mencari ke mana?


Kekasih tercinta tak tahu rimbanya


Lama tak datang ke rumah


Tinggalnya sekarang di mana?


Ke sana-kemari membawa alamat


Namun, yang kutemui bukan dirinya


Sayang, yang kuterima alamat palsu


Dia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan meminta uang kepada yang lewat termasuk lelaki itu.


"Hei! Ngapain kamu nyanyi-nyanyi di jalan?"

__ADS_1


"Bapak kenal saya?"


"Memang kamu gak kenal saya?"


"Bapak yang tadi minta dinyanyiin alamat palsu Ayu ting-ting?"


"Bukan! Saya nanya sama kamu kenapa kasih saya alamat palsu?"


"Kapan saya ketemu bapak?"


"Waktu itu sama temen-temen kamu. Kamu minta traktir bakso?"


"Tapi saya baru ketemu bapak sekarang."


"Masak sih?"


Dira meneruskan nyanyiannya sambil berjoget dan melebarkan sapu tangannya.


Beberapa orang yang lewat memberikannya uang receh lima ratusan, seribu, dua ribu bahkan ada yang memberi lima ribu dan sepuluh ribu


Kutanya sama teman-teman semua


Tetapi mereka bilang, "Tidak tahu"


Sayang, mungkin diriku sudah tertipu


Membuat aku frustasi dibuatnya


Tinggalnya sekarang di mana?


Ke sana-kemari membawa alamat


Namun, yang kutemui bukan dirinya


Sayang, yang kuterima alamat palsu


Kutanya sama teman-teman semua


Tetapi mereka bilang, "Tidak tahu"


Sayang, mungkin diriku sudah tertipu

__ADS_1


Membuat aku frustasi dibuatnya


Ke mana, ke mana, ke mana?


Ku harus mencari ke mana?


Kekasih tercinta tak tahu rimbanya


Lama tak datang ke rumah


Tinggalnya sekarang di mana?


"Kamu tukang ngamen?"


"Begitulah pak!" sahutnya sambil menyodorkan sapu tangannya yang mulai terisi uang.


Lelaki itu merogoh sakunya dan mengeluarkan uang sepuluh ribu.


"Kamu mirip sekali!"


"Bapak adalah orang yang ke sejuta seratus sembilan puluh sembilan yang bilang begitu ke saya. Sepertinya wajah saya pasaran kayak susu formula atau produk keluaran pabrik. Banyak pak, yang mukanya kayak saya cuma nasibnya aja beda-beda!"


"Ya sudah, maaf ya, saya salah mengenali. Lagipula kamu sendirian dan mengamen pulak sedangkan orang yang saya temui waktu itu bersama teman-temannya dan sepertinya gak bisa nyanyi seperti kamu."


"Aduh pak! Kalau saya gak nyanyi, saya makan dari mana?"


Lelaki itu mengeluarkan uang 50 ribu rupiah.


"Cantik-cantik ngamen, gak tega liatnya!"


"Terima kasih, pak!"


Lelaki itu pun berlalu.


Kontan teman-temannya tertawa sampai nyaris kram perut mereka.


"Bisaan! Pura-pura jadi tukang ngamen!"


"Daripada doi minta pertanggungjawaban padahal hamilin gak dan bisa hamil juga gak!"


Kontan makin meledak tawa mereka semua.

__ADS_1


"Eh, makan bakso lagi yuk! Lumayan nih dapat duit dari orang tadi 60 ribu, ini recehan ada sembilan ribu, selembar lima ribuan dan selembar sepuluh ribuan. Cukup deh buat kita semua ngebakso. Minumnya oake kuah bakso aja ya?"


"Sip dah!"


__ADS_2