
Mereka mengobrol sampai saat dini hari menjelang pagi.
“Lebih baik kau tinggal bersamaku disini.” Ujar Kreshna dengan wajah menggoda.
“Jangan gila bisa kan?”
Kontan Kreshna tergelak.
“Kontrakanmu kan di seberang. Apa salahnya kau menemaniku? Mungkin jika kita menikah. Seperti ini rasanya. Selalu bersama.” Sambung Kreshna.
“Sudahlah. Tidak usah php. Just talking the real thing.”
“Aku akan memberikanmu cuti besok. Karena kau sudah kelelahan bekerja selama seminggu. Ditambah menemaniku bergadang.”
“Tidak usah. Aku tidak enak dengan yang lain. Kau memberikanku privilege. Belum nanti menyebarkan gossip yang tidak sedap.”
“Gosip apa? Kau hamil?”
Wajah Ratih memerah.
“Disentuh saja tidak. Bagaimana bisa hamil? Hamil anggur?”
Kreshna kembali tertawa. Diiringi dengan wajah masam serta manyun Ratih.
“Kau tersenyum cantik. Marah cantik. Jutek juga menarik…” Tawa Kreshna kembali pecah.
“Gak usah ngegombal bisa gak?”
“Aku tidak ingin kau jatuh sakit. Jangan salah paham. Ini bukan privilege tapi reward.”
“Aku tidak apa-apa. Weekend aku akan membayarnya dengan berhibranasi.”
“Itu dia masalahnya. Aku tidak mau melewatkan waktu weekendku bersamamu. Jangan salah paham. Ini bukan reward untukmu tapi aku. Aku akan menggunakan privilegeku untuk diriku sendiri.”
“Asem!” Rutuk Ratih diiringi gelak tawa Kreshna.
Mereka mengobrol menjelang subuh. Azan berkumandang keduanya sholat subuh. Kemudian melanjutkan obrolan sampai mata keduanya terasa mengayun. Tidak mampu lagi menahan kantuk. Ratih meletakkan boneka teddy bear hadiah Kreshna berada di tengah mereka berdua.
Tertidur pulas memeluk teddy bear pemberian Kreshna. Sedangkan Kreshna sendiri tidur meringkuk di dalam selimutnya.
Pagi hari kehebohan terjadi. Ratih sangat panik melihat harum jam hampir menuju ke angka delapan.
“Aku terlambat!” Ujarnya meloncat bangun. Bergegas menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian. Mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tubuhnya dibalut kamar jas.
“Mengapa kau tidak membangunkanku?”
“Kita tidur jam setengah lima sehabis sholat subuh. Aku sendiri baru bangun karena teriakkanmu.”
“Aku terlambat. Aku belum mengeringkan rambutku dengan hair dryer. Memblow rambutku.”
“Kau tenang. Bisa tidak?” Ujar Kreshna sambil menguap, “aku masih sangat mengantuk. Lebih baik kita tidur lagi.”
“Tidak bisa! Aku harus bekerja.”
Kreshna menelpon seseorang dan menyerahkan handphonenya pada Ratih.
“Kau tidak usah masuk hari ini. Tugasmu menemani Kreshna.” Ujar suara di seberang sana.
“Tapi pekerjaanku belum selesai.”
“Diah meneruskannya untukmu. Kau tidak usah berpikir mengenai pekerjaan. Nikmatin waktu istirahatmu. Kau sudah lembur seminggu ini. Kuberikan kau cuti paksa hari ini agar kau bisa memulihkan kondisimu.”
__ADS_1
“Baik, pak.” Ujar Ratih.
“Berikan handphonenya pada Kreshna. Aku ingin berbicara dengannya.”
Ratih menyerahkan handphonenya pada Kreshna. Mereka berbincang sejenak. Sebelum akhirnya, Kreshna menutup gadgetnya.
Kreshna menarik selimutnya kembali.
“Kau menuruti Pras tapi tidak menurutiku. Padahal aku yang memerintahkan Pras apa pun yang kumau.”
“Dia atasanku. Tentu saja aku harus mematuhinya.”
“Memang aku bukan atasanmu? Aku yang menentukan apakah seseorang masih berada di posisinya atau tidak.”
“Tetapi Pras atasanku langsung.”
“Kau memang suka semena-mena padaku. Belum jadi istri sudah begini. Apalagi nanti sudah menjadi istri?” Keluh Kreshna, “kau ingin berdiri disitu. Memamerkan tubuhmu dibalik jas kamarmu? Mengapa kau tidak kemari. Masuklah ke dalam selimutku!” Ujar Kreshna sambil menguap.
Kontan Ratih melemparkan handuk yang setengah basah yang digunakannya untuk mengeringkan rambutnya. Ke arah Kreshna. Membuat pria tersebut tergelak.
“Bicara sembarangan!” Bentak Ratih.
“Kau, aku dan Pras seperti kartu As, King dan dua.” Ujar Kreshna.
“Apa maksudmu?”
“King kalah dengan As. Tapi sialnya As kalah dengan dua. Nasib!” Ujar Kreshna terkekeh.
“Kau bicara apa sih?”
“Bicara melantur! Aku ingin melanjutkan tidurku. Terserah padamu. Memang kau mau menurutiku?”
“Aku mau kembali ke kontrakanku. Meneruskan istirahatku disana. Tidak pantas kita berdua di kamar begini. Kalau terjadi sesuatu…”
“Tidak lucu! Dasar otak mesum!”
“Aku akan ke kontrakanmu begitu nyawaku sudah menyatu. Bikin masakan yang enak ya?” Kreshna menarik selimutnya kembali. Kemudian tertidur lelap.
Ratih mengganti pakaiannya dengan pakaiannya yang kemarin. Membawa semua hadiahnya. Keluar dari kamar Kreshna menuju lift. Menekan tombol di lantai tempat lobi berada. Bersiap menyeberang menuju kontarakannya yang tepat berada di depan hotel tempat Kreshna menginap.
Membuka pagar serta pintu kontrakannya. Menguncinya. Meletakkan semua hadiahnya di ruang tengah.
Membuka pintu kamarnya. Menyalakan air conditioning. Mengganti pakaiannya dengan daster yang diambil dari lemari pakaian ya. Melemparkan pakaian bekasnya sembarangan. Melemparkan tubuhnya ke kasur. Melanjutkan tidurnya.
Ratih terbangun pukul setengah dua belas siang. Mengecek handphonenya. Miscall dari Kreshna pukul setengah sebelas siang.
Ratih menelpon Kreshna kembali.
“Kau menelponku?”
“Iya, aku ingin mampir ke kontrakanmu. Kau darimana?”
“Tidur. Aku baru terbangun.”
Suara gelak tawa Kreshna di seberang handphone.
“Apa kubilang? Kita tidur menjelang pagi. Nyaris semalaman kita tidak tidur. Sekarang bagaimana? Apakah sudah terasa segar?”
“Yeah, tentu.”
“Aku makan siang di tempatmu ya?”
“Baiklah. Makan seadanya ya?”
__ADS_1
“Iya dong…Masak aku makan yang gak ada…” Ujar Kreshna sambil tertawa.
“Baiklah, kutunggu kedatanganmu.”
“Ok!”
Ratih menuju dapur membuka kulkas. Bermaksud membuat steak ayam dengan sop bakso tahu. Perkedel. Telur dadar diberi wortel, sosis, kol serta daun bawang.
Pukul dua belas siang bel rumahnya berbunyi. Ratih membukakan pintu untuk Kreshna.
“Silahkan masuk. Aku sedang memasak makan siang. Kau tunggu sebentar ya?”
Kreshna menganggukkan kepalanya.
“Harum…” Ujarnya sambil mengenduskan hidungnya. Membuat Ratih tertawa.
“Kau kelaparan ya? Kasihan sekali. Masuklah. Di kulkasku ada brownies dan puding. Buatan sendiri. Kalau kau mau ambil saja. Aku tidak bisa mengambilkan untukmu karena sedang memasak di dapur.”
“Ok! Aku self servis. Kau mau kubuatkan apa? Kopi atau teh? Sirup atau jus kotak?”
“Jus kotak saja.” Ujar Ratih.
Kreshna berjalan menuju kulkas Ratih yang terletak di dapur. Mengeluarkan jus buah kotak ke dalam dua gelas. Jus jeruk yang sangat segar.
Mengeluarkan brownies dan puding beserta flanya. Mengambil piring kecil buat kue. Memotong brownies serta puding juga menyiramkan fla di atasnya.
“Puding coklatmu sangat lezat. Begitu juga flanya. Harum vanilanya mengguggah selera.” Ujar Kreshna memotong browniesnya menggunakan garpu kecil. Memakan puding coklat beserta flanya dengan menggunakan sendok kecil.
“Kau masak apa sih?” Tanya Kreshna.
“Steak ayam, sop bakso tahu, perkedel Dan telur dadar dengan aneka isian.”
“Kau bilang makan apa adanya saja? Kenapa kau memasak berbagai macam masakan?”
“Maksudku kau terbiasa dengan masakan hotel. Mewah dan eksklusif. Aku tidak bisa memberikan itu semua padamu. Bisa ludes uang gaji serta tabunganku…”
Kreshna tergelak.
“Kalau nanti kita menikah. Aku akan lebih hemat. Karena kau bisa memasak makanan sederhana tetapi sesuai dengan seleraku.”
Kreshna membantu Ratih menyiapkan makanan. Menaruh nasi kedalam mangkuk besar. Menuangkan sop ke dalam mangkuk. Menyusun perkedel dan telur dadar di piring oval.
Ratih menuangkan steak ayam yang sudah matang ke dalam piring yang cukup lebar. Menyusun wortel dan buncis rebus di pinggir piring. Menuangkan kuahnya ke dalam tempat saus steinless.
__ADS_1