Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Malam Minggu


__ADS_3

Setelah minggu yang melelahkan. Tiba saatnya weekend yang sudah ditunggu-tunggu.


Akan tetapi sepertinya dia akan melalui weekendnya seorang diri karena seluruh teman-temannya memiliki acara dengan keluarga atau pasangan  mereka masing-masing.


Ratih mempersiapkan malam minggunya seorang diri. Membuka kulkas dan melihat isinya yang nyaris kosong.


Sepertinya besok aku sudah harus berbelanja. Hari ini aku ingin bersantai.


Ratih sedang memasak mie instant ketika bel rumahnya berbunyi.


Wajahnya jutek melihat siapa yang datang, "Mau apa ke sini?"Ujarnya judes.


"Persilahkan dulu kalau ada orang bertamu. Masak diomelin?"


"Aku tidak menerima tamu. Ini waktu bebasku. Bukan jam kerja."


"Kau mengusir tamu?"


"Kau bukan tamu. Kau atasanku dan hari ini waktu liburku."


Kontan pecah suara tawa.


"Maaf, aku mau makan dulu." Ratih berniat menutup pintu rumahnya tetapi tertahan.


"Kebetulan aku juga belum makan."


"Maaf, bukan urusanku!" Ratih berusaha menutup pintu rumahnya.


"Tidak sopan mengusir tamu. Bisa bawa sial. Kau juga jangan ke ge eran aku bukan mau wakuncar. Ingat! Kita sudah tidak ada hubungan apa pun. Pras membatalkan janji. Tiketnya nganggur."


"Ajak yang lain jangan aku!"Tolak Ratih.


"Ini malam minggu semua orang punya acara dengan keluarga atau pasangan mereka. Seandainya Pras tidak sedang mengejar gebetan barunya. Dia tidak akan membatalkan janji."


"Aku sedang tidak ingin bertengkar. Juga sedang  tidak ingin kemana-mana. Sedang ingin di rumah saja." Ratih mengibaskan tangannya.


"Setidaknya kalau kau tidak ingin menemaniku menonton. Biarkan aku masuk. Perutku juga lapar."


Ratih mendengus kesal,"Sesudah makan, angkat kaki dari rumahku!" Ujarnya galak.


"Kau masak apa?"


"Mie instant."


"Aku suka mie instant."


"Siapa?"


"Siapa gimana?"


"Siapa yang nanya?" 


Kreshna kembali tergelak. Kreshna memasuki rumah Ratih. Duduk di sofa ruang tamu.


"Kau sendirian?" Kreshna meneliti ke seluruh ruangan.


"Tentu tidak." Ratih menuang mie instant yang sudah ditiriskan ke dalam mangkuk.


"Tidak ada siapa-siapa?" Kreshna mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

__ADS_1


"Siapa bilang? Pacarku sedang keluar kota."Bualnya.


"Oh kau sudah punya pacar."


"Begitu lah. LDR. Begitu hubungan kita berakhir. Aku gonta ganti pacar. Mudah-mudahan ini yang terakhir. "Bualnya.


"Hmm, ya…."


Ratih memasak satu buah mie instant lagi. Memasukkan sayuran dan bakso . Menceplok telur. Menggoreng sosis yang dibelah empat ujungnya sehingga mekar.


Ratih meletakkan indomie di atas meja makan. Menyiapkan dua buah gelas air putih. Meletakkan semuanya ke atas nampan.


Ratih memindahkan isi nampan ke atas meja di depan sofa di ruang tamu.


"Baunya enak atau perutku yang sedang kelaparan?"


"Sepertinya perutmu yang sedang kelaparan."


"Aku tidak ingin ada dendam di antara kita. Kalau kita tidak berjodoh. Kita masih bisa berteman apalagi kita juga ada hubungan pekerjaan. Hubungan baik sangat penting untuk kelancaran pekerjaan."


"Aku juga tidak ingin bermusuhan denganmu. Hanya saja aku sering kesal dengan polahmu. Sebaiknya kita menjaga jarak aman. Aku tidak ingin hubungan kita menjadi beracun."


"Justru itu! Jangan kekanak-kanakkan. Jodoh itu di tangan Tuhan. Tidak bisa dipaksakan. Tetapi menjalin hubungan baik itu merupakan kewajiban kita sebagai makhluk Tuhan."


"Makan dulu miemu. Keburu dingin nanti."


"Kalau kau tidak berlebihan menyikapi kegagalan hubungan kita. Saat ini hubungan kita tetap baik. Dua tiket bioskop yang kupunya tidak hangus."


"Kau menonton saja sendiri. Ajak siapa kek. Aku tidak mood menonton. Aku mau belanja karena kulkasku nyaris kosong."


"Kau belanja dulu aja sambil menunggu jam tayangnya mulai. Jam 21.00 baru mulai filmnya."


Ratih mulai bimbang. Kalau tidak karena hubungan mereka yang gagal ke pelaminan. Sebenarnya memang hubungan mereka masih berlangsung dengan baik. 


Hubungan baik dalam pekerjaan memang sangat dibutuhkan. Agar semua bisa berjalan dengan baik, lancar dan tanpa drama.


"Jadi kau ingin rekonsiliasi?" Ratih menggulung mienya dengan garpu.


"Kalau kau mau." Kreshna membelah baksonya menjadi dua. Memakannya dengan gulungan mienya.


"Memangnya kita bisa menjadi teman baik?" Ratih mengambil gelasnya yang berisi air putih dan meminumnya.


"Memangnya kau pernah seperti ini dengan temanmu yang lain?" 


"Tidak pernah sih. Hubungan kami baik-baik saja." 


"Bagaimana dengan mantan-mantan pacarmu?"


Ratih tersedak dan terbatuk.


"Hati-hati kalau makan. Habiskan dulu makananmu baru bicara. Jadi kau tidak tersedak lagi." Kreshna mengangsurkan gelas berisi air putih kepada Ratih.


"Hubungan kami semua baik. Hanya denganmu saja yang bermasalah." Sahutnya berbohong. Dia tidak memiliki hubungan lain selain dengan Kreshna tetapi dia juga tidak ingin Kreshna besar kepala apalagi semena-mena terhadapnya.  Supaya ada harga diri yang tersisa. Terpenting, dia ingin hubungannya dengan Kreshna berakhir selamanya. Tidak ada kesempatan kedua. 


"Bisa saja kau  bersikap baik karena belajar dari kegagalan hubungan kita."


"Yeah! Bisa juga." Ratih melanjutkan makannya.


"Kita bersimbiosis mutualisme. Bagaimana? Aku menemanimu berbelanja dan kau menemaniku menonton?"

__ADS_1


"Sebaiknya kita tidak usah berteman dekat."


"Memang kenapa? Justru lebih bagus sehingga tidak timbul salah paham."


"Aku tidak ingin nanti kita bertengkar lagi."


"Memangnya kau akan marah kalau aku berhubungan dengan perempuan lain?"


"Hubungan kita sudah berakhir. Aku masih  mencemburuimu dengan Alicia? Atau wanita lain? Kau bukan siapa-siapaku lagi. Aneh gak sih? Apa hakku mencemburuimu?"


"Anehlah kalau tidak ada hubungan apapun cemburu. Artinya kalau berteman aja gak apa-apa kan? Justru kalau kita seperti kemarin. Hubungan kita bisa jadi tegang dan diwarnai cemburu karena merasa saling memiliki satu sama lain. Kupikir sebaiknya kita berteman baik saja. Merencanakan menikah mungkin harus dipikir berulang kali. Bagaimana?"


"Yeah! Aku setuju."


"Jadi?"


"Ok!"


"Friend's forever."


"Friend's forever…."


"Kita berangkat sekarang ya? Kamu kan mau belanja dulu."


"Iya persediaan makananku sudah habis. Kulkasku nyaris kosong."


Mereka mampir ke pusat perbelanjaan yang menjual aneka makanan, minuman dan komoditi yang dibutuhkan banyak orang.


Ratih berencana akan membeli sayuran, buah  dan daging. Membeli kebutuhannya sehemat mungkin.


Berulang kali meletakkan dan menaruh beberapa barang di dalam troli. Kemudian dikembalikan lagi ke rak.


"Kau mau beli itu atau tidak?" Tanya Kreshna yang merasa terganggu melihat cara Ratih berbelanja.


"Aku tidak tahu aku ingin membeli barang-barang tersebut karena butuh atau ingin."


"Lama sekali kau berpikirnya?"


"Penghasilanku kan tidak sepertimu. Tentu aku harus berulang kali menimbang sesuatu yang akan kubeli. Memastikan aku membutuhkan atau menginginkannya."


"Apa bedanya sih?"


"Bedalah. Uangku hanya untuk hal yang aku butuhkan saja. Akan sangat boros jika aku menghabiskannya untuk keinginanku."


"Biar aku yang bayar barang-barang yang kau inginkan."


"Terima kasih tapi tidak usah. Aku tidak ingin berhutang budi atau memanfaatkan pertemanan di antara kita."


"Aku ikhlas."


"Aku tau kau ikhlas. Tapi mencegah lebih baik dari pada mengobati."


Kontan Kreshna kembali terbahak.


"Pacarku juga tidak mengijinkan aku ditraktir teman lelakiku apalagi mantan kekasih."


Seketika Kreshna terdiam. Hening beberapa saat kemudian membuka mulutnya, "Aku lupa kau sudah memiliki pacar. Sepertinya pacarmu orang yang mandiri dan bertanggung jawab."


"Begitulah! Dia juga sangat setia. Hanya aku satu-satunya wanita di dalam hidupnya. Aku tidak perlu merasa cemburu karena kutau dia begitu…."

__ADS_1


"Hmm, sepertinya kau sangat mencintai dan mengaguminya."


"Aku sangat berterima kasih padanya. Karena cinta, perhatiannya yang penuh serta kesetiaannya, aku bisa move on dari hubungan beracun kita. A beautiful brand new life." Ratih menutup bualannya.


__ADS_2