
Ratih sudah mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa sehari sebelum berlibur.
Mereka akan berangkat sesudah pulang kantor. Kreshna dan Tintan akan menjemputnya. Mereka akan pergi bersama ke bandara.
Sepulang kerja, Ratih mandi. Bersiap untuk menunggu Tintan dan Kreshna. Membereskan segala sesuatunya karena dia akan meninggalkan rumah sampai hari minggu. Dia tidak memasak karena tidak ingin meninggalkan sisa makanan. Hari itu dia hanya menceplok atau mendadar telur dan nasi.
Selesai menunaikan sholat isyaa gadgetnya berbunyi. Mengangkat telponnya.
"Kau sudah siap?"
"Sudah."
"Sebentar lagi aku otw ke rumahmu bersama Tintan. Aku sholat isyaa dulu."
"Baiklah."
Pesawat mereka boarding jam 22.30 malam. Kreshna dan Tintan menjemput Ratih dengan menggunakan ojol.
Ratih menaikkan kopernya ke dalam bagasi mobil ojol. Duduk di sebelah Tintan sedangkan Kreshna duduk di sebelah supir ojol.
"Kalian sudah makan?"
"Belum sempat. Kau sendiri bagaimana Tintan?"
"Aku buru-buru."
"Aku bawa ini buat kalian." Ratih menyodorkan wadah bekal berisi roti panggang meises dan mentega.
Kreshna dan Tintan memakannya sampai habis. Ratih menyodorkan dua botol minum pada mereka yang langsung diminum sampai setengah.
"Aku juga ada nasi goreng telur. Tadi ada sisa nasi kubuat nasi goreng dengan telur ceplok. Kalian mau gak?"
Ratih menyerahkan tempat bekal dari plastik masing-masing satu. Mereka memakannya sampai habis. Kemudian meminum sisa minum mereka sampai tandas.
Ratih teringat percakapan teman-temannya. Tintan calon adik ipar Kreshna. Pantas saja, dibawa kemana-mana.
Aku harus tenang. Aku dan Kreshna tidak memiliki hubungan apa pun. Sehingga tidak ada alasan untuk mencampuri urusannya atau mencemburuinya. Don't be toxic….
Yang paling sulit sejujurnya ketika hubungan berakhir adalah perasaan yang masih tertinggal. Akan lebih mudah memutuskan hubungan ketika perasaan sudah habis tidak bersisa.
Tetapi sebagai wanita berkelas. Ehm! Dia menolak menjadi bucin. Di luar sana pasti ada jodoh untuknya. Hanya masalah waktu saja!
Ratih mulai mengkhayalkan tipe lelaki seperti apa yang dia inginkan. Yang jelas gak php seperti Kreshna. Gak mendua, lagi-lagi tidak seperti Kreshna. Gak dominan dan otoriter. Membayangkan pria idamannya, seorang yang sangat menurut seperti lilin mainan. Juga sangat lembut. Selalu mau mengalah sampai tidak punya harga diri. Tanpa sadar Ratih tertawa kecil membayangkan pria idamannya.
"Kenapa kau senyum-senyum?" Kreshna yang duduk menyamping diagonal dengan Ratih membuyarkan lamunannya tiba-tiba.
"Bikin kaget aja!" Sahut Ratih sambil mengusap dadanya.
"Ngelanjor ya?" Kreshna tergelak.
"Iya tapi pemerannya bukan kamu!" Sahut Ratih asal.
__ADS_1
"Serius?" Wajah Kreshna mendadak serius.
"Iya, tempat sampah, got, limbah…."
"Ditanya serius. Jawabnya malah becanda."
"Jawabnya becanda. Nanyanya serius."
Kontan Kreshna tertawa.
"Aku seneng tuh bawa kamu jalan soalnya kamu badut."
"Badut sirkus?"
"Terserah lah! Badut ancol juga boleh!" Kreshna kembali tergelak.
"Tintan, ceritain dong keseharian kakak kamu." Sahut Kreshna setelah tawanya reda.
Buset, gak pake basa basi. Pdkt depan gue. Nanya-nanya info ke calon adek iparnya. Apa dulu dia juga segitunya sama gue? Kayaknya gak ya? Gak sengaja ketemu waktu dia dapat hadiah dari Alicia. Kreshna dari luar negeri , bertemu Alicia tidak sengaja. Meminta ijin berbicara dengan Alicia karena dia sedang mengejar pesawatnya. Hmm, kenalannya aja gak sengaja. Beda banget sama kakaknya Tintan. Kemungkinan spesial. Alicia sendiri kekasih yang baik hati. Kekasihnya mendua, buat dia gak ada masalah sama sekali. Sampai kapan pun, dia tidak akan bisa menyamai sifat pengertian Alicia.
"Biasa aja kakak setiap hari. Apa yang mau diceritain?"
"Suka jail gak? Boong. Bisa megang duit gak? Pinter gak ngatur uang?"
"Gak suka jail. Kakak orangnya serius banget. Pinter banget megang uang. Satu sen aja diitung."
"Hmm, bagus…"Kreshna tersenyum puas.
Sepertinya kakak Tintan seorang calon isteri yang baik. Bisa mengatur uang. Benar-benar calon isteri ideal. Pundi-pundi Kreshna tidak hanya terjaga tetapi juga akan bertambah jika calon isterinya pintar mengatur keuangan.
"Kakak jarang marah. Kalau marah diem aja!"
"Oh gitu…" Wajah Kreshna semakin lega.
Wow! Gak suka marah-marah. Tipikal wanita berkelas. Classy woman. Pandai mengatur keuangan dan memiliki emosi yang terkendali.
Mendadak dirinya menjadi ciut. Wajar kalau hubungan mereka berakhir. Dia tidak seperti Alicia yang baik, pengertian dan suka menolong. Tidak juga seperti kakaknya Tintan yang pintar mengatur uang dan emosi.
Sesampainya mereka di bandara. Mereka check in. Mereka mengobrol sambil menunggu gate pesawat dibuka.
"Kakakmu rajin gak?"
"Kelewat rajin."
"Wow!"
Ratih menahan diri untuk tidak berkomentar apalagi ikut campur urusan Kreshna. Lebih baik dia meneruskan imajinasi pria idaman di dalam pikirannya.
Mengkhayal sekalian! Jangan tanggung-tanggung! Dia juga harus selalu bisa mengistimewakan aku. Aku juga ingin pria yang sabar. Tidak suka marah-marah. Gak kasar. Cerdas, jangan lupa humoris. Tidak perhitungan. Hmm, apalagi ya?
"Kau melamun lagi!" Kreshna menegurnya kembali.
__ADS_1
"Kau sedang berbicara dengan Tintan. Aku enggan menginterupsi."
"Kamu kok jadi sensitif sih? Mikirin apa sih?"
"Gak ada!" Sahut Ratih berbohong. Kreshna akan menertawainya kalau tahu dia sedang berimajinasi tentang pria idaman versi dirinya.
"Kita siap-siap masuk ke pesawat, yuk! Jangan banyak mikir! Gunakan waktu yang ada untuk rileks. Senin sudah kembali bekerja."
"Hmm, ya!"
Mereka memasuki pesawat dan Tintan duduk di tengah mereka.
Seperti dikomando, mereka bertiga tertidur selama perjalanan. Terbangun ketika pesawat bersiap untuk landing.
Mereka menggunakan ojol dalam perjalanan menuju penginapan. Ratih tidur sendiri sedangkan Kreshna bersama Tintan.
Mereka langsung beristirahat sesampainya mereka di penginapan.
Bulan bersinar sangat terang. Bintang di sana sini menemani. Langit yang gelap ditutupi awan hitam.
Penginapan yang dipilih Kreshna asri dan hommy. Di depan setiap kamar ada teras. Dalam setiap kamar juga memiliki kamar mandi dalam dan heater juga tempat tidur berukuran queen size.
Jam menunjukkan pukul enam pagi ketika kamarnya diketuk. Selesai sholat subuh, berzikir dan membaca al qur'an. Ratih membaca majalah yang dibelinya di bandara.
Ratih membuka pintu kamarnya. Kreshna dan Tintan.
"Ada apa?"
"Kita jogging yuk sambil cari sarapan."
"Gak kepagian?"
"Justru enak masih pagi. Segar. Ayo dong! Siap-siap. Aku tunggu, gak pake lama ya?"
Ratih menutup pintunya dan menukar pakaiannya dengan pakaian olah raga.
Mereka berjoging bertiga. Kreshna masih menanyai Tintan dengan intens mengenai keseharian kakaknya. Sekolahnya, pekerjaannya, kesehariannya, hobi, karakter…Wow!
Mereka jogging selama satu jam. Peluh bercucuran. Mereka melakukan pemanasan sebelum memulai jogging dan pendinginan sesudahnya.
"Mau makan apa?" Kreshna bertanya pada mereka berdua.
"Gak harus samaan kan?"
"Gak dong! Emangnya seragam?" Kontan mereka tertawa.
"Aku bubur ayam."
"Aku ketoprak!"
"Aku pengen nasi uduk."
__ADS_1
"Ok, kita pesan makanan sesuai selera masing-masing. Apa pun makanannya minumannya teh tawar." Pecah tawa mereka.
Memang penjual makanan yang ada menyediakan minuman gratis berupa teh tawar hangat melengkapi sarapan pagi yang mereka pesan.