
Kreshna akhirnya berhasil merampungkan pekerjaannya. Untuk merayakan perpisahannya kembali ke kantor pusat. Dia mengadakan farewell party di kantor.
Dia menyelenggarakan farewell partynya di auditorium kantor. Menyiapkan makanan, minuman dan dekorasi yang disewanya dari salah satu event organizer yang dipilihnya. Dia juga menyiapkan pidato perpisahannya.
"Akhirnya, keinginananmu terkabul. Kita akan berpisah." Sahut Kreshna ketika mereka sedang berada di dalam ruang kerjanya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku pikir kita berdua perlu hidup tenang. Menjalani sesuatu yang berbeda. Untuk kemajuan kita masing-masing."
"Kemajuan apa? Aku hanya ingin kita menjalaninya pelan-pelan. Jika salah satu dari kita menemukan orang lain. Bersikap dewasa dan terbuka. Jodoh tidak bisa dipaksakan dan pada saat itu mungkin kita memang harus berpisah. Karena salah satu dari kita sudah menemukan jodohnya."
"Wanita membutuhkan kepastian. Menjalani hubungan yang tidak pasti. Akan membuatku terluka dan galau. Jangan samakan wanita dengan pria. Jika kau tidak bisa memberikan kepastian. Fine! Tapi tidak usah memberikan harapan seolah kau bisa memberikan kepastian. Aku juga paham bahwa jodoh di tangan Allah. Tidak bisa dipaksakan. Sebaiknya kita menjaga jarak dan berteman. Jodoh bisa bertemu dengan jalan apa pun. Tidak harus dengan berpacaran. Bahkan sering kali mereka yang berpacaran sakit hati. Karena hubungannya kandas dan kekasihnya menikahi orang lain. Menjaga jodoh orang lain, istilahnya."
"Kau overthinking. Terlalu rumit. Dibuat simpel. Nikmati apa yang bisa dinikmati"
"Tolong hormati. Perbedaan di antara kita. Mungkin bagimu bergonta-ganti pasangan hal yang biasa. Memberikan harapan palsu ke sana sini juga biasa. Tapi kau tidak bisa memaksakannya pada orang lain. Apalagi jika mereka sama sekali berbeda denganmu dalam menjalani hidup mereka."
"Aku tidak ingin salah pilih."
"Semua orang tidak ada yang ingin salah pilih. Tapi yang harus kau pahami. Ketika kau sudah memilih maka kau harus konsekuen dan konsisten."
"Aku tidak siap dengan konsekuensi dan konsistensinya."
"Oleh sebab itu kita harus berpisah. Aku tidak ingin menjadi kacau. Masalah jodoh, tidak usah khawatir. Asam di gunung, garam di laut. Bertemu di belanga."
"Kau kira kita masakan padang?"
Kontan Ratih tergelak.
"Bisa-bisanya kau tertawa untuk masalah seserius ini?"
"Maaf, tapi omonganmu sangat lucu!"
"Kau tahu? Jika salah pilih pasangan. Bisa terjadi perceraian. Perselingkuhan. Terjebak dalam pernikahan. Tekanan mental."
"Maksudmu? Aku pasrah saja, kau jadikan kelinci percobaan? Aku gak punya hati? Hatiku dari batu atau besi?"
"Bukan begitu maksudku."
"Lalu apa maksudmu?"
"Aku ingin memastikan hingga tidak ada keraguan."
"Kalau meragukan, untuk apa dijalani?"
"Kau tidak mengerti. Aku tidak ingin kita berpisah karena ada hal-hal yang bisa memisahkan kita berdua nanti. Kita harus mengetahui apakah kita bisa menghadapi dan mengatasi hal tersebut atau tidak."
"Kau begitu rumit. Selama pasangannya setia dan tidak kasar. Maka seorang wanita akan bisa mendampingi sampai kapan pun juga."
"Itu bedanya dengan pria. Penerimaan seorang pria terbatas dan mereka bisa menjadi tidak setia kalau mereka merasa tidak nyaman atau ada hal yang menggangu di dalam hubungan tersebut."
"Lalu apa maumu?"
"Mauku sudah tidak penting. Aku tidak ingin melihatmu kecewa atau galau karena ketidakpastian. Apa yang membuatmu nyaman. Aku juga nyaman. Apa yang membuatmu bahagia. Aku juga bahagia. Kau ingin kita berpisah dan menyerahkan semua pada takdir? Aku akan menuruti maumu."
"Terima kasih atas pengertianmu."
***
__ADS_1
Kreshna memberikan pidato perpisahannya, "Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Berkat kerja sama seluruh tim dan staff, perusahaan kita bisa mengembangkan sayapnya. Perusahaan kita juga mengalami kemajuan yang pesat karena kerja sama kita semua. Saya akan merasa sangat kehilangan saat-saat kita semua bekerja sama. Saling bahu membahu. The winning team is us. Not me or you. Semoga sukses selalu menyertai kita semua."
Riuh tepuk tangan menggema. Kreshna melempar senyum. Acara bergulir satu per satu.
Acara ramah tamah merupakan puncak acara keseluruhan. Kreshna memesan bebek goreng sambal ijo, balado udang, beef teriyaki, gado-gado, cah tahu jamur dan asinan sayur. Tidak lupa ditambah kerupuk.
Memesan puding coklat dan buah. Cake mini coklat, keju dan tiramisu serta buah melon, semangka dan nanas.
Cream soup aspagarus dan tomato soup dengan potongan roti barquette.
Air mineral dingin, soft drink dan jus jeruk.
Untuk saung makanan, memesan bakso, siomay, dimsum, mpek-mpek dan makaroni schootel.
Kreshna berjalan mendekati Ratih yang sedang mengobrol dengan Diah.
"Gabung boleh ya?" Tuturnya.
"Silahkan, pak. Saya kebetulan mau ambil minuman." Sahut Diah meninggalkan Ratih dan Kreshna.
"Pidatomu sangat mengesankan." Puji Ratih.
"Terima kasih."
"Makanannya juga enak. Mirip pesta pernikahan." Ujar Ratih.
Kreshna tertawa, "Kita kan memang hampir menikah."
Wajah Ratih merah seperti udang rebus,"Aku tidak bermaksud mengungkit rencana pernikahan kita yang gagal."
Kontan pecah tawa keduanya.
"Emangnya perpisahan sekolah. Gladi resik?" Ratih menghabiskan sisa tawanya.
"Aku senang melihatmu tertawa lepas."
"Terima kasih sudah mengurangi beban pikiranku."
"Yeah! Don't mention it. I will feel lonely wihout you."
"Yeah! Me too. But we know we have decided something right."
"Yeah! Kita kan masakan padang."
Pecah tawa keduanya.
"Tapi aku gak mau asamnya loh. Bau ketek kan juga asam."
Tawa keduanya kembali pecah.
"Keringet juga asin. Berarti bukan di belanga tapi di celana!"
"Hush! Gak boleh jorok!" Tegur Ratih tapi kemudian keduanya kembali tertawa.
"Udah gede kali! Masak becandanya kayak bocil muluk? Mengkeret ntar!"
"Takut ntar keterusan."
__ADS_1
"Keterusan gimana sih? Gak usah parno napa sih? Kalau becandaan masih garing, dilarang parno!"
"Aturan darimana?"
"Dari gue!"
Mereka kembali tertawa.
"Pak!" Kreshna menoleh. Ternyata Tania.
Gaun putih tulang membalut tubuhnya yang proporsional. Wajahnya yang imut dan baby face seperti Tintan. Pakaian yang dikenakannya membuatnya tampak lebih dewasa.
"Ada apa?" Tanya Kreshna.
"Saya berterima kasih sudah diajak bergabung ke perusahaan."
"Never mind. It's no big deal!"
"Terima kasih buat pengangkatan sebagai wakil pak Pras. Apa gak terlalu cepat?"
"Hasil kerjamu sangat memuaskan. Pras akan membutuhkanmu seperti aku membutuhkan Ratih. Apalagi aku tidak dapat mendampingi kalian lagi. Aku harus kembali ke pusat. Kuserahkan semuanya kepada kalian berdua untuk diteruskan."
"Terus terang saya sangat tersanjung karena saya baru diterima bekerja."
"Pekerjaan masalah kualifikasi bukan lama atau sebentarnya. Tidak usah berlebihan. Kau mendapatkan pekerjaan tersebut karena kualifikasimu bukan selainnya. Aku ingin perusahaan ini cepat berkembang dan hasil kerja keras kita semua tidak sia-sia."
"Saya akan jaga kepercayaan bapak."
Kreshna menganggukkan kepalanya.
"Saya hanya ingin menyampaikan itu. Selamat jalan pak, semoga sukses selalu menyertai bapak."
"Terima kasih, Tania."
"Saya permisi dulu, pak. Mau ambil minum."
"Silahkan!"
Tania berlalu dari hadapan mereka.
"Tania cantik, manis, imut dan baby face. Sangat kompeten dalam pekerjaannya. Perfect match! "Puji Ratih.
"Gak usah insecured bisa gak?" Ujar Kreshna.
"Kok insecured? Emang gak boleh muji?"
"Ngapain muji-muji?"
"Emang kenapa gak boleh muji?"
"Mendingan ganti topik gimana?"
"Emang kenapa?"
"Takut pecah bisul."
Kontan mereka kembali tertawa.
__ADS_1