
Ratih merasa lebih fresh. Keputusannya mengambil cuti. Mengabaikan dan menjauhi Kreshna. Merupakan keputusan yang sangat brilian. Seperti mencabut duri dalam daging. Semua kembali pulih seperti semula.
Tidurnya sangat nyenyak. Tanpa beban apa pun. Ide berlibur sendiri. Tidak jelek juga. Dia belum pernah berlibur sendirian sebelumnya. Ternyata fantastis. Not bad.
Ratih bergegas ke kamar mandi. Membersihkan dirinya. Bergegas menyiapkan dan merapikan dirinya. Memoles bedak dan lipstik tipis.
Memadukan blouse cream dengan celana panjang katun warna kopi susu. Warna kesukaannya. Menyambar kacamata hitam dengan scarf berwarna senada dipadu celana panjangnya. Topi distro dan flat shoes berwarna senada dengan blousenya.
Ratih bergegas keluar kamar. Berjalan menuju lift. Menekan tombol lantai dimana breakfast secara buffet disiapkan.
Mengambil semangkuk bubur ayam dengan menambahkan aneka topping di atasnya. Sesuai dengan pilihan yang disediakan. Mengambil dua potong sosis. Sepotong roti bakar. Butter. Mengambil segelas jus jeruk.
Memakan sarapan paginya dengan tenang. Mengunyah secara perlahan. I don’t know it feels so good. Releasing from everything that burden my mind so hard.
Toxic relationship. Toxic boss. Toxic me...But, ofcourse, I can not throw myself to the garbage. But, I can throw the rest ....
Pikirannya mulai melayang. Jika kontraknya habis sekitar lima tahun kurang. Mungkin dia akan mencoba bekerja dan atau belajar keluar negeri?
Why abroad? The place that very perfect to ended hide and seek. A new begining for everything. I hope I will find something or someone new there. At least, if I don’t find anything, I can start my brand new life. I will find something for myself
Sarapan paginya tandas. Perutnya memang lapar. Menikmati leisure timenya di kamar hotel. Membuatnya malas kemana-mana. Mau pesan room service. Sayang, uangnya. Aku bukan orang kaya yang bisa menghabiskan uang tanpa harus berpikir bolak balik. Setiap sen harus dipikirkan. Every cent is worth.
Alhasil, dia menghabiskan sisa jajanan yang dibelinya. Berniat memesan go food tapi dibatalkan. Karena hanya bisa mengantar sampai lobi. Sedangkan dia sangat malas untuk keluar dari kamar apalagi turun ke bawah.
Dia berlibur bukan karena orang kaya. Atau memiliki uang yang banyak. Tapi karena membutuhkan healing dan refreshing. Menggunakan tabungannya untuk memanjakan diri. Memberikan reward untuk dirinya. Yang bisa bertahan dari lingkungan toxic yang mengelilinginya.
Handphonenya berbunyi. Tania.
Ratih menekan tombol hijau. Menerima telepon.
“Ya, Tan. Ada apa?”
“Kapan kau kembali?”
“Baru juga dua hari aku pergi. Baru kemarin aku selesai menghadiri resepsi temanku.”
“Mengapa kau tidak langsung pulang?”
“Aku ingin bersantai dan refreshing.”
Tania mencurahkan keluh kesahnya. Seputar Pras. Ratih mendengarkan.
“I am stuck with him. Can you believe that?” Keluh Tania.
“Bersabarlah. Aku hanya seminggu.”
“What? Seminggu? Hell no!”
“Aku butuh refreshing dan releasing. To survive for another rest of the days of the years.”
“Aku ingin berhenti.” Keluh Tania.
“Tapi kenapa?”
“Tidak tahan dengan sikap Pras yang gak profesional. Mengganggu.”
__ADS_1
“Apa yang menahanmu?”
“Apakah mempengaruhi performance kalau sering berganti pekerjaan? Bagaimana kalau Pras menolak memberikan rekomendasi?”
“Sejujurnya, kau tidak perlu bekerja. Kau tidak kekurangan apa pun.”
“Apa yang akan aku lakukan kalau tidak bekerja?”
“Bagaimana kalau kau sekolah lagi?”
“Hmm, bisa juga. Tetapi aku lebih menyukai bekerja dari pada study.”
“Ya, sudah kau pikir-pikir dulu saja kalau ingin berhenti bekerja. Apalagi kau juga sudah menyukai pekerjaannya.”
“Yeah! Justru itu aku ingin kau cepat kembali. Sehingga aku bisa melanjutkan pekerjaanku secara online. Selama Pras tidak mengubah sikapnya. Aku lebih baik bekerja secara online. Hal itu lebih cocok dan membuatku lebih fokus juga konsentrasi.”
“Yeah! Begitu cutiku habis. Aku segera kembali. Kau tenang saja.”
“Kau berlibur dengan siapa?”
“Sendiri.”
“Kupikir dengan teman-temanmu.”
“Agak sulit merencanakan liburan secara dadakan. Aku berlibur karena temanku menikah.”
“Yeah. Enakkah berlibur sendiri?”
“Terus terang lebih enak bareng teman. Tapi mau bagaimana lagi. Sulit merencanakan liburan secara mendadak jika bersama-sama. Tetapi untuk healing. Menghabiskan waktu sendiri. Sangat nyaman. Bisa beristirahat dari semua hal yang kerap menekan.”
“Yeah! Selamat berlibur kalau begitu. Seandainya, aku bisa bergabung berlibur denganmu.”
“Yeah! Akan kutelpon lagi nanti, ya.”
“Ok!”
Ratih menghabiskan sarapan paginya. Bergegas keluar hotel. Mengenakan kacamata hitam dan topi distronya. Memesan go car menuju tempat hiburan.
Menghirup nafas lega. Tempat hiburan masih sepi. Dia sengaja datang lebih pagi karena memang ingin menghabiskan waktu seharian.
Ratih menuju loket. Membeli karcis terusan. Antrian teratur dan tidak terlalu panjang karena masih pagi dan baru buka.
Setelah mendapatkan tiket dan mendapatkan cap tanda tiket terusan. Ratih melenggang memasuki taman hiburan.
Setengah berlari Ratih menuju bianglala. Antrian bergerak cukup lamban. Perlahan antrian bergerak maju. Satu per satu menaiki bianglala. Dan satu per satu bergerak naik ke atas. Belum berputar secara penuh. Menunggu semua penumpang menaiki seluruh bianglala yang tersedia.
Seseorang keluar dari bianglala dan bergerak menuju jalan keluar. Sepertinya membatalkan niatnya untuk menaiki bianglala.
Beberapa orang yang berada di depannya mengikuti orang yang keluar dari bianglala. Sepertinya mereka berubah pikiran ingin menaiki wahana lain.
Dia berjalan maju ke depan bermaksud menaiki bianglala tersebut. Menggantikan orang yang membatalkan menaikinya.
Ratih memasuki bianglala dan tidak lama bianglala bergerak. Refleks dia menutup pintu bianglala tersebut. Kemudian menggeser tubuhnya mencari posisi duduk yang lebih nyaman.
Betapa terkejutnya melihat sesosok wajah yang sedang menatapnya dengan heran.
__ADS_1
“Sedang apa kau disini?”
Ratih terkejut, “Kau sendiri sedang apa?”
“Bukannya kau kemaren bilang akan ke bandara?”
Wajahnya pias. Astaga!
“Hmm, ya. Aku ke bandara ternyata delay.”
“Delay? Mengapa kau tidak mengatakan apa-apa?”
“Mengapa aku harus mengatakannya?”
“Oh iya. Maafkan aku. Kau memang tidak memiliki kewajiban untuk mengabarkan apa pun itu. Baiklah, berapa lama delaynya?”
“Sementara ini sampai besok.” Sahut Ratih berbohong.
“Sementara kau delay, kupikir gak ada salahnya menghabiskan waktu bersama, gimana?”
“Kau sendiri. Kenapa bisa ada di sini?”
Bianglala bergerak perlahan. Setelah semua terisi bergerak berputar. Memutari.Dari bawah ke atas. Menuju ke bawah. Kemudian bergerak ke atas kembali. Berputar.
“Burnt out. Aku mengambil cuti. Refreshing.”
Ratih terdiam.
“Kau sendiri?”
“Menghadiri pesta pernikahan Alicia tentu saja. Pesawat delay. Mau gak mau aku belum bisa kembali.”
“Yeah! Aku tidak menyangka bisa bertemu kau disini.”
“Aku juga. Saat ini bukan weekend atau hari libur tapi weekdays.”
“Yeah. Justru mengambil cuti pada saat weekdays sangat fresh. Karena tempat hiburan tidak terlalu ramai.”
“Jelas saja tidak ramai. Karena kebanyakan orang bekerja pada weekdays.”
__ADS_1
... ...