Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Aca


__ADS_3

Tania memutuskan bertemu dengan Aca esok hari saat Ratih sudah kembali bekerja ke kantor.


“Besok yuk, Ca. Kita ketemuan.” Ajak Tania.


“Bukannya, kau bekerja?”


“Work from home. Apa kau sibuk besok?”


“Gak juga sih. Mau ketemu dimana?”


“Tempat kemaren kita gak sengaja ketemu gimana?”


“Boleh.”


“Jam makan siang aja ya, Ca. Kita makan di The Lunch aja.”


“Ok!”


“Ok!” Tania menutup teleponnya.


Keesokan paginya, Ratih bersiap untuk masuk kerja. Membuat roti panggang yang diratakan dengan kornet dan keju slice.


Memakan rotinya lamat-lamat. Menyesap teh manis hangat. Mengupas mangga yang terasa legit dan manis. Untuk pencuci mulut.


Ratih menaruh peralatan makannya di bak cuci piring. Dia akan mencucinya sepulang bekerja. Bergegas menuju pintu. Berjalan keluar mengunci pintu dan juga pagar rumahnya.


Berjalan santai menuju kantornya yang terletak tidak jauh dari kontrakannya.


Sesampainya di ruangannya. Menghidupkan personal computernya. Memulai pekerjaannya. Yang menjadi rutinitasnya.


Pras baru tiba di ruangannya jam sepuluh pagi.


“Kau masuk hari ini?”


“Yeah!” Sahut Ratih tanpa mengangkat wajahnya.


“Tania work from home?”


“Yeah!”


“Bujuklah Tania masuk kantor.”


“Kau menakutinya.”


“Aku menakutinya apa? Aku kan hanya berusaha menyampaikan isi hatiku.”


Ratih mengangkat wajahnya, “Kau sudah memiliki kekasih. Dia ingin bekerja bukan diganggu olehmu.” Sahut Ratih tegas.


“Kekasih bukan istri. Aku masih bisa memilih.”


“Apakah kekasihmu tahu apa yang kau lakukan di belakangnya?”


“Tentu tidak.”


“Berarti kau tahu. Tidak ada yang bisa menerima apa yang kau lakukan. Berhentilah mengganggunya!”


“Aku merasa sangat penasaran dengannya.”


“Kau tidak hanya egois tapi juga sangat menyebalkan.” Dengus Ratih.


“Kau kan sudah mengenal Marsha. Mengenal keduanya. Bagaimana menurut pendapatmu?”


“Dua-duanya fine. Kau yang bermasalah.  Jika kau sudah memilih Marsha. Maka setialah. Untuk apa kau mengejar yang belum pasti?”


“Adrenalin?”


“Aku tidak harus meladeni pembicaraan tidak berguna ini.” Ratih memandang Pras dengan sebal, “Hargailah wanita. Kau juga lahir dari seorang wanita. Apa kau mau, saudara perempuanmu dipermainkan?”


“Kau sudah menyelesaikan laporan yang diberikan Tania padamu?” Sahut Pras mengalihkan pembicaraan


“Sedang kukerjakan.”


***


Tania sampai lebih cepat. Jam menunjukkan pukul sebelas tiga puluh siang. Aca tiba tepat pukul dua belas siang.


Mereka saling berpelukan dan menebarkan senyum juga tawa.


“Sudah lama?” Tanya Aca menarik kursi. Mendudukinya.


“”Sekitar setengah jam-an.”


“Aku berusaha secepatnya ke sini. Tidak terlambat kan?”


Tania menggelengkan kepalanya, “Kau ontime.”


“Kau sudah memesan makanan?”


“Aku menunggumu.”


“Baiklah. Kita akan memesan makanan. Nasi putih, ayam taliwang  dan plecing kangkung.”


“Yeah.”


“Minumnya?”


“Es kelapa muda.”


“Ok.”

__ADS_1


Mereka mengobrol sambil menunggu pesanan mereka datang.


“Kau kelihatan suntuk.” Ujar Aca.


“Bosku yang sudah memiliki kekasih. Kerap menggangguku.”


“Cuekin aja.  Nanti juga bosan sendiri.”


“Aku merasa terganggu. Terpaksa aku bekerja di rumah karena tidak tahan dengan gangguannya kalau aku masuk kantor.”


“Makanya jangan jomblo terus.”


“Apakah kalau jomblo berarti available untuk diganggu?”


“Ya, gak juga. Tapi kalau kau sudah memiliki pasangan. Hal itu akan menahan gangguan yang ditujukan padamu.”


“Kuharap dia segera menikahi kekasihnya. Siapa tau setelah menikah akan membuatnya lebih bisa menahan diri.”


“Yeah. Apalagi kalau sudah memiliki anak.”


“Yeah! Kau sendiri mengapa belum menikah dengan kekasihmu?”


“Entahlah! Aku tidak ingin mendesaknya.”


“Memang kau tidak ingin menikah? Atau belum siap menikah?”


“Kekasihku sangat sibuk. Aku tidak ingin mengganggu konsentrasinya.”


“Aku tidak mengerti.”


“Menjalin hubungan itu berbeda dengan bekerja. Seringkali tidak bisa menggunakan logika.”


“Kupikir kau dibutakan cinta?”


“Entahlah!”


“Kau berhak mendapatkan seseorang yang baik dan mencintaimu sepenuh hati.” Ujar  Tania tulus.


“Maksudmu kekasihku tidak cukup pantas? Kau belum mengenalnya? Dia bekerja sangat keras. Hal itu sudah menggambarkan bagaimana dia akan melindungiku nanti.”


“Aku tidak bermaksud menilai pasanganmu. Kau benar, aku tidak mengenalnya. Aku hanya berkata bahwa kau berhak mendapatkan seseorang yang baik. Karena kau sangat baik. That’s all.”


“Yeah! Thanks. Apa rencanamu?”


“Aku ingin melanjutkan pendidikanku dan bekerja di luar negeri. Aku pikir, aku membutuhkan lingkungan yang mendukungku untuk berkembang.”


“Kau tidak merasa mendapatkan dukungan di tempatmu bekerja?”


“Aku merasa, tidak dihargai. Aku tidak bisa menerima perlakuan yang kuterima. Bagaimana pengalamanmu selama di luar negeri?”


“Baik. Tetapi aku lebih suka di sini. Mungkin masalahmu hanya bosmu. Bukan pekerjaan atau lingkungan pekerjaanmu.”


“Mungkin sebaiknya kau mencari lingkungan kerja yang lebih mendukung.”


“Yeah! Aku akan memikirkan perkataanmu. Apakah kau keberatan kalau sesekali kita bertemu?”


“Tidak. Aku juga ingin mengajakmu bertemu beberapa waktu yang lalu. Tapi aku takut mengganggu pekerjaanmu.”


“Aku bertemu denganmu di sela waktu luangku. Tidak mungkin saat aku bekerja kan?”


“Bisa dijewer bosmu.”


Mereka tertawa geli.


“Seminggu kemarin memang aku sangat sibuk. Ditambah lembur. A very hard week.”


“Berarti sekarang memang waktu yang tepat untuk bertemu dan mengobrol.”


“Yeah.”


“Mungkin kau perlu sesekali meluangkan waktu bersama teman-temanmu. Supaya rileks dan tidak terlalu serius.”


“Entahlah!”


“Kau tidak memiliki teman?”


“Kau?”


“Hanya aku? Astaga! Bagaimana kalau kau kuundang bergabung bersama teman-temanku? Weekend besok datanglah ke villaku. Bergabunglah bersamaku dan teman-temanku.”


“Aku....”


“Aku tidak menerima penolakan. Kau sepertinya membutuhkan sebuah circle yang bisa meresfreshmu. Teman-temanku sangat mengasyikkan. Kau akan menyukai mereka semua.”


“Baiklah. Kau kirim ya alamat dan share locnya.”


“Pasti!”


...***...


Menjelang weekend, Tania menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya. Semua perlengkapan yang dibutuhkannya.


Memilih menuju villa Aca dengan menggunakan go car. Sepertinya Aca benar. Dirinya membutuhkan healing bersama circle yang bisa membuatnya lebih rileks. Dan tidak hanya mengingatkan pada pekerjaan.


Bekerja itu dibutuhkan apalagi jika sudah berkaitan dengan penghidupan. Tetapi burnt out juga bukan sesuatu yang baik. Overload.


Tania memilih menikmati perjalanannya. Terlalu fokus menempuh pendidikan dan bekerja. Membuatnya lupa untuk menjalin circle pertemanan. Manusia selain makhluk individual juga sosial. Menanggalkan salah satu. Akan membuat semacam ketidakseimbangan. Mudah merasa terintimidasi dan teriritasi.


Perjalanan menuju villa keluarga Aca cukup jauh. Matanya mulai terasa mengayun. Sesekali kepalanya terantuk karena tanpa sadar tertidur pulas.

__ADS_1


Setelah dua jam setengah perjalanan. Sesampainya di villa keluarga Aca yang luas dan indah. Supir go car membangunkannya.


“Mbak, udah sampai.”


Tania terbangun dari tidurnya. Membuka pintu mobilnya dan menurunkan kopernya dari bagian belakang mobil.


“Terima kasih ya mas.”


“Sama-sama, mbak.”


Tania berjalan menuju pintu rumah sambil mendorong kopernya. Memencet bel pintu villa. Suara langkah kaki menuruni tangga dan mendekati pintu. Dan membuka pintu.


“Kau sudah datang? Kau yang pertama tiba.” Sahut Aca dengan wajah sumringah.


“Yang lain?”


“Mereka janjian datang bareng. Mungkin sekitar setengah sampai satu jam lagi baru sampai. Ayo, masuk. Kau tidur denganku aja, ya? Ayo kita ke kamarku.”


Tania mengikuti langkah kaki Aca. Mereka menempati kamar yang luas. Di lantai bawah dengan kamar mandi dalam.


“Kau pasti belum makan. Kita ke ruang makan dulu, yuk. Makan dulu.”


“Aku membereskan pakaianku dulu ke lemari.”


“Nanti saja. Kita makan dulu, yuk!”


Tania mengikuti Aca keluar kamar. Mereka berjalan menuju ruang makan. Makanan disiapkan seorang wanita yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun.


Ada tiga orang wanita membantu mengurus dan membersihkan villa serta memasak. Satu orang tukang kebun dan seorang supir.


Mereka menyendok nasi, menuangkan sop bakso campur potongan ayam, wortel dan buncis. Mengambil sepotong ayam dan perkedel sebagai pelengkap.


Tania memilih air dingin yang diambil dari dispenser sedangkan Aca membuat secangkir teh manis hangat.


Selesai makan. Mereka memilih berenang sambil menunggu yang lain datang. Mereka berenang selama satu jam. Kemudian villa dipenuhi oleh teman-teman Aca yang datang berbarengan.


Suara celotehan menuju kolam renang. Diiiringi dengan derai tawa membuat Aca menaiki kolam. Menyambar kamar jasnya dan menunggu kedatangan teman-temannya.


Mereka saling menyambut. Melempar senyum dan tawa. Membuat Aca teringat kepada Tania.


“Keluarlah dari kolam. Kukenalkan pada teman-temanku.” Teriak Aca kepada Tania,”Aku mengajak sohib lamaku bergabung. Kalian tidak keberatan kan?”


“Tentu tidak.”


Tania menaiki kolam dan berjalan menuju Aca dan teman-temannya.


“Tania?” Sahut mereka nyaris berbarengan.


“Kalian sudah saling mengenal?”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2