
Banyak yang berkata bahwa pria dan wanita tidak dapat menjalin hubungan pertemanan.
Hal itu sepertinya tidak berlaku bagi Ratih dan Kreshna. Berteman membuat mereka saling menghormati dan menghargai batas masing-masing.
Tidak mengutak utik kehidupan pribadi masing-masing. Saling menghormati privasi masing-masing.
Tidak ada lagi pertengkaran dan drama seputar kecemburuan antara mereka berdua. Mereka bebas berhubungan dengan siapa pun yang mereka sukai.
Tidak saling kepo dengan kehidupan masing-masing. Mereka juga bebas mencurahkan dan membicarakan apa pun.
Tidak ada lagi topik sensitif yang bisa memicu ketegangan dan pertengkaran di antara mereka berdua.
Benar-benar sesuatu yang sangat melegakan. Hubungan mereka juga semakin membaik karena keduanya bisa lebih terbuka dalam membicarakan apa pun.
Ratih mengangsurkan wadah bekal yang terbuat dari plastik ke arah Kreshna.
"Kau mau tidak?" Tanya Ratih.
"Apa itu?"
"Nasi, balado tri kacang, bakwan sayur dan sayur asam."
"Mau banget. Berapa?"
"Gratis!"Ratih tertawa melihat mimik muka Kreshna.
"Aku katering aja. Bagaimana?"
"Gak usah! Aku sekalian masak. Daripada sisa, lebih baik aku kasih kamu kan?"
"Tapi aku gak enak menerima budi baikmu selalu."
"Kan kau sendiri yang bilang. Yang dilarang itu menabur benih." Kontan mereka berdua tertawa lepas.
"Bagaimana rasanya menerima budi baik orang lain? Tidak enak kan? Makanya jangan suka nraktir. Aku juga gak enak!" Ujar Ratih.
"Kupikir adil kalau aku mentraktirmu dan kau membagi makanan yang kau masak untukku. Fair enough!"
"Terserahlah! Enak gak?"
"Enak banget. Lebih enak dari pada makan di luar. Apa karena gratis ya?"
Tawa mereka kembali pecah.
"Memang yang gratis itu selalu lebih nikmat."
"Hidup gratis! Kau tidak makan?"
"Kau makan aja duluan. Ada yang ingin kuselesaikan sebentar. Tanggung!"
"Baiklah! Aku makan dulu ya? Laper banget."
"Makanlah! Nanti aku menyusul. Aku juga membawa bekal yang sama. Bisa dimakan kapan saja."
Ratih tenggelam dalam pekerjaannya. Berhenti sejenak ketika perutnya meronta minta diisi. Memakan bekalnya dengan lahap. Dalam waktu singkat isi bekalnya sudah berpindah ke dalam perutnya.
Tanpa terasa waktu merambat. Detik berubah menjadi menit. Menit menjadi jam. Waktu menunjukkan jam pulang tetapi Ratih masih berada di ruangannya.
"Kau tidak pulang?" Tanya Kreshna.
"Lembur kayaknya."
"Kau sengaja cari rumah dekat kantor supaya rajin lembur ya?"
"Biar efisien aja. Aku malas buang waktu di jalan. Lebih baik kugunakan untuk bekerja atau beristirahat atau refreshing."
"Hmm, ya. Uang lemburnya kau gunakan untuk apa?"
"Tabunglah!"
"Aku pulang dulu ya. Pras ingin mengenalkanku pada teman pacarnya."
__ADS_1
"Ok!" Sahut Ratih santai membuat Kreshna takjub.
"Kau tidak cemburu?" Kreshna meneliti raut wajah Ratih.
Wajah Ratih memerah menahan jengah, "Ngapain sih ngeliatin aku sampe kayak gitu?" Tanya Ratih risih.
"Kamu kok gak cemburu? Aku mau dikenalin sama temen pacarnya Pras? Kenapa berubah kepribadian tiba-tiba? Biasanya tingkahmu sangat menyebalkan!"
"Kau kan bukan siapa-siapaku. Ngapain aku cemburu? Kurang kerjaan!"
"Berarti kamu gak cinta dong sama aku?" Protes Kreshna.
"Duh! Berisik banget sih? Aku banyak kerjaan. Bisa gak jangan nambahin pekerjaanku? Kecuali kalau kau mau bantu, your welcome tapi kalau malah ngerusuhin. Silahkan pergi!"
Kreshna menatap wajah Ratih dalam-dalam.
"Kamu ngapain sih?" Ujar Ratih risih.
"Aku masih takjub dengan segala perubahanmu. Kau teman yang sangat menyenangkan untuk mengobrol dan berdiskusi. Suka berkumpul dengan teman-teman perempuanmu. Gak posesif."
"Ngapain posesif? Kau bukan siapa-siapaku?"
"Maksudmu, kau bisa senyaman itu karena kita cuma berteman?"
"Kau bicara apa sih? Aku gak bisa konsentrasi kalau terus mengajakku bicara. Dan kalau kau mau dikenalkan oleh teman pacarnya Pras atau neneknya sekalian. Bukan urusanku!" Jawab Ratih ketus.
Kontan Kreshna tertawa,"It's really sound you!"
"You are so annoyed!"
Kreshna keluar ruangan sambil tertawa.
Malam minggu kali ini, Ratih bermaksud mencoba resep bolu yang dia lihat di youtube. Teman-temannya memiliki acara mereka masing-masing. Minggu depan mereka akan berkumpul dan menginap di kontrakannya.
Pukul tujuh bel di kontrakannya berbunyi. Ratih membuka pintunya. Kreshna dengan seorang anak remaja lelaki berusia sekitar sepuluh tahunan.
"Ada apa kau ke sini? Siapa yang bersamamu?"
"Suntuk! Ini adik teman pacarnya Pras."
"Kenapa aku harus bawa kakaknya?"
"Buat apa kau bawa adeknya dan gak bawa kakaknya?"
"Kau kan tidak ingin kalau aku ke sini sendiri. Jadi aku ajak aja adeknya ke sini."
"Lalu pacarmu kemana? Tidak kau bawa ke sini?"
"Pacarku siapa?"
"Kakaknya anak ini?"
"Pacarku banyak ya? Alicia, kakaknya anak ini juga jadi pacarku." Kontan Kreshna tergelak.
"Tidak lucu! Kalau Alicia bisa tahan dengan sifat jelekmu. Itu urusannya!" Jawab Ratih sebal.
"Kau cemburu ya?"
"Apa? Gak level!" Dengus Ratih yang dikuti gelak tawa Kreshna.
"Ngapain sih kau ke sini?"
"Minta makan!"
"Aku baru mau bikin bolu."
"Kebetulan. Aku suka bolu."
"Siapa?"
"Aku."
__ADS_1
"Siapa yang nanya?" Giliran Ratih tertawa.
"Asem! Awas ya!"
"Namamu siapa, adek manis?"
"Tintan."
"Kelas berapa?"
"Dua smp. Kak, bisa minta nomor password wifinya?"
"Bisa. Kau ingin main game online ya?"
Tintan menganggukkan kepalanya.
"Kita makan dulu, yuk. Tapi kakak gak masak apa-apa nih! Cuma ada sop, bakwan jagung dan telur balado. Kau suka?"
Tintan menganggukkan kepalanya. Sweet boy….
"Aku gak ditawarin makan?"
"Sekalian keleus…."
Mereka makan bertiga di meja makan. Ratih mengeluarkan wadah kerupuk dari lemari makan.
Selesai makan. Tintan dan Kreshna mencuci piring sedangkan Ratih melanjutkan membuat kue bolu.
Memecahkan enam butir telur. Mengocoknya dengan gula pasir sebanyak dua ratus gram dan baking powder hingga mengembang putih. Memasukkan mentega yang sudah dicairkan sebanyak dua ratus lima puluh gram. Susu kental manis dan bubuk. Menambahkan vanila. Kemudian dipanggang di dalam oven listrik miliknya.
Mereka menunggu bolu matang di ruang tamu. Tintan bermain game online sedangkan mereka berdua mengobrol.
"Aku mau mengajakmu dan Tintan berlibur."
"Untuk apa?"
"Refreshing. Memang kau tidak capek bekerja setiap hari tanpa libur?"
"Bersantai di rumah. Berjalan-jalan dengan teman-temanku. Itu kan liburan."
"Temani aku refreshing. Kau mau kan Tintan?"
Tintan menganggukkan kepalanya.
"Ada Tintan. Kau tidak usah khawatir."
"Akan kupikirkan dulu."
"Aku sudah booking tiket."
"Ini pemaksaan namanya."
"Bukan. Aku mengetahui batasanmu. Sehingga tidak ada alasan kau menolaknya."
"Sejujurnya, aku tidak ingin kita terlalu dekat."
"Kenapa? Terpenting kita tidak berselisih. Selama semua baik-baik aja. Tidak seharusnya kau permasalahkan."
"Entahlah! Aku masih trauma."
"Kita tidak membahas apa pun yang bisa membuat tegang."
Bau bolu yang dipanggang tercium harum.
"Sepertinya sudah matang." Ratih beranjak dari sofa yang didudukinya. Membuka pintu oven dan menusuk tusukan lidi ke dalamnya. Tidak ada adonan bolu yang menempel. Menunjukkan bolu sudah matang sempurna.
Ratih mengeluarkan bolu dari oven. Memindahkan dan membalikkannya ke atas rak bolu. Mematikan oven listriknya.
Memotongnya, meletakkan dan menyusunnya di atas piring. Membuat teh manis hangat yang di dalam teko kaca. Meletakkan di nampan, sepiring bolu, seteko air teh manis dan tiga buah gelas.
Ratih memindahkan isi nampan ke atas meja tamu.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita bermain kartu?" Tanya Ratih.
"Setuju!" Kreshna dan Tintan menjawab hampir bersamaan.