Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Fight


__ADS_3

Liburan mereka diakhiri dengan pertengkaran antara Kreshna dan Ratih. Tintan kebingungan mendamaikan mereka berdua.


"Kalian jangan seperti anak kecil." Ujar Tintan.


"Bicara saja padanya yang suka tidak masuk akal kalau bertindak!" Sahut Kreshna ketus.


"Memang aku kenapa? Kau yang tidak masuk akal. Menuduh orang seenaknya!"


"Aku melihat dengan mata kepala sendiri. Kau tidak mau ikut aku dan Tintan karena tidak bisa mengendalikan sifat genitmu!"


"Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa, tolong kendalikan dirimu!"


"Aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu. Tapi kau kan bisa bilang mau cuci mata. Kenapa harus bohong!"


"Aku tidak bohong! Aku memang mau jajan."


"Aku tidak melihat seperti itu. Kalian mengobrol sangat akrab. Jangan-jangan kau juga bohong bilang tidak kenal."


"Aku memang tidak kenal."


"Kenapa dia langsung ngacir?"


"Mungkin tidak nyaman melihatmu marah-marah gak jelas. Kau bilang aku yang suka cemburu tidak jelas."


"Memang iya. Kau selalu tidak suka jika aku bertemu dengan Alicia padahal kami bersahabat. Itu namanya cemburu buta."


"Ya gak buta dong! Banyak orang ditikung sahabatnya sendiri. Kau dan Alicia terlampau dekat. Siapa pun pasti cemburu kalau kekasihnya lebih dekat dengan sahabat lawan jenisnya."


"Aku sudah berulang kali bilang. Aku dan dia sudah seperti saudara."


"Aku tidak tertarik membahasmu dan Alicia. Kalian mau menikah atau mau pacaran atau apa pun itu. Bukan urusanku! Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa. Harus saling menghormati privasi masing-masing. Mengenai tuduhan tidak masuk akalmu. Fya, aku tidak mengenalnya. Aku sudah bilang dia membelikanku bakso karena tidak ada kembalian. Aku merasa tidak enak. Menawarkannya membelikan cendol."


"Tapi gak usah ngobrol akrab kayak orang abis jadian dong!"


"Gimana sih maksudnya? Gagal paham! Aku harus marah-marah dan jutek dengan orang yang udah berbuat baik padaku?"


"Itu pasti ada maunya. Kau itu kepolosan! Dia itu modus!"


"Kau paranoid! Kau sangat menyebalkan!" Wajah Ratih merah padam menahan marah.


"Kau yang sangat menyebalkan. Mengukur baju di badan itu namanya." Seru Kreshna.


"Kau menepuk air di dulang. Terpecik muka sendiri." Balas Ratih.


"Kalian berdua bisa tidak berhenti bertengkar? Kendalikan diri kalian berdua." Pinta Tintan nyaris memelas.


"Aku tidak mau dia selalu seenaknya padaku. Di kerjaan, kehidupan pribadiku sampai liburan juga dia membuatku naik pitam!" Ujar Ratih marah.


"Kau membicarakan dirimu sendiri? Kau selalu menguji batas kesabaranku!"


"Stop!" Tintan menengahi keduanya, "Aku tidak tahu ada masalah apa di antara kalian berdua. Jika tidak bisa dibicarakan dengan baik. Kendalikan diri kalian agar tidak saling menyerang. Bagaimana?"


"Tapi…."


"Biar adil kuminta kalian berdua puasa bicara. Bagaimana? Please?"

__ADS_1


Mereka menuruti permintaan Tintan untuk membungkam mulut masing-masing.


"Tidak usah mengantarku pulang!" Ujar Ratih ketika mereka sudah sampai di bandara.


"Kau mau kemana?"


"Gak kemana-mana."


"Berarti gak masalah dong kalau di drop sekalian?"


"Aku malas berlama-lama denganmu. Besok juga bertemu lagi di kantor."


"Gak usah cari alasan."


"Mbak, udah ngalah aja kenapa sih? Mbak tutup mata aja kalau gak mau liat mas Kreshna."


"Nabrak poon dong! Gimana kalau kecebur got? Kalau kejungkel, kejedot tiang listrik gimana? Benjol dong!"


Kontan Tintan tergelak.


"Kamu itu emang perempuan gak setia. Aku masih gak percaya kok bisa sih suka sama perempuan kayak kamu?"


"Pardon me?" Suara Ratih naik tiga oktaf.


"Mas! Udah dong!" Tintan berusaha menengahi keduanya.


"Kamu udah punya pacar kan? Liburan sama mantan. Jadian sama orang yang nraktir kamu bakso."


Amarah Ratih menembus ubun-ubunnya.


"Oh ya? Aku gak percaya!"


"Bodo amat! Stroke aku ngeladenin kamu."


Ratih bergegas menuju tempat mangkal taksi.


"Kau mau kemana?"


"Pulang! Bisa gila aku di dekatmu lama-lama!"


Ratih memberikan koper yang dibawanya kepada supir taksi. Supir taksi membuka bagasi. Kreshna ikut memasukkan kopernya dan Tintan  ke dalam bagasi.


"Kau mau apa?!" Teriak Ratih.


"Nebeng! Apalagi? Berangkat bareng. Pulang juga bareng dong!"


"Aku bayarin aja taksi kamu sama Tintan. Aku gak mau setaksi sama kamu!"


"Kamu suka banget buang-buang uang! Udah masuk. Gak usah caper! Kamu mau satu bandara ngeliatin kita berdua?"


"Eeggghhh…"Geram Ratih kesal.


Ratih masuk ke dalam taksi. Tintan dan Kreshna mengikuti.


Tintan berada di sebelah Ratih sedangkan Kreshna di samping supir.

__ADS_1


Wajah Ratih cemberut.


"Aku pengen tau apa reaksi pacar kamu kalau tau kamu liburan sama mantan?"


"Sorry to say! Dia gak gila kayak kamu!"


"Jadi penasaran pengen kenal pacar kamu."


"Gak usah! Aku gak mau nanti kamu jelek-jelekin aku. Bisa bubar semuanya!" Ratih berbohong.


"Orang ngomong apa adanya kok bohong?"


"Dia sangat percaya sama aku. Gak seperti kamu. Sangat menghormati dan menghargaiku. Jadi jangan coba-coba mengganggu!" Bual Ratih.


"Kapan-kapan ajak ya liburan? Aku mau kenal."


"Ngapain sih? Kurang kerjaan. Aku juga gak mau lagi liburan sama kamu. Bukannya refreshing malah sinting."


Pecah tawa Tintan.


"Gak lucu, Tintan!"


"Maaf, mbak!"


Tintan susah payah menghentikan tawanya.


Sesampainya Ratih di rumah. Langsung masuk rumah dan masuk ke kamarnya. Menyalakan air conditioner. Udara sejuk membuatnya hatinya yang gundah menjadi lebih tenang. Matanya mulai mengayun. Merebahkan diri dan tertidur tanpa mandi dan berganti pakaian.


Di dalam mimpinya, dia bertengkar dengan Kreshna. Mereka bergulat. Dia membanting Kreshna. Dan menduduki kepalanya. Mengentutinya. Pantatnya, persis berada di depan mukanya. Menempel pada hidungnya.


"Tuuuutttttt!!!" Wajah Ratih terlihat sangat lega dan tidak lama terdenger suara ceprot, "Maaf! Aku cepirit!"


Noda kuning coklat menempel di pipi Kreshna. 


"Aku bisa mati kalau begini caranya!" Teriak Kreshna histeris. Wajahnya berubah menjadi merah kuning hijau.


Ratih tidak bisa menahan tawanya. Berdiri dan memegangi perutnya. Semakin keras tawanya melihat Kreshna semaput kebauan. Pingsan.


Ratih tanpa sengaja bangun dengan menyisakan sisa tawanya. Jam dinding kamarnya menunjukkan pukul dua belas malam.


Aku belum mandi dan ganti baju. Tubuhku benar-benar lelah. 


Aku ingin pindah kerja. Seandainya, aku punya uang lima ratus juta untuk menebus diriku membatalkan kontrak tersebut?


Kreshna mulai bersikap menyebalkan. Ratih tidak tahan. 


Bagaimana aku bisa menghindarinya? Dia atasanku. Sifatnya yang otoriter tidak bisa dibantah jika menginginkan apa pun.


Apa aku harus mengaktifkan sandiwara mengenai pacar yang aku karang?


Pasti sangat merepotkan. Belum biaya yang harus dia keluarkan. Lebih baik dia berpura-pura putus. Dan menjadikan Dio pacar pura-puranya yang baru?


Apakah keputusan tersebut tepat? Atau keluar dari mulut singa masuk mulut buaya? Gimana kalau Dio malah modus?


Ratih menepuk jidatnya. Kenapa aku gak minta bantuan Tintan? Pura-pura jadi pacar brondongku?

__ADS_1


Bingo!


__ADS_2