Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Life Goes On


__ADS_3

Something that can not hurt you. Will never hurt you. Sinta membentengi perasaannya sedemikian rupa. Tidak akan ada yang bisa menyakitinya tanpa persetujuannya sendiri.


Hidupnya terlalu berharga untuk dihancurkan apalagi diacak-acak. Hidup itu bukan hanya tentang cinta tapi juga harga diri dan juga pencapaian.


Berdamai dengan keadaan. Membuat hidupnya terasa lebih ringan. Tanpa beban.


Komunikasinya dengan Kreshna membaik. Mereka membatasi hubungan mereka sebatas pekerjaan. Tidak lebih.


Sesekali mereka makan siang bersama. Bukan merupakan kebiasaan atau keharusan tapi sekedar menjaga hubungan baik di antara mereka berdua.


"Aku ingin membayar hutangku."


"Memang kau sudah gajian?"


"Aku akan mencairkan depositoku."


Ratih menyisihkan uangnya sejuta sebulan untuk ditabung. Gajinya sebesar enam juta rupiah setiap bulan. Mengharuskannya bisa mengatur semua pengeluarannya mulai listrik, kontrakan, makan, biaya hidup serta semua pengeluarannya. Tabungan mana didepositokan sehingga tidak mudah cair. 


Tujuh puluh juta rupiah jumlah total deposito yang dimilikinya. 


"Aku tidak perlu buru-buru. Kau cicil saja tiga kali setiap kali gajian."


"Ok, terima kasih."


"Kembali kasih." Kreshna melempar senyumnya.


"Sejujurnya, aku senang kita bisa meneruskan hidup kita masing-masing." Ratih memberanikan diri menyatakan pendapatnya.


"Aku juga. Seharusnya kita berteman dari dulu."


"Yeah, seharusnya kau dengan Alicia dari dulu saja. Hubungan kita hanya teman tidak lebih. Aku tidak perlu konyol mencemburuinya kalau memang dia kekasihmu. Masak aku mencemburui kekasih orang lain? Kurang kerjaan gak sih?"


"Kurang kerjaan sih gak. Cuma kayaknya terlalu baperan aja."


"Tau deh! Yang jelas aku merasa sangat konyol. Menurutku semua kan ada batasnya. Mencemburui pasangan orang lain. Itu gak sepantasnya."


"Tapi aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak jatuh cinta padamu." Kreshna mengungkapkan perasaannya dengan jujur. Membuat wajah Ratih merah merona.


"Itu bukan cinta. Kau hanya tertarik kepadaku. Aku tidak tahu apa yang membuatmu tertarik padaku. Tapi apapun itu. Bukan cinta."


"Aku dan Alicia sudah lama saling mengenal. Kami dulu juga pernah berpacaran. Dia mengkhianatiku. Aku patah hati."


"Cintamu adalah Alicia. Mungkin kau sakit hati karena dikhianati tapi bukan berarti kau bisa memindahkan rasa cintamu padaku."


"Entahlah! Tapi aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mengejarmu ketika aku melihatmu."


"Sudahlah! Tidak usah dibahas lagi. Kita tidak cocok sebagai pasangan. Itu kenyataannya."


"Yeah! Kau benar. Sebaiknya kita tidak memaksakan diri."


"Yeah, kau benar. Aku mau makan dulu. Sekarang sudah jam makan siang." Ratih meraih tasnya. Bermaksud keluar dari ruang kerja Kreshna.


"Makan siang bareng, yuk. Aku traktir."


"Aku tidak enak kalau kau sering mentraktirku. Aku bayar sendiri saja."


"Tidak apa-apa. Lebih baik kau tabung uangmu. Apalagi kau juga mau mencicil hutangmu. Kau harus berhemat supaya uangmu bisa cukup. Tabungan itu penting."


Ratih menatap ragu,"Aku tidak mau menanam budi."


"Yang tidak boleh itu menanam benih." Kontan Kreshna tergelak sedangkan wajah Ratih merengut.


"Tidak lucu!" Seru Ratih.


"Lucu lah! Udah yuk, kita makan. Karena aku yang traktir. Kau tidak boleh protes." Kreshna bangkit dari tempat duduknya.


Mereka berjalan keluar kantor. Kreshna memesan ojol. Tidak sampai lima belas menit mereka sudah meluncur ke tempat yang dipilih Kreshna.


Tempatnya cukup luas dan ramai. Apalagi jam makan siang seperti saat ini.

__ADS_1


Mereka mengambil tempat duduk lesehan di dekat kolam ikan.


Kreshna memesan seekor ikan bakar, pepes jamur, cumi bakar, sambal, tempe dan tahu penyet, tumis genjer.


"Rumahmu suka ramai kalau malam minggu."


"Yeah! Teman-temanku suka menghabiskan waktu bersama. Jika mereka tidak memiliki acara. Kau tahu darimana?"


"Aku suntuk ingin mengobrol denganmu. Tapi kulihat rumahmu ramai sekali. Tidak jadi."


"Mereka Diah, Dira, Mirna dan Amanda."


"Astaga! Anak-anak kantor?"


"Yeah! Gabung saja kalau kau mau."


"Tidak ah! Perempuan semua. Kalau aku nanti diperkosa bagaimana?" 


Kontan Ratih tergelak.


"Ya, gak usah bilang-bilang!"


Pecah tawa Kreshna, "Ngapain bilang-bilang. Nanti aku batal jadi korban. Kalah saingan."


Sontak mereka tertawa kembali.


"Karena perempuan semua. Justru disitu serunya. Bisa menginap sampai pagi." Terang Ratih.


"Nanti saja kapan-kapan aku main kalau kau sedang tidak menghabiskan waktu dengan teman-temanmu."


"Terserah."


Malam minggu kali ini. Teman-teman Ratih tidak ada yang menyambanginya. Mereka memiliki acara masing-masing. Sudah memberitahukan bahwa mereka tidak berkumpul di malam minggu tersebut.


Ratih memilih bersantai. Mencoba resep baru. Klapertart. Didinginkan untuk disimpan di kulkas. 


Menggoreng ayam beberapa potong. Tahu tempe. Serta membuat sayur bayam. Memasak nasi. Mandi dan bersantai menikmati malam minggunya di rumah.


Menjemur handuknya dan membuka pintu rumahnya. Kreshna.


"Ada apa?" Tanya Ratih.


"Gak ada apa-apa. Suntuk aja malam minggu sendirian."


"Kau tidak menghubungi Alicia?"


"Kau sendiri gak menghubungi, siapa nama kekasihmu?"


"Dani?"


"Yeah! Dani."


"Dia sibuk kalau weekend."


"Oh. Aku juga begitu." 


"Maksudmu?"


"Alicia sibuk kalau weekend." Jawab Kreshna berbohong. Keduanya tergelak.


"Kok bisa samaan ya?" Ceplos Ratih.


"Mungkin karena trendnya begitu." Sahut Kreshna asal.


"Aku malas keluar, loh!" Ratih mewanti-wanti Kreshna.


"Memang siapa juga yang mau mengajakmu keluar. Gr!"


"Memangnya gak boncos mentraktirmu terus." 

__ADS_1


"Ya sudah masuk! Kalau kita sehati."


"Gak sehati aja. Tapi juga sejiwa. Kalau kau mau bisa seraga juga."


Ratih memukul Kreshna dengan bantal sofanya.


"Aku cuma becanda! Emang gak takut dosa!"


"Becanda jangan nakutin dong!"


"Tapi selama gak dipaksa. Suka sama suka. Gak apa-apa juga sih!"


Bantal sofa kembali melayang ke muka Kreshna. Kreshna kembali tergelak kali ini sampai memegangi perutnya.


"Kau mau tetap disini atau keluar dari sini?" Ancam Ratih.


"Aku cuma becanda. Jangan garing gitu dong! Emang pernah kamu, aku apa-apain? Gak kan? Gak usah parno deh!"


Wajah Ratih mendelik, "Kita disini cuma berdua. Takutnya yang ketiga setan."


"Kamu suudzon itu juga bisa dari setan. Setauku cukup pintu rumah dibuka lebar."


"Jaga juga perkataanmu. Kalau nanti setan lewat?"


"Terjadi hal-hal yang diinginkan? Repot juga ya?"Kontan Kreshna tertawa,"Ntar aku dikejer-kejer ke KUA! Yuhuu…."


Ratih mendelik," Gak lucu!"


"Lucu dong! Jangan marah terus, dong! Kamu ada makanan apa? Aku lafarrr…."


Ratih membuka pintu rumah dan garasinya lebar-lebar.


"Sebenarnya intinya amanah aja."Ujar Kreshna.


"Iya lah. Tapi tetap  harus jaga-jaga.  Apalagi cuma kita berdua. Kamu kenapa gak bawa temen sih?" Omel Ratih.


"Malam minggu neng! Pada wakuncar. Kita jalan keluar aja kalau kamu marah-marah terus!"


"Aku lagi males keluar. Kamu ke sini kalau pas ada temen-temenku aja ya!"


"Jangan dong! Perempuan semua. Kalau ntar aku diterkam gimana?"


"Duh kamu tuh gimana sih?"


"Udah dong! Jangan marah-marah terus. Aku pengen makan."


Ratih memotong klapertart buatannya. Menaruhnya ke piring kue.


"Mau makan nasi gak?"


"Emang ada?"


"Aku cuma masak ayam goreng, sayur bayam, tahu dan tempe goreng."


"Alhamdulillah. Lumayan hemat. Daripada makan di luar. Mau dong!"


Ratih tertawa melihat Kreshna.


"Aku gak bisa  nraktir balik. Kamu makan masakanku aja ya? Impas kan?" Ujar Ratih.


"Impas banget!" Kreshna menarik kursi makan. Menuangkan nasi ke dalam piring. Mengambil sepotong ayam, tahu, tempe dan sayur bayam.


"Enak atau lapar?"


"Dua-duanya. Yang jelas aku bisa hemat banget loh daripada makan di luar."


"Aku jadi pengen makan, lihat kamu makan lahap banget."


Ratih mengambil piring. Menuangkan nasi ke piring. Mengambil lauk pauk dan sayur.

__ADS_1


Selesai makan mereka menuju ruang tamu. Ratih membawakan klapertart yang sudah ditaruh ke dalam piring kue. Menaruh teh manis hangat di sebelah piring kue.


Mereka mengobrol banyak hal sampai dengan  membicarakan pekerjaan mereka.


__ADS_2