Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Boyfriend


__ADS_3

Saat yang ditunggu tiba. Mereka menunggu kedatangan Dani di tempat yang sudah disepakati.


Hadiah-hadiah yang Ratih bawa ditaruh di bawah meja. Di sebelah kursi tempat Ratih duduk.


Dani sampai tepat waktu. Semua berjalan di luar ekspektasi karena Dani bisa berperan sangat baik, sopan dan memuaskan.


"Halo sayang! Kamu sudah lama menunggu?" Dani mengembangkan senyumnya. Mengenali wajah Ratih yang fotonya sudah dikirimkan Dio kepadanya.


"Baru aja sampai, sayang. Oh iya! Ini buat kamu." Ratih menyodorkan barang-barang yang dibawanya.


"Apa ini sayang? Kamu gak usah repot-repot begini deh."


"Gak apa-apa. Ini oleh-oleh buat kamu." 


"Kamu keliatan cantik banget!" Puji Dani.


"Kamu juga keliatan cute banget!" 


"Ehm!" Kreshna mendehem keras.


Ratih menoleh, "Oh iya, sayang, ini bosku, pak Kreshna."


Dani bersalaman dengan Kreshna. Menyebutkan nama mereka masing-masing. Suasana berubah canggung dan kikuk.


"Udah lama pacaran sama Ratih?" Kreshna memecah keheningan.


"Sekitar enam bulanan."


"Oh, masih baru?"


"Begitu lah."


"Kamu udah makan belum sayang?"


"Belum. Kan mau ketemu kamu?"


Mereka saling melempar tawa sedangkan wajah Kreshna tertekuk melihatnya.


"Gimana perjalanan kamu?"


"Sangat menyenangkan. Apalagi mau ketemu kamu. Udah gak sabar. Kamu makin cute aja." Puji Ratih tanpa tedeng aling-aling.


"Kamu juga keliatan makin…."


"Ehm!"


Keduanya sontak menoleh ke arah sumber suara.


"Aku bukan kambing congek. Bicara seperlunya."


"Kau sendiri yang ingin berkenalan dengan pacarku. Dimana-mana orang kalau saling melepas rindu ya begitu itu." Ratih melihat kesempatan untuk menskakmat Kreshna.


"Ya gak gitu juga keleus. Kalau ada orang lain. Perhatikan dong perasaan orang."


"Bukannya kalau ada orang berduaan yang ketiga setan ya?" Sontak Ratih dan Dani tertawa. Sedangkan Kreshna manyun," Gak lucu!"


"Lucu gak Dan?" Tanya Ratih.


"Lucu banget!" Sontak mereka tertawa lagi.


"Kalau masih tertawa bayar sendiri ya…."


Sontak keduanya berhenti tertawa.

__ADS_1


"Kau yang memilih tempat semahal ini? Aku juga harus bayar hutang padamu." Keluh Ratih.


"Makanya jaga perasaan orang dong!"


"Gitu aja marah!"


"Kita pesan makanan aja. Abis itu kita cabut. Ada urusan pekerjaan yang harus kita lakukan."


"Aku baru ketemu Dani." Ratih malas menghabiskan waktu hanya bersama Kreshna. Dia ingin memanfaatkan Dani sehingga bisa bebas menghabiskan waktu sesuka hatinya, "Mumpung disini, aku mau menghabiskan waktu dengan Dani. Kita ketemu besok aja di bandara atau pas mau balik gimana?"


"Ini bukan liburan. Kita ke sini urusan pekerjaan. Kau ingin bertemu pacarmu."


"Aku ingin bertemu pacarku?" Wajah Ratih berubah jutek. Jelas Kreshna membolak-balikkan fakta. 


"Intinya semua aku yang bayar. Jadi kau tidak punya hak apa pun untuk merubah yang sudah aku tetapkan. Kecuali kau mau bayar semua sendiri."


"Ini bukan rencanaku. Kenapa harus aku yang bayar semuanya?"


"Kalau begitu, menurutlah. Tidak ada cara lain atau kutagih setiap sen yang kuhabiskan bukan untuk kepentinganku."


Wajah Ratih cemberut. 


"Kita pergi sekarang." Ajak Kreshna.


"Kita belum mulai makan." Protes Ratih.


"Nanti saja." Ujar Kreshna.


"Dani bagaimana?" Tanya Ratih.


"Kau sudah kasih hadiah sebanyak itu. Masak dia gak bisa bayar makan siangnya sendiri." Sahut Kreshna. 


"Kau?" Ratih menahan emosinya.


"Dan, maaf ya." Ratih menganggukkan kepalanya.


"Iya gak apa-apa. Nanti saja lain kali kita ketemu kalau waktunya sudah tepat." 


"Aku pergi dulu ya sayang…." Sahut Ratih.


"Iya sayang, jaga dirimu baik-baik."Jawab Dani.


"Kalian itu belum menikah. Jangan pecicilan begitu. Dan kau! Memangnya Ratih di kandang singa atau buaya sehingga harus hati-hati?" Emosi Kreshna naik.


"Kau kenapa sih? Marah-marah gak jelas gitu?" Ratih menatap Kreshna gusar.


"Pacarmu gak punya adab!" Maki Kreshna.


"Saya salah apa mas? Saya cuma bilang hati-hati." Dani berusaha menahan emosinya. Bersikap sopan.


"Itu kan sama aja anda menganggap pacar anda gak aman bersama saya." Wajah Kreshna tertekuk.


"Udah dong! Jangan diperpanjang. Dani, kamu mendingan pergi sekarang. Makan di tempat lain aja." Ratih menengahi.


Dani bangkit menenteng hadiah-hadiah yang diberikan Ratih kepadanya.


Setelah Dani pergi. Ratih membuka suaranya, "Sejak awal, aku sudah merasa idemu tidak bagus tapi kau memaksa. Semua jadi kacau."


"Kacau apanya? Berhenti mengomel. Ikut aku!"


"Mau kemana sih?"


"Lihat aja nanti. Gak usah banyak omong!"

__ADS_1


Kreshna mengajak Ratih makan siang dengan view lereng gunung yang sangat indah. Mereka memilih makan di teras luar restaurant tersebut.  Pemandangan terhampar indah di hadapan mereka begitu saja.


Kreshna memesan makanan untuk mereka berdua. Sop buntut,  udang saus tiram, bakwan udang dan tumis brokoli. Dua buah jus semangka. 


Kreshna menatap wajah Ratih yang sedang menikmati view indah di hadapannya.


"Bagus sekali!" Pujinya.


"Kau suka?"


"Suka banget."


"Berarti bener kan mendingan kita langsung ke sini. Daripada cap cus dengan pacar abal-abalmu!"


"Dia gak abal-abal. Kau kan liat sendiri dia ada. Jangan suka merendahkan orang."


"Overacting!"


"Apa maksudmu overacting?"


"Apa dia seromantis itu saat bersamamu?"


Wajah Ratih memerah,"Kenapa kau mau tahu aja urusan orang lain?"


"Apa dia memperhatikan segala hal tentangmu? Kesukaanmu? Apa yang kau tidak suka? Dia tidak memberimu hadiah apa pun. Sedangkan kau menhujaninya dengan banyak hadiah. Aku tidak suka kau berpacaran dengannya. Carilah lelaki yang memperhatikan dan menyayangimu. Bukan memanfaatkanmu."


"Aku tidak merasa dimanfaatkan."


"Mengapa kau sangat keras kepala? Sayangi dirimu sendiri. Kau cantik. Bisa memilih siapa pun yang kau mau. Jangan memilih orang yang tidak bisa menghargai, menghormati apalagi mencintaimu."


"Kau mau bilang, orang yang mencintaiku dan sangat menghormatiku. Menghilang setelah melamarku?" Ratih tertawa getir. Matanya memanas.


"Aku punya alasan. Dan kau tahu pasti alasannya. Mengapa kau tidak mau bersabar? Jika kita berjodoh aku pasti kembali padamu dan menikahimu."


Brakkk


Kreshna terlompat kaget. Ratih memukulkan tasnya ke meja mereka.


"Kau benar-benar keterlaluan! Kau menggantungku! Tidak bisa memberikan kepastian kepadaku tapi kau berani melamarku! Aku tidak melemparmu ke jurang. Sudah bagus!"


"Cinta tidak hanya perasaan dan nafsu tetapi juga kedamaian. Aku tidak mendapatkan kedamaian bersamamu."


"Lalu untuk apa kau melamarku? Bersikap seolah kau sangat mencintaiku?" Air mata Ratih jatuh menetes membasahi kedua pipinya. Dia tak mampu lagi membendung kesedihannya.


"Aku sangat mencintaimu. Cinta dan ketenangan itu tidak selalu berada dalam satu jalan."


"Kalau kau bermaksud mengikatku seumur hidup tanpa menikahi atau memberikan kepastian padaku. Jangan harap aku mau menjalaninya! Aku bukan perempuan yang bisa kau mainkan sesuka hatimu!"


Kreshna terdiam. Matanya mengaca.


"Airmata buaya!" Semprot Ratih emosi.


"Jodoh itu di tangan Tuhan. Kita manusia hanya bisa menjalaninya." Butiran bening meleleh dari kedua belah pipi Kreshna.


Ratih terdiam. Makan siang yang indah berubah menjadi suasana yang sedih dan menyayat hati.


Kreshna mengeluarkan kotak cincin dari dalam sakunya, "Aku ingin kau menyimpannya. Walaupun kita tidak ditakdirkan bersama. Aku ingin kau selalu mengingat. Ada hati yang selalu berusaha menjaga cinta abadi yang dia rasakan sampai mati."


Airmata Ratih turun dengan deras, "Aku tidak bisa menerimanya. Maafkan aku. Jangan menjaga cinta yang tidak bisa bermuara kemana pun. Jangan menebar angin. Kau akan menuai badai. Lupakan aku dan hubungan kita. Aku tidak apa-apa. Aku pasti bisa melangkah tanpamu dan kau juga begitu."


"Aku tidak bisa. Kupikir, kau juga sama. Simpanlah. Sebagai kenang-kenangan."


"Jangan memaksaku. Ini bukan kenang-kenangan buatku tetapi sesuatu yang sangat menyakitkan. Mengingatkanku akan kepahitan cinta. Aku tidak berdaya untuk melawannya. Buang saja dan anggap saja tidak pernah ada saat kau memintaku menjadi isterimu."

__ADS_1


__ADS_2