
Tania membereskan buku-bukunya. Dia lebih suka menghabiskan waktunya di perpustakaan.
Mengerjakan tugas serta mengulang pelajarannya. Menunggu waktu saat dia bersiap untuk bekerja.
Handphone nya berdering. Dia bergegas keluar perpustakaan. Menerima teleponnya sambil berjalan menuju sepedanya diparkir.
“Ratih! Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali.”Ujar Tania dengan nada gembira.
“Aku teringat padamu. Hanya ingin menanyakan keadaanmu.” Ujar Ratih di seberang telepon.
“Menjelang akhir semester aku sangat sibuk. Apalagi juga menjelang tahun baru. Kesibukan di kantor juga bertambah.” Terang Tania.
“Yeah, tutup tahun. Sama dengan disini.”
“Kau tidak bermaksud menagih janjimu kan?” Ujar Tania sambil tertawa.
“Jika kau tidak keberatan.” Timpal Ratih. Mereka tertawa bersama.
“Jangan khawatir. Aku ingat janjiku. Hanya saja, aku menunggu saat yang tepat.” Sahut Tania.
“Tidak ada saat yang tepat. Semakin sibuk mendekati deadline.” Sahut Ratih.
“Ya, kau benar. Baiklah, apakah kau bisa berlibur ke sini. Saat aku libur?”
“Tentu. Aku akan mengambil cuti.”
“Aku juga akan mengambil cuti untuk menghabiskan waktu bersamamu.” Ujar Tania.
“Yeah, akan sangat menyenangkan. Aku belum pernah keluar negeri sebelumnya. Sama sekali.”
“Kau akan menyukai Selandia Baru. “
“Yeah. Aku akan mulai mengurus pasport dan visa.”
“Yeah, great!”
“Aku harus pergi. Kreshna membutuhkanku. Kita sambung lagi nanti. Ok?”
“Ok!”
Tania menutup teleponnya. Berjalan mendekati sepedanya. Menaikinya. Menuju ke rumahnya.
Berlibur dengan Ratih akan menyegarkan pikirannya. Setelah sibuk belajar dan bekerja. Berlibur merupakan hal yang memang sudah seharusnya dilakukan.
Pikirannya melayang pada Daren. Hubungan mereka merenggang bukan karena komunikasi mereka terputus melainkan kesibukan baru Daren bekerja dengan profesornya juga part time jobnya.
Tania sendiri enggan menaruh harapan apa pun. Dia tidak mengenal Daren. Keputusan Daren meninggalkan kekasih gaynya. Hanya Daren yang mengetahui alasannya.
Mereka belum membicarakan apa pun. Menyadari mereka tidak memiliki memiliki hak untuk mengetahui kehidupan pribadi masing-masing.
Jika hubungannya dengan Daren merenggang. Sebaliknya, komunikasinya dengan Pras terasa lebih mengalir.
“Menurutmu bagaimana kah pola pikir seorang gay?” Tanya Tania pada Pras saat menelponnya.
“Pola pikir seperti apa?”
__ADS_1
“Mungkin kah mereka menjadi normal?”
Pras terdiam, “sepertinya sulit.”
“Yeah. Apa alasan mereka meninggalkan kekasihnya?”
“Mungkin seperti pasangan biasa. Ada ketidakcocokan.”
“Yeah. Sepertinya memang Daren tidak cocok dengan mantan kekasihnya. Aku sendiri langsung ketakutan melihatnya. Sepertinya, dia juga ingin mandiri. Melepaskan diri dari perlindungan kekasihnya.”
“Maksudmu selama ini, kekasihnya yang membiayainya?”
“Yeah. Begitu lah.”
“Lebih baik kau jangan berharap terlalu banyak.”.
“Yeah. Lagi pula, kami hanya berteman dan bersahabat.”
“Yeah.”
Sesekali mereka masih melakukan kebiasaan mereka. Apalagi sejak Daren putus hubungan dengan kekasihnya.
Hanya saja waktunya disesuaikan dengan waktu kosong Daren. Semenjak Daren tinggal di flat kecil. Dia tidak pernah lagi mengundang social meeting ke rumahnya.
Tania mengetuk pintu flat Daren. Pintu terbuka. Senyum Daren mengembang.
“Masuklah!” Ujarnya.
Tania masuk membawa compact disk yang dibelinya. Domba panggang dengan smash potatoe.
Flat Daren ukuran studio sehingga semua menjadi satu di dalam satu ruangan tanpa sekat. Kecuali kamar mandi.
Tania menghempaskan dirinya ke sofa yang diubah Daren menjadi tempat tidur jika diperlukan. Membuat ruangan terlihat lebih luas juga rapi.
“Aku membuat puding untukmu.” Ujar Daren mengeluarkan puding yang dibuatnya dari kulkas, “kau suka?”
Tania menganggukkan kepalanya, “yeah, aku suka puding.”
“Puding coklat dan vanila. Flanya kubuat tanpa telur. Aku menggantinya dengan heavy cream.”
“Apakah sebaiknya kita makan dulu sebelum menonton?” Tania bertanya kepada Daren.
“Yeah, kupikir sebaiknya kita makan dulu.” Daren mengambil piring di rak piring di dekat bak cuci piring. Garpu, sendok dan pisau.
Membuka kulkasnya mengambil jus jeruk serta menuangkannya ke gelas untuknya dan Tania.
“Flatmu kecil tetapi sangat rapi.” Puji Tania.
“Aku berusaha membuatnya senyaman mungkin.” Sahut Daren.
Terdapat dua buah kursi di meja bulat yang berfungsi sebagai meja makan.
“Bagaimana hari-harimu?” Tanya Tania sembari mengambil smash potatoe yang sudah dipindahkan ke mangkuk. Mengiris daging domba panggang dengan irisan cukup besar.
“Baik. Bagaimana denganmu?”
__ADS_1
“Seperti biasa. Bagaimana perasaanmu setelah berpisah dengan Thomas?”
Daren mengiris domba panggang dengan cukup tebal. Menyendok smash potatoe ke dalam piringnya.
“Baik-baik saja. Aku dan Thomas tidak cocok. Berpisah dengannya membuatku terbebas dari himpitan batu yang besar.” Terang Daren.
“Aku khawatir kau patah hati. Kehilangan semangat hidup.”
“Kau sangat perhatian. Tidak usah mengkhawatirkan ku. Aku baik-baik saja.”
“Bagaimana aku tidak mengkhawatirkan mu? Kalian bertengkar karena aku. Aku merasa sangat tidak enak.”
“Bukan karenamu.” Dylan kembali memotong daging domba panggang dengan potongan tebal,”aku ingin menceritakan semua padamu. Tapi kau sendiri yang tidak mau. Mungkin kalau saatnya tiba. Aku akan menceritakannya padamu.”
“Aku tidak ingin mencampuri urusanmu. Tidak mau merusak apa pun di antara kita.” Ujar Tania.
“Terserah padamu.” Sahut Daren.
Tania mengambil piring kue untuknya dan Daren. Memotong puding yang dibuat Daren serta menuangkan vla di atasnya.
“Enak sekali pudingmu. Kau buat sendiri?” Puji Tania, “flanya so creamy and sweet. Harum vanila. Aku sangat suka bau vanila.”
“Yeah, aku membuatnya sendiri. Aku senang kau menyukainya. Makanan yang kau bawa juga sangat lezat.”
“Aku membelinya di restaurant langganan ku.”
“Kau membeli CD apa?” Tanya Daren meneguk jus jeruk dinginnya. Mengiris puding ke piring kue serta menuang fla ke atasnya. Bau vanila yang menguar dari fla. Menambah kelezatan puding tersebut.
“A Man Called Otto.” Jawab Tania menyuap pudingnya .
“Tentang apa?”
“Tentang lelaki tua ditinggal istrinya yang sudah meninggal mendahuluinya. Dipaksa pensiun setelah berbakti selama 40 tahun. Pria tua yang pemarah. Berusaha bunuh diri berulang kali sampai bertemu dengan sebuah keluarga muda. Terjalin persahabatan di antara mereka.”
“Sepertinya ceritanya menarik.” Sahut Daren.
Selesai makan dan mencuci piring. Daren memasang compact disk yang dibeli Tania.
Mereka menyimak film sambil mendiskusikannya.
“Mereka pasangan yang harmonis. “ Ujar Tania disetujui Daren.
“So sweet sekali ya...” Timpal Daren.
Keduanya ikut bersedih saat istri Oto meninggal. Meninggalkan Oto sendirian.
“Tragedi dimulai.” Ceplos Daren,”I don’t think I could stand to see Oto after his wife death. What a pitty.”
“Yeah.” Ujar Tania mengamini.
“Semenjak kematian istrinya. Dia seperti tidak memiliki kehidupan lagi.” Timpal Daren.
“Ya, itu sebabnya dia mencoba berulang kali bunuh diri setelah dipaksa pensiun. Istrinya meninggal. Pekerjaannya hilang. Tidak memiliki anak.”
“Sebatang kara. Film ini benar-benar tragis.” Timpal Daren, “aku senang Oto bisa mengenal keluarga muda tersebut. Mereka seperti anak cucu yang tidak pernah dia miliki. Membuat hidupnya lebih bermakna.”
__ADS_1