Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Choice


__ADS_3

Life is a choice. Make a wise and decent choice. So, you won’t regret and lost all love in your life.


When you have to choose between friendship and love. Choose the first. Because, friendship will stay last while the second, there will be no guarantee it will stay forever or just a while.


Tania memutuskan untuk kuliah dan bekerja di luar negeri. Persahabatannya dengan Marsha terlalu berharga untuk dipertaruhkan.


Empati menahan seseorang dari menyakiti. Tidak ada yang bisa menerima apalagi melupakan. Kejahatan sahabat mereka yang tidak memiliki hati merebut kekasih sahabatnya. Bahkan jika cinta mereka bisa abadi. Mereka berbahagia di atas luka dan kecewa orang yang mereka sayangi dan menyayangi mereka. Lambat laun akan timbul penyesalan. Apalagi ketika hati nurani mendesak untuk berbicara. Tanpa diminta. Tanpa bisa dicegah.


Cinta sendiri berubah. Semua yang mencintai. Sebelum memiliki. Memiliki perasaan yang menggelora. Tetapi setelah memiliki dan dengan berjalannya waktu. Perasaan mulai berubah menunjukkan sifat aslinya.


Saat itulah nurani akan berbicara. Pikiran dan hati lebih bisa berkaca.


Tania mengadakan farewell party. Mengucapkan perpisahan pada semua teman-temannya termasuk Pras.


“Kami akan merindukanmu.” Sahut Marsha tulus memeluk sahabatnya.


“Aku juga. Kalian semua teman yang baik dan menyenangkan.” Ujar Tania.


“Buatlah pidato perpisahan.” Pinta Ratih.


Tania melempar senyumnya. Menganggukkan kepalanya.


“Dalam setiap pertemuan pasti ada perpisahan.” Sahutnya membuka pidato perpisahannya, “Persahabatan merupakan anugerah. Tuhan tidak akan menanugerahkan persahabatan pada mereka yang tidak pernah menghargainya, merawat dan menjaganya. Bersama sahabat kau bisa merasa nyaman dengan adanya dirimu. Karena sahabat menyayangi, menerima dan membersamaimu sebagaimana adanya kamu. Sahabat adalah warna dalam hidupmu. Pelangi dalam kehidupanmu. Matahari yang selalu memendarkan cahaya hatinya yang hangat mengelilingi dirimu. Dalam hidup ini, tanpa sahabat kita akan merasakan hidup kita sepi dan tidak berarti. Karena menjalaninya seorang diri. Bersama sahabat kita mewarnai kehidupan. Mencintai sekeliling kita. Seperti halnya pelita yang berpendar menyinari gelap. Cahaya putih prisma yang memendar berbagai warna pelangi. Maka itulah persahabatan sejati. Dan aku sangat bersyukur bahwa Tuhan menakdirkan kalian semua sebagai sahabat-sahabatku. Semoga abadi. Semoga sejati....”


Mereka saling berpelukan. Diah bahkan meneteskan air matanya. Juga Marsha. Tania menyalami Pras. Sesaat mata mereka bertumbukan.


Tania menyunggingkan senyumnya. Hatinya diliputi keharuan. Farewell partynya sangat menyentuh hati. Para sahabatnya menyiapkan sebuah hadiah yang membuatnya tak sanggup menahan air matanya turun.


“Kapan kalian membuat ini?” Dia memandang sebuah album foto yang dibuat sangat unik. Tania menghapus air matanya.


“Sebagai penyemangat kalau kau merindukan kami semua.” Sahut Marsha.


“Yeah! Aku akan merindukan kalian semua.”


Mereka juga memberikan sebuah buku yang didesign sangat indah. Berisi tulisan semua sahabat-sahabatnya.


Semoga kau bisa menggapai cita-cita sekaligus menemukan cinta sejatimu. Always hoping you for the best. Love, Marsha.


The office will not be the same without you. But I know the love and the care  will still stay the same. Love Ratih.


We never know how much someone's value until you know their true colour. Love Diah.


We just got close and you have to go to follow your dream. I want you to know before you go, I think you are my bestie. Love Mirna.


Glad to know the warm and kind person like you. Love Amanda.


Till we meet again. Its not a film title but a hope. Love Dira.


Not everything can express with sentence but sense with the heart. The snow melt it means spring time is coming. And the rose will bloom. Love Pras.


Tania menghapus air matanya dan berkata dengan terbata,”Thanks guys....”


Tania sendiri memberikan kaus custom yang didesign dan dipesannya secara khusus. Sesuai dengan warna kesukaan mereka masing-masing.


“Kaosnya keren.” Puji Marsha.


“Thanks. Buat kenang-kenangan.” Ujar Tania.


“Kau tidak membuat untukmu sendiri?”


Tania mengambil kaus miliknya.


“Aku punya ide. Kalau nanti kita bertemu lagi. Kita pakai kaus ini sebagai dress code? Gimana?” Usul Dira.


“Yeah.” Sahut Diah disetujui yang lain.


***


Saat Tania berangkat tiba. Selandia Baru menjadi tujuannya. Marsha sibuk dengan kegiatan yayasannya. Teman-temannya yang lain sibuk bekerja. Dia mengadakan farewell untuk memudahkan mereka semua bertemu sebelum benar-benar berpisah. Mengingat kesibukan masing-masing.


Tania mendorong kopernya berjalan memasuki bandara. Dia sengaja berangkat lebih pagi karena ingin meluangkan waktu untuk brunch. Kesibukannya mempersiapkan keberangkatannya membuatnya melewatkan sarapannya.


“Tania!” Seseorang dengan suara yang sangat familiar memanggilnya.


Tania menoleh, “Kau? Sedang apa disini?”


“Aku ingin memberikan hadiah perpisahan untukmu.”


“Mengapa tidak saat farewell saja? Kau tidak bekerja?”


“Aku belum sempat membelinya. Sehingga baru bisa kuberikan sekarang. Kebetulan ada undangan meeting keluar kantor. Ini untukmu.”


“Apa ini?”


“Tidak surprise kalau kuberitahu.”

__ADS_1


“Baiklah, terima kasih.” Tania membalikkan badannya. Bermaksud mencari tempat makan untuk mengisi perutnya yang lapar.


“Tania!”


Tania kembali menoleh, “Ada apa?”


“Jam berapa pesawatmu berangkat?”


“Sekitar dua jam-an lagi.”


“Kau mau menunggu dimana?”


“Aku ingin makan dulu. Perutku sangat lapar. Belum sempat sarapan.”


“Boleh kah aku menemanimu?”


“Kau juga lapar?”


“Hmm, iya.”


“Baiklah. Kita makan bersama. Kau ingin makan apa?”


“Terserah.”


Tania memilih sebuah rumah makan Indonesia. Memilih menu yang bisa sekalian untuk makan siang. Dia juga akan merindukan masakan Indonesia yang kemungkinan akan lebih sulit didapatkan setelah kepergiannya.


Tania memesan nasi putih, bebek sambal ijo dan sayur asem.


“Kau ingin pesan apa?”


“Sama saja denganmu.”


“Minumannya?”


“Sama denganmu.”


Tania memesan dua buah es kelapa muda.


“Mengapa kau tidak memberitahu tempat barumu?”


“Aku akan bekerja dan kuliah. Kemungkinan aku tidak memiliki waktu lain selain untuk kedua hal tersebut. Buat apa aku memberitahukan dimana aku berada? Jika nanti kita semua ingin berlibur bersama. Kita bisa merencanakan tempatnya dan langsung saja bertemu di tempat yang sudah disepakati. Atau jika aku ke Indonesia akan kuberitahu.”


“Kau selalu berpikir terlalu detail.”


“Aku ingin mengatur semuanya dengan baik. Tidak ingin nanti menjadi kacau kalau misal salah satu kalian membuat surprise. Kau bisa bayangkan akan seperti apa.” Tania tertawa lebar.


“Bisa segitunya dan lebih parah.”


Mereka tertawa.


“Entahlah! Mungkin kau benar. Tapi kau harus berjanji jika kau ke sini akan memberitahu.”


“Yeah, offcourse.”


“Kau akan menetap di sana atau hanya sampai kau menyelesaikan studimu?”


“Aku akan menetap disana.”


“Kau tidak akan kembali menetap ke Indonesia?”


Tania menggelengkan kepalanya.


“Kemungkinan jika kau menemukan jodohmu. Kau akan menikah dan membangun keluarga di sana.”


“Yeah, begitu lah.”


“Apa kau masih ingin merahasiakan dimana kau tinggal jika kau sudah menetap  dan membangun keluarga di sana?”


“Kalau sesudah menikah aku tidak bekerja. Mungkin aku akan memberitahukan dimana aku tinggal. Tetapi kalau aku bekerja dan mengurus keluarga juga anak. Kemungkinan aku akan sangat kesulitan mengatur waktuku.”


“Yeah.”


“Aku tidak ingin terlihat seperti sok sibuk.”


“Tapi sepertinya memang kau akan benar-benar sibuk jika harus bekerja dan mengurus keluarga juga anak.”


“Yeah. Terima kasih atas pengertianmu.”


“Kau bekerja sambil kuliah?”


“Bekerja secara part time. Aku melamar pada sebuah perusahaan keuangan. Bergabung pada tim finance dan akuntingnya.”


“Yeah. Sepertinya kau akan sangat sibuk.”


“Jika kalian menikah. Jangan lupa undang aku. Aku akan usahakan datang.”

__ADS_1


“Aku dan Marsha masih sangat sibuk. Aku dengan pekerjaanku dan Marsha dengan yayasannya.”


“Kalian pasti bisa mengatur semuanya. Disini kan berbeda dengan di luar negeri. Tidak harus dikerjakan sendiri. Pengurus rumah dan baby sitter akan membantu kalian berdua. Kalian juga bisa memiliki asisten untuk membantu aktifitas kalian.”


“Aku tidak ingin anakku diasuh selain oleh ibunya.”


“Jangan terlalu perfeksionis. Marsha tetap mengasuh anak kalian. Tetapi juga tetap bisa menjalankan aktifitasnya. Mungkin terpaksa harus mengurangi kesibukannya tetapi bukan berarti menghentikannya sama sekali.”


“Kau tahu bagaimana Marsha.”


“Kau harus memberikannya kepercayaan. Membantunya juga. Jangan memojokkannya. Dia hanya berusaha totalitas.”


“Yeah. Tetapi dia harus mengatur segala sesuatunya dengan baik kan. Apalagi jika ada keluarga di dalamnya.”


“Kau bisa memberikan masukan agar dia menambah asistennya. Semua bisa diatasi.”


“Yeah.”


Handphone berbunyi tanda whatsapp masuk.


“Dari siapa?” Tanya Tania.


“Marsha.”


“Oh.”


“Dia menanyakan aku sedang berada dimana.”


“Kau bilang saja sedang bersamaku. Ajak dia bergabung.”Ujar Tania.


“Tidak bisa. Dia sedang sibuk. Aku tidak ingin dia curiga dan menuduh macam-macam kalau aku bilang sedang bersamamu.”


“Terserah kau.”


Tania menyeruput es kelapa mudanya, “Apa yang kau katakan padanya?”


“Aku sedang menjenguk neneknya temanku.”


Kontan mereka berdua tergelak.


“Good excuse.”


“Aku tidak ingin dia menjadi was-was. Marsha bisa berubah menjadi sangat menyebalkan jika sedang seperti itu. Apalagi dia  tahu aku suka mengganggumu sebelum aku tahu kau dan dia bersahabat.”


“Yeah. Lakukanlah apa yang terbaik untuk kau dan Marsha.”


Sesosok mata memandangi mereka dari jauh. Membuka kacamata hitamnya. Menghapus air matanya yang meleleh turun. Berbalik dan berjalan menjauh. Menaiki mobil mewahnya.


“Pak, kembali ke tempat yang tadi.”


“Baik, non.”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2