Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Longing


__ADS_3

Waktu sangat cepat berlalu. Momen kebersamaan mereka terasa begitu manis. Seperti yang mereka harapkan.


Sepanjang jalan, Kreshna memetik bunga disampirkan ke atas telinga kanan Ratih.


"Kau begitu indah!" Puji Kreshna membuat Ratih tersipu malu.


"Jangan menggombal!"


"Gombal tapi kan bukan abal-abal!"


"Pepatah apa itu?"


"Karangan sendiri. Aku terlalu mencintaimu. Sehingga aku takut nanti menyakitimu. Aku tidak bisa mempercayai diriku sendiri. Kau mengerti kan?"


"Ya! Kau tidak usah khawatir. Kita sudah melakukan hal yang benar. Serahkan semua pada semesta. Jika kita ditakdirkan bersama. Pasti akan ada jalannya."


"Yeah! Tingkatan cinta tertinggi bukan memiliki tetapi melepaskan."


"Yeah! Apalagi jika kita tidak yakin bisa saling membahagiakan. Cinta adalah keinginan untuk melihat orang yang kita cintai bahagia dan nyaman. Dengan atau tanpa kita."


"Yeah! Kita makan bakso yuk!"


"Ayo!" Sahut Ratih dengan wajah berbinar.


Mereka memesan dua buah mangkuk bakso dan dua gelas es cendol.


"Apa rencanamu sepulang dari sini?" Tanya Ratih.


"Melanjutkan pekerjaanku. Aku ingin membangun bisnisku sendiri."


"Kau akan berhenti bekerja?"


"Tentu tidak. Tapi aku ingin merintis bisnisku sendiri. Aku tidak tahu sampai kapan bisa bekerja. Membangun bisnisku sendiri sebagai persiapan. Aku tidak ingin memiliki masalah keuangan. Kau sendiri bagaimana?"


"Menekuni pekerjaanku. Menabung. Apalagi yang bisa kulakukan? Mungkin weekend aku akan mencoba berjualan makanan. Rumah kontrakanku di pinggir jalan. Kupikir cocok jika aku mencoba berjualan makanan saat weekend dan libur."


"Ide bagus! Masakanmu enak. Siapa tahu kau bisa mengasah kemampuan masakmu."


"Yeah. Kupikir aku sudah harus mulai serius mempersiapkan hidupku."


"Yeah! Mengisi waktu dengan bekerja dan berusaha itu bisa sebagai healing." Sahut Kreshna menatap Ratih.


"Jangan berlebihan. Kita yang memutuskannya sendiri. Tanpa tekanan atau paksaan. Kupikir masa muda diisi dengan sesuatu yang produktif itu kan baik. Membiasakan diri bertanggung jawab dan mengatasi keadaan."


"Yeah! Itu maksudku. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku. Aku akan kehilanganmu. Satu sisi aku tidak rela melepaskanmu. Tapi sisi lain aku belum bisa yakin akan segalanya. Aku takut menabur luka bukan menyemai cinta."


"Aku mengerti. Kau tidak perlu menjelaskannya padaku."


Mereka berjalan-jalan mengelilingi kota. Membicarakan banyak hal. Terutama yang berkaitan dengan philosophi hidup.


"Hidup itu sangat singkat. Lakukan hal-hal yang membuat kita akan mensyukurinya bukan menyesalinya. Sesuatu yang baik dan positif bukan sebaliknya." Ujar Kreshna.


"Aku setuju. Sesal dulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna."

__ADS_1


"Cinta bukan sekedar memiliki. Tetapi tanggung jawab untuk saling menjaga dan merawat."


"Kalau aku memandang cinta seperti kebun. Akan tampak indah jika dirawat. Semrawut jika dibiarkan terbengkalai begitu saja."


"Ketika cinta sebagai ego. Maka cinta hanya sebatas memiliki dan obsesi. Tetapi jika cinta kata kerja. Maka seperti halnya tukang kebun. Merawatnya hingga selalu indah dan terawat."


"Cinta akan menimbulkan rasa bosan ketika hanya sebatas memiliki. Tetapi akan abadi ketika dimaknai dengan sesuatu yang lebih bermakna dan berarti. Mengapa seorang ibu tidak pernah bosan pada anaknya. Seorang istri bisa menerima suaminya. Seorang suami bisa bersabar dengan istrinya?"


"Hidup sendiri adalah pilihan. Apapun yang akan kita jalani. Konsekuensi dari pilihan kita sendiri."


"Kadang dalam menjalani hidup itu perlu juga kacamata kuda. Apalagi jika kita yakin bahwa yang kita jalani adalah hal yang baik dan benar."


"Orang menilai dari kacamata mereka tetapi kita menjalani sesuai dengan kondisi kita sendiri."


"Hmm, ya aku setuju itu! Setiap orang memiliki pertimbangan mereka sendiri. Selama positif dan baik kupikir kita tidak perlu menyikapi secara berlebihan."


***


Tiba saatnya mereka berpisah. Menaiki pesawat yang berbeda. Ratih kembali ke tempatnya bekerja dan tinggal. Demikian juga Kreshna.


"Selamat jalan. Jaga dirimu baik-baik." Ujar Kreshna.


"Kau juga! Jaga dirimu baik-baik."


"I guess, till we meet again."


"Yeah, seperti judul film."


"Aku tidak ada ide. Mengucapkan kalimat perpisahan." Ujar Kreshna.


"Mungkin bisa seperti ini. Bapak-bapak dan ibu-ibu …."


"Memangnya perayaan tujuh belasan?"


Kontan tawa mereka meledak lagi.


"Kupikir agak sedikit awkward tapi sangat melegakan. Akhirnya kita bisa memutuskan yang tepat untuk kita berdua."


"Kuharap kita memutuskan hal yang benar."


"Kau harus percaya tidak ada yang kebetulan. Jika kita memang mesti berpisah. Ya memang seperti itu adanya."


"Menjalani sesuatu yang meragukan. Akan membuat kita maju mundur."


"Tidak pernah yakin dengan apa yang sudah kita putuskan dan jalani."


"Ya. Seperti tremor cinta."


"Apa itu tremor cinta? Kau jangan membuat sensasi di saat kita akan berpisah seperti ini. Nanti aku jadi tidak bisa berpisah denganmu."


Kontan tawa mereka pecah.


"Kau tahu kan tremor."

__ADS_1


"Yeah."


"Nah bayangkan kalau kau memiliki cinta tapi seperti tremor."


"Tremor di otak dan pikiran." "Seperti yang kita alami sekarang."


"Fix! Kita memang harus berpisah."


Mereka kembali tertawa.


"Andaikan aku adalah ibu atau ayah atau saudaramu sepertinya semua akan  lebih mudah. Darah lebih kental dari air."


"Kalau kita malah incest, gimana?"


Tawa mereka pecah.


"Please! Stop kekonyolanmu. Jangan terlihat menarik saat terakhir."


Mereka kembali tergelak.


"Kupikir kita seperti film yang sangat membosankan tetapi mendekati ending cerita  memiliki *******."


"Jangan lupakan tremor cinta!"


Tawa mereka kembali meledak.


"Kupikir, kubatalkan saja penerbanganku dan ikut kembali bersamamu. Pindah ke cabang perusahaan."


"Kau tahu ini hanya fatamorgana. Besok dan seterusnya akan berbeda."


"Baiklah! Aku tidak jadi membatalkan penerbanganku."


Tawa mereka kembali pecah. Mereka saling melambaikan tangan. Berpisah. Menaiki pesawat masing-masing.


Begitu duduk di pesawat. Sesuatu yang terasa sepi dan kosong menerpa. Mata Ratih memanas dan mengaca. Air matanya meleleh di kedua pipinya.


Everything happened for a reason. Everything happened for good….


Semua dimulai dari awal lagi. Setiap kali mereka berpisah selalu seperti ini. Pertemuan mereka tidak membawa mereka kemana pun. Tetapi saat mereka berpisah semua terasa mencekam, sunyi dan sepi.


Ratih memandang keluar ke jendela pesawat. Awan putih seperti kapas. Mengelilingi tubuh pesawat.


Dirinya sedikit terhibur melihat kumpulan awan yang begitu indah. Langit yang begitu biru. Seakan menjanjikan harapan. Awal yang baru. 


Langit memang tidak selalu biru. Tidak pernah menjanjikan apa pun. Cuaca bisa kapan saja berubah. Tetapi apa pun yang terjadi. Semua akan baik-baik saja. Tidak ada kesedihan yang abadi. Tidak ada kesenangan tanpa akhir. 


Hidup seperti sebuah buku. Dimulai dengan prolog atau kata pengantar. Diakhiri dengan epilog atau ending.


Cinta kadang seperti air. Mengalir begitu saja. Seringkali bermuara di sungai, muara atau lautan. Kadang terjebak di dalam kolam atau aquarium.


Kadang juga terjun bebas seperti air terjun. Jika cinta seperti air. Maka hati haruslah seluas samudera. 


Aku siap dengan lembaran baru. Awal yang baru. Mungkin cinta yang baru? Walaupun untuk yang terakhir dirinya sanksi. Mungkinkah dia dapat menemukan cinta yang baru?

__ADS_1


__ADS_2