
Pras merutuk gemas melihat sikap sombong Tania. Dia juga tidak mengerti mengapa bisa tertarik dengan gadis yang berbeda dengan tipe gadis-gadis yang disukainya sebelumnya.
Gadis itu sebenarnya membosankan. Hidupnya hanya seputar pekerjaan. Tidak bisa bergaul. Temannya hanya Ratih.
Apa ini yang namanya karma?
Marsha menghubunginya. Ingin mereka menghabiskan waktu bersama. Bersamaan dengan Tania yang menghilang dari hadapannya.
Dia tidak bisa mengancam Tania seperti halnya mengancam Ratih. Kekayaan keluarganya membuatnya berada di atas angin.
"Kalau kau ingin memecatku silahkan saja." Ujar Tania saat Pras menanyakan keberadaan dirinya, "Selama kau terus menggangguku. Aku tidak akan masuk kantor. Aku menitipkan pekerjaan ke Ratih lewat kurir. Percuma kau mengorek keterangan dari Ratih karena dia juga tidak kuberi tahu dimana aku berada." Sahut Tania berbohong.
Dengan enggan, Pras memenuhi keinginan Marsha. Dia tidak ingin melepaskan Marsha. Apalagi tidak ada tanda-tanda Tania menyambut cintanya.
Sejujurnya dirinya mulai lelah. Bergonta-ganti pasangan. Dia juga mulai berpikir untuk berlabuh tetapi belum menemukan yang pas di hati.
Marsha adalah gadis yang paling mendekati tipenya. Hanya saja, hatinya gamang karena semenjak mengenal Tania. Menjadi penasaran.
Mereka menghabiskan malam minggu dengan menemani Marsha berbelanja pakaian dan sepatu.
"Koleksi baju dan sepatumu kan sudah banyak." Tukas Pras.
"Sebagian sudah kusumbangkan. Sebagian kulelang. Kupikir aku memerlukan pakaian dan sepatu yang baru."
Kekayaan keluarganya membuat Marsha tidak perlu bekerja apalagi berusaha. Seperti halnya Tania. Keduanya merupakan pemegang saham dalam perusahaan keluarga mereka masing-masing.
Belum kekayaan yang diinvestasikan dan berbentuk property. Serta benda tak bergerak lainnya.
Jika Tania memilih bekerja untuk mengisi waktunya. Marsha memilih menjadi sosialita. Menjalankan yayasan yang dibuat perusahaan keluarganya. Menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan amal dan sosial.
Pras merasa lebih cocok dengan Marsha. Hanya saja hatinya juga menjadi penasaran melihat sikap Tania yang acuh. Playing hard to get.
Menurut Ratih, Tania tidak ada maksud seperti itu. Memang bawaannya seperti itu. Kurang bisa menjalin hubungan interpersonal. Lebih fokus kepada pekerjaan.
Kupikir kurang cocok kalau Tania menjadi calon istri. Pras membatin. Lebih cocok menjadi asistent seperti saat ini. Tapi bagaimana kalau setelah menikah aku malah menjalin affair dengannya?
Apakah istri dan selingkuhan itu memiliki fungsi yang berbeda?
Bersama Marsha aku merasa kehidupanku lebih ringan. Dalam hal kehidupan sosial. Tetapi bersama Tania, pekerjaanku menjadi lebih ringan.
Keduanya saling mengisi satu sama lain. Tapi kujamin kalau kupilih dua-duanya. Kehidupanku malah hancur lebur. Baratayudha.
"Kamu kok bengong aja?" Tanya Marsha membuyarkan lamunannya.
"Gak! Lagi banyak kerjaan." Sahutnya berbohong.
"Kerjaan gak ada habisnya. Kamu berminggu-minggu kerja. Sampai gak ada waktu buat ketemu?"
"Aku sibuk banget. Kesempatan kamu kan main dengan teman-teman kamu."
"Tapi kita udah berminggu-minggu gak ketemu."
"Mau gimana lagi? Kerjaanku banyak."
"Aku punya teman baru." Marsha memulai ceritanya.
"Oh iya? Siapa?"
"Ratih dan dia juga memiliki teman-teman yang sangat seru. Maaf ya aku tidak menghubungimu berminggu-minggu. Kupikir pasti kau juga sedang sibuk. Aku juga sedang asyik dengan teman-teman baruku."
"Gak apa-apa." Sahut Pras menyeruput ice coffeenya.
"Aku senang kita akhirnya bisa bertemu lagi. Seperti sudah sangat lama ya? Kita tidak bertemu."
"Yeah!" Sahut Pras.
Marsha menceritakan tentang kegiatan-kegiatan amal dan sosialnya. Saat-saat menghabiskan waktu bersama Ratih dan teman-temannya.
__ADS_1
"Aku senang kau selalu memberiku kabar. Sehingga aku tenang dan tidak perlu mencari keberadaanmu dimana."
"Dimana pun aku. Pasti berhubungan dengan pekerjaan."
"Yeah! Aku takut ada yang menggodamu. Kau jangan salah paham ya?"
Bagaimana jika aku yang menggoda?
"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Selama kau tidak posesif dan membebaskan aku melakukan apa saja. Never mind. Aku gak keberatan memberikan kabar padamu. Aku tidak ingin kau mengkhawatirkanku."
"Aku tidak membebaskan kau melakukan apa saja. Aku tidak mungkin membebaskanmu mengejar gadis-gadis."
"Aku tahu. Kau jangan memperlakukanku seperti anak kecil begitu."
"Aku tidak mau kau salah paham."
"Aku mengerti maksudmu. Kau tidak usah khawatir."
"Menurutku orang berselingkuh itu karena ada kesempatannya."
"Kayak bang Napi aja. Kejahatan karena ada kesempatan."
"Tapi bener kan?"
"Manusia tidak ada yang sempurna. Anything happen for a reason."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, lebih wise and mature dalam memandang dan menimbang sesuatu. Tidak selalu semua bisa kau nilai hitam dan putih. Tetapi secara keseluruhan."
"Apa maksudmu?"
"Lebih baik berselingkuh sesudah menikah atau sebelum?"
"Tidak dua-duanya."
"Tentu sebelum."
"Kau mengerti kan maksudku?"
"Tidak sepenuhnya. Tapi mungkin maksudmu, ada yang melatarbelakangi sesuatu hal."
"Yeah! Seperti itu kira-kira."
***
Tania merasa sangat bosan di kamar hotelnya. Pekerjaannya yang tidak kunjung selesai membuatnya jenuh.
Ratih sudah kembali ke kontrakannya. Sesekali mengunjungi Tania membawakan berkas pekerjaannya. Menemaninya.
"Kapan kau pulang?"
"Aku belum tahu. Aku ingin memastikan sikap Pras terlebih dahulu."
"Kau tahu dia sangat keras kepala."
"Sigma male?"
"Apa itu?"
"Sering tidak diperhitungkan tetapi juga sangat sulit ditolak."
"Dia tidak akan menyerah."
"Kalau kau jadi aku?"
"Aku akan berlumut di gua."
__ADS_1
Kontan keduanya tertawa.
"Dia sudah memiliki kekasih."
"Itu bukan alasan."
"Aku tidak ingin menjadi duri dalam hubungan siapa pun."
"Tidak ada yang ingin seperti itu."
"Yeah! Aku juga belum berpikir untuk menjalin hubungan dengan siapa pun."
"Kau memiliki trauma?"
"Tidak juga."
"Lalu?"
"Aku tidak ingin menjadi kacau. Aku tidak percaya dengan hubungan emosi dan perasaan semacam itu. Perasaan tidak dapat dipercaya."
"Apa maksudmu?"
"Perasaan bisa berubah dan semua akan menjadi kacau."
"Yeah! Banyak hubungan yang gagal. Hidup yang menjadi kacau."
"Kau sendiri seorang alpha female. Kupikir tidak cocok dengan sigma male."
"Alpha female cocok dengan Beta male."
"Tenanglah! Pras sudah memiliki kekasih. Itu akan menahan langkahnya."
"Yeah! Kuharap begitu."
"Selama kau tidak memberikan tanda apa pun. Dia akan tetap berada di tempatnya. Tidak akan kemana-mana."
"Aku memikirkan satu rencana. Tapi belum bisa kukatakan pada siapa pun. Karena aku masih menimbang baik buruknya."
"Yeah!"
Kamar hotel Tania berantakan. Disana sini terserak kertas kerja. Tumpukan dokumen di meja kerja bersebelahan dengan lap top miliknya.
Tania memesan pizza buat mereka berdua.
"Kau pasti belum makan kan?"
"Ngemil."
"Mana kenyang? Gendut iya."
Keduanya tergelak.
"Apalagi snack isinya angin doang. Kenyang gak. Gendut apalagi. Masuk angin iya. Dat, dut. Dat, dut."
"Menurutku kalau kau menghindar. Dia akan semakin penasaran. Mengapa tidak kau coba dulu jalani? Mungkin kau bisa membuatnya illfeel atau bosan?"
"Begitukah menurutmu?"
"Setauku, dia tidak pernah lama menjalin hubungan dan selalu kandas."
"Hmm, bener juga."
"Tidak ada salahnya kau mengalah. Apalagi kalau kau bisa membuatnya illfeel lebih cepat. Kau juga bisa terbebas lebih cepat. Ya kan?"
"Hmm, iya juga sih. Akan kupikirkan."
Mereka saling memberikan tos.
__ADS_1