Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Break Up


__ADS_3

Mengetahui Pras menyukai sahabatnya. Membuat Marsha menjadi resah. Dia sangat bersyukur bahwa Tania tidak menanggapi rasa suka kekasihnya. Mereka akan menikah dan pasti menikah.


Air matanya mengalir begitu saja. Mengetahui bahwa Pras membohonginya. Mungkin dia takut aku marah dan merasa tidak nyaman. Apa salahnya jujur?


Kepergian Tania digunakannya untuk memperbaiki hubungannya dengan Pras. Hal itu tidak mudah karena Pras semakin sibuk dengan pekerjaannya. Seperti melarikan diri atau melampiaskan semuanya ke pekerjaannya.


Marsha sendiri menyibukkan diri dengan teman-temannya dan kesibukan yayasannya.


Dia harus mengakui daya tarik wanita mandiri dan kuat seperti Tania. Seandainya, Pras dan Tania bertemu lebih dulu. Mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini. Dia merasa menjadi penghalang hubungan keduanya.


Apakah Tania sengaja menjauh ke luar negeri? Agar tidak terjadi kerumitan antara mereka bertiga?


Marsha mencurahkan seluruh keluh kesahnya pada Ratih. Orang yang satu-satunya dipercaya untuk menyimpan rahasia mengenai mereka bertiga.


“Aku harus bagaimana, Tih? Aku merasa menjadi penghalang antara Tania dan Pras.”


“Menurutmu bagaimana?”


“Memutuskan hubungan dengan Pras?”


“Bagaimana kalau kau lihat dulu saja perkembangannya?”


“Aku mulai merasa semuanya menjadi obsesi. Aku tahu tidak bisa memaksakan sesuatu apalagi perasaan.”


“Mungkin Pras sendiri merasa berada di persimpangan.”


“Benarkah?”


“Aku tidak tahu. Mungkin.”


“Aku tahu, pria lebih tertarik dengan wanita yang mandiri dan kuat seperti Tania.”


“Hey! Jangan menggeneralisir.”


“Mengapa harus Tania?”


“Jodoh tidak bisa dipaksakan. Ini bukan masalah cinta atau tidak. Wanita kuat atau lemah. Bukan itu.”


“Aku harus bagaimana?”


“Kau sendiri inginnya seperti apa?”


“Aku ingin kami menikah dan dia hanya mencintaiku. Tapi kenyataannya tidak demikian. Kupikir aku ingin memutuskan hubungan kami. Bagaimana?”


“Apa tidak terlalu emosional? Apalagi kalian sudah bertunangan.” Ratih menatap cincin yang ada di jari manis Marsha.


“Akan sangat terlambat kalau aku tidak melepaskan semua sekarang.”


“Pastikan dulu semuanya. Bagaimana? Bisa saja semua  tidak seperti yang kau katakan.”


“Aku dan Tania bersahabat sangat baik.”


“Ya, aku tahu. Tania juga sudah berusaha menjauh dari tunanganmu. Mengapa kau tidak menghargai usahanya?”


“Apakah bisa memisahkan dua orang yang saling menyukai satu sama lain? Aku tidak ingin sakit hati. Apalagi kalau keadaan menjadi rumit setelah menikah dan memiliki anak.”


“Terserah padamu.”


“Thanks.”


Marsha meminta Pras meluangkan waktunya. Mereka bertemu di tempat yang dipilih Marsha.

__ADS_1


Marsha memilih tempat makan yang dilatarbelakangi view yang indah dan juga sepi. Dia ingin berbicara dengan santai dan menolak untuk pergi bersama.


Pras menunggu kedatangan Marsha yang terlambat hampir satu jam. Marsha mengenakan dress panjang berwarna kuning gading. Menggelung rambut hitamnya ke atas. Menghiasi gelungan rambutnya dengan hiasan bunga melati. Kacamata hitam bertengger di batang hidungnya yang bangir.


Sejenak Pras terpukau memandang kecantikan Marsha.


“Maaf aku terlambat. Kau sudah lama menunggu?”


Pras menganggukkan kepalanya, “Aku pesankan makanan ya?”


Marsha menganggukkan kepalanya.


“Kau mau pesan apa?”


“Terserah.”


Pras menuliskan pesanan makanan dan minuman untuk mereka berdua.


“Ada yang ingin kukatakan padamu.” Marsha melepaskan kaca mata hitamnya yang dibingkai dengan warna coklat keemasan. Mata kucingnya terlihat resah.


“Ada apa sih?”


“Ada yang ingin ku sampaikan padamu.”


“Apa itu?”


“Aku ingin membatalkan pertunangan kita.”


Wajah Pras terhenyak, “Tapi kenapa?”


“Kau janji tidak akan marah?”


Pras menganggukkan kepalanya.


“Apa?” Wajahnya menyiratkan rasa kecewa dan marah.


“Lebih baik aku berterus terang sekarang kan?”


“Apakah aku mengenalnya?”


Marsha menggelengkan kepalanya.


“Kalian akan segera menikah?”


“Aku tidak tahu. Tapi aku sudah tidak tertarik lagi padamu.” Sahut Marsha berbohong.


“Tapi kita akan segera menikah.”


“Kau menikahi pekerjaanmu. Hampir tidak ada waktu untukku.”


“Aku akan meluangkan waktu untukmu.”


“Terima kasih, tapi sayang terlambat.”


Makanan dan minuman mulai berdatangan. Mereka memilih makan dan minum dengan tenang dan hening. View indah tidak mampu menawar hati keduanya.


“Aku ingin kau memberikanku kesempatan lagi.”


“Maaf tidak bisa. Aku ingin membebaskan diri dari ikatan ini.” Marsha melepas cincinnya, “Mulai saat ini kita berdua bebas.”


Pras membuang cincin tersebut ke jurang curam yang tak jauh dari tempat mereka berada.

__ADS_1


Marsha beranjak dari duduknya.


“Kau mau kemana?”


“Aku ada kegiatan sosial. Maaf tidak bisa menemanimu.”


“Aku antar.”


“Tidak usah. Aku bawa kendaraan sendiri.”


“Terakhir kali.”


“Terima kasih but no thanks.”


Marsha membalikkan badannya dan melangkah pergi menjauh. Butir bening membasahi kedua pipinya.


I set you free... You will be very grateful to me....”


Love is not holding but letting go. Love is not binding but liberating. Love is not forcing but choosing.


Love is not word but actions. Love is not possessing but understanding.Love is not fake but sincere.


Dia menyerah pada hubungannya dengan Pras. Impiannya untuk menikahi Pras dikuburnya dalam-dalam. Untuk apa bersama orang yang hatinya kerap mendua? Hanya akan berujung pada sakit hati dan kecewa.


Pada akhirnya waktu akan menentukan akhir cerita mereka bertiga.


Berselang beberapa lama mereka putus. Marsha memberikan undangan pernikahan pada Pras. Mereka tidak sengaja bertemu pada kegiatan yayasan sosial. Memiliki minat yang sama dan berkecimpung dalam kegiatan yang sama. Seperti halnya Pras dan Tania.


Ada satu persamaan lagi yang mereka miliki. Mereka sama-sama baru putus dari pasangan yang membuat mereka maju mundur dalam menjalani hubungan.


Bedanya, kekasih Raka, sudah jelas menyelingkuhinya. Mereka mantap untuk segera menikah. Karena tidak ingin mengulangi hal yang menimpa mereka sebelumnya.


Undangan berwarna broken white dengan tinta silver. Memasang foto kedua mempelai. Wajah Marsha dan Raka tampak sumringah.


Marsha dengan gaun putih tulangnya. Dan Raka dengan jas silver nya.


Pernikahan dilangsungkan dengan meriah dan megah. Tamu undangan berdatangan memenuhi gedung dan luar gedung yang dihias dengan tema pesta kebun. Tidak kurang dari 5000 undangan hadir memenuhi undangan tersebut.


Pras datang dengan mengenakan kaca mata hitam. Marsha mengundang Tania menghadiri pesta pernikahannya. Tetapi Tania sangat sibuk dengan perkuliahan barunya. Dia juga tidak ingin bertemu kembali dengan Pras. Membuat semuanya menjadi kacau.


Marsha mengundangnya lewat what's up.


"Kau bisa datang tidak?"


"Maaf, perkuliahan dan pekerjaanku tidak memungkinkan untuk datang."


"Aku tidak perlu mengirim undangan ya?"


"Tidak perlu."


"Ok, then."


Tania memberikan hadiah pernikahan ke alamat rumah Marsha. Dua buah sajadah dari bahan beludru halus berwarna gradasi coklat tua dan muda. Satu helai sarung tenun ikat import. Sarung berwarna sama dengan mukena berbahan sutera, broken white. Motif sarung sendiri berwarna coklat senada dengan warna sajadah. Pinggiran mukena dibordir dengan indah dengan warna cream."


Persahabatan sejati. Bukan hanya satu pihak yang berkorban apalagi mengorbankan pihak lain. Tapi keduanya berkorban karena mereka saling menyayangi satu sama lain. Berusaha mengukir senyum dan menghapus duka sahabat mereka masing. Saling memberi bukan sebaliknya. Saling berkorban bukan sebaliknya.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2