
Pekerjaan Kreshna sudah hampir rampung. Dia memusatkan konsentrasinya agar bisa semakin cepat menyelesaikan tugasnya.
Ratih sendiri sudah menjalani hari-harinya seperti sebelumnya. Menghabiskan waktunya bersama teman-temannya saat weekend.
Menghabiskan malam minggunya sendiri. Menikmati jarak yang dibuatnya dengan Kreshna.
Jarak membuat semua bisa kembali seperti semula. Hubungan mereka sangat sulit untuk diteruskan atau dimulai lagi. Mereka seperti minyak dan air. Hubungan mereka juga beracun. Melelahkan.
"Aku akan segera menyelesaikan tugasku dan kembali ke pusat." Ujar Kreshna.
"Ya, aku ikut senang dengan keberhasilanmu."
"Semua karena dukungan semua karyawan. Bukan aku sendiri."
"Kau merendah. Tapi sudahlah! Aku senang akhirnya pekerjaanmu selesai."
"Aku sudah memikirkan semuanya."
"Memikirkan apa?"
"Kau benar. Kukira tidak bisa memaksakan sesuatu yang memang sudah sulit dijalani sejak awal."
"Aku senang akhirnya kau sependapat denganku."
"Tidak mudah untuk menerima pandanganmu. Tapi kupikir kau benar. Aku punya satu permintaan."
"Apa itu?"
"Mengenai pembayaran hutangmu yang terakhir. Nanti saja kau booking penginapan dan semuanya. Setelah semuanya selesai. Aku ingin kita berbaikan dan mengadakan perpisahan. Setidaknya kita berpisah dalam keadaan baik-baik. Bagaimana?"
"Baiklah, aku akan mengatur ulang."
"Aku juga tidak ingin Tintan ikut bersama kita. Aku ingin berbicara denganmu dari hati ke hati. Kau tidak keberatan kan?"
"Baiklah. Aku akan mengcanceled booking tiket untuk Tintan."
"Aku juga ingin meminta maaf padamu."
"Tidak usah! Aku juga memiliki andil. Selama kita satu pikiran dan keputusan. Aku sudah sangat bersyukur."
"Aku ingin kau tahu. Aku tidak bermaksud tidak memperjuangkan hubungan kita."
"Aku tahu. Kau tidak usah banyak berpikir. Yang kita butuhkan bukan hal yang akan membuat kita semakin bingung. Kita berdua membutuhkan ruang masing-masing. Mungkin perlu bertemu dan mengenal orang lain. Yang mungkin lebih sesuai dan bisa membuat segala sesuatunya dijalani tanpa beban."
"Yeah! Cinta tidak harus selalu memiliki."
"Betul. Aku setuju. Ada yang perlu diperjuangkan dan yang memang harus diikhlaskan. Seumpama, kita ingin membuat teh manis. Kalau kita garam maka tidak mungkin membuat teh manis dengan garam. Teh asin namanya."
"Aku tidak bisa mencerna perkataanmu."
"Tidak perlu mencerna. Cukup percaya bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya."
"Aku juga ingin kau tahu. Aku bukan sengaja ingin bertemu denganmu."
"Yeah! Aku tahu. Semua memang tidak sengaja. Aku juga minta maaf karena sempat berpikir bahwa kau tidak menghargai keinginanku. Aku butuh ketenangan. Kau juga kan?"
"Yeah!"
__ADS_1
"Kita bisa tetap menjadi teman atau sahabat. Jika itu menjadikan kita lebih positif dan nyaman. Kita bisa menjadi diri sendiri tanpa bersalah."
"Yeah!"
"Aku bisa mengundangmu ke pernikahanmu dan sebaliknya."
"Stop! Itu sudah melewati batas. Aku tidak ingin melihatmu di hari pernikahanku. Kalau kau tidak keberatan. Aku bukan bermaksud kasar."
"Sejujurnya. Aku juga tidak ingin mengundangmu. Aku takut nanti aku semaput."
Kontan mereka tertawa.
"Bagaimana kalau kubawakan teh asin?" Sahut Kreshna konyol.
"Jangan lupa bawa tensimeter. Bisa jadi aku bukan semaput tapi stroke."
Mereka kembali tergelak.
"Mungkin memang kapasitas kita cuma berteman. Tapi teman yang saling jatuh cinta lebih rumit daripada orang yang terlibat cinta segitiga."
"Yeah!"
"Aku sudah mencoba menyukai orang lain. Tapi mengapa aku selalu memikirkanmu." Sahut Kreshna.
"Apa karena aku punya hutang padamu?"
Kontan Kreshna tergelak.
"Kalau bisa hutangmu jangan lunas-lunas."
Tawa Kreshna makin meledak.
"Gak lucu, Kresh!"
"Lucu, sayang…."
"Gak! Dan jangan panggil aku sayang!"
"Kenapa aku gak boleh panggil kamu sayang?"
"Seandainya kita menemukan orang lain. Tidak lucu kan kalau aku dipanggil sayang sana sini."
Tawa Kreshna semakin pecah.
"Kupikir, yang membuatku tidak bisa berpaling adalah keajaibanmu berpikir."
"Apa maksudmu?"
"Kau sangat suka berasumsi dan berimajinasi. Kalau kau sudah memiliki kekasih, aku tidak mungkin nekat memanggilmu sayang! Aku masih sayang nyawaku."
Giliran Ratih yang tergelak, "Mengapa aku tidak berpikir sampai sana?"
"Mungkin karena kau paranoid?"
"Kupikir kau menganggapku menyebalkan?"
"Kalau kau sedang cemburu. Atau sedang berpikir negatif. Aku merasa sesak nafas dan tidak tahu harus bagaimana. Dan kau memang sangat menyebalkan jika sedang seperti itu."
__ADS_1
"Memangnya kalau kau berlaku sama aku gak semaput?"
Kontan keduanya tergelak.
"Aku ingin menanyakan sesuatu tapi aku takut kau marah."
"Apa itu?"
"Nanti saja kutanyakan kalau kita jadi berlibur bersama sebagai tanda perpisahan kita. Aku ingin perpisahan kita benar-benar diakhiri dengan sebaik dan semanis mungkin."
"Kau akan menemukan seseorang yang membuatmu nyaman."
"Kau juga!"
"Ya, kuharap kita berdua akan menemukan pasangan masing-masing yang bisa membuat kita nyaman."
"Jika kita sudah bisa menemukan pasangan masing-masing. Bisakah kita berselingkuh?"
Mata Ratih mendelik dan Kreshna semakin tergelak memegangi perutnya.
"Siapa tau kita tidak cocok menjadi pasangan tapi klop jadi selingkuhan?"
"Oh no! Kau jangan macam-macam."
"Aku kan cuma berandai-andai. Kalau pun berselingkuh kita tidak akan melanggar batas pergaulan."
"Tapi tetap saja bisa menyakiti pasangan masing-masing. Aku tidak akan menampungmu seandainya kau diceraikan istrimu."
Tawa Kreshna kembali meledak, "Aku akan merindukanmu." Sahut Kreshna menatap lurus ke arah Ratih, "Sejujurnya, aku senang bertemu lagi denganmu walaupun tidak sengaja. Kupikir aku akan kehilanganmu selamanya."
"Aku sendiri tidak menyangka akan bertemu lagi denganmu." Ujar Ratih jujur.
"Kupikir, Allah tidak ingin kita berpisah." Ujar Kreshna.
"Kau tahu itu tidak benar. Kita hanya dipertemukan tidak sengaja."
"Iya, kau selalu menghindariku. Aku tidak mengerti."
"Hubungan kita membuatku ragu. Aku tidak yakin kita bisa melaluinya dengan baik. Aku tidak ingin patah hati atau kecewa."
"Tidak ada yang ingin patah hati atau kecewa tapi kalau tidak dijalani nanti kan malah bikin penasaran."
"Penasaran apa? Bagaimana kalau nanti malah kita jadi gak bisa menentukan jalan hidup yang akan kita jalani? Kita tidak bisa menikah karena masing-masing kita ragu. Tapi kita juga tidak bisa menemukan orang lain? Atau berganti-ganti pasangan?"
"Hidup penuh ketidakpastian. Jalanin saja semua apa adanya. Jangan terlalu banyak berpikir. Ketidakpastian itu adalah juga kepastian."
"Apa maksudmu?"
"Kau bekerja mencari uang. Misalnya kau berjualan. Apakah kau bisa memastikan hasilnya?"
"Tentu tidak. Memperkirakan mungkin bisa tapi memastikan? Tidak bisa. Perkiraan juga belum tentu sesuai dengan apa yang kita prediksikan."
"Begitu juga jodoh. Nanti kan kita juga tau. Tapi tentu harus diusahakan dulu. Selama tidak ada batas yang dilanggar. Seharusnya tidak dipermasalahkan. Sama aja seperti orang berusaha dan bekerja selama tidak melakukan kejahatan seharusnya tidak dipermasalahkan."
"Kupikir tetap saja. Aku tidak bisa menerima semua argumenmu. Terdengar seperti pembenaran dan ketidakpastian."
"Wanita selalu menginginkan kepastian padahal hidup itu sendiri tidak pasti."
__ADS_1