
Kreshna menghubungi Tania. Membicarakan masalah pekerjaan secara online.
“Aku bukan mau mengganggu apalagi membebanimu. Aku juga tahu bahwa kesibukanmu kuliah dan bekerja sudah sangat menyita waktumu. Pekerjaanmu hanya memeriksa pekerjaan Pras. Detail akan ditangani Diah. Karena aku akan meminta Ratih membantuku.”
“Hanya memeriksa?”
“Yeah. Pras kerap tidak teliti saat memutuskan dan membuat kesimpulan.”
“Mungkin karena dia tidak menguasai akutansi dan pembiayaan.”
“Yeah. Apalagi saat ini sedang jatuh cinta kepadamu. Tergila-gila.”
Wajah Tania memanas. Jantungnya berdetak cepat.
“Apa maksudmu?”
“Kau tahu maksudku. Aku tidak pernah melihat dia sebodoh ini. Biasanya dia yang mempermainkan wanita bukan sebaliknya. Kau sendiri bagaimana?”
“Maksudmu?”
“Apakah kau menyukainya juga?”
“Kalau kau jadi aku. Dia suka bergonta ganti pasangan. Diputuskan tunangannya. Aku dan Marsha bersahabat.”
“Yeah. Aku mengerti maksudmu. Dia bukan sosok idealmu. Bahkan mungkin mimpi burukmu.”
Tania tertawa lepas.
“Aku senang kau memahami maksudku.”
“Saat Aku mengetahui Alicia berselingkuh. Rasa cintaku menguap”
“Yeah. Seperti itu lah kira-kira.”
“Kadang cinta saja tidak cukup. Harus ada keteguhan hati untuk mempertahankan hubungan yang ada.”
“Yeah. Mungkin Marsha menyadari hal itu.”
“Yeah, Pras memang agak plin plan. Mirip Alicia.”
“Kau rasa, kau bisa menebak akhirnya.”
“Baiklah, kembali ke lap top. Kapan kau mulai bekerja?”
“Kapan kau memberikanku pekerjaan.”
“Siang ini Diah akan mengirimkan semuanya lewat email. Bagaimana?”
Tania tertawa keras, “secepat itu?”
“Kita bisa menundanya kalau kau mau.”
“Tidak usah. It’s fine.”
“Aku akan mengirim kontrak kerjanya lewat email. Kalau kau setuju. Tanda tangani.”
“Baiklah.”
Pekerjaannya membuat terpaksa harus berhubungan secara online dengan Pras.
Sepulang bekerja freelancenya. Tania menyediakan waktu sekitar dua jam untuk mencicil pekerjaannya dari Kreshna.
Memulai pekerjaannya pukul dua belas malam sampai dengan jam dua pagi baru dia beranjak tidur.
Dokumen yang dikirimkan Diah membutuhkan waktu untuk dipahami dan dibacanya sebelum memeriksa keputusan dan kesimpulan yang diambil Pras.
__ADS_1
Tania menguap lebar saat jam menunjukkan jam dua pagi. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Dia menutup filenya dan lap top ya serta beranjak ke tempat tidur. Mematikan lampu kamarnya. Menarik selimutnya dan tertidur lelap.
Di dalam mimpinya dia melihat Kreshna membawanya ke suatu lembah. Dimana lembahnya berisi tumpukan dokumen yang menggunung.
“Aku harus membaca semua ini?” Tanya Tania.
“Tentu saja. Bagaimana kau bisa mengatasi masalah yang diajukan padamu kalau tidak membacanya terlebih dahulu.”
“Aku lebih suka mengerjakan detailnya sehingga saat aku mbuat kesimpulan tidak perlu repot-repot membacanya.”
“Kau tidak memiliki waktu dan tenaga lebih untuk mengerjakan semuanya. Diah bisa diandalian kalau untuk mengerjakan input dokumen. Biasakan dirimu. Apalagi kudengar begitu lulus. Kau akan memegang perusahaan ayahmu. Kau akan lebih banyak membaca dan rapat.”
“Setelah bekerja lima tahun di perusahaan orang lain.”
“Whatever. Tapi kau harus membiasakan diri untuk pekerjaan masa depanmu.”
“Masih lama.”
“Aku juga mau saja kau menyiapkan detailnya bersama Diah. Tapi seperti kukatakan waktumu sudah habis untuk mengerjakan yang lain.”
“Baiklah. Kupikir kau benar.”
“Yeah, aku butuh kau bekerja dengan efisien. Aku hanya membutuhkan pengawasanmu saja. Sisanya, seperti yang kukatakan. Bisa dikerjakan oleh Diah.”
“Baiklah.”
Kembali bekerja secara online untuk perusahaan yang lama membuatnya terpaksa menghubungi Pras kembali.
Kalau sebelumnya Pras menelpon Dan me wanya kerap tidak dibalas atau diangkat sekarang terbalik.
Wajah Tania tertekuk jutek. Sudah puluhan kali telepon dan wa tidak mendapatkan jawaban.
Dengan hati kesal. Membanting hapenya.
“Kau kenapa?” Tanya Kamila.
“Pras bukan yang sering menelpon menggunakan telepon rumah?”
“Yeah.”
“Bukannya kau terganggu dengan wa dan teleponnya. Mengapa sekarang justru kau yang antusias menelpon dia?” Tanya Kamila.
“Makanya jangan terlalu benci jadi berbalik menjadi cinta.” Ujar Maryam terkekeh.
Wajah Tania semakin jutek.
“Aku kembali bekerja dengan perusahaan lamaku secara online. Jadi mau tidak mau aku harus menghubungi Pras untuk kepentingan pekerjaan.”
“Oh, pantas.”
“Aku harus bergegas untuk bekerja. Mandi, makan dan berangkat. Kau masak apa Maryam?” Tanya Tania karena giliran Maryam yang memasak.
“Nasi, kari daging, acar dan ayam goreng.”
“Perutku keroncongan.”
Maryam tertawa.
“Aku bisa nitip tolong belikan nachos dan churros?” Ujar Maryam sambil menyerahkan sejumlah uang pada Tania.
“Baiklah.”
“Thanks.”
Tania bersiap mandi. Membuka lemari pakaiannya. Memiliki outfit yang dirasa cocok untuk bekerja. Blazer berwarna coklat susu dengan pakaian atasan juga bawahan berwarna putih tulang. Sepatu dan tas berwarna sama dengan blazernya.
__ADS_1
Mengambil tasnya yang berisi diktat, binder dan alat perekam. Mengoleskan bedak dan lisptik tipis-tipis. Tentu saja setelah memoles rata foundation ke pipinya.
Menutup pintu kamarnya menuju meja makan. Membuka piringnya menuang nasi, kari daging, ayam goreng dan acar. Membuka toples kerupuk. Mereka bertiga membeli kerupuk di pasar Asia. Sekalian membeli sambal dan mie instant.
Memakan makanannya lamat-lamat. Menuang air putih ke dalam gelas. Pikirannya melayang pada diktat yang sepulang kuliah dibacanya.
Statistic for bussiness and decision making. Kreshna menawarinya pekerjaan sekaligus melatih mata kuliah yang diambilnya.
Dia menjadikan salah satu stastistik yang dikirim sekalian buat bahan tugas dari mata kuliah yang diambilnya.
Selesai makan, Tania mencuci piring dan gelasnya. Meletakkan di rak piring yang terletak di atas back cuci piring.
Bersiap ke garasi menyiapkan mobilnya. Meletakkan tasnya di samping kursi penumpang di sebelah kursi supir.
Menjalankan kendaraannya dengan perlahan. Dia tidak ingin terburu-buru menikmati perjalanannya ke kantor sambil mendengar alunan lagu Not You, Allan Walker, Emma Steinbakken.
Sesampainya di kantor. Menuju kubikelnya. Menyalakan komputernya dan mulai bekerja. Saat orang pulang bekerja jam lima sore. Dia baru memulai jam kerjanya sampai dengan jam sebelas malam.
Pekerjaannya sebagai financial analyst
mengevaluasi laporan rugi laba, posisi keuangan dan perubahan ekuitas.
Tania memulai pekerjaannya memeriksa akurasi laporan keuangan. Membandingkan laporan keuangan dengan catatan akutansi dan melakukan audit internal. Memastikan laporan keuangan sudah tepat Dan akurat.
Tania tenggelam di dalam pekerjaan. Sibuk dengan data-data keuangan yang sedang dievaluasi. Memeriksa akurasinya.
Tanpa terasa jam berlalu begitu cepat. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tania bersiap untuk pulang.
Mampir ke toko makanan Mexico membeli Nachos dan Churros pesanan Maryam. Dia sendiri membeli setengah lusin tacho.
Dalam perjalanan pulang beberapa kali Tania menguap menahan kantuk. Sesampainya di rumah. Memarkir mobilnya. Memasuki rumahnya. Meletakkan nachos dan churrosnya di meja makan.
Sepertinya, Maryam dan Kamila sudah terlelap tidur di kamar mereka masing-masing.
Tania memakan tachosnya sambil membuat teh manis hangat. Perutnya terasa lapar setelah tujuh jam bekerja tanpa henti.
Memakan dua buah tachos yang dibelinya sedangkan sisanya dimasukkan ke kulkas.
Dengan wajah lelah, Tania memasuki kamarnya. Menuju kamar mandi dalam. Menyikat dirinya. Berwudhu.
Mengganti pakaiannya dengan baju tidur setelah selesai menunaikan sholat isyaanya. Mematikan lampunya. Tidak butuh waktu lama terdengar dengkur halus.
__ADS_1