
Ratih bernafas lega. Walaupun Alicia sudah menikah. Bukan berarti dia bisa mempercayai Kreshna.
Kreshna sendiri juga tidak bisa memberikan kepastian pada hubungan mereka. Dia sendiri masih meragukan. Bagaimana kalau nanti mereka berselingkuh?
Pikiran gila. Tapi banyak cerita bahwa pernikahan tidak menghentikan perselingkuhan.
Tapi mungkin memang dia belum siap. Mungkin juga Kreshna. Mereka berdua belum siap. Untuk meneruskan pertemanan mereka. Terasa kamuflase. Melangkah ke jenjang pernikahan masih ragu. Hanya membuang waktu jika memaksakan harus dijalani. Karena bisa jadi masing-masing dari mereka menunggu jodoh mereka masing-masing.
Mereka tidak benar-benar berteman. Mungkin memang tidak pernah bisa berteman sejak awal. Yang mereka butuhkan mungkin pertanda dari semesta. Mereka berjodoh atau tidak? Semua terasa melelahkan tetapi tidak ada yang dapat mereka lakukan untuk mengubahnya. Selain menjalani semua apa adanya.
Lebih baik melupakan semua yang hanya terasa terbebani jika dijalani. Mati enggan hidup pun tidak. Ibarat pepatah menggambarkan satu kondisi koma. Hubungan mereka tidak kemana-mana. Berakhir tidak tetapi berlanjut juga tidak. Stuck.
Ratih menikmati istirahatnya sesampai di hotel. Menyalakan televisi. Mengeluarkan majalah-majalah yang dia beli di bandara. Menghibur dirinya dengan membaca majalah.
Besok dia akan berjalan-jalan sendirian. Bermain aneka permainan di taman hiburan menjadi pilihannya. Memang tidak enak berjalan-jalan sendirian. Tetapi dia tidak memiliki pilihan lain.
Tidak memiliki rencana yang pasti. Bisa tiba-tiba saja berubah rencana. Handphonenya berdering. Ratih mengangkatnya. Diah.
“Ada apa, Diah?”
“Tidak apa-apa. Kangen aja masak gak boleh?”
Ratih tertawa, “Boleh tapi kenapa?”
“Aku iri padamu.”
“Kok bisa gitu?” Tanya Ratih sambil tertawa renyah.
“Di tengah tumpukan pekerjaan dan rutinitas bekerja. Kau santai-santai menghabiskan cutimu. Berlibur sendirian.”
“Ada temanku menikah. Kupikir sekalian aja ambil cuti kan? Buat menghilangkan kejenuhan bekerja. Kau tahu kan bagaimana Pras?”
“Yeah. Tapi dia tidak pelit memberikan tambahan uang. Sangat pengertian.”
“Tetap saja. Jenuh juga dengan tekanan pekerjaan yang diberikan.”
“Aku tidak melihat Tania beberapa waktu. Tapi semenjak kau cuti. Dia kembali masuk kantor.”
“Mau tidak mau. Aku meminta tolong padanya. Agar mau bekerja secara offline. Beberapa waktu yang lalu, dia memilih bekerja secara online. Tetapi kalau aku cuti. Pras membutuhkan salah satu dari kami untuk mendampinginya.”
“Kau bisa mereferensikan aku pada Pras untuk menggantikanmu kan? Lumayan buat tambahan uang.” Ujar Diah.
“Pras yang memintaku agar Tania masuk kerja menggantikanku.”
“Tidak ada apa-apa kan antara Pras dengan Tania?”
“Tentu tidak ada. Kau jangan bergosip.”
“Buat apa aku bergosip kalau di antara mereka tidak ada sesuatu yang terjadi.”
“Tania sangat handal di bidang pekerjaannya. Pras puas dengan pekerjaan Tania.” Ratih tidak ingin mengatakan apa pun selain pekerjaan. Gosip bisa berkembang sangat pesat. Jika dia tidak hati-hati.
“Pras itu kan mudah jatuh cinta. Kupikir dia suka pada Tania?”
“Kau jangan ngawur. Dia sudah memiliki kekasih.”
“Seperti apa kekasihnya? Aku menjadi penasaran.”
Ratih membungkam mulutnya. Tidak ingin mengatakan bahwa mereka semua mengenal kekasih Pras, Marsha.
__ADS_1
“Aku malas mengorek kehidupan pribadi Pras.”Sahut Ratih.
“Yeah! Apa untungnya tahu kehidupan pribadi Pras?” Diah menyetujui perkataan Ratih, “Aku harus kembali bekerja. Nanti kita sambung lagi obrolannya.”
“Ok.”
“Happy holiday.”
“Thanks.”
Pembicaraan diakhiri. Ratih bersantai di dalam kamar hotelnya. Membaca majalah-majalah yang dibelinya. Sambil menonton televisi.
Sekitar dua jam menghabiskan waktu membaca sambil menonton. Perutnya terasa lapar.
Bermaksud berjalan-jalan di sekitar hotel. Pikirannya terasa lebih nyaman. Tidak memikirkan apa pun selain bersantai.
Mencicipi kuliner di sekitar hotel. Makanan kaki lima. Jajanan, makanan berat dan minuman.
Menghemat budget liburannya. Menikmati makanan pinggir jalan. Selain rasanya yang enak. Harganya murah dan terjangkau.
Mungkin aku akan membungkus beberapa makanan. Tetapi kalau ingin berjalan-jalan bagaimana? Ah, sebaiknya, kalau aku malas keluar pesan saja go food. Tidak perlu membungkus makanan untuk di hotel. Kalau ternyata aku ingin berjalan keluar seperti ini. Mencari makanan dan minuman. Tidak terbebani dengan makanan yang terlanjur dibeli. Sayang kalau terbuang jika tidak termakan. Apalagi seleranya juga kerap berubah. Sesuatu yang jamak terjadi.
Ratih memasuki salah satu tenda. Di cuaca yang cukup panas. Dia ingin memakan sesuatu yang berkuah. Tetapi bukan bakso kesukaannya. Melainkan sop dan nasi.
Tenda yang menjual sop iga dan buntut menjadi pilihannya. Sepiring nasi putih dan sop panas mengepul. Menerbitkan selera makannya. Di samping itu perutnya juga sudah sangat kelaparan.
Ratih menikmati makan siang yang dipesannya. Menambahkan sejumlah sambal dan perasan jeruk limau ke dalam mangkuk sopnya. Semakin menggugah selera.
Sepiring nasi dengan seporsi iga ludes disantapnya. Segelas es kelapa muda melengkapi kenikmatan makan siangnya.
Ratih memutuskan berjalan-jalan sebentar sebelum kembali beristirahat di hotel. Mempersiapkan kondisi untuk besok bermain di taman hiburan seharian penuh.
Mencicipi seporsi es durian. Alpukat kocok. Dan segelas es cendol. Aneka kue jajanan membuatnya ingin mencicipi dan membungkus untuk cemilan di hotel.
Kue balok, pukis keju dan coklat, pancong, tahu isi kriuk, bakwan, cireng dan risoles isi bihun.
Dia tidak mampu memakan dan meminum semuanya. Apalagi baru selesai makan siang. Memutuskan membawa semua jajanan yang dibelinya ke hotel. Semua minuman akan dimasukkan ke kulkas hotel. Sedangkan makanan akan ditaruh di atas buffet.
Membayangkan menonton dan membaca majalah sambil makan dan minuman jajanan yang dibelinya sangat mengasyikkan.
Handphonenya berdering. Nama Kreshna tertera. Mereka bertemu tanpa sengaja di resepsi Alicia.
Mungkin Kreshna baru menyadari bahwa dia membohonginya pergi ke toilet untuk menghindari kemungkinan mereka menghabiskan waktu bersama. Apalagi menjalin hubungan seperti sebelumnya.
Hatinya bimbang. Menerima atau menolak teleponnya. Dering telepon berhenti. Ratih bernafas lega. Dia tidak harus ambigue antara menerima atau mengabaikan telepon Kreshna.
Beberapa saat, telepon kembali berdering. Hatinya kembali bimbang. Mengapa tidak bisa menyimpulkan sendiri dari sikapnya? Dia nyaris tidak bisa menjelaskan situasi hubungan mereka yang membebani pikiran juga hatinya. I just want to be free from all of that burden me. Maybe, not everything has to be found out. Not everything has to be seek the answer. Most of them, just need to be except. Come to terms of reality. Its not about Alicia of everyone between. Its about both of them.
Dering telepon kembali berhenti. Ratih bernafas lega. Bermaksud mematikan teleponnya. Tetapi kemudian dia melihat tanda whatsapp masuk.
Mengganti tanda contreng biru terlebih dahulu. Dia tidak ingin Kreshna tahu bahwa dia membaca whatsappnya. Didn’t want anything comes between....
Dia mulai membaca whatsapp Kreshna.
Kuharap kau bukan sengaja tidak menerima teleponku. Aku tidak bermaksud apa pun. Hanya ingin menanyakan mengapa kau tidak kembali ke pesta pernikahan sehabis dari toilet.
Kau tidak sengaja menghindariku kan? Setidaknya, kau bisa berkata sepatah atau dua patah kata? Aku tahu, kita sering menghadapi hal yang membingungkan. Seperti puzzle yang tidak bisa diselesaikan. Aku tidak bermaksud apa pun. Mendesak apalagi memaksa.
Aku juga lelah berpura-pura semua baik-baik saja. Aku juga ingin melanjutkan semua seperti sebelumnya. Hanya saja, kupikir kita bisa mencoba menjalaninya sampai akhir. Walaupun aku memahami kau akan berkata tidak dan menolaknya.
__ADS_1
Aku hanya ingin mengatakan dan juga menjelaskan mengapa aku seperti ini. Setidaknya, berharap kau mau mengerti. Aku tidak bermaksud memperalatmu. Sengaja menyakitimu. Atau melakukan hal yang kau anggap mungkin tidak berperasaan. Aku sedang mencari tahu. Mungkin terdengar egois. Aku hanya ingin menjalani semua apa adanya. Walaupun aku sendiri tidak tahu apakah hal itu ada gunanya untukku atau tidak.
Hati Ratih menjadi sangat bimbang. Dia bukan bermaksud menghindari Kreshna dan tidak mau memahaminya. Tetapi segala sesuatu harus ada batasnya. Melepaskan atau mengikhlaskan. Memperjuangkan tanpa kepastian akhir dari apa yang mereka jalani. Akan menyebabkan semacam exausted atau burn out dalam hubungan mereka.
Ratih memutuskan untuk menelpon Kreshna. Memberikannya kesempatan untuk berbicara tetapi tidak lebih dari sekadar berbicara.
“Apa yang ingin kau katakan? Make it fast and clear.” Tanya Ratih.
“Mengapa kau tidak kembali ke pesta?”
“Untuk apa? Kita tetap akan berpisah? Apa bedanya aku kembali atau tidak ke pesta?”
“Mungkin ini masalah ego.”
“Memang. Kau selalu membutuhkan egomu untuk dijaga tetapi tidak berlaku untuk orang lain.”
“Aku tidak tahu apakah tepat mengatakan hal ini padamu. Tapi aku tidak tahu apakah aku memiliki kesempatan lagi bertemu denganmu.”
“Katakan apa yang perlu kau katakan. Jangan berusaha untuk mempengaruhi apalagi memperalatku untuk memanjakan egomu.”
“Aku memiliki trauma.”
“Trauma apa?”
“Perceraian kedua orang tuaku. Banyak hal yang terjadi.”
“Kau tidak mencari alasan kan? Atau berusaha memanipulasiku dengan cerita yang kau karang?”
“Aku tidak mengarang.”
“Aku tahu mungkin ada hal yang melatarbelakangimu. Tapi kau juga perlu tahu. Kepercayaan dan perasaan dua hal yang berbeda.”
“Aku tahu semua seperti mencari alasan.”
“Jangan hanya memikirkan dirimu sendiri. Jangan memanfaatkan perasaan seseorang untuk kepentinganmu.”
“Aku tidak bermaksud seperti itu.”
“Aku tahu. Traumamu membuatmu sulit mempercayai orang lain. Kau juga tidak bisa mengabaikan perasaanmu. Kau memanfaatkanku seperti keset selamat datang yang bisa kau gunakan sesuka hati. Aku tidak bisa selalu ada untukmu. Kau harus tahu hal itu. Kau ada di situasi yang membingungkan. Aku tidak ingin menambahnya.”
“Aku hanya ingin berbicara dan menjelaskan semua.”
“Untuk apa kau jelaskan? Apa ada bedanya? Apakah dengan menjelaskan ada yang berubah? Jangan hanya memikirkan dirimu sendiri. Kupikir cukup penjelasanmu. Aku juga tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini.”
“Baiklah, jika itu maumu.”
“Bukan mauku atau maumu. Memang kondisinya seperti itu.”
“Hmm ya...”
Ratih mematikan telepon. Melanjutkan aktifitasnya. Perutnya tiba-tiba terasa lapar. Berbicara dengan Kreshna menguras energinya.
Mengambil minuman dari dalam kulkas. Mengeluarkannya. Menikmatinya satu per satu. Sambil menikmati cemilan yang dibelinya.
Everything must have a limit. Don’t give anyone remote of your happiness and sadness. You are the master of your heart and soul. You will responsibble for everything gain in your life. The remote is in yours not others....
... ...
__ADS_1