
Mereka akan kembali berpisah. Setelah cutinya habis. Kreshna kembali ke kantor pusat.
Selama tiga hari mereka meluangkan waktu bersama. Menuliskan nama mereka berdua dan harapan mereka di batu yang ada di bukit yang mereka datangi.
Menghabiskan waktu di pantai dan berjalan menyusuri pantai sambil mengobrol.
Menghabiskan waktu bersama di tempat hiburan. Berburu oleh-oleh sebelum Kreshna kembali.
“Aku ingin oleh-oleh yang khas.”
“Bolu ini sangat terkenal disini.” Ujar Ratih, “Kemasannya juga sangat menarik.”
“Hmm, boleh juga. Kau saja yang pilihkan.”
“Berapa yang kau butuhkan?”
“Dua puluh bolu dan oleh-oleh yang bisa dibagi-bagikan dengan ukuran yang lebih kecil.”
“Bagaimana dengan cemilan yang dikemas dalam kotak?”
“Yeah, boleh. 50 buah.”
“Bolu delapan rasa vla durian. Best seller. Rasa duriannya juara. Bukan essence. Duriannya terasa sangat lezat. Kau coba saja cicip testernya kalau tidak percaya.”
Kreshna mencoba testernya dan menganggukkan kepalanya.
“Yeah, lezat sekali. Duriannya terasa creamy. Manisnya pas. Bau harum duriannya sangat menggoda dan menggugah selera. ”
“Ya kan?”
“Coklat dan vanilanya juga best seller. Coba saja testernya.”
Kreshna mengambil testernya masing-masing satu. Menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Ok, bolunya dua puluh empat buah berarti.”
“Yeah.”
“Cemilannya 50.”
“Yeah, aku pilih kue sus sepuluh buah untuk setiap rasanya. Pandan, kopi, keju, durian dan coklat. Best seller.”
“Ok, tolong paketkan. Kirim lewat ekspedisi ke rumahku.”
“Baiklah.”
Ratih memberikan alamat Kreshna pada staff toko. Meminta mereka mengirimkan makanan yang dipesan Kreshna lewat ekspedisi.
Kreshna membelikan sepuluh buah bolu rasa durian untuk Ratih. Dua puluh kotak kue sus rasa durian.
“Buat apa bolu dan sus sebanyak ini?”
“Aku meminjam mu dari Pras beberapa hari. Rasa terima kasihku pada Pras dan yang lainnya. Untukmu dan orang kantor.”
“Baiklah. Terima kasih.”
Mereka menghabiskan hari terakhir di taman hiburan.
“Kau bisa kan besok mengantarku ke bandara?” Kreshna menyodorkan ice cream yang dibelinya kepada Ratih.
Mengulum ice cream miliknya. Memakannya dengan cemilan sus coklat yang dibelinya.
“Kau ingin aku standby jam berapa.” Tanya Ratih.
“Minimal tiga jam sebelum keberangkatanku ke bandara.”
“Baiklah.”
“Aku akan menjemputmu dengan menggunakan grab car.”
“Baiklah.”
“Terima kasih.”
Suasana tempat hiburan tidak terlalu ramai karena weekdays.
__ADS_1
Mereka memilih menaiki sepeda air. Berbentuk angsa yang dikayuh.
“Bagaimana Alicia?” Tanya Ratih.
“Mengapa kau menanyakannya padaku?”
“Kalian kan bestie couple.”
“Kau itu lucu kalau mulai cemburu.”
“Aku tidak cemburu. Hanya menanyakan saja.”
“Aku tidak tahu mengapa Alicia selalu menjadi teror untukmu. Saat ini dia sudah berbahagia dengan suaminya.”
“Dan mungkin juga dengan mantannya.” Ratih tertawa.
Kreshna menjawab singkat, “Tidak lucu.”
“Kau tahu? Banyak mantan yang menyesal. Kau tahu kan kisah Charles dan Camilla.”
“Astaga! Kau separanoid itu?”
“Bagaimana kalau kau menjadi aku?”
“Aku tidak pernah memiliki pikiran aneh semacam itu.”
“Well. Aku dan Bima bertemu kembali. Sisanya kau tebak sendiri.”
“Kupikir. Kita tidak akan kemana-mana. Jika masih banyak keraguan dan ketakutan di antara kita.”
“Yeah. Apakah kau ngerti yang ku maksud?”
“Kau memberikan contoh yang telak. Apa pilihanku?”.
Ratih tertawa diikuti Kreshna.
“Aku serius saat menanyakan Alicia.” Ujar Ratih.
“Dia sangat berbahagia saat ini. Tengah mengandung buah hati pernikahannya. Agak sulit menggodanya berselingkuh setidaknya saat ini.”.
Ratih memukul bahu Kreshna. Membuat Kreshna terpingkal-pingkal.
“Saat itu aku pasti sudah tua. Sudah malas meladeninya. Mungkin aku sudah di rumah jompo.”
Ratih kembali tergelak.
“Tidak selama itu. Ada yang dua sampai lima tahun. Paling lama sepuluh tahun.”
“Entahlah! Saat ini Alicia sangat berbahagia dengan keluarga kecilnya. Coba nanti kulihat. Berapa tadi? Dua sampai lima tahun? Hmm, Alicia masih sangat menarik. Kupikir aku juga ada di umur yang sangat matang.”
Ratih kembali tertawa sambil memukulnya.
“Aku senang melihatmu tertawa. Walaupun untuk itu harus mengarang lelucon gila....”
Ratih kembali tergelak.
“Well, namanya juga perempuan. Hidup penuh kekhawatiran.”
“Terus terang, kekhawatiranmu sangat overdosis. Tapi bukan berarti tidak bisa dimengerti.”
“Yeah. Seperti kau dan Trauma mu.”
“Hal itu sangat nyata. Apalagi jika kau mengalami dan melaluinya sendiri.”
“Yeah. Aku tahu setiap orang memiliki ketakutan dan keraguannya sendiri.”
“Itu karena mereka tidak ingin melakukan kesalahan yang akan mereka sesali di kemudian hari.”
“Bagaimana perasaanmu saat Alicia menikah?”
“Sudah pasti hubunganku dan Alicia tidak akan seperti sebelumnya.”
“Apakah kau merasa keberatan akan hal itu?”
“Mungkin di saat aku membutuhkannya. Dia tidak selalu ada seperti dulu. Ada keluarga yang harus didahulukannya.”
__ADS_1
“Kau merasa kehilangannya?”
“Mungkin seperti ketika kakak atau adik atau sepupu atau sahabat yang sangat dekat denganmu menikah.”
“Apakah kau berkata sejujurnya?”
Kreshna menganggukkan kepalanya.
“Apa gunanya aku berbohong?”
“Aku bukan menuduh mu berbohong. Tapi kalian tidak memiliki hubungan darah. Kalian juga mantan kekasih. Bisa jatuh cinta kapan saja.”
“Aku sudah mengatakan padamu. Bahwa perasaanku kepadanya sudah berubah. Saat dia mengkhianatiku. Benar-benar menghilang saat aku bertemu denganmu dan mengenalmu. Karena aku terasing dengan keluargaku sendiri. Alicia sudah seperti keluarga yang paling dekat bagiku.”
“Aku sangat senang melihat Marsha dan Raka mereka tampak serasi.” Ratih mengalihkan pembicaraan. Dia tidak suka pembicaraan yang menyangkut Alicia. Entah mengapa, Alicia mengintimidasinya.
“Aku kasihan melihat Pras.”
“Itu karena Pras sahabatmu. Kau tidak lihat bagaimana dia menggoda Tania di kantor dan saat kami menghabiskan waktu bersama di villa keluarga Marsha.”
“Dia menyukai Tania.”
“Tapi dia dan Marsha sudah bertunangan.”
“Seringkali perasaan buta.”
“Tetap saja hal itu tidak adil buat Marsha. Siapa pun tidak akan bisa menerimanya.”
“Mereka tidak ditakdirkan bersama. Itu yang terbaik untuk mereka berdua.”
“Yeah.”
“Mungkin Tuhan berpihak pada Raka. Karena dia yang paling tulus dengan Marsha. Sudah lama menyimpan perasaan kepada Marsha. Menyukainya diam-diam. Dari jauh.”
“Benarkah? Sepertinya kisah mereka sangat romantis.”
“Kurang lebih. Marsha tidak mengenalinya saat mereka berkenalan di acara yayasan Marsha. Walaupun mereka telah kenal lama tapi mereka tidak saling mengenal dengan baik saat itu. Terutama Marsha. Dia tidak terlalu mengenal Raka.”
“Mungkin memang sudah seperti itu jalan takdir mereka.”
“Mereka didekatkan karena menekuni bidang yang sama. Sama-sama patah hati. Marsha patah hati karena Pras menyukai Tania. Sedangkan Raka dikhianati kekasihnya.”
“Marsha dan Tania bersahabat. Nightmare ketika kekasihmu menyukai sahabatmu.”
“Sahabat, saudara kandung, tiri, angkat, sepupu, teman, orang yang kita kenal dengan baik.”
“Yeah. Aku bisa memahami mengapa Marsha memilih memutuskan pertunangannya. Daripada mentolerir perasaan suka Pras pada Tania.”
“Yeah. Seperti menyimpan bom waktu.”
“Yeah.”
“Marsha dan Tania berbeda dengan semua wanita yang dikenal Pras. Sialnya, Tania memiliki banyak persamaan dengan Pras dibandingkan Marsha.”
“Yeah.”
“Pras dan Marsha memang berada dalam dua dunia yang berbeda.”
“Kupikir memang Marsha lebih cocok dengan Raka. Ketika takdir menggores penanya. Kemungkinan memang itu yang terbaik.”
__ADS_1