Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Selandia Baru


__ADS_3

Selesai makan dan mengobrol. Tania bangkit dan mendorong kopernya untuk check in.


“Barangmu sedikit sekali.” Ujar Pras.


“Sisanya dikirim. Aku sampai melewatkan sarapan untuk mempersiapkan barang-barang yang akan  dikirim.”


“Kau sudah ada alamat disana?”


“Aku menggunakan po box.  Sementara aku tinggal di hotel sampai menemukan tempat tinggal.”


“Buat apa sih main rahasia-rahasiaan alamat.”


“Buat apa juga ngorek-ngorek alamat orang? Aku belum ada alamat tetap jadi menggunakan po box lebih praktis. Aku sudah mengatakan mengapa aku merahasiakan alamatku.”


“Ya sudah. Terserah kau.”


“Terima kasih sudah menemaniku makan. Aku harus masuk ke dalam untuk check in.”


“Ok. Take care. I am gonna miss you.”


“I am not!” Sahut Tania enteng.


“Gak usah galak-galak ngomongnya kan bisa.”


“Aku gak mau cari masalah bicara baik-baik denganmu.”


Kontan Pras tergelak.


***


Awan berarak berwarna putih bersih di langit yang biru. Tania merasa lega sudah beranjak meninggalkan Indonesia.


Good bye Indonesia. I will gonna miss you. There are to many memories. I won’t go back. I will choose my own way for my own shake.


Sesampainya di hotel. Tania memeriksa gadgetnya. Whatsapp dari Marsha.


[Apakah kau sudah sampai? Bagaimana Selandia Baru?]


[Baru saja sampai. Sangat menyenangkan. Very fine and cool.]


[Aku senang kau menyukai tempat barumu.]


[Yeah, sure. Ofcourse.]


[Aku harus menghadiri acara amal yayasan. Nanti kita sambung lagi.]


[Yeah.]


Perjalanan selama hampir dua belas jam. Membuatnya ingin beristirahat dan menghabiskan waktunya buat melihat-lihat sekitar hotelnya menginap.


Bermaksud melihat kampus dan tempat kerjanya keesokan harinya. Semua aktifitasnya baru dimulai minggu depan. Sehingga dia memiliki waktu yang cukup untuk berkeliling melihat-lihat tempat penyewaan rumah atau apartement.


Berusaha mencari kediaman yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja dan kampusnya. Bahkan kalau memungkinkan  cukup dengan jalan kaki atau menggunakan sepeda.


Gadgetnya kembali berbunyi. Whatssapp dari Pras.


[Apakah kau sudah sampai?”


[Ya]

__ADS_1


[Kau sudah mencari tempat tinggal?]


[Belum.]


[Kabari ya kalau sudah ada alamatnya. Mau kirim coklat kesukaanmu.]


[Tidak usah.]


[Beda rasa coklatnya di sana dengan di sini. Apa kau juga ingin dikirim makanan Indonesia?]


[Tidak usah]


[Aku kirim ke po box gimana?]


[Ok]


Tania memberikan nomor po boxnya. Makanan Indonesia dan coklat kesukaannya memang dua hal yang sulit ditolak. Kemungkinan dia tidak akan menemukan keduanya disini. Kalau pun ada, rasanya memang akan berbeda.


Whatssapp dari Diah.


[Hari ini aku menggantikanmu bekerja kembali dengan Ratih. Cek email ya. Ada yang harus kukonfirmasi denganmu. Ada yang ingin aku tanyakan juga secara aku tidak memahami akutansi dan finance. Pak Pras berencana ingin menguliahkanku akutansi.]


Tania mengecek emailnya. Mulai mengetikkan jawabannya. Membuka file yang dibutuhkan. Membalas pertanyaan Diah seputar pekerjaan akutansi. Mengajarkannya membaca laporan keuangan dan membuat ringkasan.


Setelah selesai. Membalas whatssapp Diah.


[Aku sudah membalas emailmu. Plis cek ya...Kupikir bagus ide  Pras menguliahkanmu akutansi. Kau akan lebih mudah memahami pekerjaanmu.]


[Dia menawari Ratih tapi Ratih menolak karena lebih menyukai pekerjaan administrasi. Selama ini yang membantunya mengurusi masalah keuangan perusahaan memang aku. Hanya saja aku hanya berbekal kursus perkantoran. Diploma dua.]


[Yeah, sebaiknya kau memang melanjutkan pendidikanmu.]


[Yeah, thanks]


Dia memutuskan keluar hotel untuk berjalan-jalan. Selandia Baru sangatlah indah. Dia berencana ingin menghabiskan liburannya di pedesaan jika sudah menemukan tempat tinggal.


Astaga, aku belum memulai apa pun. Sudah memikirkan liburan. Tania tertawa kecil.


Sepertinya  sesampainya di Selandia Baru membuatnya ingin mengeksplorasi keindahan negara tersebut. Jangan-jangan meneruskan pendidikan dan bekerja disini hanya sebagai modus untuk menikmati keindahan negara ini.


Negara yang tidak hanya sejahtera tetapi juga nyaman, aman, damai dan tentram.


Negara kedua paling aman di dunia berdasarkan Global Peace tahun 2022. Jumlah penduduknya cuma lima juta orang.


Walaupun New Zealand bukan negara muslim tetapi mereka memiliki sertifikat halal untuk masyarakat muslim minoritas di sana. NZIDT, New Zealand Islamic Development Trust. Sertifikasi yang paling dipercaya dan diakui MUI. Seringkali yang jadi kendala bagi masyarakat minoritas muslim ketika berada di negara non muslim adalah masalah kehalalan makanan.


Mungkin bagi mereka non muslim sekedar halal sudah cukup bahkan jika dicampur yang haram atau dimasak dalam peralatan yang sama tidak ada masalah. Sedangkan hal tersebut sangat berbeda dengan masyarakat muslim walaupun mereka minoritas terutama yang konsisten dengan ajaran agama mereka. Karena ada juga yang tidak konsisten dan tidak mempermasalahkan mengkonsumsi yang haram. Kadang jika tidak disikapi bijaksana hal ini bisa menjadi polemik karena dianggap mewakili Islam dan kaum muslimin secara keseluruhan. Sertifikasi halal adalah jalan tengah dari semua kerumitan ini. Menengahi antara mereka yang konsisten dengan yang tidak konsisten atau non muslim.


 Tania juga bermaksud mengunjungi Hobbiton Village. Melihat Bag End, tempat tinggal Bilbo Baggins,  salah satu tokoh di The Lord of The Rings and The Hobbits.


Jika di Amerika ada suku Indian. Australia, Aborigin sedangkan di New Zealand ada suku Maori. Nenek moyang mereka berasal dari Polenesia bermigrasi ke Selandia Baru seribu tahun yang lalu.


Tania bermaksud mengunjungi The Heritage Reigion of Waikato, Hamilton. Wilayah Waikato memiliki arti yang penting  bagi orang Maori di Selandia Baru. Museum ini menampilkan semua artikel yang berhubungan dengan warisan, budaya dan sejarah wilayah ini. Di museum ini pula terdapat kano berumur 900 tahun.


Selandia Baru dengan berbagai keindahan dan keharmonisan di sana merupakan harapan baru bagi Tania untuk menjalani hidup barunya.


Gadgetnya kembali berbunyi.


[What's up New Zealand?]

__ADS_1


[Very beautiful and gorgeus]


[I hope I can fly over there.]


[Ayok kalau mau ke sini. Kutunggu!]


[Tiket pesawatnya ...]


[Aku bayarin tapi gak usah bilang-bilang yang lain.]


[Bener nih?]


[Iya. Kapan mau ke sini]


[Secepatnya!]


Tania mengirim gambar tertawa dan menuliskan [Ok!]


[Udahan dulu, nanti disambung lagi, banyak kerjaan.]


[Ok!]


Senyum Tania mengembang. Membayangkan Ratih mengunjunginya membuat hatinya senang. Dia bukan bermaksud pilih kasih dengan teman-temannya. Tetapi dia tidak ingin Pras mencium keberadaannya. Ratih bisa memegang rahasianya. Karena terbukti selama rentang waktu sebelum dia dan Marsha tahu siapa kekasih Marsha. Ratih sudah mengetahui tentang mereka berdua dan bisa menyimpan rapat semuanya. Sampai mereka menemukan sendiri kebenaran yang harus mereka ketahui.


Persahabatannya dengan Marsha adalah segalanya juga selamanya.


Mereka bisa menghabiskan liburan mereka ke pantai atau snorkling jika menyelam terlalu sulit. Walaupun memang sepertinya lebih seru menyelam daripada snorkling. Daripada tidak sama sekali.


Menyelam tidak semudah yang dilihat. Tidak semua orang bisa melakukannya.


Selandia Baru sendiri negeri dengan empat musim. Di musim dingin cuaca bisa mencapai satu sampai dengan lima belas derajat celcius. Juga banyak ditemukan gletser.


Sepertinya dia akan sangat menyukai Selandia Baru dan kemungkinan memang akan menetap di sana selamanya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2