Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Cinta


__ADS_3

Walaupun kerap bergonta ganti kekasih. Nyaris bertunangan Dan menikah. Tetapi merasakan cinta yang sesungguhnya baru kali ini.


Apakah aku penasaran atau jatuh cinta? Kreshna menepis argumennya bahwa dia jatuh cinta pada Tania. Saat meminta maaf karena konsentrasinya bekerja kerap terganggu karenanya.


“Kau itu buaya. Mana mungkin jatuh cinta? Kau itu cuma penasaran dengan Tania. Sangat acuh dan dingin. Tidak menanggapimu. Membuat kau penasaran.”


“Bukan penasaran. Aku biasa mengejar wanita karena penasaran. Tapi kali ini sangat berbeda.”


“Jelas saja beda. Dia tidak mau kau mangsa! Tidak usah cari alasan. Kembali konsentrasi bekerja. Aku akan mengawasi serta mengevaluasi kalian langsung. Ratih akan membantuku selama aku di kantor cabang.”


“Jika kau mengambil Ratih. Bagaimana pekerjaanku?”


“Kau kan ada Diah.”


“Diah berbeda dengan Ratih dan Tania. Tidak bisa membantuku meringankan pekerjaanku.”


“Aku tidak mau tahu. Pekerjaanku tiga kali lebih banyak dan berat darimu. Kau hanya mengurus kantor cabang sedangkan aku kantor pusat serta dua kantor cabang. Jika Tania masih bekerja dengan kita. Aku bermaksud membuka satu kantor cabang lagi yang dipimpin langsung olehnya.  Tapi dia sudah mengundurkan diri. Aku pikir sebaiknya dipending. Fokus mengatasi yang ada di depan mata dulu.”


“Kau dan Ratih apa kalian berpacaran?”


“Kau kan aku dan dia seperti kau dan Marsha. Pertunangan kamu gagal. Hanya saja Ratih tidak menikah dengan orang lain. Mungkin belum.”


“Aku dan Marsha karena ada Tania di tengah kami berdua. Sedangkan kalian berdua. Aku tidak melihat alasan mengapa kalian tidak bersama? Ratih tidak hanya bisa mengisi hidupmu tapi juga pekerjaanmu. Pasangan yang ideal dan sempurna.”


Sementara itu Tania sangat menikmati kesehariannya bersama dua orang teman, Maryam dan Kamila.


Mereka kerap berbagi tugas rumah bahkan meluangkan waktu bersama di sela-sela kesibukan mereka.


Tania pulang ke rumah pukul sebelas lewat tiga puluh malam. Setelah menyelesaikan pekerjaan freelancenya.


Maryam dan Kamila masih menghabiskan waktu mereka di ruang keluarga menonton televisi dengan lap top masing-masing.


“Kalian belum tidur?” Tanya Tania.


“Masih mengerjakan tugas.” Jawab keduanya nyaris bersamaan.


“Aku bawa bagelen dan jus buah. Kita ngemil dulu sambil ngobrol.” Tawar Tania pada teman-temannya, “aku juga membeli beberapa buah crossing dan donat yang dijual di Supermarket yang sama.”


Kamila ke dapur membuat tiga buah kopi duren.


“Cemilan dengan kopi duren dari Malaysia yang dibawa Maryam.”


“Yeah.” Sahut Tania berbinar senang.


Mereka menikmati snack tengah malam mereka sambil menyesap kopi duren yang terasa sangat nikmat.


“Jam snacking kita. Jam pocong.” Kontan ketiganya tergelak.


“Bisa gendut kalau hal ini menjadi kebiasaan kita.”


“Hormon kita seimbang. Metabolisme kita sempurna. Kupikir sampai duapuluh tahun mendatang kita masih aman.” Ujar Kamila mencomot croissant yang berisi sausages di dalamnya.


 “Aku memakan apa pun yang aku bisa tapi kau benar, timbanganku tidak bergeser naik.” Sahut Maryam mengambil sebuah donat topingnya dicelup coklat serta ditaburi kacang.


“Entahlah! Aku justru merasa stunting di tengah kesibukan serta pembakaran energi yang sangat fantastis.” Sambung Tania yang disambut Tawa teman-temannya.


“Apakah kau dan Darren berpacaran, Tan?” Tanya Kamila tanpa tedeng aling-aling. Tania nyaris tersedak.


“Tentu tidak. Kami hanya berteman. Aku dan Darren beda agama, kultur, jurusan, masih banyak perbedaan lainnya.”


“Termasuk beda kelamin.” Kontan mereka semua tertawa.

__ADS_1


“Entahlah. Aku belum memikirkan relationship. Kau tahu bagaimana kesibukanku. Kupikir aku akan melamar pekerjaan dan kuliahku as my life partner.” Keluh Tania dengan mimik lucu membuat kedua temannya tertawa.


“Entahlah. Jika kau menikahi pekerjaan dan kuliahmu apakah kau termasuk fetish atau tidak.”


“Mereka termasuk benda bukan?”


“Yeah, sama seperti gadget dan lain sebagainya.”


“Kau sering sekali menghabiskan waktu bersama Darren di sela waktu luangmu.”


“Minat kami sama. Sejarah. Selera menonton kami juga sama. Refreshing.”


“Yeah, otakmu akan meledak jika kau hanya bekerja dan belajar.”


“Burnt out mungkin maksudmu.”


“Yeah, what ever.”


Telephone rumah mereka   berdering dan spontan Kamila menerimanya dan menyerahkannya pada Tania.


“Your friend.”


Tania menerima telepon yang diangsurkan kepadanya.


“Kau belum tidur?”


“Astaga! Pras. Ada apa kau menelponku tengah malam buta begini?”


“Kau tidak membalas whatsappku.”


“Tidak ada yang penting di whatsappmu.”


“Apa?”


“Kalau tidak mengganggu.”


“Email saja aku.”


“Baiklah. Bagaimana kabarmu?”


“Baik.”


“Kau tidak menanyakan kabarku?”


“Pasti baik. Kalau tidak, mana mungkin kau menelponku.”


Pras tertawa di seberang telepon.


Kamila dan Maryam berpamitan untuk tidur dengan memberikan isyarat tangan. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Tania menganggukkan kepalanya.


“Kemungkinan Kreshna akan merekrutmu bekerja secara online. Pekerjaan lepasan. Dia tidak puas dengan pekerjaan aku dan Diah. Ratih akan diperbantukan bekerja dengannya selama dia bekerja di kantor cabang seperti waktu itu.”


“Kupikir aku benar-benar akan menikahi pekerjaanku.”


“Yeah, gak apa-apa kan. Nanti dapat bonus aku.”


“Maksudmu selain beban pikiran aku dapat beban hidup juga?”


“Apa maksudmu beban hidup?”


“Kau tidak bisa berkomitmen. Suka berganti-ganti pasangan. Apa namanya kalau bukan beban hidup?”

__ADS_1


“Aku akan berubah untukmu.” Rayu Pras.


“Gombal! Tidak ada orang yang bisa berubah untuk siapa pun kecuali mereka sendiri yang mau berubah.”


“Kau bisa pegang kata-kataku. Aku merasa kau berbeda dengan yang lainnya.”


“Aku tidak berani spekulasi. Aku bukan spekulan.”


Pras kembali tergelak. Beban hati dan pikirannya menguap begitu mendengar suara Tania.


“Kau tidak merindukanku?” Tanya Pras tanpa tedeng aling-aling.


“Buat apa aku merindukanmu. Apa untungnya buat aku?”


Pras kembali tergelak.


“Mentang-mentang jurusanmu akutansi dan keuangan. Semua harus ada untung ruginya.”


“If we want a simple life. Focus to what make we have adventages and avoid the lost.”


“Yeah. Memilikimu sama saja dengan memiliki masa depan yang cerah dan membahagiakan.”


“Sedangkan memilikimu sama saja menanam duri dalam kehidupan. Menanam sakit hati. Panen kecewa dan amarah.”


Pras kembali tergelak.


“Kau tertawa terus dari tadi padahal gak lucu.”


“Buatku lucu jika kau yang berbicara. Aku nyaris mati dilindas rindu karena kau tidak mau membalas whatsappku. Tidak mau menerima teleponku.”


“Saat ini aku memangnya aku sedang apa?”


“Kau memang sedang menelponku tapi sebenarnya kau enggan kan?”


“Aku tidak ingin memikirkan yang lain selain pekerjaan dan kuliah.”


“Jangan terlalu berambisi nanti kau tidak memiliki suami.”


“Jika aku memiliki suami. Apakah dengan kesibukanku. Aku bisa mengurusnya”


“Pilih saja aku. Kita akan banyak meluang waktu bersama dalam pekerjaan dan segalanya. Masalahmu tentang suami sudah teratasi bukan?”


“Kau tahu satu masalah dimulai karena apa?”


“Apa?”


“Salah memilih suami.”


“Apa maksudmu?”


“Jawab sendiri. “ Ujar Tania.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2