Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Surprise?


__ADS_3

Begitu pesawat mendarat. Kreshna menuju hotel tempatnya menginap. Hotel tersebut letaknya berdekatan dengan kontrakan Ratih.


Kreshna membuka pintu kamarnya. Jendela kamar hotelnya menghadap rumah kontrakan Ratih yang berada tepat di seberang jalan.


Rumah Ratih tampak lenggang. Pintu pagarnya tertutup rapat dengan gembok terpasang di luar. Sepertinya, Ratih masih berada di kantor. Sibuk bekerja.


Meletakkan kopernya di samping lemari. Menaruh tas ransel canvas serta sling bagnya ke tempat tidur. Merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Matanya terasa mengayun dan tertidur sangat lelap.


Di dalam mimpinya Ratih tidak seperti biasanya. Matanya berbinar. Wajahnya penuh kerinduan. Tidak ada sorot dingin apalagi acuh atau gengsi.


Bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat manis. Matanya mengerling nakal. Astaga!


Mengapa Ratih berubah sangat drastis. Membuat jantungnya berdetak cepat. Tidak hanya sampai disitu. Ratih berjalan mendekatinya.


Sebentar… Dia lupa mengatakan bahwa Ratih mengenakan pakaian setengah terbuka. Tangtop. Baju kausnya sangat ketat. Membungkus tubuhnya yang langsing. Menggantung memperlihatkan pusarnya.


Kulit mulusnya terpampang begitu saja. Menampakkan otot-otot perut halusnya.


Jantungnya semakin berpacu dengan kencang. Karena tubuh Ratih semakin mendekat kepadanya. Rok mini yang menampakkan paha mulusnya. Membuatnya menjadi semakin gugup. Kaki putih jenjangnya menampakkan urat betisnya yang tampak seperti padi bunting.


Kreshna menelan ludahnya. Jantungnya tidak mau kompromi sama sekali. Sekarang, bahkan bulir-bulir keringat membasahi keningnya.


“Kau kenapa?”Tanyanya dengan gugup. Ratih berjalan semakin mendekat. Tubuhnya menguar bau parfum yang sangat harum.


“Kau yang kenapa?” Sahut Ratih. Berjalan semakin mendekat. Melingkarkan kedua tangannya di lehernya. Tubuhnya  berjinjit. Wajah ovalnya yang ditopang leher jenjangnya  berusaha menggapai bibirnya.


“Kau mau apa?” Tanyanya gugup.


“Kau pikir apa?”


“Tapi kita belum menikah. Kau selalu tidak mau melakukannya sebelum menikah.”


Ratih memejamkan matanya. Mengabaikan ucapan Kreshna. Tubuh Kreshna menggigil . Dirinya terbangun. Telepon dari Pras.


“Sialan!” Makinya kesal.


“Kau kenapa sih? Menerima telepon marah-marah?”


“Bagaimana aku tidak marah kau menggangguku dan Ratih.”


“Apa maksudmu mengganggumu dan Ratih?”


“We are going to make out but you are running everything!”


“What? Ratih ada di depan hidungku. Ratih mana maksudmu?”


“Ratih mana lagi? Memang ada Ratih lain?”


“Astaga! Kau bermimpi di siang bolong?” Kontan Pras tertawa terbahak nyaris perutnya kram.


“Ssstt...Jangan keras-keras tertawanya. Awas kalau sampai Ratih tahu! Kupiting lehermu.”


Tawa Pras semakin keras.


“Ada apa Pras?” Terdengar suara Ratih bertanya pada Pras.


“Gak ada apa-apa. Teman lama melawak.” Lanjutnya menghabiskan sisa tawanya.

__ADS_1


“Aku tidak ingin dia berpikir bahwa aku berpikir hal mesum tentangnya.”


“Memang seperti itu kan?”


“Ya, tapi aku tidak ingin dia tahu. Aku tidak ingin dia malu atau marah padaku.”


“Yeah. Dia akan mematahkan lehermu jika tahu…” Pras kembali tergelak.


“Mengapa kau menelponku. Mengganggu tidurku?”


“Membuyarkan mimpi indahmu.”


“Sort of…”


“Kau sudah dimana?”


“Kau menelponku hanya ingin bertanya aku dimana?” Tanya Kreshna dengan geram.


“Memang aku tidak boleh tahu kau berada dimana?”


“Kau bertanya pada saat yang tidak tepat. Kau benar-benar keterlaluan!”


“Sudahlah! Jangan marah-marah terus!”


“Apa sih maumu? Bikin orang keki aja!”


“Baiklah. Lanjutkan tidurmu! Buat mimpi yang lebih indah lagi. Sehingga kau tidak uring-uringan seperti ini.”


Kreshna berusaha memejamkan matanya kembali. Tetapi sia-sia. Rasa kantuknya menghilang serta menguap begitu saja.


Kreshna mengangkat telepon kamar memesan room service.


“Pan Seared Goose Liver, Oven Roasted Duck, Chef Schnitzel, Bockwurst Sausage and Baked Macaroni. Balsamic Salad, Tomato Soup, Fresh Raspberry Lemonade dan Tiramisu Classic.”


Kreshna menyalakan televisi. Membuka minibar. Mengambil potato chips  dan soft drink sambil menunggu pesanannya.


Kreshna memakan makanannya seorang diri. Pada saat seperti ini. Dirinya kerap merasa kesepian. Menikmati semuanya seorang diri. Tetapi apa pilihannya?


Tidak ada yang bisa melangkah ketika keraguan kerap menyelimuti. Segala sesuatu memiliki waktunya masing-masing.


Jika saatnya sudah tiba. Maka semuanya akan terbuka begitu saja. Setidaknya, itu yang dia lihat apa yang terjadi pada Alicia.


Saat ini, Alicia tengah berbahagia menantikan kelahiran buah hatinya. Semua seperti berlalu begitu saja. Seperti tidak saling berkaitan apa yang terjadi saat ini dengan yang sudah berlalu.


Tentu akan ada masanya. Dia juga akan merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan Alicia.


Selesai menghabiskan makanannya. Kreshna bermaksud membersihkan dirinya. Tubuhnya terasa lebih segar setelah mandi.


Mencukur bulu-bulu yang mulai tumbuh di wajahnya. Dia memilih berpenampilan  klimis. Membuatnya merasa lebih rapi juga bersih serta percaya diri.


Apalagi hari ini, dia berencana untuk mengundang Ratih makan malam. Sambil memberikan hadiah-hadiah yang sudah dibelinya.


Jika apa yang dilakukannya dianggap love bombing. Dia dan Ratih sudah mengenal lama. Dalam rentang waktu tersebut. Perasaan serta sikapnya tidak berubah sama sekali. Sedangkan love bombing adalah istilah terhadap luapan perasaan sesaat. Menghilang begitu semakin mengenal dengan intents. Tetapi tidak demikian hubungannya dengan Ratih.


Setiap detiknya, dia merasakan bahwa perasaannya kepada Ratih semakin tumbuh subur. Tersemai. Walaupun hubungan mereka dibangun di tengah keraguan serta ketidakpastian. Tetapi apa yang mereka rasakan nyata dan sejati.


Masih mengenakan kamar jas. Kreshna membuka lap topnya. Memeriksa pekerjaannya. Memesan room service. Memesan secangkir kopi dengan sepiring chocolate cookies.

__ADS_1


Kreshna bekerja sambil menyesap kopinya. Bekerja adalah keajaiban dalam hidupnya. Selain mengusir sepi. Membuatnya menjadi hidup. Waktu terasa berlalu sangat cepat saat dia menenggelamkan diri pada pekerjaannya.


Secara finansial. Dia sudah sangat siap menikah. Secara batin juga demikian. Tetapi secara psikologis. Trauma masih kerap membayanginya. Dia mengalami sendiri pahitnya dampak dari  kegagalan pernikahan kedua orang tuanya. Dan dia tidak ingin hal itu terjadi pada darah dagingnya. Kedua orang tuanya bukan bermaksud menorehkan luka pada hidupnya. Mereka hanya tidak tahu rasanya terasing, terpinggirkan serta terbuang begitu saja.


Jika mereka mengetahuinya. Seperti yang dirasakannya nyaris sepanjang hidupnya. Mereka tidak akan gegabah dalam menjatuhkan perasaan mereka. Memilih pasangan hidup mereka. Memastikan apakah semua akan baik-baik saja? Berlangsung selamanya atau hanya sesaat. Seperti gadis korek api yang memantik api untuk kehangatan semu. Yang mungkin tidak pernah ada. Hanya sebatas pikiran serta imajinasi.


Dia adalah imajinasi yang hidup dari imajinasi cinta serta harapan kedua orang tuanya yang tidak pernah terwujud dalam dunia nyata. Dalam kenyataannya, dia adalah kesalahan yang tidak bisa dihapus.


Tidak terasa hari beranjak sore. Dia menunaikan sholat asharnya. Setelah itu mengganti pakaiannya dengan kaus dengan celana pendek.


Kembali tenggelam pada pekerjaannya. Detik demi detik kembali berjalan dengan cepat. Tanpa terasa adzan Maghrib menyapa. Membuatnya menghentikan pekerjaannya serta bergegas untuk menunaikan sholat Maghribnya.


Kreshna membuka botol air mineral yang disediakan hotel. Serta menenggak isinya hingga setengah.


Pikirannya kembali terasa segar. Jam kembali bergulir dengan cepat. Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kreshna bangkit menuju jendela memeriksa apakah pagar  serta lampu rumah Ratih sudah menyala.


Kreshna mengambil gadgetnya. Memencet sebuah nomor yang sudah sangat dihafalnya.


“Kau sudah pulang?”


“Baru saja. Sekitar sepuluh menit.”


“Aku ingin mengajakmu makan malam.”


“Haruskah malam ini?”


“Sebentar saja. Lagi pula kau sendiri belum makan kan?”


“Yeah. Baiklah.”


Kreshna bergegas menjemput Ratih. Ratih tampak terkejut dengan kemunculan Kreshna yang secepat kilat.


“Cepat sekali. Kau sedang berada di sekitar sini?”


“Aku menginap di seberang kontrakanmu.”


“Astaga! Pantas saja.”


“Baiklah, kita tidak usah membuang waktu. Supaya kau cepat beristirahat.”


Ratih menganggukkan kepalanya . Mengikuti langkah kaki Kreshna.


Sesampainya mereka di restaurant. Kreshna memesan makanan serta minuman untuk mereka berdua.


“Kau tunggu di sini ya? Ada sesuatu yang ingin kuambil untukmu.”


“Baiklah.” Ujar Ratih setengah menguap.


Kreshna berjalan menjauhi Ratih menuju lift. Bermaksud ke kamarnya mengambil hadiah-hadiah yang sudah dipersiapkan untuk Ratih.


Sambil membawa barang-barang yang dibawanya dari kamarnya. Kreshna bergegas turun menuju restaurant tempat Ratih menunggunya.


Wajah Kreshna tertegun karena melihat Ratih sedang tertidur nyenyak di atas meja makan.


“Surprise?”


... ...

__ADS_1


__ADS_2