
"Ahh ya Tuhaaann...aku kesiangan!!" pekik Milea saat tersadar dari alam mimpinya. Dia juga hampir berteriak frustasi ketika melihat jam dinding dan mendapati jarum jam yang sudah menunjukkan angka sembilan. Sesiang inikah hingga dia sama sekali tak ingat waktu bangun? untung saja dirinya berada di rumahnya sendiri. Tidak menumpang dirumah mertua atau kediaman orang tuanya hingga tak peduli pada omelan mereka. Tapi.....ini rumah suaminya bukan? entah apa pandangan Rafael padanya sekarang. Apalagi pria itu seperti sengaja tak membangunkannya. Ahh...Milea pusing memikirkanya. Dengan langkah seribu, mengabaikan rasa perih diantara kedua pahanya si wanita muda menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Dalam hati berdoa, semoga Rafael sudah berangkat bekerja hari itu agar dia tak salah tingkah, setidaknya hingga nanti sore sepulang suaminya bekerja.
Milea mengigit bibir bawahnya saat mengusapkan sabun disekujur tubuhnya. Tiba-tiba bayangan akan ganasnya perlakuan Rafael padanya melintas tanpa diminta. Suaminya itu bahkan berubah seperti singa jantan yang menyerangnya tanpa henti, seolah ingin mencabik seluruh tubuhnya tanpa sisa. Senyuman itu nampak semakin lebar kala mengingat berkali-kali lelakinya membisikkan kata cinta juga meneriakkan namamya saat pelepasan tiba. Sungguh, Milea sangat bahagia. Jika ada wanita yang paling berbahagia hari itu maka Milea adalah salah satunya.
Milea segera menyambar kimon mandinya lalu keluar dari kamar mandi. Dia bahkan melenggang menuju walk in closed tanpa menoleh dengan kimono yang belum terpasang dengan benar, membiarkan sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan lapar.
Dres pendek tanpa lengan menjadi pilihannya pagi itu. Milly sama sekali tak ada keinginan keluar dari kamar karena tubuhnya terasa capek. Dia akan turun untuk makan lalu kembali rebahan hingga suaminya pulang bekerja nantinya. Milea tertegun saat mendapati Rafael sudah duduk santai di sofa kamar saat dia kembali. Berbagai pertanyaan bergelayut dalam dirinya.
"M..mas Rafa tidak bekerja?" tanyanya salah tingkah sambil berjalan mendekatinya. Rafael tak menjawab, hanya gerakan tangannya yang memberi isyarat agar istrinya duduk disebelahnya.
"Mas..."
__ADS_1
"Apa semalam terlalu nikmat hingga kau lupa jika ini hari minggu sayang?"
.....blusssshh.....
Wajah Milea memerah karenanya. Rafael tersenyum tipis melihat istrinya salah tingkah.
"Minumlah." Milea sedikit terkejut saat suaminya menyodorkan susu coklat hangat kesukaannya. Lambat dia akan menerimanya, namun Rafael sedikit menjauhkan tangannya agar Milea tak mengambilnya, tapi kembali menyodorkanya ke bibir sang istri sebagai isyarat agar Milea minum dari tangannya. Milea salah tingkah, namun mau tak mau meminumnya hingga tandas. Dia memang amat haus seperti dehidrasi.
"Ini rumahmu nyonya Rafael. Kau bisa bangun semaumu juga bertindak sesukamu disini. Tak ada yang akan melarangmu termasuk aku." lirih Rafael sambil mencium pipi kiri istrinya lembut. Milea kembali tersipu malu dan menundukkan kepalanya. Ternyata begini rasanya jadi istri yang dicintai suami.
"Mau sarapan?" tawar Rafael kembali dengan sikap romantis menurut Milea. Samar si wanita menganggukkan kepalanya, membuat Rafael bergegas meraih ponselnya untuk menelepon bi Desi agar mengantarkan sarapan pagi yang terlambat ke kamar.
__ADS_1
"Untuk apa sarapan di kamar mas? Kita tak sedang sakitkan?" Tanya Milly kembali dengan nada polos yang membuat Rafael gemas dan mencubit pipi istrinya.
"Tidak, tapi aku tak ingin tubuh bidadariku dilihat pak mun atau penjaga diluar sana." Milea baru menyadari pakaiannya. Memang besar kemungkinan dia akan bertemu pengawal atau pak Mun yang biasanya berada di area dapur karena butuh sesuatu.
Bi Desi dan seorang pelayan datang membawa nampan lalu memasuki kamar setelah Rafael membuka pintu. Kedua pelayan itu segera undur diri setelah menata makanannya di meja. Milly menyendokkan nasi di piring tanpa diperintah, satu untuknya, satu lagi untuk Rafael yang kembali setia duduk disampingnya.
"Sayang, jangan beri sambal terlalu banyak. Perutku akan terasa tak enak nanti."
......Bluuusshh....
Pipi Milea memerah lagi. Panggilan sayang itu...kenapa terasa....aaahh...membuatnya ingin terbang??? terdengar sangat indah dan menyejukkan. Milly jadi ingin selalu mendengarnya setiap saat. Ya Tuhaaann...babang Rafa sudah membuatnya klepek-klepek hanya dengan satu kata.
__ADS_1