Love You More, Husband

Love You More, Husband
Pantai


__ADS_3

Hari minggu yang amat cerah. Sepasang muda-mudi berjalan lambat sambil bergandengan tangan diatas pasir halus dengan kaki telanjang mereka. Si wanita terlihat cantik walau tertutup hijab modern berwarna dusty pink yang senada dengan setelan bajunya. Sebuah topi lebar khas pantai dan kaca mata hitam membuatnya tampil sangat anggun hari itu. Disampingnya, seorang pria blasteran yang amat tampan dengan kulit pucatnya terlihat mempererat tautan tangan mereka saat kembali berjalan menyusuri pantai yang tak begitu ramai. Lihatlah bagaimana pria itu membuat banyak pasang mata terpesona oleh ketampanannya.


"Apa kau ingin minum?" tanyanya sambil menunjuk pada penjual kelapa muda yang berada disekitaran sana. Si gadis yang adalah Milea mengangguk ragu. Sungguh dia takut tak bisa menghabiskannya karena bentuknya yang terlihat besar. Tapi Rafael sudah mengajaknya mendekat lalu memesannya tanpa banyak bertanya. Milly yang awalnya takut tak habis saat meminumnya jadi menghabiskannya saat merasakan kesegaran air kelapa bercampur es batu yang masih berada dalam cangkangnya. Demikian pula Rafael yang juga langung menghabiskan pesanannya. Mereka berdua memutuskan duduk tak jauh dari sana sambil menikmati deburan ombak.


"Kau suka?" Milea mengangguk senang. Ini pertama kalinya dia pergi ke pantai bersama sang suami. Selain kecintaannya pada pantai, Milea juga punya banyak kenangan di tempat yang bernama pantai itu. Wanita muda itu memilih duduk di pasir putih yang terasa hangat karena merasa lebih nyaman berada disana. Milea tersipu saat sang suami malah menempatkan dirinya dibelakang tubuh rampingnya dan memeluknya dari belakang tanpa rasa canggung sedikitpun. Rafael bahkan menempatkan dagunya pada pundak kanannya mesra. Siapa yang mengira mereka adalah hasil perjodohan jika melihat pemandangan itu? siapa juga yang menyangka jika mereka masih berada ditaraf penjajakan? Tak ada yang tau. Semua tertutup sempurna dengan kemesraan yang mereka ciptakan.


"Apa kau ingat mama?" Milea menoleh saat Rafael menanyakannya. Kenapa pertanyaan itu tepat sasaran? Padahal dia tak pernah bercerita pada suaminya. Ya, pantai memang selalu membuat Milly ingat mamanya, almarhumah dokter Maya yang memang sering mengajaknya berlibur ke pantai. Tak seperti Leon dan papanya yang lebih memilih main golf atau memancing dihari libur. Milea mengangguk lemah.


"Sayang, aku membawamu kesini agar kau senang..bukan malah bersedih. Pasti mama akan ikut bahagia karena tau putri cantiknya datang ke pantai bersama suaminya." Hati Milea menghangat. Rafael benar-benar banyak berubah. Entah kenapa dia menjadi sangat romantis dan jadi perayu sekarang.


"Aku senang mas. Sangat senang." ucap Milea lirih, membuat Rafael mengeratkan pelukannya.


"Dari mana mas Rafa tau jika aku suka pantai?" tantu Milea harus menanyakannya. Dia dan Rafa tak sebegitu dekat hingga pria itu tau segalanya.


"Kau lupa jika Leon adalah sahabatku heemmm?? Jadi aku tinggal bertanya padanya. Dia akan langsung menjawabnya dengan jujur termasuk kebiasaanmu yang tak bisa tidur dengan baju dalam." bisik Rafa sambil mengigit kecil telinga Milea yang terbungkus kain hijab. Tubuh Milea menegang. Kenapa Leon harus menjelaskan sedetail itu?


"Itu tidak benar mas." Elak Milly hingga membuat Rafa menarik bibirnya, tersenyum lucu.


"Itu benar sayang. Tapi sungguh aku menyukainya." bisik Rafa untuk yang kedua kalinya. Milea kembali menunduk malu. Leon benar-benar keterlaluan walau yang dikatakannya benar. Milly akan sangat merasa risih jika masih memakai pakaian dalam saat akan tidur.

__ADS_1


"Apa lagi yang kakak katakan?"


"Banyak hal." balas Rafael pendek. Milly menoleh kearahnya karena rasa ingin tau. Tapi kesempatan itu tak disia-siakan Rafael untuk mengecup bibir merah istrinya sekilas.


"Kau mau tau?" Mata Milly mengerjab. Wajah mereka bahkan masih tak berjarak hingga dia malu untuk sekedar menjawab.


"Kalau begitu ayo!!" Rafael menarik tangannya agar berdiri.


"Kemana mas? Kitakan mau melihat pantai?" tanya Milea penasaran tapi tak urung mengikuti langkah suaminya.


"Disana ada penginapan sayang. Kita akan kesana." Rafael menudingkan jarinya ke arah resort mahal yang berdiri tak jauh dari pantai. Terlihat mewah dan wah. Milly tau kisaran harganya bisa membuat dompet orang biasa mengalami malaria. Dia yang anak pengusaha saja belum pernah menginjakkan kakinya disana.


"Menjawab pertanyaanmu." jawab Rafael enteng tanpa rasa berdosa.


"Tinggal menjawab saja...kenapa mesti kesana segala?" Rafael langsung memegang kedua pundak Milea dan menatap istrinya dalam.


"Karena kau yang bertanya pada Leon apa aku ini pria normal atau bukan. Bukankah aku harus menjawabnya di dalam sana Milly?" Leooooonnn...lagi-lagi Leon!!! Kenapa kakaknya itu malah jadi semenyebalkan sekarang?


"Itu...itu tidak perlu mas. Kita sudah beberapa kali melakukannya. Kau...kau normal." jawab Milea terbata hingga Rafael dibuat tertawa lebar karenanya.

__ADS_1


"Tapi jika kau masih meragukannnya, aku masih bersedia membuktikannya sayang."


"Ti...tidak mas!" kembali wanitanya terbata diserang kegugupan.


"Hmmm...baiklah jika kau sudah percaya. Lagi pula aku juga masih harus berpikir dua kali untuk masuk ke dalam sana dengan kondisi Abimana yang masih butuh diperjuangkan." Milea memeluk tubuh tegap suaminya tanpa rasa canggung sedikitpun. Mengapa melihat sorot Rafael yang berubah sendu membuat hatinya ikut pilu??


"Jangan bicara begitu mas. Tanpa kesanapun aku akan tetap memberikan hakmu." Kali ini Rafael tersenyum puas dan segera membalas pelukan istrinya.


"Teruslah berada di sisiku hingga maut memisahkan Milea. Nanti setelah Abimana sedikit lebih baik, aku akan mengajakmu kesana."


"Itu pasti. Mas Rafa harus bekerja keras karena aku akan minta menginap ke


disana dua pekan sekali." sambut Milea dengan wajah berapi-api. Rafael tau istrinya hanya menyemangatinya. Milly tak pernah suka menginap ditempat semahal itu. Wanitanya sangat cermat dalam urusan keuangan.


"Suatu saat aku akan menagih janji itu sayang." dan Milea tanpa malu berjinjit mengecup pipi kanan suaminya tanpa menyadari sebuah kamera sudah membidik mereka dari jarak lumayan dekat. Tak tanggung-tanggung, orang itu bahkan mengambil video dan mengirimkannya pada seseorang yang langsung menghubunginya. Terpaksa dia menjauh, membiarkan seorang temannya tetap bertugas mengamati pasangan pengantin baru tersebut.


"Ya, nyonya...." ucapnya sopan. Telinganya mendengarkan tiap pertanyaan seseorang diseberang sana dengan penuh kesiagaan, takut melewatkan sesuatu yang mungkin sangat penting.


"Tuan dan nyonya muda terlihat bahagia nyonya." lapornya tegas karena memang begitu kenyataannya. Tugasnya mengawal dan mengawasi sang tuan muda beserta istrinya memang berat. Untunglah keluarga Hutama selalu royal pada pekerjanya hingga setiap tetesan keringatnya sangat dihargai dikeluarga konglomerat itu.

__ADS_1


__ADS_2