
"Mana kartu identitasmu?" Sena meremas jarinya gugup saat lagi-lagi Leon menanyainya dengan nada dingin dan mata menghujam.
"Saya tidak punya." jawabnya pendek. Jawaban yang membuat Leon hampir kehilangan kesabaran. Jaman sekarang? tak punya identitas? sama sekali tidak masuk akal.
"Siapa namamu?"
"Sena." Leon menarik nafas kesal. Dia sudah tau jika namanya Sena. Tapi mana ada orang hanya punya nama dengan satu suku kata saja?
"Nama lengkapmu nona!" ketus Leon dengan mata menggelap.
"Se...Sena saja." Sena hampir menangis mendengar bentakan kecil Leon. Milly yang melihatnya langsung melotot ke arah kakak tampannya itu horor. Tak biasanya Leon bersikap begitu kasar pada orang lain. Leon yang dia tau amat ramah dan sopan layaknya pria terpelajar dari golongan atas pada umumnya.
"Kau...apa kau tak punya keluarga hehh?? Menamaimu seolah kau anak haram yang dibuang orang tuanya." Air mata Sena turun.
"Saya memang anak haram yang dibuang keluarga tuan. Nama saya memang hanya Sena saja." balas Sena makin lirih karena mulai tertekan kembali. Sudut hati Leon tersentuh saat melihat kesedihan itu begitu tergurat di wajah ayu...ya, Sena punya kecantikan lebih yang baru disadari Leon beberapa saat lalu setelah gadis itu usai mandi dan tampil tanpa make up glamour di depannya. Sena jauh lebih cantik saat tak menggunakan riasan sedikitpun.
"Kau bisa menambahkan nama Ibrahim dibelakang namanya jika terus mempermasalahkan namanya Lee." timpal Rafael tiba-tiba tanpa merasa berdosa. Tentu saja Leon bergerak akan meninjunya jika Milea tak cepat berteriak marah pada kakaknya agar tak menyakiti suaminya. Begini rasanya jika punya ipar rasa sahabat. Untung ada Milea yang akan selalu pasang badan untuk melindunginya.
__ADS_1
"Aku tak berniat punya adik seperti dia." kata Leon seraya mendengus marah.
"Bukan adik, tapi calon istri." balas Rafael sengit.
"Rafaeeeellllll!!!!" teriak Leon emosi pada Rafa yang lagi-lagi menggodanya tanpa dosa. Tangan Leon sampai mengepal kuat karenanya. Bukannya membalas, Rafael malah sibuk membelai ujung rambut istrinya dan memilinnya lembut.
"Apa?? Sena...Sena Ibrahim. Kedengarannya manis juga." saat Leon akan memaki, dia cukup tau jika bukan Rafa yang mengatakannya, tapi Milea adiknya. Leon hanya bisa mengeram marah karena masih mengkhawatirkan Milea. Mungkin hal itu yang membuatnya membenci Sena. Leon takut kehilangan Milea.
"Aku tak berminat menikahi pelacur." sahut Leon dingin.
"Saya juga tidak berminat menikah dengan siapapun. Saya cukup sadar diri untuk itu." sela Sena memotong perdebatan panas ketiga kakak beradik itu. Semua beralih menatapnya yang sedang menyusut air matanya lalu tersenyum miris. Seolah mengolok dirinya sendiri yang bernasib buruk.
"Makanlah Sena. Kata momy kau belum makan apa-apa sejak kemarin." Milea memerintah Sena dengan lembut. Sena buru-buru mangambil kotak makan dan minumannya lalu beranjal keluar. Perutnya memang sangat lapar.
"Kau mau kemana? Makanlah disini saja."
"Saya akan makan diluar nona."
__ADS_1
"Kenapa tak disini saja?" Sena tersenyum kecil. Bagaimana dia bisa makan dibawah tatapan tajam Leon? Jangankan makan, menelan saja dia tak akan mampu.
"Saya akan lebih nyaman makan diluar sana. Setelahnya saya akan membantu anda berkemas."
"Itu tidak perlu Sena. Aku dan suamiku tak membawa apapun. Baiklah, nikmati makanmu. Kami akan memberitahumu begitu akan pulang nanti." Milea yang sangat prihatin pada cerita Sena bersikap sangat ramah padanya. Setidaknya Sena akan merasa lebih baik nantinya.
"Baik nona, saya permisi." pamitnya lalu keluar dari ruangan VIP itu dengan langkah lebar.
"Kakak jangan terlalu galak padanya." protes Milea saat Leon mendekati brankarnya dengan wajah ditekuk.
"Iya Lee...kasihan gadis itu, jangan menambahkan beban lagi baginya." timpal Rafael sungguh-sungguh. Seperti Milea, diapun iba pada Sena.
"Kenapa tidak kau saja yang membawanya pulang, menjadi tuannya, mengasihi dia dan jika perlu menambahkan nama Hutama dibelakang namanya?" sarkas Leon masih dibakar amarah.
"Itu tidak akan pernah terjadi Lee. Hanya Milea dan istri sah Richard nanti yang akan menyandang nama Hutama dibelakang namanya, bukan perempuan lain. Cukup Milly saja sekarang, nanti dan selamanya." Bolehkah Milea maupun Leon bahagia mendengar perkataan sang tuan muda? Tentu saja. Milly hingga harus tersipu malu mendengarnya. Suaminya begitu mencintai dirinya.
"Selamat siang tuan...nyonya. Sudah waktunya anda pulang. Ini adalah obat untuk nyonya Milea Hutama." Kata seorang perawat yang baru masuk seraya menyerahkan bungkusan obat. Rafael segera membantu Milea naik ke atas kursi roda lalu membawanya keluar.
__ADS_1
Sena yang baru saja menyelesaikan makannya bergegas berdiri saat mengetahui mereke keluar dari kamar.
"Mari antar aku pulang." Milea meraih tangan Sena dan mengajaknya serta.