
Milea membalas pelukan Rafael yang sudah lebih dulu melingkarkan tangan kekarnya di tubuh polos istrinya, tepatnya mereka berdua sama-sama polos setelah dua ronde pertempuran panas yang terjadi siang itu. Masih ada beberapa jam untuk berisirahat sebelum pulang ke rumah petang nanti. Secercah senyum terukir dibibir padatnya, puas. Hal yang berbanding terbalik dengan Milea yang tampak lemas dan langsung tertidur dalam pelukannya.
Rafael sangat tau jika Milly lelah melayaninya yang terus menyerang tanpa henti. Jika tak melihat Milly lemas, pasti pergumulan panas itu akan terus berlanjut entah sampai kapan. Tubuh Milly....kenapa begitu membuatnya candu? Pun saat wanitanya beberapa kali melenguh nikmat saat mendapatkan pelepasannya, sungguh Rafael merasa jadi suami yang berhasil. Dia tak ingin merasakan semuanya seorang diri tanpa peran Milly. Rafa akan selalu membuat wanitanya menggapai puncak telebih dahulu sebelum dirinya.
Tiga jam tertidur, Milea menggeliat dalam pelukan hangat suaminya. Jika tak ingat pulang maka dia akan lebih memilih bergelung disana. Bagaimana lengan berotot dan dada bidang itu memberinya ketenangan, perlindungan juga rasa nyaman masih terpatri dalam ingatannya. Tapi Milly tak boleh lengah. Bimantara masih harus diperjuangkan.
"Mas...bangunlah, sudah saatnya pulang." bisiknya seraya mengelus rahang suaminya lembut. Berulang kali Milea melakukannya karena amat mengagumi wajah tampan diatas kepalanya yang masih pulas dalam tidurnya. Tampan? ya, Rafael sangat tampan. Dia beruntung memiliki pria dengab banyak sisi positif dalam dirinya itu.
"Ehhuummm...." gumam Rafa sambil berusaha membuka matanya.
"Kau menggodaku sayang." bisiknya serak saat menagkap jemari halus Milly yang terus mengelus rahangnya lalu mengecuppnya penuh cinta. Wajah Milly memerah seketikan saat tangan kekar lelakinya sudah menuntunnya masuk ke dalam selimut dan menyentuh juniornya yang sudah kembali berdiri tegak.
"Dia ikut bangun..." bisiknya lagi. Milea jadi salah tingkah karenanya. Apalagi saat Rafael mengajarinya membelai benda berotot itu pelan sambil sesekali meremasnya. Mau tak mau Milly melakukannya. Rafa mendesis tertahan setelahnya.
__ADS_1
"Sayang, tak apa bukan jika kita menidurkannya dulu?" bagaimana Milea bisa menolak wajah memelas pria yang dicintainya itu? sebenarnya seberapa kuat stamina lelakinya? Milly bisa merasakan jika hampir tak ada perbedaan berarti saat dia terkena obat perangsang saat memperkosanya dulu dan sekarang. Rafael.....sangat perkasa di ranjang.
"Lima belas menit. Tak boleh lebih." tegas Milea yang seperti tak diindahkan oleh sang tuan muda yang suda kembali menyerangnya. Milly merasa perlu bersikap begitu karena Rafael akan lupa waktu. Bagaimanapun mereka harus segera pulang sebelum malam.
Lima belas menit yang dijanjikan Milea melayang sudah. Mulut seksinya boleh menolak, tapi tubuh semampainya berhianat. Setengah jam kemudian Rafael baru menyelesaikan kegiatan panasnya meski terlihat masih menginginkan Milea yang terus mengajaknya segera mandi lalu pulang. Rafa mengeram tertahan, ahh...andai besok bukan hari kerja. Dia akan terus mengungkung Milea dalam pelukannya. Andai dia tak memikirkan nasib Bimantara kedepannyapun dia akan memilih terus menikmati hari disana.
"Mas, aku sudah siapkan bajunya. Cepatlah mandi." Kata Milea menunjuk stelan pakaian santai yang dia letakkan di sandaran kursi resort. Celana jeans dan kaos lengan pendek warna putih, senada dengan yang dipakainya sekarang. Ohh..kaos couple?? Milly tersenyum manis sambil membenarkan letak pasmina hitam yang menutupi kepalanya. Rafael beranjak menuruni ranjang lalu masuk ke kamar mandi, mandi kilat sebelum istrinya marah dan mengancam tak akan memberinya jatah jika dia malas-malasan bekerja. Bisa pusing dia jika Milly benar-benar melakukannya.
"Aaahhh!!!" pekik Milly saat melihat Rafael keluar dari kamar mandi dengan tubuh telanjangnya. Rafael tertawa ringan melihat reaksi istrinya yang terlihat menggemaskan.
"Mas!! Jangan biasa keluar kamar tanpa baju iihhh." ucap Milea kesal. Rafael mencuri ciuman singkat di pipi kirinya sebelum mengambil pakaiannya lalu memakainya tanpa malu-malu di depan Milea.
"Aku hanya lupa membawanya. Sudahlah...jangan merajuk begitu." Mily berdehem, menetralisir hatinya yang berdebar. Rafael terdengar begitu lembut dan menjaga perasaannya. Pun saat pria tampan itu sudah berdiri dibelakang kurisnya dengan rambut basah...hati Milea serasa dipenuhi ribuan kuntum bunga penuh warna.
__ADS_1
"Pulang sekarang?" tawar Rafael terlihat tak rela. Milea terlihat sangat cantik sore itu. Milea yang tau arah pandangan si pria bergegas berdiri dari duduknya lalu meraih tas tempat pakaian mereka dan menjinjingnya. Tapi Rafael sudah lebih dulu merebutnya.
"Biar aku yang bawa." Hati Milea begitu menghangat. Dia segera melingkarkan tangannya dilengan sang suami ketika Rafael memberinya isyarat. Mereka berjalan beriringan keluar dari resort itu dengan wajah cerah.
Milea tersenyum bahagia saat disepanjang jalan terus menceritakan masa kecil dan remajanya yang seru karena dipenuhi kenakalan. Kadang Rafa sampai ikut tertawa mendengar tingkah kakak beradik itu. Diam-diam dia iri pada Leon yang punya adik perempuan yang sefrekwensi dengannya. Tapi Rafa juga menyingingkan senyum kemanangan saat menyadari gadis kecil Leon sudah dia rebut sekarang. Mereka tak lagi main petak umpet, layangan atau permainan aneh dimas kecil. Tapi malah bermain jungkat-jungkit versi hot.
Cerita terus berlanjut hingga mereka memasuki kota. Rafael tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata saat sebuah mobil lain melaju kencang dari arah berlawanan. Oleng...ya, mobil berwarana merah itu berjalan zigzag seperti tak terkendali hingga menyenggol bak mobil pic up di depannya lalu keras lalu meluncur tak tekendali menghantam mobilnya tanpa ampun.
......Braakkkkk.......
Hanya detuman keras yang terdengar, selebihnya pekikan keras yang menyusulnya. Sebuah mobil dibelakang mereka mengerem mendadak lalu menurunkan enam orang pria sekaligus yang langsung menuju TKP tergesa. Satu yang lain menelepon ambulans dan satu lainnya menelepon seseorang.
"Maafkan kami tuan, tuan muda mengalami kecelakaan di jalan Anggek." lapornya sebelum sebuah bentakan keras yang memekakkan telinga terdengar. Si penelepon bergetar ketakutan.
__ADS_1
"Tangkap orang yang menabrak putraku. Aku tak segan membunuhmu jika anak dan menantuku sampai mengalami sesuatu yang fatal!!!"